My Obsession Is You

My Obsession Is You
Mencekam



"Mba, ini sudah selesai cucian nya." ucap Nita dengan sopan kepada Caroline.


"Ekspress sih, tapi lama juga ya. Hehe."


"Abis kerak nya nempel sih."


Mata Caroline terbelalak memperhatikan Nita. Pedas sekali mulut wanita ini, pikirnya. Caroline pun dengan segera mengambil dompet dari tas nya.


"Berapa jadinya?." tanya Caroline dengan ketus.


"Gak semahal harga diri."


"Apaan kamu ini? Bisa gak sih bersikap profesional kalo lagi kerja?."


"Ya..ya.. Total nya semua Rp. 500.000."


"Hah? 500ribu? Kok bisa mahal gitu harganya?."


"Eh, Mba! Liat nih sprei lu segede gaban, beratnya pun berkilo-kilo, di tambah lagi lu minta nyuci ekspress."


"Bisa santai aja nggak sih bicaranya? Jangan keliatan banget morotinnya."


"Morotin apaan? Atau lu nya kali yang gak sanggup bayar! Gaya aja yang glamour, aslinya kere gak karuan."


"Mau duit berapa kamu? Bahkan laundry kamu yang butut ini bisa saya beli."


"Kebanyakan gaya lu."


"Awas ya kamu!." ucap Caroline dengan kesal sambil melemparkan lembaran uang kepada Nita.


"Pasti duit dari hasil gak bener nih."


"Terserah! Awas kamu ya. Urusan kita belum selesai. Saya adalah Caroline Guinadartha, wanita karir yang memiliki bisnis serta saham besar di Los Angeles, USA. Saya bahkan bisa membuat kamu menderita dengan ujung kuku saya."


"Oh ya? Wah, aku takut." ucap Nita dengan nada yang menyindir.


Caroline dengan kesal berjalan dan meninggalkan laundry itu. Ia bahkan berkomat-kamit menyumpahi wanita itu agar laundry nya tidak laris.


"Ke kantor Meldo." ucap Caroline kepada sang supir yang mengantarnya.


"Baik, Nona."


_______


Tesi dan Meldo sedang berbincang setelah mereka melakukan kewajiban sebagai sepasang suami istri. Tesi sangat senang mendapatkan ponsel baru dari suami nya itu. Ini bahkan ponsel yang Dia pikir Dia tidak akan mampu membeli nya.


"Yaudah deh, aku pamit dulu kalo gitu." ucap Tesi sambil memasukkan ponsel baru nya kedalam tas.


"Kok cepat banget, Sayang?."


"Aku kan ada janji sama Nita."


"Oh gitu. Aku anterin ya?."


"Gak usah! Aku sama Pak Januar aja. Kamu kerja aja yang rajin, Oke? Bye. Muachh."


Setelah mengecup bibir suami nya, Tesi segera beranjak meninggalkan ruangan Meldo. Hati nya di penuhi dengan deburan ombak cinta yang membara. Namun, tidak di pungkiri Dia masih begitu menyesal atas perbuatannya semalam bersama Caroline.


Tesi sudah meninggalkan gedung pencakar langit itu dan beranjak menuju warung nasi goreng untuk bertemu dengan Nita, sahabatnya. Saat bersamaan itu pula, Caroline pun datang.


"Itu kan cewe rese itu! Ngapain lagi Dia kesini?." gumam Ruslan dengan sendirinya saat melihat Caroline melenggang masuk.


Johan yang baru saja keluar dari lift, langsung menyadari kedatangan Caroline dan itu benar-benar memuakkan baginya.


"Hai, Jo.." panggil Caroline dengan angkuh.


"Mau ngapain lu kesini? lu tau kan, ini jam kerja."


"Tapi kayaknya ini masih jam istirahat deh, hehehe."


"Mau ngapain lu kesini?."


"Mau ketemu sama cinta ku dong."


"Lu itu gila ya! Meldo itu sepupu lu. Lu harus sadar itu."


"Sepupu ya? Hahaha. Oke, sepupu."


Caroline berjalan mendekat dan meraih telinga Johan, lalu membisikkan sesuatu disana. "Sepupu tapi enak." ucapnya dan lanjut berjalan menuju ruangan Meldo.


Johan terpaku dan mematung mendengar perkataan itu. Ia berusaha mencerna setiap perkataan yang di lontarkan oleh Caroline barusan. Pikirannya sudah melayang kemana-mana, namun Ia tetap memilih berfikit positif.


Disisi lain, Caroline memasuki ruangan Meldo dengan sembarang. Meldo kesal setengah mati melihat wanita itu masuk kedalam ruangannya dengan seenaknya.


"Pergi dari sini." ucap Meldo dengan penuh penekanan.


"Sayang, kenapa kamu jadi kayak monster gitu sih? Kamu gak ingat moment semalam yang membuat kita sampai....."


PLAAAKKKKK..


Tamparan keras telah mendarat di pipi mulus dan putih itu. Tangan Meldo bergetar hebat saat menyelesaikan aksi menampar nya. Ia merapatkan gigi nya dengan geram, Ia sangat ingin membunuh wanita itu detik ini juga.


"Tutup mulut mu, Caroline!." ucap Meldo penuh penekanan.


"Kenapa? Kamu takut? Takut kalo semua orang tau tentang percintaan kita semalam? Hm?." ucap Caroline menyeringai.


Dengan kesal Meldo menyeret semua yang ada di meja kerja nya hingga terjatuh berserakan di lantai. Nafas nya begitu memburu, rasa kesal nya benar-benar sudah di ubun-ubun.


"Itu berarti kamu juga bakal ngelempar anak kamu ke neraka dong? Ayah macam apa kamu ini? Menuntun anaknya sendiri masuk ke neraka."


"A--apa maksud mu?."


"Tunggu aja kabar bahagia nya. Kamu akan jadi Ayah dari anak yang aku kandung suatu hari nanti."


"Bu--bukannya kamu bilang, kamu udah mensterilkan? Yang artinya kamu gak akan bisa hamil, iya kan?."


"Kamu itu laki-laki paling bodoh, Meldo. Paling bodoh! Hahaha."


Antara percaya dan tidak percaya, namun saat ini Meldo semakin panik saat mendengar pernyataan dari Caroline. Ia begitu melupakan kelicikan wanita ular ini. Meldo tak henti-hentinya mengutuk dan membodohi dirinya sendiri.


Dengan senyum sinis nya Caroline pergi meninggalkan Meldo yang terlihat sangat frustasi. Dia bahkan merasa menang saat ini. Anak yang akan di kandung nya nanti pasti menjadi senjata hebat untuk kebersamaan nya dengan Meldo.


"Tunggu waktunya tiba, Caroline. Aku akan membunuh mu tanpa menyisakan apapun yang ada di dirimu, termasuk sehelai rambut mu!." ucap Meldo dengan berteriak.


______


Tesi sudah sampai di warung nasi goreng tempat Ia dan Nita sering bercengkrama. Sudah sangat lama Ia dan Nita tidak menghabiskan waktu di warung ini. Tempat ini tidak banyak berubah, hanya dinding nya saja yang berubah warna. Penjaga warung pun masih sangat mengenal Tesi dan masih sangat hafal nasi goreng kesukaan Tesi yang seperti apa.


Tak lama, Nita menampakkan dirinya di warung nasi goreng tersebut. Dengan senyum sumringahnya, Dia menyambut Tesi dan memeluknya dengan erat. Kini mereka sudah duduk berhadapan.


"Lu kenapa ngajak gue ketemuan? Tumben banget." tanya Tesi penasaran.


"Emang gak boleh ya? Kan gue kangen."


"Dih, lebay."


"Gitu deh lu, mentang-mentang udah jadi istri orang tajir."


"Hahaha. Becanda doang, yaelah."


"Gimana kabar lu, Tes?."


"Baik pake banget! Bahkan gue mau kasih kabar bahagia buat lu."


"Kabar bahagia apaan?."


"Bentar lagi, lu bakal punya ponakan."


"Hah? Maksudnya?."


"Dih, telmi banget. Gue hamil."


Nita terkejut, terdiam dan ternganga. Bagaimana mungkin? Bukannya Tesi sangat membenci Meldo? Kenapa Dia dengan senang nya mengandung anak dari Meldo? Begitu banyak pertanyaan yang mengerubungi kepala Nita.


"Ha--hamil?."


"Iya. Yaampun, bentar lagi gue bakal jadi seorang Ibu tau gak sih. Hahaha."


Antara senang dan sedih begitu menyerbu perasaan Nita. Apalagi ketika Ia mengingat pembicaraan Caroline dengan seseorang di telpon nya saat di laundry tadi. Nita sangat yakin bahwa Meldo yang di maksud dalam pembicaraan itu ialah Meldo suami Tesi.


"Se--selamat ya, Tes. Gue ikut senang dengarnya."


"Harus seneng dong. Lu kan bakal jadi Tante nya Dia nanti." ucap Tesi sambil menunjuk perutnya.


"Gue mau nanya sesuatu sama lu."


"Apa? Tanya aja."


"Eumm.. Meldo punya....."


"Ini nasi goreng nya, Mba-mba cantik." ucap Mamang tukang nasi goreng yang mengantarkan pesanan mereka.


"Loh, emang udah pesan ya?." tanya Nita dengan heran.


"Udah, sebelum lu dateng udah gue pesan."


Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan makan terlebih dahulu. Nita sangat gelisah dengan perasaannya. Sebenarnya, tujuan Dia mengajak Tesi bertemu ialah untuk memberi tau apa yang di dengar nya saat di laundry tadi. Ia ingin memastikan apakah Meldo mengenal Caroline atau tidak.


Selang beberapa menit, mereka sudah menyelesaikan makannya masing-masing. Tesi dengan anggun menyeka bibir nya dan meneguk segelas air.


"Tadi lu mau nanya apa, Nit?."


"Eum.. Meldo punya partner yang namanya Caroline, nggak?." tanya Nita dengan ragu.


Tesi terkejut, Ia bahkan membelalakkan matanya memperhatikan Nita yang ada didepannya. Darimana Nita mengetahui soal Caroline, pikirnya.


"Lu... Kok bisa tau soal Caroline?."


"Jadi... Meldo punya kenalan yang namanya Caroline? Tolong lu jawab, Tesi."


"I--iya. Itu sepupu nya yang baru dateng dari Amerika."


"Se--sepupu?."


Nita memutar balik memory nya saat terakhir kali Caroline berada di laundry itu. Caroline yang mengatakan bahwa Dia wanita karir di Amerika, begitu terekam jelas di otak Nita. Mata Nita mulai berkaca-kaca, tenggorokan nya terkecat, Ia tidak menyangka bahwa sahabat nya yang sedang berada didepannya ini akan tersakiti. Bukan tanggung-tanggung, bahkan percintaan antara suami nya dengan sepupu suami nya sendiri.


'Laki-laki kepar*t, br*ngsek, gak punya perasaan! Enyah aja lu Meldo, pergi lu ke neraka!.' gumam Nita dalam hati.


"Nit, lu kenapa nangis?." tanya Tesi dengan khawatir.


Tanpa meninggalkan sepatah kata, Nita pergi meninggalkan Tesi di warung itu sendirian. Ia berlari pergi menjauh karena sangat tidak tahan melihat Tesi dan kenyataan yang begitu mencekam saat ini.


Tbc..