My Obsession Is You

My Obsession Is You
Akhirnya Diterima



Keesokannya, kebahagiaan terpancar dari wajah Tesi yang mendengar kabar bahwa Ia diterima interview. Kabar itu pun langsung Ia beri tau pada Ibu nya. Dan pagi ini, Ia sedang bersiap untuk melakukan Interview.


"Cantik nya anak Ibu..." ucap sang Ibu sambil memegang bahu Tesi.


"Hehe. Iya, Bu. Doain ya Bu, semoga interview nya lancar dan Tesi di terima kerja."


"Aamin.. Pasti kamu diterima."


Setelah itu, Tesi sarapan terlebih dahulu sebelum pergi menuju ke perusahaan. 15 menit sarapan dan selesai, Ia pun langsung pergi menuju ke perusahaan itu dengan semangat.


"Bu? Tesi pamit ya? Doain Tesi semoga berhasil kali ini." ucap Tesi sambil menyalam tangan Ibu nya dan meminta doa restu agar hasil interview nya berjalan lancar dan Dia pun diterima bekerja.


"Iya, Nak. Hati-hati ya."


Tesi pun langsung bergegas pergi menggunakan motor matic nya. 30 menit menempuh perjalanan, Ia pun sampai di perusahaan megah tersebut. Gedung yang menjulang tinggi membuat Tesi terpana akan keindahannya.


Ia pun masuk dan menyapa resepsionis yang ada di pintu masuk. Ia menyerahkan berkas sebagai bukti bahwa Dia adalah orang yang akan melamar kerja di perusahaan ini.


"Baik, ayo saya antar ke ruangan interview nya." ucap sang Resepsionis dan Tesi mengikuti nya dari belakang.


Sambil berjalan, Tesi celingak-celinguk memandangi megah nya tiap sudut ruangan yang ada di perusahaan itu.


"Gede banget kantornya. Bisa nyasar aku kalo seandainya kerja disini." batin Tesi sambil bingung.


"Silahkan.." ucap sang resepsionis menyuruh nya masuk


"Oh iya, makasih mbak." ucap Tesi ramah.


Tesi pun masuk ke ruangan itu dan ada beberapa orang disana yang juga ikut interview. Dia memilih bangku yang sedikit jauh dengan orang-orang itu.


"Mbak, mau interview juga ya? Sini gabung aja." ucap seseorang.


"Oh iya, mbak." Tesi pun berpindah duduk dan mendekat dengan orang-orang itu.


Tak berapa lama, Ruslan serta beberapa pegawai masuk ke ruangan. Pegawai tersebut membawa kelengkapan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk proses interview.


"Kalian boleh kembali." ucap Ruslan pada pegawai lainnya itu.


"Maaf, sedikit mengulur waktu. Bapak Meldo sepertinya telat. Bapak Meldo adalah CEO di perusahaan ini. Sebenarnya bisa saja saya yang melakukan interview, tapi beliau mau melakukan interview langsung katanya. Yaa apa boleh buat. Semangat ya kalian. Jangan gugup." ucap Ruslan dengan penuh keramahan.


Tesi dan yang lainnya merasa degdegan karena sebentar lagi proses interview segera dimulai. Dan benar saja, tak berapa lama, masuk lah CEO tersebut dengan gaya nya yang berkharisma. Dengan stelan jas hitam tertata di rapi badan nya, begitu juga dengan dasi kupu-kupu yang menaungi leher nya.



Pesona nya begitu menarik perhatian banyak orang. Kharisma nya yang kuat, membuat beberapa wanita itu klepek-klepek dengan ketampanan yang dimiliki Meldo.


"Ni orang ngapain pake dasi kupu-kupu? Mau kondangan?." batin Tesi sembari memperhatikan style sang CEO.


Ruslan pun mempersilahkan Meldo untuk duduk dan memberikan beberapa berkas kepada Meldo. Berkas tersebut berupa CV para calon pekerja.


Saat membuka CV milik Tesi, Meldo diam seketika sembari memperhatikan pasphotonya dengan seksama. Dia pun mengalihkan pandangannya pada setiap calon pekerja. Pandangannya menuju pada Tesi, sembari menatap, banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.


"Woi, kenapa ngelamun? Lanjut dong." bisik Ruslan yang menganggu lamunan Meldo.


Meldo pun mulai berbicara dengan sikap tegas sekaligus bijaksananya. Dia menjelaskan mengenai profil perusahaan ini terlebih dahulu, lalu Ia masuk ke ranah sistem pekerjaan yang ada di perusahaan ini. Tesi pun memperhatikan sang CEO dengan seksama.



Setelah menjelaskan secara detail, giliran Ruslan yang akan menyuruh satu-persatu dari mereka untuk menjawab pertanyaan yang akan di lontarkan. Wawancara ini dilakukan secara individu dan bergantian serta berurut sesuai urutan giliran mendaftar. Tiga orang terlewati, kini giliran Tesi yang akan maju.


Beberapa pertanyaan mampu dijawab oleh Tesi. Tiba lah saat nya pertanyaan terakhir, pertanyaan nya mengenai pengalaman bekerja.


"Saya baru lulus sekitaran kurang lebih 2 minggu yang lalu, Pak. Jadi nya saya belum punya pengalaman mengenai pekerjaan seperti ini. Tapi saya janji, kalo saya diterima, saya pasti akan belajar lebih sungguh supaya hasil kerja saya baik." jawab Tesi dengan berusaha santai.


"Kamu udah baca di pengumuman lowongan kan? Disini hanya menerima yang berpengalaman. Kalo baru lulus kuliah 2 minggu lalu, kenapa kamu nekat ngelamar jadi Personal Assistant CEO? Kamu tau kan, kalo PAC itu adalah tangan kanan nya CEO. Tanggung jawab kamu cukup besar di bidang ini. Memang kamu sanggup? Ini gak main-main ya!." ucap Meldo dengan tegas dan nada yang sedikit tinggi.


"Maaf, Pak. Yang mau main-main siapa? Gak ada waktu buat main-main, Pak! Kita sama-sama sudah dewasa, dan Bapak pasti paham kalau di se-usia kita ini, hanya ingin menitih karir supaya sukses. Mengenai tanggung jawab, saya sudah bilang di awal kalau saya akan belajar. Hidup itu butuh proses, Pak." ucap Tesi dengan tegas namun tetap terlihat santai.


"Gak usah sok ceramahin saya ya! Ini perusahaan ternama! Mana mungkin saya menerima karyawan dengan sembarangan apalagi yang gak punya pengalaman kayak kamu!." ucap Meldo dengan sedikit memajukan posisi badan nya.


Tiba-tiba Johan masuk ke ruangan yang tidak di kunci itu. Dengan ligat Johan masuk dan ingin sekali melihat para calon pekerja. Di sisi lain, Ia ingin melihat Tesi sebenarnya, karena Dia tau Tesi dipanggil interview hari ini.


"Biasakan kalo masuk itu ketok pintu dulu! Kepala lu mau gue ketok?." ucap Meldo dengan kesal kepada Johan.


"Eh? Ini...ini kan Mbak Tesi. Hehe." ucap Johan yang mengabaikan Meldo.


"Kalo mau reunian nanti, ini lagi interview." ucap Meldo dengan kesal.


"Mbak, kamu di terima nggak?." tanya Johan pada Tesi.


"Nggak. Dia gak punya pengalaman." jawab Meldo dengan cepat.


Seketika semua merasa kaget dan Tesi pun menunduk sedih mendengar perkataan Meldo. Meldo yang melihat itu entah kenapa Dia menjadi merasa bersalah karena mengatakan itu.


"Apaan sih lu, Kak? Yaudah, Mbak Tes! kamu aku terima. Aku di perusahaan ini juga punya hak yang setara dengan manusia ini. Kamu bisa kerja sama aku, jadi asisten ku. Aku deh yang gaji, tenang aja! Uang ku cukup kok untuk gaji kamu." jelas Johan


Merasa kesal dengan sikap Johan, Dia pun langsung berkata..


"Yaudah, kamu saya terima dan menjadi PAC saya. Mulai besok datang ke kantor jam 7 dan ikut meeting." ucap Meldo dengan cepat dan meninggalkan ruangan itu.


"Serius nih saya diterima?." ucap Tesi dengan gugup.


"Iya hehe. Besok dateng jam 7 ya? Jangan telat loh. Oh iya, ini point-point yang harus di patuhi selama bekerja disini. Bawa pulang aja, baca-baca dirumah." ucap Ruslan dengan ramah sembari memberikan selembaran kertas.


Disisi lain, Meldo kesal setengah mati saat masuk keruangan nya. Dia merasa aneh berhadapan dengan Tesi. Rasa cemburu nya muncul saat Johan menginginkan Tesi sebagai Asistennya. Dia pun terdiam sambil menatap kosong dihadapannya. Dia tidak mengerti ini perasaan apa.


"Aagghh! Apasih? Baru pertama jumpa kenapa udah gini? Siapa sih Dia?." ucap Meldo yang berbicara sendiri dengan heran.


Tbc..