My Obsession Is You

My Obsession Is You
Permintaan maaf Caroline



"Meldo.." panggil Tesi terhadap Meldo yang sedang fokus dengan makan nya.


"Hm?."


"Kalo aku hamil, kamu bakalan tanggung jawab kan?."


Sontak, Meldo langsung memberhentikan kunyahannya dan menatap Tesi dengan heran. Pertanyaan konyol yang di lontarkan Tesi benar-benar ingin membuat Meldo tertawa lepas. Meldo pun menghabiskan makanan yang didalam mulutnya dan meminum seteguk air.


"Enggak! Kalo kamu hamil, aku bakal buang kamu ke hutan, terus aku hamilin cewe lain lagi." ucap Meldo bercanda dengan tujuan menjaili Tesi.


"Emang kamu pikir aku percaya? Wlee."


"Abisnya pertanyaan kamu aneh sih."


"Siapa tau kan, kamu nikahin aku cuma buat main-main doang."


"Mana ada nikah main-main, sayang. Udah deh, gak usah mikir yang aneh- aneh."


Meldo kembali melanjutkan makannya dengan hikmat. Sementara Tesi diam memikirkan hal yang terjadi antara Caroline dengan Meldo. Rasa penasaran itu kembali berkecamuk di dalam dirinya, Ia sangat kepo dengan keadaan keluarga Meldo yang sebenarnya.


------


Caroline masih menjajahi seluruh gedung kantor Christopelago Group itu. Matanya seolah tak berhenti menatap setiap sudut terindah yang ada di gedung itu. Saat di rasanya sudah bosan, Ia pun merebahkan tubuhnya di sebuah sofa empuk yang ada di lobby.


"Lama banget si Tante jumpain temen arisannya." gumam Caroline sambil menatap layar ponsel nya.


Setelah menatap layar ponsel, pandangan Caroline beralih kearah lift yang terbuka dan banyak hamburan orang yang keluar dari lift itu, termasuk Ruslan dan Johan. Caroline tersenyum sinis melihat Johan yang berjalan sambil membicarakan sesuatu pada Ruslan.


Saat hendak berdiri dengan tujuan menyusul Johan, tiba-tiba Caroline merasakan sakit kepala dan pandangannya berputar-putar. Dia memegang pelipis nya dan dirinya kembali terduduk karena mendadak tidak kuat berdiri.


"Nona? Anda kenapa?." ucap seorang OB yang menyadari kalau Caroline sedang merasakan sakit.


"Tolong.. Tolong bawa saya kerumah sakit."


Sang OB mendadak panik setelah mendengar permintaan Caroline. Dengan sigap, sang OB mencari pertolongan lain agar bisa membawa Caroline kerumah sakit. Tak menunggu lama, beberapa karyawan membopong Caroline kedalam mobil dan membawa nya kerumah sakit.


-------


Setelah selesai makan, Tesi dan Meldo kini bersantai di sofa empuk ruang tamu mereka. Tesi merasa bosan dengan aktivitas monoton ini.


"Do, ke mall yuk?." ucap Tesi.


"Ngapain? Kamu butuh sesuatu? Biar aku suruh aja para bodyguard beliin."


"Ih, aku bosen! Pengen kaluar cari udara segar."


Sesudah Tesi selesai berbicara, tepat disitu handphone Meldo berbunyi dan bertuliskan Mama yang menelfon di seberang sana.


"Ya? Hallo, Ma?."


"Meldo, Caroline masuk rumah sakit. Dia tadi oyong dan kata Dokter Dia kurang darah. Tapi sekarang udah agak baikan kok."


"Ya terus urusannya sama aku apa, Ma?."


"Kamu kesini lah jenguk Dia. Sekarang ya? Bye." ucap Mama dan langsung memutuskan sambungan telfon itu.


Meldo menarik nafasnya kasar dan meletakkan handphone itu dengan sedikit membanting nya.


"Kenapa?." tanya Tesi penasaran.


"Kita kerumah sakit sekarang! Si Caroline sakit."


Tanpa basa-basi, Meldo dengan malas melangkah kan kaki nya menuju kamar untuk mengganti pakaian. Begitu juga dengan Tesi yang sedang mengganti pakaiannya. Setelah di rasa selesai, mereka langsung jalan menuju rumah sakit.


Sesampainya, mereka langsung melangkah menuju ruang rawat inap Caroline. Tanpa mengetuk, Meldo dan Tesi langsung masuk ke ruangan itu. Disana sudah ada Johan dan Mama. Mama menyambut mereka dengan senyum sumringahnya. Sedangkan Johan duduk di sofa sambil memainkan handphone nya.


"Mbak, udah ngerasa enakan belum?." tanya Tesi berusaha ramah.


"Udah kok. Makasih ya kalian udah datang."


"Iya, Mbak! Sama-sama."


Meldo menatap malas dua sejoli itu. Dia tidak suka melihat Tesi terlalu dekat dengan Caroline.


"Meldo, aku mau bicara sesuatu sama kamu." ucap Caroline penuh harap.


Seolah tau maksud Caroline, semua yang berada di ruangan itu beranjak pergi keluar dan meninggalkan Caroline dengan Meldo saja. Kini hanya tinggal mereka berdua didalam situ.


"Ada apa?." tanya Meldo dengan ketus.


"Aku mohon kubur dalam-dalam masa lalu yang buruk itu, Do. Jangan bersikap kayak gini sama aku! Aku bener-bener gak sanggup liat sikap dingin kamu sama aku. Kamu bener-bener beda dari yang dulu, Meldo."


"Diam, kamu! Ternyata ini yang mau kamu ceritain? Tau gitu tadi aku nolak aja."


"Do, aku minta maaf atas kelakuan bodoh aku di masa lalu. Jujur, sebenarnya kedatangan aku kesini cuma mau menebus semua kesalahan aku, memperbaiki yang selama ini rusak di antara kita."


"Gak perlu minta maaf lagi, Lin. Saranku, setelah keluar dari rumah sakit, mending kamu balik aja ke Amerika dan gak usah menampakkan diri lagi di hadapanku."


"Aku tau kesalahan ku fatal dan sulit untuk kamu maafkan! Aku janji bakal perbaiki semuanya, Do. Setelah kamu maafin aku, aku bakal balik ke Amerika."


"Omong kosong!."


"Aku minta maaf karena aku udah jatuh cinta sama kamu di masa lalu, dan hampir melakukan hal gak senonoh sama kamu! Gak seharusnya aku kayak gitu sama kamu, sepupu aku sendiri. Aku minta maaf, Do."


Meldo kesal setengah mati mendengar ini, seketika ingatannya mengenai masa lalu terekam kembali di otaknya. Begitu jelasnya otak itu memutar kembali apa yang sudah terjadi. Ingin rasanya Meldo membunuh wanita ini saat ini juga.


"Cukup, Caroline! Cukup!." teriak Meldo dengan nafasnya yang memburu.


Meldo pun keluar meninggalkan ruangan itu. Mama dan yang lainnya sangat kaget saat Meldo melewati mereka dengan perasaan yang sangat kacau. Dengan ligat, Tesi langsung menyusul Meldo.


"Meldoo.. Tunggu!." teriak Tesi.


Menyadari itu, Meldo langsung memberhentikan langkah nya dan membalik badan nya untuk menatap Tesi.


"Kita ke hotel ya? Aku mau istirahat." ucap Meldo.


"Kenapa gak kerumah Mama aja?."


"Aku males nginjak rumah itu. Kita ke hotel aja! Aku bener-bener stress dan butuh tidur."


Tanpa menunggu respon dari Tesi, Meldo langsung menarik tangan Tesi menuju parkiran dan masuk kedalam mobil. Tak jauh lokasi hotel yang dipilih Meldo, mereka langsung check in dan Meldo memilih kamar di lantai 25.


Sesampai di kamar, Meldo langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur king size tersebut. Ia memejamkan matanya dengan perasaan yang penuh kegundahan. Tesi yang menyadari itu memilih diam dan menonton TV saja.


Meldo memejamkan matanya namun tidak tidur, Ia malah mengingat kembali kisah masa lalu nya bersama Caroline dan Johan.


"Kamu gapapa?." tanya Tesi merasa khawatir dengan kegelisahan Meldo.


Meldo menarik nafasnya panjang. Ia pun berinisiatif akan menceritakan semuanya pada Tesi. Memang sepantasnya Tesi tau semua ini. Toh, wanita itu adalah istrinya dan sekaligus Ia ingin agar Tesi tidak terlalu dekat dengan Caroline.


"Aku bakal ceritiain semuanya sama kamu."


Tesi dengan semangat membenarkan posisinya dan dengan seksama memerhatikan Meldo yang akan membicarakan masa lalunya bersama Johan dan Caroline.


"Jadi, dulu itu...."


Tbc..