
Caroline bangun kesiangan hari ini. Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari sisa percintaan nya dengan Meldo semalam. Hampir satu jam Ia menghabiskan waktu didalam kamar mandi. Seraya memakai bajunya, Ia pun menatap sprei tempat tidur itu, banyak sekali cairan yang bersimbah disana.
"Yaampun, gak mungkin kan kalo sprei ini di cuci dirumah? Ntar apa kata orang?." gumam Caroline dengan sendirinya.
Ia pun dengan segera melepas sprei itu dan menggulungnya. Ia berjalan mondar-mandir untuk memikirkan bagaimana cara mencuci sprei ini. Caroline tidak pernah melakukan pekerjaan rumah dengan tangan nya sendiri. Memasak, mencuci, menyapu, apapun itu Dia tidak tau cara mengerjakannya.
"Oh ya, laundry.." gumam Caroline dengan bangga.
Ia menggulung sprei itu dan memasukkan nya kedalam tas besar. Setelah selesai, Ia melenggang pergi keluar kamar dan akan mencari laundry untuk mencuci sprei itu.
Saat sedang melewati anak tangga, tiba-tiba Caroline berselisihan jalan dengan Mama. Mama pun terheran kenapa Caroline membawa tas besar ditangannya.
"Line, kamu mau kemana bawa tas besar segala?." tanya Mama sambil mengusap bahu Caroline dengan lembut.
"Ini, Tante. Ini gaun aku yang mau aku cuci ke laundry."
"Kenapa gak suruh pelayan aja yang nyuci gaun kamu?."
"Eum.. Soalnya ini nyuci nya memang harus di laundry, Tante. Hehehe."
"Oh begitu. Yaudah, kalo gitu Tante rekomendasiin laundry terbaik disini."
"Oh iya? dimana itu, Tan?."
Mama Meldo pun memberikan alamat lengkap serta nama laundry itu. Dengan sigap Caroline pergi menuju laundry itu. Caroline sangat kesal karena letak laundry nya berada di tengah-tengah gang kecil dan sempit. Sesampainya, Ia langsung memanggil petugas laundry untuk melayani nya.
"Permisi.." ucap Caroline sambil celingak-calinguk.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu, Mba?."
"Nyuci dong. Nih." ucap Caroline sambil memberikan tas besar itu kepada nya.
'Wih, ni orang titisan Pak Ruslan deh kayaknya. Cucian nya banyak banget! Kenapa sih orang-orang pada males nyuci?.' gumam Nita dalam hati.
Ya, Caroline sekarang sedang berada di Flower Laundry karena menerima rekomendasi dari Mama Meldo.
"Mba, ini mau di cuci ekspress?." tanya Nita dengan sopan.
"Ya, boleh."
"Kalo gitu duduk aja dulu, Mba."
"Oke."
Caroline duduk dan memainkan handphone nya. Ia pun memilih nomor yang akan di telponnya, yaitu nomor Meldo. Tanpa memikirkan Meldo sedang sibuk atau tidak, Ia pun langsung memulai panggilan terhadap Meldo. Sial, nomor itu tidak aktif. Caroline mulai menggerutu dan kesal.
Nita cukup terkejut memandangi sprei putih itu. Ini benar-benar menjijikkan, pikirnya. Nita pun mengambil sarung tangan karet untuk meraih sprei itu dan akan memasukkan kedalam mesin cuci.
'Cewek gila! Sanggup banget Dia nyuci sprei bekas wik wik nya disini. Bener-bener gak punya urat malu ni cewek.' gumam Nita dalam hati sambil menarik nafasnya.
"Oh iya dong! Aku bahkan udah ngelewatin malam panas sama si Meldo tadi malam. Dia klimaks sampe beberapa kali tau. Hahaha."
DUAAAARRR..
Seketika Nita merasa terkejut dengan ucapan konyol itu. Otak nya beku untuk berpikir ketika nama Meldo disebutkan dalam pembicaraan tidak etis itu. Dengan reflek, Nita memutar badannya dan menatap Caroline dengan ekspresi yang benar-benar terkejut.
"Yaa gak mungkin lah istrinya tau. Tapi bagus juga sih kalo Dia tau, hahaha. Biar mereka berantem hebat, terus cerai deh! Dan aku bisa puas pake si Meldo kapan pun aku mau! Kamu tau? Si Meldo itu bisa berubah jadi manusia ter tol0l kalo soal gairah. Dia bahkan gampang banget terangsang, hahaha. " ucap Caroline dengan telponnya yang tersambung kepada seseorang di seberan sana.
'Hah? Yaampun, Meldo yang dimaksud cewek ini Meldo yang mana sih? Mudah-mudahan bukan Meldo si monster itu. Astaga.' gumam Nita sambil terus memperhatikan Caroline.
______
"Udah, kamu jangan sedih terus dong. Sebenarnya kamu kenapa sih? Mana Meldo si kejam yang aku kenal?." ucap Tesi mengelus lembut kepala Meldo.
"Aku bahagia, Sayang. Kan tadi aku udah bilang sama kamu."
"Tapi gak nangis sampe sembab gini juga."
"Yauda iya, aku gak nangis."
Meldo dengan sigap menghapus air matanya. Perasaan nya kini bercampur aduk antara bahagia dan penyesalan yang melebur menjadi satu. Ia benar-benar merasa berdosa dan hina saat ini. Itulah yang menyebabkan air matanya terus mengalir.
"Selesai, sekarang aku udah gak nangis." ucap Meldo dengan suara yang cukup bindeng.
"Kamu kenapa nangis coba? Masalah apa yang kamu hadapin sampe bisa buat kamu kayak gini? Jujur, aku bawaannya mau ngakak ngeliat kamu yang biasanya kejam dan galak, malah mendadak jadi cengeng kayak gini. Hahaha."
"Kesalahan besar! Yang mungkin gak bisa di maafkan." ucap Meldo menatap lekat wajah Tesi.
Seketika Tesi langsung berdiam tanpa bahasa. Ia pun menatap heran wajah Meldo dan mulai bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi. Tanpa aba-aba, Meldo langsung memeluk tubuh Tesi dengan eratnya.
"Sayang.." panggil Meldo dengan suara nya yang serak.
"Hm?."
"Kamu bicara apa sih? Sekarang kan aku lagi hamil anak kamu, mana mungkin aku ninggalin kamu."
"Apapun yang terjadi, kesalahan apapun yang aku lakuin, kamu gak bakal ninggalin aku kan?."
Dengan lembut, Tesi melepas pelukan itu dan menangkup pipi Meldo dengan kedua tangannya dan menatap suami nya dengan lekat.
"Jangan ngomongin yang aneh-aneh." ucap Tesi dengan suara lembut.
"Aku..aku cuma takut aja kalo itu sampe terjadi."
"Udah ah, gak usah pikirin yang aneh-aneh. Mending fokus ke masa depan kita dan anak kita aja. Oke?."
Meldo pun dengan lembut mencium bibir Tesi. Tesi tentu membalas ciuman itu. Semakin terbuai, mereka semakin memperdalam ciuman itu. Namun tiba-tiba..
Krekk..
"Ouu sh*ttt." ucap Ruslan saat sembarangan masuk kedalam ruangan Meldo dan melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihatnya.
Dengan cepat Tesi mendorong Meldo dan membenarkan posisi duduk mereka. Tesi sangat malu dengan ini. Meldo membenarkan posisi dasi nya yang berantakan dan hampir terlepas karena ulah Tesi.
"Biasakan permisi dulu sebelum masuk!." ucap Meldo dengan bentakan.
"S..s..sorry, Bro. Gue cuma mau ketemu Tesi doang buat nyampein sesuatu." ucap Ruslan dengan tergagap.
"Nyampein...apa ya, Pak?."
"Ini, Tes. Nita tadi nelfon aku dan nyampein kalo Dia mau ketemuan sama kamu."
"Ketemuan?."
"Kalo gak penting, gak usah!." ucap Meldo yang ketus.
"Apaan sih kamu? Dia itu sahabat aku, gak ada alasan buat aku gak mau ketemu sama Dia." ucap Tesi dengan geram kepada Meldo.
"Pak Ruslan, tolong bilang sama Nita ketemuan di warung nasi goreng tempat biasa, jam dua."
"Oke, aku bakal segera bilang ke Dia. Kalo gitu, aku pamit dulu ya? Dan...maaf udah menganggu kalian, hehehe."
"Sangat sangat mengganggu! Kamu bakal tau akibatnya." ucap Meldo dengan tajam menatap Ruslan.
Ruslan bergidik ngeri dan langsung beranjak dari ruangan itu. Ia keluar menutup pintu dan memerintahkan kepada semua karyawan untuk tidak mengganggu Meldo serta jangan menghampiri ruangan Meldo dulu selama beberapa jam kedepan.
Sementara di sisi lain, Meldo dengan sigap memeluk Tesi dan akan mencium kembali bibir sexy istrinya itu.
"Eitt.." ucap Tesi dengan menutup bibirnya dengan tangannya.
"Apa sih? Kenapa?."
"Kali ini, ada syaratnya!."
"Syarat apa? Sama suami sendiri masa pake syarat-syaratan?."
"Kamu liat kan tadi? Orang lain bahkan pake perantara untuk berkomunikasi sama aku. Untuk itu, kasih aku handphone."
"Itu doang?."
"Huum."
Meldo beranjak dari duduknya dan membuka sebuah laci yang ada di rak buku. Ia pun mengambil paper bag kecil berwarna abu-abu dan memberikannya kepada Tesi.
"Apa ini?."
"Yang kamu mau lah."
Tesi membuka paper bag itu dan melihat isi didalam nya. Mata nya terbelalak saat meraih sebuah kotak yang ada di paper bag itu. Ya, Smartphone dambaan sejuta umat. Ia sangat senang menerimanya.
"Suka?." tanya Meldo dengan senyum tampannya.
"Banget. Tapi kok bisa langsung ada?."
"Aku sebenarnya udah dari kemarin beliin hp buat kamu. Tapi aku lupa-lupa terus mau ngasihnya, dan keingetnya selalu pas udah sampe dirumah, sementara hp nya ada di kantor."
"Oo gitu toh."
"Iya, maaf ya sayang."
"Gapapa kok. Makasih ya? Muachh." ucap Tesi yang dengan sekilas mengecup pipi Meldo.
"Oke, sekarang letakin dulu hp kamu dan lanjut kewajiban kamu. Yuk!." ucap Meldo yang meraih ponsel itu dari tangan Tesi dan menyingkirkannya lalu degan sigap menyerbu Tesi dengan penuh gairah.
Tbc...