
Hari ini adalah hari minggu. Meldo terbangun dari tidur nya dan menatap istri nya dengan teduh. Ia menyimpulkan senyumnya dan mengelus pipi istrinya dengan kasih lalu mencium kening istrinya. Ia tidak mau membangunkan Tesi, karena Ia melihat tidur Tesi sangat pulas dan nyenyak.
Tesi dan Meldo memutuskan untuk dirumah saja menghabiskan waktu dengan membuat kue donat. Saat Meldo selesai mandi, Tesi terbangun dari tidurnya dan menatap sang suami yang keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggang nya.
"Kamu jam berapa bangun?." tanya Tesi.
"Belum lama kok, tadi pas bangun langsung mandi."
"Oh gitu."
"Yaudah, kamu mandi gih! Katanya tadi malem mau buat sesuatu?."
"Okee." Tesi bangkit dari tidur nya dan segera mandi.
Setelah selesai mandi dan sudah rapih, kini dua insan itu sedang berada di dapur dengan celemek yang menempel di tubuh mereka, serta alat dan bahan masakan yang sudah siap di olah.
"Hari ini kita bakalan buat donat. Nih, kamu bacain menu apa aja yang mau di olah, oke?." ucap Tesi dengan memberikan buku menu pada Meldo.
Meldo menyandarkan dirinya di table kitchen set sambil membacakan bahan-bahan apa saja yang akan di sajikan untuk membuat donat. Tesi dengan cekatan melaksanakan apa yang di perintahkan oleh Meldo. Meldo tersenyum melihat istrinya yang begitu lihai dalam memasak.
"Oke, sekarang tinggal di masukin ke oven." ucap Tesi dengan senyum nya yang mengembang.
Setelah selesai memasuki olahan donat kedalam oven, Tesi dan Meldo duduk di meja makan sambil menunggu donat itu mengembang dalam beberapa menit kedepan.
"Oh iya, aku mau nanya sesuatu, boleh?." tanya Tesi.
"Boleh dong. Mau tanya apa, sayang?."
"Johan kenapa bisa tinggal sama kamu? Orang tua nya dimana?."
"Oh itu.. Orang tua Dia udah meninggal pas Dia masih kecil, meninggalnya karena kecelakaan pesawat. Nah, pas dulu kita ketemu di kuburan waktu kecil, itu aku baru abis ziarah dari makam Mama Papa nya Dia."
"Hah? Serius? Yaampun, kasian banget Johan. Disaat masih kecil, Dia harus menerima kenyataan pahit."
"Begitulah hidup."
"Terus si Caroline, gimana?."
"Kalo Caroline tinggal sama Mama nya. Orang tua Dia udah cerai waktu masih SMA."
"Terus kalo kamu... Gimana?." tanya Tesi yang kali ini di ambang penuh keraguan dan kegugupan.
"Sama, Mama Papa aku juga cerai. Papa aku orang yang kasar, suka main tangan, tukang selingkuh dan jarang pulang. Itu sering terjadi saat aku masih umur 5 tahun. Aku tertekan dengan kelakuan Papa yang begitu kasar sama aku dan juga Mama. Sampe akhirnya, Mama minta cerai dan bawa aku pergi. Saat itu, aku di vonis punya trauma berat dan mental aku terganggu. Tapi syukur nya sih gak sampe gila dan aku udah sembuh sekarang."
"Yaampun, seriusan?."
"Iya lah. Masa aku bohong."
"Terus sekarang Papa kamu dimana?."
"Gak tau dan gak peduli."
Tesi terdiam sesaat. Ia tidak menyangka bahwa masa lalu Meldo begitu kelam dan pahit. Dia menatap nanar wajah suami nya itu. Dia pun sadar atas perlakuan Meldo yang pernah menculiknya, Dia menduga bahwa itu adalah pasca traumatic yang pernah dialami Meldo sehingga Meldo masih acuh tak acuh.
Ting..
"Wah, donat nya gendut banget." ucap Tesi sambil menciumi aroma donat itu.
"Emang ada donat gendut? Hahaha."
"Ini buktinya, kamu liat aja donat nya gendut banget, mengembang sempurna."
"Kamu ada-ada aja deh. Hahaha."
Tesi pun menaruh donat itu di meja dan mulai menaruh topping berupa tepung manis di sekeliling donat itu. Dengan senyum yang mengembang, Tesi mengangkat donat nya dan memamerkan nya pada Meldo.
"Liat nih, donat montok buatan Tesi." ucap Tesi dengan bangga nya.
"Aku coba yah."
Meldo mengambil satu donat itu dan memakannya dengan perlahan. Dan tak disangka, ternyata donat itu begitu nikmat dan empuk. Meldo sangat ketagihan dengan ini, Ia pun terus minta tambah lagi dan lagi.
"Udah dong, nanti aku gak kebagian."
"Kalo habis, kamu buat lagi."
Kini Tesi dan Meldo memakan donat itu dengan bahagia.
--------
Di meja makan, Caroline, Mama dan Johan sedang menikmati sarapan dengan hikmat dan penuh ketenangan. Beberapa menit kemudian, mereka telah menyelesaikan ritual sarapan itu dan berbincang hangat.
"Tante, hari ini gak ketemu sama Meldo? Kan ini hari libur." ucap Caroline.
Seketika Johan merasa kaget dengan perkataan Caroline. 'Kan bener, lu masih suka modus sama Meldo.' gumam Johan dalam hati.
"Mungkin nanti siang mereka kesini. Tapi gak tau juga deh." ucap Mama.
"Kenapa gak kerumah nya aja, Tan?."
"Tante gak tau mereka tinggal dimana."
"Hah? Kok bisa? Masa Tante gak tau Meldo sama istrinya tinggal dimana?."
"Meldo itu bersikap semau nya aja. Dia katanya yang bakal sering datang berkunjung kesini."
'Kok gue ngerasa ada yang aneh ya? Kenapa Meldo tinggal nya sembunyi-sembunyi gitu?' gumam Caroline dalam hati.
"Johan, kamu pasti tau Meldo tinggal dimana, yakan?." ucap Caroline.
"Gak tau."
"Bohong banget."
"Yaa lagian urusannya sama lu apa? Toh, Dia juga sering kesini kok."
Seketika Caroline terdiam dan tidak menggubris apapun.
Tbc..