My Obsession Is You

My Obsession Is You
Setelah nya



6 Bulan kemudian..


Keadaan yang membuat Meldo semakin terpuruk selama 6 bulan belakangan, benar-benar membuatnya hancur berantakan, bahkan sudah tidak terlihat seperti manusia normal lagi, setiap hari Ia selalu teriak, menangis dan juga terkadang menghancurkan barang-barang yang di sekitar nya. Mama sangat prihatin dengan kondisi anaknya saat ini, Mama pun memutuskan untuk meminta Andre seorang Psikolog pribadi keluarganya untuk mengecek keadaan anaknya secara rutin. Meldo hanya menghabiskan waktunya di kamar dengan melamun dan menangis, saat malam tiba Ia selalu meminum alkohol hingga bebotol-botol. Mama sudah sangat keras melarang Meldo untuk tidak minum minuman alkohol, tapi jika tidak dituruti, Meldo semakin menjadi-jadi tingkahnya. Untuk itu dengan terpaksa Mama selalu membeli alkohol untuk Meldo.


Perut Caroline sudah tampak membucit, Ia pun juga prihatin dengan keadaan Meldo saat ini, hatinya terasa tercabik-cabik saat Ia tau bahwa cinta Meldo tidak terbatas terhadap Tesi. Meldo berkali-kali mengatakan padanya bahwa Dia tidak akan pernah mau menjadi Ayah dari anak yang di kandung oleh Caroline, bahkan Meldo pernah hampir menusuk perut Caroline karena Dia sangat membenci wanita itu serta anak yang di kandung nya. Rasa iri Caroline semakin mendalam terhadap Tesi, Ia bahkan merasa bahwa dunia ini sudah tidak adil untuknya.


"Tante.." panggil Caroline dengan lembut saat Mama Meldo keluar dari kamarnya.


"Mau apa kamu?."


"Tante lapar nggak? mau aku buatin makanan?."


"Nggak perlu!."


Mama Meldo langsung pergi meninggalkan Caroline yang terdiam disitu. Sejak Mama mengetahui kebenaran yang menyakitkan ini, Mama sangat tidak menyangka dengan kelakuan bejat anaknya serta keponakannya itu. Mama pun akhirnya membenci Caroline dan sedikit menyesal telah membawa Caroline kesini. Mama tidak bisa berbuat apapun selain pasrah dan menyayangkan semua yang telah terjadi. Tidak jarang Mama menangis sendiri di kamar jika mengingat semuanya.


_____


Saat ini perusahaan di handle oleh Johan dan juga Ruslan. Nasib baik menghampiri mereka, walaupun tanpa ada tangan Meldo yang ikut campur, perusahaan itu sangat berjalan dengan mulus. Kabar tak mengenakkan itu pun di tutup oleh keluarga Meldo dengan sangat rapat, mereka tidak mau reputasi perusahaan ikut hancur karena masalah rumit itu.


Para karyawan serta rekan bisnis lainnya tentu bertanya-tanya soal Meldo yang tidak pernah lagi datang ke perusahaan selama beberapa bulan terakhir. Johan pun mengalihkan isu itu dengan mengatakan bahwa Meldo sedang ada urusan di luar negeri bersama istrinya dan tidak bisa di pastikan kapan akan kembali lagi ke tanah air.


"Ruslan, kenapa bengong?." tanya Johan yang saat ini sangat tidak konsentrasi untuk bekerja.


"Nita."


"Kenapa sama Nita?."


TLAKKK..


Ruslan membanting dokumen yang ditangannya ke meja yang ada didepannya. Ia pun menatap Johan dengan pandangan yang merengek seperti anak kecil. Johan sangat jijik melihat ini.


"Keluarga kalian yang bermasalah, kenapa Nita juga ikutan hilang?." ucap Ruslan dengan ekspresi rengekannya.


"Nita kan temen dekatnya Tesi, ya jelas lah Tesi bawa dia pergi juga. Udah deh, mending lu beresin proposal yang belum selesai, biar di pelajarin dan kita bisa mulai proyek baru."


"Gak ada rencana buat nyari mereka nih?."


"Gak ada perintah dari Meldo."


"Si Meldo lagi depresi parah, Jo. Mana bisa Dia berpikir jernih! Nunggu Dia sembuh? Gak akan pernah."


Johan menatap tajam kearah Ruslan dan menutup kasar map dokumen yang dibukanya tadi. Ruslan menelan saliva nya dan baru menyadari omongan nya tersebut.


"Ucapin sekali lagi yang lu bilang barusan!." ucap Johan dengan datar dan nada yang dingin.


Ruslan langsung berlari dan meninggalkan ruangan itu dengan terburu-buru. Sebenarnya, Johan sudah mengerahkan beberapa orang-orang nya untuk mencari Tesi, namun hasilnya nihil. Dan seminggu yang lalu, pencarian itu di berhentikan oleh Johan karena tidak menemukan petunjuk apapun.


______


Jeonju Hanok, Korea Selatan


//


Saat ini Tesi sedang duduk di teras sambil mengelus perutnya yang buncit dan menyanyikan lagu yang syahdu untuk sang anak. Tesi kemudian memandang ke sembarang arah dan menarik nafasnya dengan dalam. Sejujurnya Tesi masih sangat sedih dengan apa yang terjadi pada dirinya dan Meldo. Tidak munafik, Ia bahkan masih memikirkan Meldo setiap malam dan tak jarang menangis sendiri jika mengingatnya. Kehidupan nya selama di Korea cukup baik, tidak ada sama sekali pengganggu yang mengacau kan mereka.


Selama memulai hidup di Korea, Ibu tidak mau hanya tinggal diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Sampai akhirnya, Ibu memutuskan untuk berjualan Kimbab makanan khas orang Korea. Mereka berjualan masih di sekitaran desa tersebut dan tidak begitu jauh dari rumah. Nita juga ikut membantu jualan Kimbab bersama Ibu, Ia pun ikut senang dan merasa lega karena sudah memulai hidup baru disini. Selain Nita, ada juga teman karib Juan yang ikut membantu jualan sang Ibu, namanya Anton. Fungsi Anton ialah sebagai penerjemah para pelanggan yang jelas tidak bisa berbahasa Indonesia, dan Ibu yang tidak bisa berbahasa korea. Tesi juga pernah membantu Ibu berjualan Kimbab, namun karena perutnya sudah membesar, Ibu jadi khawatir dan melarang Tesi untuk ikut berjualan lagi.


Kedai Kimbab milik mereka baru saja buka selama 2,5 bulan ini, namun pencapaian yang didapat sungguh luar biasa. Setiap hari para pelanggan beramai-ramai datang mengerubungi kedai kimbab milik Ibu. Tak jarang, Kimbab itu habis belum sampai sehari. Seperti sekarang ini, Kimbab yang mereka jajakan di kedai sudah habis padahal hari masih siang.


"Hari ini habis cepat lagi, Bu." ucap Anton dengan antusias.


"Iya. Syukur lah kalau gitu. Makasih ya, nak Anton."


"Bu, udah sering banget loh saya bantuin Ibu jualan, kenapa Ibu selalu sungkan dan selalu bilang makasih sama saya? Saya justru malah senang banget Bu ada kalian disini, saya jadinya gak kesepian lagi."


"Tapi kamu baik banget, Anton. Kami jadinya gak enak." ucap Nita.


"Santai aja, Nit. Anggap aja kita ini keluarga."


Nita pun tersenyum dengan anggun mendengar perkataan Anton. Anton pun sebaliknya, Ia membalas senyum Nita dengan manisnya.


"Ehem."


Ibu sadar dengan keuwuan yang terjadi di antara mereka. Dan Ibu pun sudah mengacaukan momen indah itu.


"Nanti lagi dilanjut senyum-senyum nya. Sekarang, kita beresin dulu kedai nya, abis itu pulang." ucap Ibu sambil tertawa.


"Iya, Bu. Kasian juga sama Tesi yang sendirian dirumah." sambung Anton.


"Oh iya, Nton. Katanya Juan udah pindah tugas ya? Dan sekarang Dia udah gak di Jakarta lagi?." tanya Nita sambil membereskan kursi.


"Iya, Nit. Dia udah pindah tugas ke Surabaya."


"Wah, bagus deh."


Mereka pun melanjutkan bersih-bersih.


Tbc...