
Setelah mandi, Ruslan mengecek ponselnya, dan benar saja disana ada tertera nomor yang tak dikenal kerap kali menelponnya sedari tadi malam. Rulsan dengan sedikit keraguan menelpon balik nomor itu.
"Hallo, ini siapa ya?." ucap Ruslan saat telponnya diangkat oleh seseorang diseberang sana.
"Heh, lu kemana aja sih? Sok sibuk banget jadi orang? Gue telponin berkali-kali dari semalem, baru sekarang diangkat! Ini gue, Tesi."
Ruslan membelalakkan matanya dan terkejut mendengar omelan Tesi di seberang sana. Ia pun memastikan suasana, Ia melihat Meldo sedang berada di ruang kerja dan serius menatap laptopnya. Ruslan berpindah lokasi, Ia tau bahwa Tesi pasti ada urusan penting dengannya, kalau tidak mana mungkin Tesi menelponnya berulang-ulang.
"Ehehe sorry, Tes. Ada apa emang?."
"Gue mau nanya soal anak Caroline deh."
"Ke--kenapa lu nanya soal itu?."
"Gue penasaran aja, soalnya gue kasian tu anak gak dianggap sama orang tua nya yang laknatnya naudzubillah! Hati gue seketika teriris banget denger nya waktu tau si Caroline gak pernah peduli sama anaknya itu, Meldo sendiri loh ini yang bilang ke gue! Meldo juga sama, gak ada otaknya. Yaampun, gue kesel banget jadinya."
"Tesi.. Tesi.. Sabar ya, tenang dulu. Gue bakal jelasin tentang Cleo sama lu, tapi lu tenang dulu, oke?."
"Jadi namanya Cleo?."
"Iya. Jadi bener, Caroline emang gak pernah ngasih perhatian lebih ke anaknya, Dia selalu sok sibuk, suka pergi-pergi gitu tapi gak tau tujuan nya kemana dan kadang pulang kadang enggak, bisa sampe berhari-hari tuh baru balik kerumah. Kalo Meldo, yaa lu tau sendiri Dia gak suka sama orang yang berhubungan dengan Caroline, termasuk si Cleo. Dia juga gak pernah mau nganggap Cleo sebagai anaknya. Tapi lu tenang, si Johan sama Mama nya Meldo, sayang banget sama si Cleo. Hehehe."
"Berarti lu termasuk yang gak sayang sama Dia dong?."
"Eh, a--apa sih? Kok jadi gue?."
"Lu sama aja kayak Bos lu itu, gak punya perasaan, gak ada otak."
"Bukan gitu, Tes. Gue gak tau cara berinteraksi sama anak kecil. Tapi Cleo pernah kok gue ajak beli jajanan waktu Dia dateng ke kantor bareng Johan atau Mama nya Meldo."
"Itu sih karena lu nya disuruh Meldo buat jagain Dia, karena si Meldo gak mau liat tu anak ada di hadapan nya. Kayak gue gak tau aja."
"Dih, keren banget lu sekarang, bisa pas gitu nebaknya. Hahaha. Terus apa rencana lu? Lu mau angkat si Cleo jadi anak lu gitu?."
"Yaa kaga lah. Gue cuma kepo aja. Oke deh kalo gitu, makasih. Jangan kasih tau Meldo kalo gue nelpon lu nanyain soal anaknya. Bye."
Sambungan telfon itu mati secara sepihak dan Ruslan terpaku menatap layar ponsel nya.
"Tesi makin galak aja sekarang." gumam Ruslan dengan sendirinya sambil memainkan ponsel nya dan kembali masuk kedalam.
"Darimana lu tau kalo Tesi makin galak?."
Ruslan tersentak kaget saat melihat Meldo sudah didepannya sambil melipat tangannya di dada. Mata tajam nya mengintimidasi Ruslan, Ruslan tidak bisa berkata apa-apa.
"Em.. anu.. itu.. temen SMA gue, iya, temen SMA gue, hehehe. Dia kayak nyariin gue gitu. Yaudah deh, gue mau beresin yang perlu di beresin dulu yak."
Saat Ruslan berjalan hendak meninggalkan Meldo, Meldo langsung memblokir jalan Ruslan dengan menggenggam kuat lengan Ruslan sambil menatap nya tajam dari samping.
"Aw, sakit banget gilaaa. Lepasin, Do." pekik Ruslan.
"Lu sadar gak sih barusan lu bodoh-bodohin gue? Dan lu pikir gue bodoh?."
Ruslan masih menahan sakit di lengan nya yang masih dalam cengkraman tangan Meldo. Ruslan tidak berani menatap tajam mata Meldo.
BUGGHH..
Meldo mendorong Ruslan dengan sangat kuat hingga Dia terjatuh ke lantai, dan Meldo dengan sigap mengambil ponsel Ruslan yang berada di genggaman Ruslan sendiri.
"Eh, handphone gue, Do. Mau lu apain?." tanya Ruslan yang masih terduduk di lantai.
"Mau mengintrogasi pengkhianatan lu atas gue." ucap Meldo sinis dan meninggalkan Ruslan disana.
Meldo memasuki ruang kerja nya dan mengunci pintu nya. Ia duduk di kursi kerjanya sambil memutar-mutar kursi dan asyik meng-scroll ponsel Ruslan. Mata Meldo tertuju pada nomor asing yang barusan ditelpon oleh Ruslan. Ini nomor yang sama yang Ia angkat tadi siang, pikirnya.
Meldo memanggil nomor itu kembali, Ia memasang loudspeaker dan menunggu seseorang mengangkat panggilan itu di seberang sana.
"Hallo.."
Meldo tersentak, Ia mematung sejenak, Ia sangat hafal bahwa itu suara Tesi.
"Ada rencana apa kamu sama Ruslan?." ucap Meldo spontan tanpa basa-basi.
Disana... Tesi sungguh terkejut luar biasa mendengar suara sinis itu, Ia pun hafal dengan watak suara Meldo.
"Em.. Gak ada rencana apa-apa, cuma nanya-nanya doang sama Dia."
"Nanya-nanya? Nanya apa?."
"Kepo banget. Udah deh! Gue sibuk. Lagian lu kurang kerjaan banget ngambil-ngambil hp orang? Hargain kali privasi orang lain."
Sambungan telfon itu mati secara sepihak, Tesi yang mematikannya. Meldo sedikit melengkungkan bibirnya dan tersenyum tipis. Inilah Tesi yang cerewet yang Ia rindukan, Tesi yang galak, Tesi yang ketus, itu sangat menggemaskan bagi Meldo. Delapan tahun Ia tidak mendengar omongan ketus wanita itu, dan kini bunga di hatinya terasa bermekar kembali setelah sekian lama bunga itu layu. Meldo jadi semakin ingin mengejarnya lagi, memperbaiki semuanya, dan menebus semua kesalahannya.
Tbc...