My Obsession Is You

My Obsession Is You
Season II = Taman hiburan



Juan sudah berada di Bandara Incheon, Korea Selatan. Ia memutuskan untuk ke Korea karena rindunya pada Nathan sudah tak terbendung lagi. Selama di perjalanan, senyum nya tak memudar karena kebahagiaan terus menghujam jiwa nya. Juan pun segera mencari taxi untuk melanjutkan perjalanan nya menuju rumah Tesi.


Tak memakan waktu yang banyak untuk Juan sampai di tempat. Juan dengan segera turun dari taxi dan mendorong koper mini nya dengan langkah yang cepat. Disana, Ia melihat Nathan sedang menaiki sepeda nya. Senyum Juan pun mengembang saat melihat Nathan menaiki sepeda nya.


"Ehem." Juan berdehem guna untuk mengejutkan jagoan kecil itu.


Nathan langsung menoleh kearah sumber suara dan matanya langsung terbelalak bahagia saat melihat sosok Juan tengah berdiri di hadapan nya saat ini. Nathan berlari kecil menghampiri orang yang dianggap nya sebagai Ayah nya itu.


"Om Juan.." ucap Nathan sambil berlari kencang kearah Juan.


"Hei, kamu apa kabar?."


"Baik, Om. Om apa kabar? Kenapa Om gak telfon Mama dulu kalo Om mau kesini."


"Om cuma pengen ngasih kejutan aja."


"Yaudah, Om! Kita masuk, yuk?."


"Yuk."


Juan menggendong Nathan dengan penuh perhatian dan berjalan masuk kedalam rumah. Dirumah, ada Nita yang sedang menata bunga di vas, sementara Anton tengah bergulat dengan laptopnya.


"Kerja mulu." ucap Juan kepada Anton.


Sontak, Anton langsung menoleh kearah sumber suara dan Nita pun melakukan hal yang sama. Mereka begitu terkejut dengan kedatangan Juan yang sedang meggendong Nathan.


"Bro, hahaha. Gila lu kaget gue." ucap Anton sambil membuat tos ala laki-laki kepada Juan.


"Juan, kenapa gak telfon dulu? Tau gitu kan kita jemput ke Bandara tadi." sambung Nita.


"Mau ngasih kejutan, Nit. Gapapa sih sekali-sekali. Oh ya, Ibu sama Tesi mana?."


"Lagi ke pasar. Kamu istirahat aja dulu, Ju. Mau aku buatin minum apa?."


"Gak usah deh, Nit. Aku udah kenyang banget, perut aku kayak nya udah kembung juga! Soal nya selama dijalan kerjaan aku makan minum mulu, hahaha."


"Yaudah, duduk aja kalo gitu sekalian nunggu Ibu sama Tesi pulang."


"Om, ini kan hari minggu, kita pergi main yuk?." ucap Nathan.


"Oke, tapi tunggu Mama kamu pulang, ya?."


"Iya, Om."


Secara mendadak, Anton pun mendapat telfon dari atasannya dan segera menyuruh Anton untuk datang ke perusahaan. Anton pun merasa heran dengan perintah dadakan dari Bos nya itu. Dengan berat hati, Anton berpamitan kepada semuanya untuk beranjak menuju kantor.


"Tapi ini kan hari libur, Mas?." ucap Nita dengan nada yang sedih.


"Aku yakin ini cuma sebentar kok, sayang."


"Yaudah, kamu hati-hati."


"Pasti, sayang."


Setelah itu, Anton pun segera pamit pada semuanya dan langsung beranjak menuju kantor. Tak lama setelah itu, Ibu dan Tesi pulang dengan membawa banyak belanjaan di tangan mereka. Juan yang melihat itu, langsung membantu mereka untuk membawa belanjaan nya.


"Lah, Juan? Sejak kapan kamu disini?." ucap Tesi yang sangat terkejut dengan kehadiran Juan.


"Belum lama kok, baru setengah jam yang lalu."


"Udah kok, Bu."


"Om, Mama udah pulang nih! Ayo dong jalan-jalan." ucap Nathan sambil menarik-narik tangan Juan.


"Nathan, Om Juan baru nyampe, biarin Om Juan istirahat dulu ya? Abis itu baru deh jalan-jalan." ucap Tesi yang berusaha membujuk Nathan.


"Gapapa kok, Tes. Yaudah, aku pamit ngajak Nathan jalan-jalan dulu ya?."


"Tapi..."


"Yuk, kita jala-jalan! Yipiiii."


Juan dan Nathan langsung beranjak meninggalkan Tesi yang mematung disitu. Tesi hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah dua lelaki itu. Dari lubuk hatinya yang terdalam, Ia sangat bersyukur karena Juan menyayangi Nathan dengan sepenuh hati sehingga Nathan merasa bahwa Ia mendapat kasih sayang dari seorang Ayah.


Sementara... Juan mengajak Nathan pergi ke taman hiburan yang banyak sekali jenis permainan anak-anak. Juan membeli beberapa tiket wahana untuk mereka naiki. Yang pertama, Juan membeli tiket untuk menaiki bianglala yang sangat besar dan tinggi menjulang. Nathan sangat senang melihatnya dan tidak sabar ingin segera menaikinya.


Dengan bergandengan tangan, mereka menaiki bianglala itu dan duduk berhadap-hadapan. Nathan sangat senang ketika bianglala itu berputar secara perlahan namun pasti dan Nathan segera menoleh kesamping untuk melihat semua pemandangan yang ada.


"Om, kita tinggi banget." ucap Nathan dengan antusias.


"Liat tuh, banyak gedung-gedung tinggi, gedung itu isinya orang-orang hebat semua loh! Kamu mau gak kerja di gedung itu dan menjadi pengusaha yang hebat?."


"Enggak, Nathan mau jadi Dokter kayak Om Juan aja."


"Oh ya? Kenapa?."


"Karena keren aja, Om. Bisa menyembuhkan orang sakit."


"Hahaha, kamu bisa aja."


Setelah menaiki bianglala, kini mereka memainkan wahana lain yang lebih seru. Nathan sangat bahagia hari ini karena Juan mengajaknya banyak bermain wahana yang menyenangkan. 4 jam sudah mereka menghabiskan waktu bermain, kini Juan mengajak Nathan untuk pulang.


"Om, Nathan pengen deh Om Juan jadi Papa nya Nathan." ucap Nathan dengan tiba-tiba.


Juan terdiam sesaat dan perlahan memperhatikan Nathan yang ada di sampingnya. Juan pun berjongkok dan menyeimbangkan posisi nya dengan Nathan.


"Walapun Om bukan Papa kamu, tapi kamu boleh kok anggap Om sebagai Papa kamu. Apapun yang kamu butuhkan, kamu tinggal bilang aja sama Om. Kamu sedih, kamu tinggal cerita aja sama Om. Selagi Om mampu, Om akan menyayangi kamu seperti anak Om sendiri." ucap Juan dengan senyum termanis nya.


Nathan langsung menghamburkan pelukan kepada Juan. Sejujurnya Juan sangat kasihan dengan Nathan yang lahir tanpa ada dampingan dari seorang Ayah. Juan pun seketika mengingat Meldo dan semua masalah yang telah terjadi. Entah seperti apa keadaan Meldo sekarang, Juan tidak tahu. Setelah itu, mereka melanjutkan jalan menuju taxi dan kembali kerumah.


____


Setelah melakukan rapat dadakan selama beberapa jam, Anton di perintahkan untuk berkunjung ke Indonesia guna melakukan kerja sama dengan sebuah perusahaan yang ada disana. Anton pun dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Tidak dapat dipungkiri, Ia sendiri pun sangat rindu dengan tanah kelahirannya itu.


"Indonesia-e dochaghamyeon yeoleobun-ui joh-eun sosig-eul gidaligo issseubnida." (Saya tunggu kabar baik dari kamu saat kamu sudah tiba di Indonesia). ucap sang Presdir dengan penuh harap.


"I hoesaleul wihae choeseon-eul dahagessseubnida." (Saya pasti akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini, Pak)


"Geuleom, Anton. Nawa hamkke ilhaneun dong-an dangsin-eun gyeolko naleul silmangsikiji anh-assseubnida." (Bagus, Anton. Selama bekerja disini kamu belum pernah mengecewakan saya)


"Gamsahabnida." (Terimakasih)


"Gajog jung han myeong-eul chodae hal su issseubnida dangsin-i chodaehago sip-eun geos-eun mueos-ideun hoesaneun modeun geos-eul gyeondil geos-ibnida." (Kamu boleh ajak salah satu anggota keluarga mu, perusahaan yang akan menanggung semuanya).


Mendengar itu, membuat Anton merasa bahagia yang tak terbendung. Senyum nya merekah dan tak hentinya mengucapkan banyak terimakasih kepada sang Presdir. Setelah melakukan banyak perbincangan, kini Anton berpamit untuk kembali kerumah.


Tbc...