My Obsession Is You

My Obsession Is You
Masih khawatir dan peduli



Waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 wib. Senandung asmara telah berkibar didalam jiwa dua insan yang saling jatuh cinta. Meldo memeluk erat tubuh Tesi sambil memejamkan matanya. Sementara Tesi, Ia sudah terbangun sedari tadi. Ia menatap suami nya dari samping dan seuntai senyum melengkung di bibir nya.


Pelan, Ia mengelus kepala Meldo dengan penuh kasih. Ia tidak percaya bahwa saat ini hatinya benar-benar sudah di kuasai oleh cinta untuk Meldo, padahal dulu Ia sangat membenci laki-laki ini.


"Jangan ganggu aku! Aku ngantuk." ucap Meldo yang masih memejamkan matanya.


Meldo mulai nakal, Ia mengusap hidung nya di jenjang leher Tesi.


"Stop! Gak usah mulai lagi. Baru juga selesai." ucap Tesi dengan sedikit menjauhkan posisinya.


"Yaa lagian kamu gangguin aku."


"Mana ada gangguin."


"Ada! Udah ah, lanjut tidur."


"Tapi ini udah sore. Kita gak pulang?."


"Jam berapa sekarang?."


"Jam 5."


"Mager. Kita nginap disini aja, yuk?."


"Dih ngaco! Udah ah, aku mau mandi."


Tanpa mau mendengar tanggapan Meldo, Tesi langsung melenggang menuju kamar mandi. Tanpa diketahui oleh Tesi, Meldo diam-diam mengikutinya dari belakang, dan Taappp!!!


"Heh, kamu mau ngapain?." ucap Tesi dengan tersentak.


"Mandi bareng." ucap Meldo dengan manja.


"Tapi jangan minta lagi ya? Jangan yang aneh-aneh juga. Awas aja!."


"Ya kan minta nya sama istri sendiri. Apa masalahnya?."


"Do, ini di kantor."


"Ini kan kantor aku. Suka-suka aku lah mau ngapain."


Tesi menarik nafasnya panjang dan langsung menyiapkan air hangat kedalam bathup. Meldo terus memandangi istrinya yang saat ini sedang menggunakan handuk saja.


"Apa liat-liat?." ucap Tesi dengan ketus.


"Kamu seksi."


"Udah deh gak usah mulai. Nih udah selesai air nya. Nyelup diluan sana."


"Barengan dong."


"Manja banget."


Tanpa basa-basi, Meldo langsung menarik tangan Tesi hingga mereka berdua jatuh kedalam bathup secara bersamaan.


"Astaga Meldo! Lu gila ya? Kalo tadi kepala gue kepentok gimana?." ucap Tesi dengan bentakan.


"Dih, galak amat? Mulai deh, pake lu gue lu gue."


"Ya lagian kamu, bikin aku kaget aja."


Meldo pun mencium punggung Tesi untuk menenangkan istrinya agar tidak mengomel lagi. Kini ritual mandi bersama itu pun dimulai. Mereka sangat menikmati suasana berdua, bercengkrama sambil membersihkan tubuh.


Saat sedang asyik menikmati air hangat berdua, tiba-tiba telepon kantor yang berada di ruangan Meldo berbunyi menandakan ada yang menelpon.


"Siapa sih itu? Padahal aku udah bilang jangan ganggu! Masih aja ada yang berani nelpon-nelpon." ucap Meldo dengan kesal.


"Mungkin itu penting. Dari klien kamu atau orang-orang penting lainnya."


"Yaudah, aku angkat dulu ya."


Meldo berdiri dan keluar dari bathup. Ia memakai jubah handuk untuk menutupi tubuhnya. Dengan langkah yang santai dan wajah yang masam, Ia meraih telepon itu.


"Hallo." ucap Meldo dengan ketus.


"Mama? Kenapa nelpon kesini, Ma?."


"HP kamu gak aktif! Makanya Mama telpon kesini."


"Oh iya maaf, Ma. Aku lagi sibuk sampe gak ingat ngecas hp."


"Si Caroline sakit kepala nya kambuh lagi, Do."


"Hah? Kambuh lagi? Bukannya Dia udah jalanin pengobatan rutin?."


"Mama juga gak tau! Tapi ini dia sekarang nangis-nangis nahan sakit. Kamu kan dulu pernah nangani Dia waktu sakit, kamu lah yang ngerti gimana nenanginnya. Kamu pulang sekarang ya?."


"I..iya, Ma."


Meldo langsung mematikan sambungan telpon nya dan bergegas kembali ke kamar mandi untuk memberi tau Tesi agar segera pulang.


"Sayang, kita harus pulang sekarang!."


"Kamu kenapa? Kok khawatir gitu?."


Tidak ada tanggapan. Mereka bergegas memakai pakaian dan merapihkan rambut yang sangat berantakan dan basah. Meldo sangat cekatan melakukan aktivitasnya itu. Terlihat jelas bahwa Ia sangat mengkhawatirkan Caroline.


"Do, apa yang terjadi?." tanya Tesi.


"Sakit Caroline kambuh lagi."


Sontak, Tesi kaget dengan jawaban yang Meldo lontarkan. Ia merasa terheran sekaligus tidak menyangka bahwa Caroline memiliki penyakit. Tesi ingin bertanya penyakit yang diderita Caroline, namun Ia mengurungkan niatnya karena melihat mood Meldo sedang tidak biasa.


"Kamu udah selesai kan? Yuk langsung berangkat." ucap Meldo sambil berjalan menuju keluar ruangan.


Tesi mengikutinya dari belakang. Meldo benar-benar menunjukkan sikap khawatirnya saat ini. Untuk menggandeng tangan Tesi pun, Ia tidak sempat karena yang di otak nya hanyalah Caroline.


'Ternyata Meldo masih khawatir dan peduli sama Caroline.' gumam Tesi dalam hati.


Kini mereka sudah berada didalam mobil. Meldo dengan kecepatan rata-rata menancapkan gas mobilnya. Tidak ada percakapan yang terjadi selama perjalanan. Mood Meldo yang tiba-tiba berubah, membuat Tesi merasa segan untuk memulai pembicaraan.


Sesampai nya dirumah Mama, Meldo segera turun dari mobil dan berlari menuju ke dalam, tanpa mengajak Tesi. Pikiran Tesi pun di hantui dengan rasa takut melihat sikap Meldo yang tiba-tiba berubah terhadapnya.


Tanpa pikir panjang, Meldo langsung membuka pintu kamar yang di tempati oleh Caroline. Ia melihat Caroline yang sedang memegang kepalanya dengan rasa kesakitan yang luar biasa.


"Lin, kenapa bisa kambuh lagi?." ucap Meldo dengan khawatir.


"Do, obat nya ada di koper aku yang itu. Tolong ambilin ya?." ucap Caroline sambil menunjuk koper yang di maksud.


Meldo pun dengan segera mengambilkannya. Sementara Tesi yang kini sudah berada didepan kamar Caroline, menatap geram wanita itu.


'Dirumah ini banyak orang! Kenapa gak dari tadi aja dia minta tolong orang lain buat ambilin obatnya? Kenapa harus nelpon Meldo segala sampe nyuruh kesini? Bener-bener ular ni cewek.' gumam Tesi dalam hati.


"Nih, ini obatnya. Buruan minum." ucap Meldo dengan panik nya.


Caroline pun segera mengambil air putih yang ada di nakas samping ranjang. Ia memasukkan obat kedalam mulutnya dan menelan nya dengan air putih.


"Huh! Baru deh sedikit tenang." ucap Caroline.


"Sekarang kamu istirahat ya?."


"Meldo, makasih ya."


"Udah, sekarang kamu tidur aja."


Meldo membantu Caroline untuk merebah di tempat tidur. Tidak hanya itu, Ia bahkan membantu Caroline untuk menutup tubuh Caroline dengan selimut. Setelah selesai, Meldo langsung mendatangi Tesi yang sedari tadi berdiri di ambang pintu.


"Sayang, kamu pulang bareng supir aja ya?." ucap Meldo.


Tesi terbelalak dan kaget mendengar tawaran Meldo.


"Percaya sama aku! Gak akan terjadi apa-apa. Aku cinta sama kamu. Muaacchh." ucap Medo sambil sekilas mengecup bibir Tesi.


Meldo pun memerintah kan seorang supir untuk mengantarkan Tesi pulang ke rumah rahasia.


Tbc...