
Setelah selesai sarapan, kini Meldo mengajak Anton untuk membicarakan bisnis di kantor milik nya. Anton dengan segera membawa Nathan pada Juan. Pelan, Anton membuka pintu kamar Juan dan mendapati Juan sedang tenang memeluk guling nya dengan memejamkan mata.
"Om Juan masih tidur, kamu gapapa sendiri?." ucap Anton pada Nathan.
"Gapapa, Uncle."
"Uncle bangunin aja ya Om Juan nya?."
Anton menurunkan Nathan dari gendongan nya dan membangunkan Juan dengan menggocangkan tubuh Juan. 5 menit, 10 menit, 15 menit, barulah Juan terbangun dari tidurnya setelah usaha panjang yang Anton lakukan untuk membangunkan Juan.
"Apasih?." ucap Juan dengan kesal.
"Gue mau pergi sama rekan bisnis gue itu. Lu jaga Nathan, kasian Dia sendiri."
"Iya. iya. Udah sana, lu pergi."
"Lu bangun."
"Nathan, sini bobo lagi yuk." ajak Juan dan Nathan menurut.
"Udah, lu pergi sono. Kita mau tidur." lanjut Juan mengusir Anton.
Anton pun memberikan banyak kata-kata sebelum Ia meninggalkan Juan dan Nathan. Setelah kepergian Anton, Nathan mulai menceritakan semua tentang pertemuan nya bersama Meldo saat sarapan tadi.
"Om." panggil Nathan.
"Hm?." ucap Juan dengan masih memejamkan matanya.
"Temen Uncle Anton, baik banget loh."
"Oh iya? Baik nya gimana?."
"Om Meldo ngasih sarapan banyak banget."
Mendengar nama Meldo disebut, Juan sontak kaget dan bangun dari tidurnya. Kini Ia sudah terduduk diatas ranjang sambil menatap Nathan dengan perasaan yang khawatir.
"Tadi kamu bilang namanya siapa? Meldo?."
"Iya, Om. Baik banget orangnya."
"Terus, Dia ada bicara apa aja sama kamu?."
"Cuma kenalan aja, Om. Gak ada bicara apa-apa."
Juan menarik nafasnya dengan dalam dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Pikirannya mendadak kalut, perasaan khawatir kembali mengerubungi. Tidak ada cara lain, Juan harus membawa Nathan pulang ke Korea sebelum Meldo tau semuanya.
"Nathan, kita pulang ke Korea aja yuk?."
"Hah? Kan baru semalem kita nyampe, Om. Nathan cape ah duduk mulu di pesawat."
Juan mengusap wajahnya dengan kasar dan menarik nafasnya dengan dalam. Ia tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Yaudah, kalo gitu kamu gak usah ikut-ikut Uncle Anton lagi ya?."
"Kenapa, Om?."
"Yaaa kan Uncle Anton nya kerja. Ya ngga?."
"Yah, berarti gak ketemu lagi dong sama Om Meldo yang baik itu."
"Kapan-kapan aja ketemunya."
Juan bukannya menghalang-halangi Nathan untuk bertemu dengan Ayah nya, hanya saja keadaan yang rumit membuatnya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
_________
Kini Meldo, Ruslan dan Anton tengah duduk di meja bundar yang terdapat di ruang rapat. Mereka banyak membicarakan kemajuan bisnis yang terjadi belakangan ini. Anton sangat klop dengan Meldo, begitupun sebaliknya. Sementara Ruslan, Ia masih kalut dalam pikirannya, seketika Ia menjadi stress karena memikirkan soal foto yang ada di dompet Anton dan soal orang tua Nathan yang menurutnya ini semua ada kejanggalan.
"Rencana saya, saya akan ikut anda ke Korea, Pak Anton. Saya ingin bertemu dengan Presdir." ucap Meldo.
"Setuju!!." ucap Ruslan dengan tiba-tiba yang membuat mereka terkejut.
"Lu bisa ngga sih gak usah narsis?." bisik Meldo pada Ruslan.
"Ma--maaf." ucap Ruslan tergagap.
"Haha, tidak masalah. Pak Ruslan sepertinya terlalu bersemangat."
Selang pembicaraan mereka yang cukup tenang dan serius, Meldo mendapat telfon dari Mama nya dan Meldo segera mengangkatnya.
"Ada apa, Ma?."
"Meldo, Caroline masuk rumah sakit, Dia keracunan alkohol. Kamu masih sibuk? Mama minta tolong kamu jagain Cleo sebentar." ucap Mama di seberang sana.
"Ada Johan, suruh Dia aja yang jaga Cleo. Aku lagi sibuk, Ma."
"Telfon Johan gak aktif, Mama udah sedari tadi hubungi Dia."
"Tapi gak mungkin aku kerja bawa anak kecil, Ma."
"Yaudah, terus kamu gak ada rencana mau jenguk Caroline?."
"Aku gak peduli sama Dia." ucap Meldo penuh penekanan dan langsung mematikan ponselnya.
"Anak sama Mama nya sama aja, sama-sama nyusahin." gumam Meldo.
Anton mendengar jelas gumaman Meldo tersebut, Ia pun jadi bertanya-tanya ada apa dengan Meldo sebenarnya.
"Bapak, gapapa?." tanya Anton.
"Ou, gapapa. Mari kita lanjut diskusi kita."
"Jika Bapak ada kesibukan lain, kita bisa menunda diskusi ini di lain hari, Pak."
"Tidak masalah, Pak. Ayo kita lanjut diskusi kita."
Anton memandang Meldo dengan perasaan yang aneh. Kini mereka pun melanjutkan diskusi bisnis yang akan mereka laksanakan.
______
Di Korea..
Tesi dengan sedari tadi menghubungi Juan dan Anton namun tidak ada yang tersambung satu pun, Ia menjadi khawatir dan terus menghubungi keduanya. Tak lama, Juan mengangkat telfon Tesi. Disana, Juan yang melihat Tesi menelpon dirinya menatap layar ponsel nya dengan tatapan nanar.
"Hallo, Juan.." ucap Tesi dengan nada yang khawatir.
"Ya, hallo."
"Kalian baik-baik aja kan? Perasaan aku mendadak gak enak soalnya."
"Kita baik-baik aja kok, Tes. Ini aku sama Nathan baru bangun, si Anton lagi kerja."
"Bagus deh, aku jadi lega dengarnya."
"Yaudah, Tes. Kita mau mandi dulu ya?."
"Iya. Inget ya, jangan sering-sering pergi keluar. Aku yakin, orang-orangan Meldo pasti masih nyari keberadaan aku sama kamu."
"Santai aja kalo itu mah."
"Yaudah deh, aku tutup ya?."
"Oke."
Sambungan telfon berakhir, Juan kembali menatap Nathan yang sedang asyik menonton tv dengan cemilan nya. Juan menarik nafasnya kembali dengan dalam.
'Firasat seorang Ibu emang ga pernah salah.' gumam Juan dalam hati.
Tbc...