
8 Tahun yang lalu..
California, Amerika Serikat
//
Caroline masih menangis atas kesakitan hatinya terhadap Meldo yang acuh padanya. Ia pun menyeka air matanya dan berlalu dari rooftop itu dan berjalan menuju apart. Disana sudah ada Johan yang sedang makan, dan Meldo yang sedang duduk di sofa sambil menikmati acara tv, namun pikiran nya merambak kemana-mana.
Tidak ada percakapan di antara keduanya. Johan sangat bingung dengan ini, Ia bahkan tak hentinya menatap dua manusia yang sedang merasakan gusar di hati mereka masing-masing.
"Kak Caroline, kak Meldo, makan dulu sini." ucap Johan basa-basi.
"Gak! kamu aja." ucap Meldo dingin dan pergi menuju kamar nya.
Caroline menatap sedih lelaki itu. Ia sadar bahwa apa yang telah dirasakannya ini adalah kesalahan yang fatal dan sangat sulit untuk dimaafkan. Semua orang pasti akan berfikir bahwa Caroline sangat gila karena sudah mencintai sepupu nya sendiri. Namun itulah cinta, cinta seakan mampu menguasai apapun diatas segalanya, mampu membutakan mata hati dan tidak memandang ke siapa pun kita akan berjatuh cinta.
"Kak, Lin? Aku pamit pergi dulu deh ya? Aku ada janji sama temen." ucap Johan dengan canggung.
"Oh iya, hati-hati ya?."
"Iya, Kak."
Johan berlalu pergi dan merasakan bingung yang luar biasa atas sikap kakak-kakak nya yang aneh. Namun Johan tetap berfikir positif dan menganggap pertengkaran Caroline dan Meldo hanya lah pertengkaran biasa. Johan pun melanjutkan langkahnya untuk pergi menemui teman-temannya.
Disisi lain, Caroline menatap pintu kamar Meldo dengan tatapan nanar. Logika nya kini telah mati, Ia sangat ingin memiliki Meldo dengan cinta nya yang luar biasa. Ia pun melangkah pelan menuju ke kamar itu dengan pandangan yang kosong sambil berlinang air mata.
Didalam sana, Meldo sedang terduduk di pinggir kasur dengan pikiran yang berkecamuk. Ia sama sekali tidak menyangka atas perasaan Caroline terhadapnya. Selama ini, Ia melakukan perhatian terhadap Caroline karena menjalankan kewajiban nya sebagai seorang Sepupu, dan tidak lebih dari itu. Namun siapa sangka, ternyata Caroline menangkap hal itu melalui sudut pandang yang berbeda.
Braaakkk...
Meldo kaget saat pintu kamar nya terbuka hebat atas ulah Caroline. Caroline kini sedang berdiri di ambang pintu dengan menatapnya sangat dalam dan susah untuk di artikan. Caroline berjalan menuju Meldo dengan perlahan namun pasti.
"Mau apa kamu?." ucap Meldo dingin sambil memundurkan langkahnya.
"Aku mau kamu!."
Kini dengan cepat Caroline memeluk Meldo dan mencium bibirnya dengan ganas. Tidak hanya itu, tangannya bahkan menyentuh bagian sensitif Meldo agar merasakan rangsangan yang luar biasa. Meldo membelalakkan matanya dan merasakan panik yang luar biasa atas perlakuan Caroline. Dengan keras Ia mendorong tubuh Caroline hingga Caroline tersungkur.
"Kamu udah gila ya? Hah!." bentak Meldo dengan nafasnya yang memburu.
Tidak ada tanggapan, Caroline kembali berdiri dan dengan cepat mencium kembali bibir Meldo dan tangannya menggesek bagian sensitif Meldo yang sudah mulai berdiri tegak. Caroline pun semakin menjadi dalam permainan nya, Ia bahkan sudah seperti wanita murahan saat ini, harga dirinya benar-benar telah di singkirkannya.
Meldo sudah merasakan ada yang berdiri dibawah sana. Ia berusaha untuk terus menjernihkan pikirannya. Ia tidak mau kalut sampai akhirnya kebablasan. Dengan cepat Meldo mendorong Caroline dan menampar nya dengan cukup kuat.
Plaaakkk..
"Cewe gila! Murahan! Gak punya harga diri kamu, Caroline!." bentak Meldo yang suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Aku milik kamu, Meldo! Ayo buruan buka baju aku, nikmati aku sepuas kamu." ucap Caroline yang sudah membuka kemeja nya lalu mencampakkannya ke sembarang arah.
"Menjijikkan!!!." ucap Meldo yang emosi nya sudah di ubun-ubun.
"Kak, kalian kenapa?." ucap Johan yang tiba-tiba datang.
Johan kembali ke apartemen karena handphone nya ketinggalan. Ia merasa kaget saat mendengar ada keributan didalam kamar Meldo. Karena penasaran, Johan pun menghampiri kamar itu dan membuka pintunya yang kebetulan tidak di kunci.
"Astaga, kak Caroline? Ke..kenapa gak pake baju?." ucap Johan dengan gugup dan segera membalikkan badannya.
"Johan, kita pindah dari sini, sekarang juga!." ucap Meldo dengan bentakan yang luar biasa.
"Kamu pikir, Mama kamu bakalan ngizinin kalian buat pindah? Ck, gak akan!." ucap Caroline dengan sinis.
"Aku mau ngelakuin ini karena aku cinta sama kamu. Aku pengen kamu jadi milik aku seutuhnya, Meldo."
Sontak, Johan dan Meldo merasa kaget dengan perkataan Caroline barusan. Johan kini sudah paham apa yang menjadi penyebab mood kakak nya buruk se-dari pagi tadi.
"Kak Caroline! Pake dulu baju kakak, cepetan!." ucap Johan yang masih membalikkan badannya.
Meldo berjalan menuju pintu kamar dan menarik lengan Johan yang berdiri di ambang pintu. Kini Meldo dan Johan tengah berjalan mencari apartemen lain. Meldo tidak mau tinggal bersama Caroline si wanita tidak waras itu.
"Kak, ini kita mau kemana?." tanya Johan yang sudah merasa lelah dengan perjalanan itu.
"Nyari apartemen yang sederhana dan murah, kita tinggal disitu aja."
"Terus barang-barang kita, gimana?."
"Urusan gampang!."
-
-
4 Bulan kemudian..
Kini Meldo sedang bangga memakai jubah dan toga nya. Hari ini adalah hari bahagianya dimana Ia telah mencapai puncak dari apa yang telah Ia jalani saat ini. Mama sudah mendampingi Meldo dan Caroline. Tidak ada percakapan antara Meldo dan Caroline sejak kejadian 4 bulan lalu.
"Selamat ya, Meldo.. Selamat ya, Caroline." ucap Mama dengan senyum sumringahnya.
"Iya makasih, Ma." ucap Meldo sedikit dingin.
Kini mereka melakukan sesi foto bersama. Meldo sangat senang karena Ia bisa lulus dan itu artinya Dia punya kesempatan untuk mendapat jabatan dan memiliki perusahaan yang ternama, itulah mimpi seorang Meldo.
Setelah selesai sesi berfoto, kini Mama mengajak Meldo dan Caroline pulang ke apartemen. Selama di perjalanan, tidak ada percakapan di antara mereka semua. Sesampainya di apart, Mama menyuruh Meldo dan Caroline duduk.
"Meldo, kenapa kamu sama Johan pindah apart? Dan ninggalin Caroline sendirian? Hm?." tanya Mama to the point.
"Ma, aku mau balik ke Indonesia dan menitih karir disana aja!." ucap Meldo penuh penenakan tanpa menatap Mama dan Caroline.
Caroline membelalakkan matanya dan menatap Meldo dengan tajam. Ia ingat, bahwa Meldo pernah bilang Ia akan memilih menetap di Amerika dan menemani nya sampai kapan pun.
"Bukannya kamu bilang, kamu mau menetap disini ya?." tanya Caroline dengan nada suara yang menggambarkan kekecewaan.
"Diam! Aku gak bicara sama kamu!." ucap Meldo penuh penekanan dan menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Hei, Meldo! Kamu ini kenapa sih? Kok malah bersikap kayak gitu sama Caroline." ucap Mama yang sedikit membentak Meldo.
"Pokoknya aku mau balik ke Indonesia, secepatnya! Aku gak peduli sama si Caroline, mau Dia mati sekalipun, terserah!." ucap Meldo dan berdiri dari duduknya lalu pergi keluar.
"Heh, Meldo! Mau kemana kamu? Ini kan tempat tinggal kamu."
"Aku gak sudi tinggal sama perempuan itu!." ucap Meldo sambil menunjuk dengan jari telunjuknya kearah Caroline dan berlalu pergi.
"Ini ada apa sih? Kalian sebenarnya ributin soal apa?." tanya Mama dengan panik kepada Caroline.
"Meldo kan emang gitu orangnya, Tan! Besok-besok pasti juga bakalan balik lagi mood nya."
Mama menarik nafasnya dalam dan berlalu pergi menuju kamar. Mama sangat pusing melihat pertengkaran anak muda.
Tbc..