
Visual : dr. Juan
______________________________________
"Oh, jadi anda yang buat istri saya gak tidur dan malah berkeliaran di area rumah sakit?." ucap Meldo pada Juan dengan suara yang tinggi.
Ibu melihatnya kaget dan Tesi pun terbangun karena mendengar suara Meldo yang cukup keras.
"Nak, sabar dulu." ucap Ibu kepada Meldo.
"Jangan salah paham. Saya cuma teman lama nya Tesi." ucap Juan dengan senyum ramahnya.
Tesi yang melihat itu langsung berdiri untuk menengahi pertengkaran antar dua lelaki tampan yang ada di hadapan nya saat ini. Tesi begitu panik saat Juan yang menjelaskan bahwa mereka duduk bersama saat subuh tadi.
"Do, kamu gak ke kantor? Atau mau sarapan dulu?." ucap Tesi berusaha membujuk Meldo.
"Dia siapa?." tanya Meldo sedikit ketus sambil menatap Tesi yang ada di sampingnya.
"Kan tadi Dia udah jelasin Dia siapa."
"Aku gak butuh penjelasan dari Dia, yang aku butuh penjelasan dari kamu."
"Dia Juan, temen aku waktu SMA. Nita juga kenal kok sama Juan."
"Kamu mandi dan jangan lupa sarapan. Dan untuk anda dr. Juan yang terhormat, jangan berlama-lama disini."
"Kamu apaan sih, Do? Dia kan mau jenguk Ibu"
"Jenguk Ibu? Emang ada urusan apa Dia sama Ibu?."
"Yasudah, kalo gitu saya permisi dulu. Tesi, terimakasih atas pertemuan sewaktu subuh tadi, aku beneran gak nyangka kita ketemu lagi." ucap Juan sembari senyum pada Tesi.
"Kalo mau pergi, pergi aja! Gak usah modus banyak drama!." ucap Meldo dengan membentak Juan.
"Meldo! Apaan sih kamu." ucap Tesi.
Sementara Ibu yang melihat kejadian ini hanya berusaha menahan tawa nya. Ibu paham bahwa Meldo sangat cemburu dengan kedatangan Juan pagi ini.
Meldo akhirnya menyudahi perdebatan nya dengan Juan, langkahnya yang gusar membawanya pergi menuju kantor. Sebelum ke kantor, Meldo memutuskan untuk singgah ke suatu tempat terlebih dahulu.
Tin..tin..
Suara klakson mobil Meldo sungguh menggema membuat telinga sakit dan tentu beberapa orang sangat kesal dengan itu.
"Siapa sih itu? Masih pagi buta udah gak selow aja bawaan nya." ucap Nita dengan kesal.
Ya, Meldo singgah ke Flower Laundry untuk mencari tau tentang Juan dan memastikan apakah benar Nita mengenal Juan juga atau tidak.
Mata Nita terbelalak dan menelan siliva nya ketika melihat sosok pria dengan stelan jas abu-abu itu. Nita pun tidak tau harus melakukan apa dan ingin rasanya Ia pergi dari tempat itu saat ini juga.
Meldo semakin mendekat dan mendekat, tatapan matanya yang terkenal tajam membuat Nita semakin tidak berani beranjak apalagi menatap balik pandangannya.
"Saya mau bicara sama kamu!." ucap Meldo dengan ketus.
"Bi..bicara apa, Pak?."
"Siapa Juan?."
Nita langsung mendengakkan kepalanya dan heran dengan pertanyaan Meldo. Nama itu seperti tidak asing di dengar oleh Nita.
"Dia dokter di RS Medika, dan katanya Dia dulu teman semasa SMA kamu dan Tesi."
Nita seketika berfikir dan berusaha mengingat sesuatu yang mengganjal pikirannya. Nita berusaha setengah mati mengingat siapa-siapa saja teman semasa SMA nya dulu. Dan Ya, Dia ingat dengan sosok Juan. Juan adalah siswa paling pendiam seangkatan, Juan bahkan hampir tidak punya teman karena sikap cuek nya.
"Oh iya, saya ingat! Juan temen sekelas kita dulu waktu SMA, Pak. Sekarang Dia jadi dokter ya? Bapak kok bisa kenal Dia?."
"Yaudah, makasih!." ucap Meldo dan berlalu pergi.
Nita mematung dan melihat Meldo pergi berlalu begitu saja. Dia kesal karena Meldo tidak menggubris pertanyaan nya.
"Yaampun, itu orang! Pengen banget gue lempar batu." gerutu Nita dengan nafas yang memburu karena emosi nya.
Meldo memasuki mobilnya dan berlalu begitu saja. Dia menemui Nita hanya sebatas memastikan saja bahwa Juan adalah teman mereka sejak masih SMA. Meldo yang sangat terobsesi dengan Tesi, tidak mau melepaskan Tesi atau bahkan membiarkannya dekat dengan pria lain.
Sesampainya di kantor, Meldo langsung melangkahkan kaki nya untuk berjalan menuju ruangan nya. Seperti biasa, para karyawan menyapa Meldo dengan ramah, sedangkan Meldo hanya menggubrisnya dengan anggukan tanpa senyuman.
"Pagi Meldo ganteng.." ucap Ruslan sambil memancarkan sinar wajahnya yang tampan.
"Apaan sih, norak."
"Lu kenapa sih? Masih pagi udah murung aja."
Tiba-tiba Meldo memberhentikan langkahnya dan berfikir sejenak. Ruslan merasa ada yang aneh dengan Bos sekaligus sahabat nya ini.
"Lu gapapa, Bro?." tanya Ruslan.
"Gue mau tanya sesuatu deh sama lu."
"Apaan?."
"Wajar gak sih, kalau cowo dan cewe ketemu lagi, ceritanya mereka temen SMA terus beberapa tahun kemudian mereka ketemu lagi, gitu maksud gue.".
"Hah? Lu udah jadi CEO masa kayak gitu aja kaga tau? Yaa emang kenapa? Namanya juga temen semasa sekolah, yaa jelas wajarlah buat mereka ketemu lagi. Ogeb lu."
"Heh, lu ngomong apa barusan?."
"Abis nya lu aneh, Do. Emang ada apa? Tesi abis ketemu sama temen nya yang cowo?."
"Iya, temen SMA nya dulu yang sekarang jadi dokter di rumah sakit tempat Ibu Tesi dirawat."
"Kalo diliat dari sudut pandang orang posesif kayak lu sih, jelas beda makna nya. Lu mah ngerasa kalo Tesi pasti cuman milik lu doang, gak boleh laki-laki lain ngelirik apalagi sampe pacarin. Bucin lu."
"Yaiyalah, Tesi cuma punya gue."
"Btw, tadi kata lu Ibu Tesi dirawat? Emang Ibu nya sakit apa?."
"Sesak nafasnya kambuh."
"Yaampun, gue mau jenguk deh nanti."
"Gak usah, udah mau pulang juga."
"Tapi gak sekarang kan pulang nya? Pokoknya gue mau jenguk, gak enak banget ntar sama Tesi nya."
"Serah lu dah." ucap Meldo dan berlalu pergi meninggalkan Ruslan.
Tbc...