My Obsession Is You

My Obsession Is You
Terpaksa menikah



Hari itu tiba, hari dimana dengan terpaksa Tesi harus rela menyerahkan dirinya pada Meldo. Dia menatap sedih dirinya. Ia tidak berhenti menganggap dirinya bodoh karena sudah menuruti permintaan Meldo yang memaksa nya untuk menikah dengannya.


Pernikahan itu berlangsung sangat sederhana. Meldo mendatangkan Ruslan, Nita dan Januar supirnya untuk menjadikan mereka sebagai saksi dan wali pernikahan.



Tesi menatap dirinya di cermin sambil membolak-balikkan tubuhnya untuk melihat keindahan gaun yang di pakainya secara keseluruhan.


"Cantik dan sangat bagus. Namun tidak untuk kebahagiaannya." gumam Tesi yang menunduk dan terduduk di kasurnya.



Sementara itu di kamar yang berbeda Meldo menatap dirinya di cermin dengan perasaan yang penuh dengan kemenangan. Ia sangat bangga terhadap dirinya karena bisa mendapatkan Tesi kembali dan bisa memilikinya secara utuh dan itu akan bertahan sampai selamanya.


Meldo sengaja membuat pernikahan ini secara tertutup dan tidak memberi tahu keluarganya. Karena keadaan yang tidak memungkinkan, dimana Tesi masih bersikap acuh tak acuh saat ini karena Meldo menyekap nya.


Proses pernikahan yang dilakukan secara agama itu akan segera berlangsung. Tesi pun menampakkan dirinya untuk duduk di samping Meldo. Saat hendak berjalan, matanya terbelalak melihat Nita sahabatnya yang berada di ujung sana. "Nita?." gumam nya dengan penuh kelirihan. Nita yang melihat Tesi dari kejauhan hanya bisa menangis pelan karena tidak tega melihat sahabat nya harus semenderita ini.


Proses pernikahan itu berjalan dengan hikmat. Kini Meldo dan Tesi sudah SAH menjadi pasangan suami istri. Meldo langsung memberi kode pada Nita untuk membawa Tesi ketempat lain agar Nita menenangkan nya. Nita pun menurut. Mereka berjalan menuju kamar Tesi sambil mengelus-ngelus punggung Tesi agar Dia lebih tenang.


Sesampainya dikamar, Nita menutup pintunya dengan pelan lalu menguncinya..


"Tesiii."


"Nitaaa."


Mereka berpelukan dengan nangis sesenggukan di antara keduanya. Air mata membanjiri pipi mereka karena mengingat kejadian yang menyedihkan ini.


"Tes, lu yang sabar ya? Gue sedih banget sebenarnya. Gue juga gak tau harus ngelakuin apa, Tes." ucap Nita dengan mengeratkan pelukannya.


"Yaudah kita duduk dulu." lanjut Nita dengan membopong Tesi ke ranjang.


"Lu kenapa bisa disini, Nit? Lu kenal sama psycho itu?." tanya Tesi pada Nita


"Engga, Tes. Jadi gini, waktu lu kabur, Dia datengin laundry terus buat nanya-nanyain li."


"Terus lu kok bisa disini? Dateng ke nikahan gue?."


"Yaaa mau gimana lagi? Gue di ancam terus sama Dia. Dia maksa banget buat jadiin gue sebagai wali lu. Tapi tenang aja, Tes. Gue udah memberikan S&K sama Dia. Gue udah nyuruh Dia buat sayang dan cinta sama lu. Gak nyakitin lu." ucap Nita lembut dengan dibaluti senyuman.


"Tapi gue takut Nit.. Gimana sama Ibu gue? Gue khawatir banget. Hikss..hikss..hikss."


"Nit? Lu bakal sering mampir kesini kan?."


Degg...


Pertanyaan Tesi membuat Nita sedikit kaget. Pasalnya, bagaimana bisa Ia datang kesini lagi? Gak mungkin Dia bisa melangkahkan kakinya dengan sesuka hati nya dirumah ini. Kecuali kalau Meldo yang menyuruh nya untuk kesini.


"I..iya gue usahain ya, Tes." ucap Nita dengan lembut sambil memeluk Tesi.


Tok...tok..


Suara ketukan pintu kamar itu menggema dari luar. Dengan sigap Nita membukakannya. Nita kaget, ternyata yang menghampiri kamar itu adalah Meldo. Meldo langsung menarik lengan Nita dengan kuat dan menekannya cukup keras dengan membawa Nita jauh dari kamar itu.


"Aw... Sakit!." lirih Nita.


"Heh, Kamu gak ada bikin rencana yang aneh-aneh kan sama Tesi?." tanya Meldo dengan menatap tajam mata Nita.


"Rencana apa? Saya cuma menghibur Dia, itupun tadi Bapak yang suruh. Saya gak ada buat rencana apapun!." ucap Nita dengan menunduk dan suara yang penuh dengan siksaan.


"Bagus! Awas ya kamu kalo sampe buat rencana yang aneh-aneh sama Tesi. Apalagi sampe membantunya kabur dari sini. Kalo itu terjadi, kamu siap-siap aja mati dengan segala siksaan dari saya. Sekarang kamu pulang bersama Ruslan. Sana turun!." ucap Meldo dengan menghentakkan tubuh Nita dan langsung pergi meninggalkannya.


Meldo masuk kedalam kamar Tesi dan melihat Tesi yang sedang memandang arah luar dari jendela kamarnya.


"Kamu lagi ngapain sayang?." ucap Meldo sambil memeluk Tesi dari belakang.


"Lepasin gue, br3ngs3k!!." Tesi berusaha membrontak.


"Ayolah sayang, ini hari bahagia kita. Kamu jangan terus-terusan begini dong." ucap Meldo yang tak mau melepas pelukannya.


"Minggir, gue mau mandi." Tesi mendorong tubuh Meldo


Meldo tersenyum sinis dan menatap Tesi yang sudah membelakanginya. Dengan perlahan Meldo melangkahkan kakinya mengikuti Tesi. Tesi yang sadar akan hal itu, langsung dengan cepat mengunci pintu kamar mandi nya.


"Teruslah bersikap seperti ini, Tesi. Aku akan sabar menunggumu untuk bisa cinta sama aku. Dan aku gak akan berhenti berusaha pastinya." ucap Meldo santai dan pergi meninggalkan kamar itu.


Tesi yang menyenderkan badannya dibalik pintu pun lagi lagi menangis. Ia tak habis pikir bisa menikah dengan lelaki yang menurutnya egois akut itu.


Tbc..