
Meldo berjalan menuju kamar Tesi. Ia sedikit mengintip untuk memastikan apa yang dilakukan Tesi didalam. Saat pintu sedikit terbuka, Ia melihat Tesi sedang tidur terlelap. Ia pun mengurung niatnya untuk berbicara pada Tesi dan Ia kembali menutup pintunya.
Meldo merapikan pakaian serta rambutnya. Ia bergegas pergi ke kota untuk menemui seorang psikiater yang dikenal nya.
"Kalo Dia udah bangun, langsung suruh makan!." ucap Meldo pada seorang pelayan dirumah itu.
"Baik, Tuan.." ucap sang pelayan.
Meldo langsung memasuki mobil nya dan mengendalikannya dengan kecepatan diatas rata-rata. Ia masih merasa kesal dengan semua yang terjadi hari ini.
Sesampainya di kota, Ia langsung menuju tempat praktek psikiater.
"Hei, Meldo.. Lama gak jumpa! Apa kabarmu?." ucap Andre seorang psikiater.
"Seperti yang kamu liat, Ndre.!." ucap Meldo berusaha ramah.
"Kenapa kamu kesini? Ada yang perlu ku bantu?."
"Kayaknya mental ku terganggu lagi, Ndre."
"Sini, kita duduk dulu."
Mereka duduk di ruang khusus yang biasanya untuk menangani pasien.
"Coba kamu ceritain apa yang kamu alami selama ini." ucap Andre.
"Seperti yang kamu tau, aku dulu tertekan banget sama sikap Papa ku yang selalu kasar, suka mukul dan suka selingkuh dibelakang Mama. Dari situlah aku mulai gak bisa mengendalikan diri dan memiliki trauma berat. Sampe-sampe aku harus menjalani terapi bertahun-tahun agar aku kembali seperti semula dan trauma ku hilang."
"Lalu, Kamu merasa kalo mental kamu bermasalah lagi? Sebab nya apa?."
"Ya, sejak aku ketemu sama seorang wanita. Wanita ini pernah ku temui saat aku masih kecil, aku beri nama Dia dengan sebutan Queen, dan Dia aku suruh manggil aku Prince. Kita gak nyebutin nama asli kita. Terus aku ajak Dia main ke taman dan Dia mau. Aku seneng waktu itu. Karena semasa aku kecil, gak ada orang yang mau main sama aku. Dan, saat aku ketemu Dia, semua beban ku serasa lepas gitu aja. Sampe akhirnya waktu yang memisahkan, dan aku pikir gak ada kesempatan lagi buat aku ketemu Dia. "
"Lalu?."
"Kamu tau? Setelah berpuluh-puluh tahun berlalu, Dia kembali hadir, Ndre! Dia datang melamar kerja di perusahaan ku. Awalnya aku gak tau kalo Dia itu Queen. Sejak pertama kali aku liat Dia saat interview, aku langsung aneh dan selalu bertanya - tanya soal Dia. Terus beberapa hari kemudian, aku nemu foto semasa kecilnya! Aku kaget bukan main saat aku tau kalo dia itu Queen. Dan sekarang aku jadi acuh tak acuh. Yang di pikiran ku cuma Dia, setiap saat aku mikirin Dia terus tanpa henti. Aku frustasi banget, Ndre. Dan entah kenapa, aku takut banget Dia pergi lagi. Sejak saat itu juga, emosi ku jadi gak teratur, Ndre. Aku bener-bener gak bisa ngendaliin diri dalam situasi tertentu. Lebih anehnya, saat sedang berada di hadapan wanita itu, aku selalu gak tega kalo abis ngebentak Dia. Saat aku marah semarah-marah nya sama Dia, aku menyesali perbuatan itu. Aku juga sadar, kalo Dia pasti merasa aneh sama sikap ku." ucap Meldo dengan jelas.
"Itu pertanda kalo kamu memang gak bisa jauh dari Dia, Do. Depresi pasca trauma mu belum hilang sepenuhnya. Apalagi Dia masalalu mu yang berharga. Aku cukup prihatin dengan apa yang kamu alami sekarang. Sebenernya kamu masih bisa ngendaliin kok! Hanya saja jangan terlalu larut dalam emosi. Kamu harus pandai-pandai mengkondisikan keadaan. Ingat, jika mood mu sedang tidak bagus, jangan lanjutkan aktivitas mu! Istirahat lah sejenak dan tenangkan pikiran. Lalu, kamu bisa melakukan aktivitas mu lagi. Yasudah sini aku periksa dulu." jelas Andre dan mengajak Meldo untuk di periksa.
Setelah melakukan pemeriksaan, Andre mencatat sesuatu disebuah kertas dan memberi nya kepada Asisten nya.
"Okedeh. Aku coba." ucap Meldo dengan senyum tipis nya.
"Aku gak ngasih kamu obat penenang dulu. Kamu jalanin aja dulu saran yang aku kasih tau tadi. Karna yang aku liat kamu cuma syok aja sih karena kehadiran masa lalu mu yang berharga itu.Tapi kalo kamu merasa diri kamu bener-bener terganggu, segeralah datang kemari, Do. Biar kita lakukan terapi rutin."
"Baik Ndre. Makasih banyak udah bantu aku. Kalo gitu aku pamit dulu ya."
"Oke hati-hati dijalan. Dan ini surat keterangan pemeriksaan mu hari ini." ucap Andre sembari memberikan selebaran kertas.
Meldo pun beranjak dari tempat itu dan menuju rumah orang tua nya untuk mengambil beberapa pakaian dan perlengkapan lainnya. Karena Meldo sudah memutuskan untuk tinggal bersama Tesi.
---------
Tesi terbangun dari tidurnya. Dia melihat arah luar, matahari sudah akan tenggelam sebentar lagi. Dan Tesi pun lagi-lagi meneteskan air mata karena mengingat Ibu nya dirumah.
"Ibu pasti khawatir. Hikss.. Hikss.." gumam Tesi dengan menitihkan air mata nya.
Tesi langsung bergegas keluar kamar dan melihat sekeliling rumah. Ada beberapa pelayan yang menyambutnya.
"Nyonya butuh sesuatu?." ucap Pelayan itu.
"Gue mau pulang!." jawab Tesi dengan ketus.
"Maaf, Nona. Permintaan itu tidak bisa kami turuti. Tuan Meldo meminta agar Nona tetap diam dirumah ini."
"Heh, Kalian dibayar berapa sih sama Dia? Kalian tau nggak? Perlakuan kalian ini udah termasuk sindikat penculikan! Pokoknya gue mau pulang!."
"Kalau begitu, tunggu Tuan datang ya, Nona." ucap sang Pelayan berusaha menenangkan.
"Dia pergi kemana emang?."
"Sepertinya ke kantor, Non.."
Tesi pun berbalik menuju kamarnya dengan kesal. Dia jadi semakin takut dengan Meldo. Dia takut kalau Meldo akan melakukan sesuatu hal yang tidak manusiawi terhadapnya. Dia kembali menangis. Banyak pikiran yang menyerbu kepalanya, termasuk memikirkan kekhawatiran Ibu nya.
Tbc..