My Obsession Is You

My Obsession Is You
Cerita Masa Lalu



Kabar yang membuat hatinya perih dan sakit saat mendengar sang Ayah tidak bisa terselamatkan lagi. Di usia nya yang masih 10 Tahun, Dia harus di tuntut untuk mengikhlaskan kepergian sang Ayah.


"Bu, Ayah bakal kembali lagi kan?." Ucap sang Gadis kecil itu dengan tersedu.


"Sayang, Ayah sudah pergi jauh dan tugas Ayah di dunia sudah selesai, Nak. Sekarang, kita hanya berdua. Tapi Ibu janji, Ibu akan terus membuat Tesi bahagia." Ucap sang Ibu yang air mata nya tidak bisa terbendung lagi.


Setelah melakukan upacara keagamaan, kini jenazah akan di semayamkan di salah satu TPU yang ada di kota itu. Sang gadis kecil tidak bisa menahan tangisnya. Dia terus menerus menangis meneteskan air matanya tiada henti.


Segala Doa dan permohonan telah diucapkan untuk mengenang kepergian sang Ayah. Saat selesai menabur bunga, sang Gadis kecil pergi berlari meninggalkan pusara sang Ayah. Saat hendak berlari, Dia terjatuh dan pergelangan tangannya tergores.


Dia menangis sejadi-jadi nya karena kesakitan.


"Hei, kamu kenapa?." ucap seorang pangeran kecil yang berniat untuk menolongnya.


Sang gadis kecil masih saja terus menangis. Sampai akhirnya, sang pangeran kecil membantunya untuk berdiri.


"Udah, kamu jangan nangis." ucap Sang pangeran kecil yang sembari membersihkan luka si gadis kecil dengan lembutnya.


"Te..terimakasih." ucap gadis kecil kepada pangeran kecil.


"Sama-sama. Kamu kenapa lari? Sampe jatuh kayak gini."


"Ayah ku meninggal. Aku gak sanggup berada disana berlama-lama melihat Ayah tertanam dibawah tanah."


"Gak apa-apa. Kamu ikhlas aja ya? Itu berarti, Ayah mu orang yang baik. Tuhan gak mau Ayah mu berlama-lama di dunia dan banyak yang jahatin Dia nanti."


"Makasih ya, Kak. Nama kakak siapa?." tanya gadis kecil dengan senyum manis di bibir nya.


"Kamu aja yang ngasih aku nama."


"Ha? Kok gitu? Memangnya kakak gak punya nama ya?."


"Punya! Tapi aku mau, kamu yang kasih aku nama spesial." ucap sang pangeran kecil dengan penuh harap.


"Tapi aku bingung mau ngasih nama apa ke kakak."


"Yaudah, kalo gitu aku aja yang ngasih nama untuk kamu manggil aku. Gimana kalau kamu panggil aku Prince, dan aku manggil kamu Queen? Setuju?."


"Tapi nama aku bukan Queen, Kak."


"Hahaha. Kan nama spesial."


"Memang nya Prince dan Queen itu apaan kak?." tanya gadis kecil dengan polosnya.


"Prince itu pangeran, Queen itu ratu." jelas pangeran kecil


"Wah, oke kakak Prince."


"Disana ada Taman, kita kesana sebentar, yuk?."


"Tapi aku belom izin sama Ibu, Kak?."


"Gapapa, nanti aku antar kamu pulang bareng supir dan Mama ku! Aku kesini karena ziarah ke Makam Tante dan Om ku."


Setelah berpikir sejenak, sang gadis kecil menyetujui penawaran itu. Mereka pun bermain di Taman dengan penuh riang dan tawa yang menggelegar. Banyak cerita yang di lontarkan oleh sepasang anak kecil itu. Walaupun banyak cerita yang disampaikan oleh masing-masing dari mereka, tidak ada sedetik pun waktu tersisa untuk mereka menyebutkan nama asli mereka masing-masing.


Karena hari sudah sore, mereka memutuskan untuk kembali. Saat sampai kembali di pemakaman, sang Ibu sangat khawatir dengan gadis kecil nya.


"Kamu darimana aja, Nak? Yaampun, Ibu khawatir sampe nyariin kamu kesana-kemari." ucap sang Ibu sambil berjongkok menyetarakan tinggi sang gadis kecil.


"Maaf, Tante! tadi saya ajak main bentar di taman sebelah." ucap pangeran kecil.


"Oh begitu ya, Nak? Yasudah, terimakasih ya, Nak."


"Makasih kakak Prince udah temenin Queen tadi. Semoga kita jumpa lagi ya? Hati-hati dijalan." ucap sang gadis kecil.


"Yasudah, kita pulang ya. Nak prince, kami diluan ya?." ucap sang Ibu.


"Iya Tante, Queen, hati-hati ya."


Lamunan itu seketika buyar ketika sang Mama memanggil nya untuk segera menyelesaikan urusan nya didalam kamar.


"Ayo Meldo, kamu sarapan dulu sebelum pergi ke kantor. Lama amat sih pake baju nya?." ucap sang Mama dibalik pintu kamar.


"Iya, Ma! Bentar." ucap Meldo.


"Hmm, jadi inget dan kangen lagi sama Queen." ucap Meldo dalam hatinya.


Ia pun segera memakai dasi nya dan merapikan pakaian kerja nya.



15 menit berlalu, Meldo pun bergegas kebawah menuju ruang makan untuk segera sarapan.


"Lama amat dandan nya, Meldi." ucap Johan sambil memainkan handphone nya.


"Lu ngomong apa barusan? Ucapin sekali lagi!." ucap Meldo kesal karena menyebut nama nya dengan sebutan Meldi.


"Becanda doang! Yaelah, baperan amat."


"Masih pagi udah berantem! Cepat sarapan." ucap sang Mama dengan kesal.


"Nanti kita survey lokasi pembangunan Taman hiburan jam 11. Tepat waktu, gua gak suka nunggu!." ucap Meldo pada Johan sambil melahap sarapannya.


"Bu, Tesi pamit ya?." ucap Tesi sambil menatap sang Ibu.


"Iya, Nak. Hati-hati ya." ucap sang Ibu dengan penuh senyum.


Saat sedang menunggangi motor nya, tiba-tiba..


"Loh? Tesi? Bukannya kamu udah wisuda ya? Kok masih kerja di laundry?." ucap seorang tetangga.


"Saya wisuda baru seminggu yang lalu, Bu. Ini juga lagi coba ngelamar kerja yang lain kok, yang sesuai dengan passion saya selama kuliah." ucap Tesi dengan berusaha senyum.


"Oh gitu? Kirain.. Yaudah deh, semoga lancar ya lamaran kerjanya. Harus cari kerja yang layak, Tes. Kasian kamu dan Ibu kamu harus hidup seperti ini terus. Dan, cari suami pun harus yang orang kaya kalo bisa. Yaudah ya, saya pergi dulu." ucap tetangga itu bergegas pergi.


Tesi kesal bukan kepalang melihat tetangga julid nya itu. Ingin rasanya Dia melempar helm yang Dia pakai kearah tetangga nya itu.


"Udah, gak usah dimasukkin ke hati. Berangkat gih, nanti kamu telat." ucap sang Ibu sambil mengusap bahu Putri kesayangannya.


"Tapi, Bu! Itu mulutnya sembarangan banget kalo ngomong. Pengen nabok aja bawaannya." ucap Tesi dengan kesal nya.


"Udah udah. Sana berangkat."


"Yaudah, Tesi pergi ya, Bu."


Sesampai nya di Laundry, Tesi langsung bergegas dan memulai pekerjaannya. Tesi bekerja di salah satu Laundry yang cukup ternama. Dia bekerja disitu sudah cukup lama. Bahkan, saat Dia masih kuliah, Dia berushaa membagi waktunya untuk bekerja.


Dia melakukan ini demi membantu Ibunya. Ia tidak tega melihat Ibunya bekerja membanting tulang sendiri.


"Tesi.." ucap Nita


"Ya? kenapa, Nit.?."


"Tes, ini ada lowongan kerja di perusahaan Christopelago Group. Lu coba deh, siapa tau beruntung. Jadi Personal Assistant CEO." ucap Nita sambil menunjukkan email pengumuman lowongan tersebut.


"Hmm.. Menarik. Iya deh, nanti gue coba. Thanks ya infonya." ucap Tesi


Dan mereka pun kembali bekerja.


Tbc..