My Obsession Is You

My Obsession Is You
Keributan Di Kantor



Meldo sangat frustasi dengan semua ini. Ia bahkan tidak fokus menatap laptopnya sambil mengerjakan pekerjaan disana. Setengah mati Ia mengambil kembali kefokusannya namun gagal. Yang ada di bayangannya hanyalah Tesi dan segala macam pertannyaan lainnya.


Ruslan masuk ke ruangan Meldo dengan membawa beberapa berkas karena ada hal yang mau di sampaikannya. Langkahnya terhenti sejenak saat melihat Meldo dengan ekspresi yang begitu stress.


"Woi, Masih pagi udah kecut aja tuh muka." ucap Ruslan yang membuyarkan aktivitas Meldo.


"Biasakan ketok pintu kalo masuk!." ucap Meldo ketus tanpa menatap Ruslan


"Yaelah, kayak sama siapa aja."


"Kalo gak ada yang mau lu omongin, mending keluar! Enek gue liat lu." ucap Meldo meninggikan suara nya.


"Eitss.. Woles broo, emang lu kenapa sih? Ada masalah apa? Cerita lah."


Meldo menyandarkan posisi duduknya, sambil Ia memijit kecil bagian keningnya.


"Tugas yang gue suruh, udah lu laksanain?." ucap Meldo


"Gilee! Buru-buru amat? Orang nya juga masih kerja noh! Nyantai dikit napa sih? Nanti siang pas jam makan gue jumpain Dia. Gue korek dah tu masalalu nya sampe akar! Biar puas lu."


"Dia itu masalalu indah gue, Slan." ucap Meldo yang menidurkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya.


"Hah? Apaan sih? Masa lalu indah apaan?." ucap Ruslan sambil menatap Meldo dengan heran.


"Gue waktu kecil pernah ketemu sama Dia. Dia manis banget sih. Abis itu gue ajak Dia main ke taman. Ngabisin waktu ala ala anak kecil gitu lah."


"Dih, ****! Cuma karena itu? Bucin banget lu gitu doang langsung kepincut."


"Stop berbicara dan mulai bekerja! Yaudah sana, pergi lu." ucap Meldo yang mengusir Ruslan.


Ruslan dengan sedikit kesal mengambil kembali berkas yang dibawa nya tadi dan beranjak pergi dari ruangan Meldo.


Saat Ia lihat kembali, Ia sudah tidak melihat Ruslan di sekitaran ruangannya. Dia menelpon seseorang dan memerintahkan sesuatu disana.


"Baik, Bos." ucap seseorang itu.


---------


Sementara Tesi sangat sibuk dengan kerjaannya. Ruslan yang melihat Tesi sangat sedang siuk pun mengurung niatnya untuk menanyai mengenai masa lalu nya seperti yang disuruh Meldo.


Dari kejauhan sana, ada yang diam-diam sedang memperhatikannya. Memperhatikan wajah nya yang sedang di ambang kefokusan. Ya, itu Meldo yang sedari tadi berdiri di pintu ruangannya. Ruangan Meldo dibaluti dengan jendela kaca di kedua sisi pintu, jadi sangat mudah untuk Dia bisa melihat kearah luar.


'kenapa aku bisa segila ini padamu? Obsesiku terlalu besar padamu! Aghhh. Menyebalkan!!." gumam Meldo sambil memijit keningnya.


--------


Pukul 12.00 wib..


"Akhirnya istirahat juga. Hoahh." ucap Tesi dengan senang


"Tesi, makan yuk?." ucap Ruslan tiba-tiba.


"Eh, Pak Ruslan? Kenapa tiba-tiba ngajak saya makan?." ucal Tesi dengan heran.


Namun tiba-tiba..


"Pak, saya mohon maafkan saya. Jangan pecat saya, Pak! Hiks.. Hikss.. Hikss." ucap seseorang sambil menyimpuh di kaki Meldo saat Meldo baru saja keluar ruangan.


"Makanya kerja yang becus! Dari kemaren-kemaren saya suruh perbaiki berkas itu, masih aja salah! Dasar bodoh, pergi kamu dari sini dan lepaskan kaki saya." bentak Meldo dengan emosi nya yang berapi-api


"Tapi saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak. Saya mohon jangan pecat saya." ucap seorang karyawan itu dengan menangis tersedu.


"Ck, ini perusahaan ternama! Mana mungkin saya mempertahankan karyawan gak becus kayak kamu! Udah, pergi sana. Jangan sampe kamu saya tendang ya! Lepaskan!!!." ucap Meldo dengan hentakan yang luar biasa sambil melepaskan kaki nya sendiri dengan cara kasar dari genggaman wanita itu hingga wanita itu pun jatuh.


Tesi sangat tidak tahan melihat itu semua. Ia pun bernisiatif maju dan menghampiri wanita itu.


"Eh? Mau ngapain?." ucap Ruslan sambil menahan Tesi untuk beranjak.


"Pak, Liat itu! Kasian banget Dia di perlakukan kayak gitu sama Pak Meldo. Lepasin Pak saya mau hampirin Dia." ucap Tesi yang menepiskan tangan Ruslan.


Tesi pun menghampiri wanita itu yang sedang menangis tersedak.


"Mbak? Mbak gapapa?." ucap Tesi dengan mengusap punggung wanita itu.


Meldo seketika berhenti berjalan ketika mendengar ada yang bersuara. Meldo sangat tidak suka ini. Ia tidak suka ada yang bersuara saat Dia sedang di ambang keemosian yang tinggi.


"Berhenti dan kembali bekerja!." ucap Meldo yang membalikkan badannya dan menatap Tesi dengan tajam.


"Maaf, Pak. Tapi ini jam istirahat. Permisi!." ucap Tesi sambil membopong wanita itu berjalan dengan nya.


"Gak usah sok jadi pahlawan! Kamu pun masih baru disini." bentak Meldo.


"Silahkan pecat saya jika Anda tidak senang! Percuma Anda memiliki jabatan tinggi, harta yang melimpah, uang yang banyak, tapi Anda miskin soal simpatik dan etika dalam memperlakukan seseorang! Sungguh disayangkan!." ucap Tesi dengan rapih kepada Meldo.


Semua seisi kantor yang sedang memperhatikan itu membelalakkan mata mereka karena melihat Tesi yang berani mengatakan seperti itu kepada Meldo. Mereka yang sudah bekerja bertahun-tahun disini saja tidak pernah berkata-kata apapun saat Meldo sedang marah. Karena mereka tau sikap Meldo yang seperti itu. Ketimbang mereka di pecat, mending mereka nurut dan diam saja.


Tesi pun melanjutkan jalannya sambil membopong wanita itu keluar kantor dan bertujuan membawanya ke rumah makan yang ada di seberang kantor.


"Mbak? Mbak gak usah seperti ini sama saya. Saya gapapa kok, Mbak. Nanti Mbak di pecat sama pak Meldo gimana?." ucap seorang wanita itu.


"Gapapa, Mbak. Ayo kita makan dulu." ucap Tesi dengan senyuman manisnya.


Mereka pun duduk di rumah makan itu. Tesi memesan 2 piring nasi dan beberapa lauk. Menunggu makanan datang, Tesi pun membuka pembicaraan.


"Mbak? Coba Mbak cerita. Apa yang terjadi sebenarnya?." ucap Tesi.


"Saya bagian administrasi, Mbak. Pak Meldo menyuruh saya dalam seminggu ini menghitung semua pemasukan dan pengeluaran yang ada selama beberapa bulan ini. Serta ketetapan keuangan perusahaan. Saya kewalahan Mbak mengerjakan itu semua dalam seminggu. Saya juga tidak tau kenapa pak Meldo begitu buru-buru menyuruh saya mengerjakan itu semua. Sampai akhirnya laporan yang saya buat itu selalu salah di matanya. Sudah beberapa hari ini saya dimarahi terus sama Dia dan tadi itu adalah puncak kemarahannya kepada saya." ucap wanita itu sambil menangis.


"Gak ngerti apa yang ada di pikirannya. Yaudah, Mbak makan dulu ya? Nanti aku bantu bicara sama si sombong itu." ucap Tesi yang berusaha menenangkan wanita itu.


"Gak usah, Mbak. Mungkin ini memang udah takdir saya harus di pecat. Lagian saya memang udah gak tahan kerja sama Pak Meldo yang selalu marah-marah."


Tesi sejenak memberhentikan makan nya. Mereka melanjutkan makan sambil berbincang kecil.


Tbc..