My Obsession Is You

My Obsession Is You
Panggil 'Aku', 'Kamu'.



Pagi-pagi sekali Tesi terbangun, tepatnya pukul 04.00 wib. Tesi masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan air hangat. Otak nya tiba-tiba saja merekam kejadian tadi malam yang membuatnya langsung bergidik ngeri.


"Apaan sih? Kenapa jadi keinget terus?." gumam Tesi sambil cepat-cepat menyelesaikan mandi nya.


Tesi mengambil baju nya dan memakainya dengan rapih. Setelah di rasanya sudah beres, Ia beranjak ke kamar tamu yang ditempati oleh Meldo dan akan membangunkan Meldo.


Dengan menarik nafasnya dalam, Tesi memegang gagang pintu dan segera membukanya. Perlahan, Ia mendorong pintu itu dan melihat sekeliling kamar. Meldo masih meringkuk didalam selimutnya, tidur nya sangat nyenyak sehingga Tesi merasa segan untuk membangunkannya.


"Meldo.." ucap Tesi pelan sembari mendudukkan dirinya di pinggir ranjang.


"Meldo, ayo bangun! Kita pulang sekarang, lu kan harus ngantor juga." sambung Tesi.


"Aku gak mau bangun kalo kamu masih manggil pake 'lu' 'gue'." ucap Meldo yang masih memejamkan matanya.


"Dih, apaan sih? Buruan lah, gak usah banyak alesan."


"Mulai sekarang biasakan panggil dengan sebutan 'aku kamu'."


Meldo langsung beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia membersihkan dirinya dengan air hangat sambil membayangkan kejadian semalam. Jika Tesi merasa merinding mengingat kejadian itu, justru Meldo malah sebaliknya, Ia malah senyum-senyum ketika mengingat kejadian semalam.


Setelah selesai, Meldo langsung memakai baju kantornya dengan rapih dan menyisir rambutnya secara klimis. Saat di rasa sudah rapih, Ia segera turun kebawah untuk menjumpai Tesi dan Mama nya.


"Ma, kita langsung pamit aja ya?." ucap Meldo.


"Gak sarapan dulu?."


"Gak usah, kita sarapan di kantor aja."


"Loh? Kamu mau bawa Tesi ke kantor?."


"Iyalah, aku mau pamerin istri baru sama orang-orang kantor. Hehe."


"Apaan sih kamu?." ucap Tesi sambil mencubit pelan perut Meldo.


"Yaudah deh, Ma. Kita pamit ya? Bye."


Meldo dan Tesi beranjak dari rumah itu dan masuk kedalam mobil. Meldo degera menancap gas nya untuk menuju ke kantor.


"Bisa pelan dikit gak bawa mobil nya?." ucap Tesi dengan ketus.


"Kenapa? Kamu mau lama-lama ya sama aku?." ucap Meldo dengan pede nya.


"Dih, amit-amit! Gue cuma gak mau mati muda!."


"Heh, kan udah di ajarin tadi! Panggilnya aku kamu."


"Maaf!."


Tepat di persimpangan terdapat lampu merah yang mengharuskan kendaraan harus berhenti sementara. Meldo pun mengambil kesempatan untuk menggoda Tesi dan menakutinya.


"Sayang? Lagi lampu merah nih." ucap Meldo sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Apaan sih? Gak jelas!." ucap Tesi ketus.


"Anu.."


Meldo dengan segera mendekatkan wajahnya kepada wajah Tesi. Kini hidung mereka sudah saling menempel. Tesi membelalakkan matanya dengan kegugupan yang luar biasa. Dengan segera Ia mendorong Meldo sekuat mungkin sehingga Meldo tersungkur. Kini lampu merah itu sudah berubah menjadi hijau.


"Gila lu ya!. Dasar mesum!." teriak Tesi dengan kesalnya.


"Hahahaha. Polos banget istri aku, jadi gemes pengen makan." ucap Meldo sambil mencubit pipi Tesi.


Kini Meldo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kantor Meldo. Meldo keluar dari mobil di barengi dengan Tesi.


Seluruh penjuru kantor menatap pasangan itu dengan heran dan membelalakkan mata mereka. Apalagi, Meldo menggandeng tangan Tesi dengan mesra nya.


"Mereka.. Pacaran?." ucap salah satu karyawan kepada karyawan lainnya.


"Gak tau sih. Tapi kayaknya iya deh."


Meldo tau jika para karyawannya sedang membicarakan kemesraan mereka. Meldo pun semakin menciptakan kemesraan kepada Tesi. Kini tangan Meldo beranjak memeluk pinggang Tesi dari samping.


"Meldo, jangan gini dong." bisik Tesi dengan kesal.


"Kan kita udah suami istri, apa salahnya?."


"Tapi tetap, gak enak diliat orang."


"Biarin aja! Emang dasarnya mereka aja yang jomblo."


"Isshh."


Kini Meldo dan Tesi masuk kedalam lift khusus yang hanya di peruntukkan untuk Meldo seorang. Saat lift terbuka, mereka melenggang masuk. Didalam lift, Meldo mencium pipi Tesi sekilas.


"Heh, bisa ngga sih gak usah mesum? Ini di lift dan itu ada cctv!." ucap Tesi dengan kesal.


"Ini kan kantor aku? Ya suka-suka aku lah!."


Tesi tidak merespon dan menarik nafasnya dengan kasar. Kini mereka sudah sampai di lantai 4 tempat ruangan Meldo bekerja. Meldo pun masuk dengan di ikuti Tesi dari belakang. Tesi duduk di sofa sambil menarik satu majalah yang ada di meja. Sedangkan Meldo duduk di meja kerja nya sambil menatap laptopnya dan memulai bekerja.


"Ngapain sih ngajak aku kesini? Aku bosen nanti jadinya." ucap Tesi dengan mengerucutkan bibirnya.


"Biar aku semangat kerja nya."


"Modus mulu!."


"Kalo bosen, kamu masuk aja keruangan ini." ucap Meldo sambil mengambil sebuah remot dan mengarahkan nya ke rak buku. Tesi saat melihat rak buku itu terbuka lebar dan di baliknya terdapat pintu ruangan.


"Widihh... Ruangan apa ini?." ucap Tesi yang sudah bangkit dari duduknya dan menatap heran ke arah pintu itu.


"Itu ruangan santai. Didalem ada kasur, LED tv, toilet, dll."


"Beneran?."


"Masuk aja."


Tesi pun melangkah masuk kedalam. Dia terpukau dengan luasnya ruangan itu bak hotel bintang lima. Dia langsung merebahkan dirinya di kasur empuk dan besar itu.


Tbc..