
Selama dalam perjalanan, mereka tidak ada membuka suara sedikit pun. Keheningan begitu menerjang didalam perjalanan mereka menuju cafe yang akan disinggahi. Tesi hanya memandang kearah luar jendela mobil sembari melihat orang berlalu lalang.
Sementara Meldo terus fokus menyetir tanpa mau melirik kearah manapun selain hanya menatap lurus kedepan.
Akhirnya pun mereka sampai. Namun Tesi merasa heran. Tempat ini bukan seperti cafe, melainkan seperti restaurant bintang 5 yang mewah nan megah.
"Maaf, Pak? kita bukannya mau ke cafe ya?." tanya Tesi dengan sopan.
"Emang apa beda nya cafe sama restaurant?." ucap Meldo dengan ketusnya.
"Hah? Bu..bukannya kedua itu jelas beda ya, Pak?." ucap Tesi dengan nada suara yang sedikit menurun karena takut di semprot oleh omelan Meldo.
"Gak usah protes. Ayo masuk!."
Tesi berpikir keras atas ucapan Meldo tadi. Sembari berjalan mengkuti Meldo, Dia sempat-sempatnya melakukan pencarian dan mencari perbedaan antara restaurant dan cafe.
"Kita mau meeting!." ucap Meldo yang tiba-tiba merampas handphone milik Tesi.
"Eh? hp saya, Pak." ucap Tesi yang berusaha merebut hp nya kembali.
"Nanti saya balikin. Sekarang diem dan duduk tenang. Mari kita mulai rapat!." ucap Meldo yang menduduki bangku restauran kelas VIP itu.
Mereka berdua duduk dan langsung datang pelayan menghampiri mereka dan memberikan makanan pembuka berupa kue-kue manis, sebotol wine dan 2 buah gelas mewah.
Mata Tesi terbelalak saat sang pelayan menuangkan wine itu kedalam gelas miliknya. Dia bergidik ngeri jika harus meminum nya.
"Maaf, Pak! Saya air putih aja. Gak usah ini." ucap Tesi pada sang pelayan dengan gugup nya.
Meldo yang memperhatikan itu menahan tawa nya dan Dia langsung memerintah kan sang pelayan untuk memberi Tesi segelas jus saja.
Meldo dengan gaya elegant nya menuangkan wine itu kedalam gelas nya. Tesi memperhatikannya saat Meldo meminum wine itu. Pikirannya pun sudah menjalar kemana-mana. Batin nya meronta-ronta sembari menebak sesuatu hal yang akan terjadi.
"Kenapa kamu liatin saya kayak gitu?." ucap Meldo sambil meletakkan kembali gelas nya.
"Bu..bukannya kita mau rapat ya, Pak?." ucap Tesi dengan sedikit canggung.
"Iya. Kita mau rapat. Tapi sambil makan siang, kan gak masalah!." ucap Meldo dengan santai nya.
Beberapa makanan pun datang. Aroma nya yang wangi membuat lambung ingin segera mencerna nya.
Dengan telaten, Meldo melahap makanan yang ada di hadapannya. Sementara Tesi bingung bukan kepalang karena Dia sendiri belum pernah makan ala ala orang kaya seperti ini. Dia pun sebisa mungkin memakan beef itu dengan rapi dan telaten.
Bermenit-menit menghabiskan waktu buat makan, akhirnya mereka selesai dan Meldo membuka pembicaraan.
"Kamu akan menggantikan Johan. Johan saya pindahin ke perusahaan cabang." ucap Meldo sambil mengelap bibir nya dengan anggun.
uhuk...uhuk...uhuk.. Tesi kaget saat dengan pernyataan dari sang CEO tersebut.
"Lah? kok gitu, Pak?." ucap Tesi merasa heran.
"Kenapa? Gak mau naik jabatan?."
"Bukan gitu! Tapi kan saya baru belajar, Pak."
Tidak ada tanggapan dari Meldo. Tesi pun bingung bagaimana cara menghadapi si Bos yang suka membuat rencana tanpa dibicarakan terlebih dahulu.
"Ayo balik ke kantor! kita ada rapat dan sekarang udah telat." ucap Meldo dan beranjak dari duduknya.
Meldo dan Tesi buru-buru berjalan menuju mobil. 'What? Dia ngajak gue makan di restoran mewah ini cuma mau bicarain itu? Sungguh kah? Bener-bener nyebelin ini manusia! Buang-buang waktu ini namanya.' gumam Tesi dalam hati
Sesampai nya di kantor mereka langsung duduk di meja bundar ruang rapat. Beberapa rekan bisnis telah menyampaikan argumen nya.
"Di perkirakan mall ini akan menjadi mall terbesar di Indonesia. Kita harus banyak memproduksi segala macam kebutuhan di mall ini. Jangan sia-sia kan!." ucap salah seorang pengusaha disana.
"Proyek taman hiburan sudah berjalan 70% . Saya juga ingin taman hiburan ini menjadi taman hiburan yang megah dan luas. Jadi, jika ada yang keluarga sedang berlibur di taman hiburan itu, mereka akan merasa puas karena di lengkapi dengan segala fasilitas." ucap Meldo sambil menyandarkan dirinya dikursi dan sedikit memutar-mutar kursinya.
"Maaf, saya sedikit menyanggah, Pak. Menurut saya, kita tidak usah dulu berlomba-lomba siapa yang akan membangun lebih besar! Yang perlu kita pikirkan disini adalah bagaimana cara menarik perhatian para pengunjung agar pusat taman bermain serta pusat perbelanjaan itu banyak dikunjungi orang setiap harinya. Menurut saya, kita mensurvei terlebih dahulu populasi orang-orang di lapangan. Seperti yang kita ketahui, di Ibu Kota ini sudah banyak sekali di bangun mall serta taman hiburan yang cukup populer. Jadi, kita harus melihat keadaan terlebih dahulu, baru kita bisa menyeimbangkan mau pembangunan yang sebesar apa." ucap Tesi dengan sisi sopan nya.
"Kalau begitu, kita menyajikan mall dan taman bermain dengan versi yang berbeda dari yang lainnya. Bagaimana?." ucap seorang CEO dari perusahaan lain.
"Saya pikir itu ide bagus, Pak. Tapi tetap saya tekan kan, kita harus mensurvei populasi orang-orang di TKP terlebih dahulu. Biar bagaimana pun, kita tidak mau rugi kan?."
Setelah banyak nya argumen yang di lontarkan , rapat pun di tutup dengan hikmat serta di meriahkan oleh tepuk tangan. Dibalik riuh nya suara tepukan tangan itu, senyum Meldo tersimpul dan menatap kagum kepada Tesi.
Tbc..