
Namun tiba-tiba langkah nya terhenti saat melihat pintu terbuka dan Ibu sedang terduduk di kursi dengan wajah yang pucat dan lemas. Tesi langsung lari dan menghampiri Ibu nya, begitu juga dengan Meldo.
"Ibu kenapa?." tanya Tesi dengan panik nya.
"Sesak nafas Ibu kambuh, Nak. Sekarang udah agak lumayan kok. Gak usah khawatir." ucap Ibu dengan lirih.
"Mana bisa Tesi gak khawatir liat Ibu kayak gini. Sekarang kita kerumah sakit aja ya, Bu?."
"Bener kata Tesi, Bu. Mending kita kerumah sakit aja, wajah Ibu pucat banget soalnya." ucap Meldo yang tidak kalah khawatir.
"Terus kenapa Ibu gak minta pertolongan tetangga?." lanjut Meldo.
"Tadinya mau minta pertolongan, tapi karena Ibu rasa udah sedikit baikan, gak jadi minta tolong nya."
"Yaampun, Bu. Ibu gak boleh gitu, biar gimana pun kita hidup harus butuh bantuan orang, Bu. Sekarang, kita kerumah sakit untuk memeriksa keadaan Ibu lebih lanjut."
Tanpa menuruti penolakan Ibu, Meldo langsung memanggil Januar sang supir untuk membantunya membopong Ibu menuju mobil. Air mata Tesi tidak terbendung lagi, Ia menangis sambil mendudukkan Ibu nya di kursi bagian belakang. Tesi menemani Ibu nya di belakang, sementara Meldo di depan dan mobil di kendarai oleh Januar, supir pribadi Meldo.
"Kita kerumah sakit mana, Tuan?." tanya Januar.
"Rumah sakit tempat Mama sering check up aja. Kamu tau kan?."
"Iya, baik Tuan."
Mobil itu melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Kemacetan Ibu Kota membuat Meldo kesal setengah mati. Ia bahkan meminta Januar untuk terus menyalakan klakson mobil nya agar kendaraan lain bisa melaju dan mereka segera sampai di rumah sakit.
"Bu, sabar ya?." ucap Meldo dengan gusar.
"Gapapa, Nak. Lagian Ibu udah agak enakan kok." ucap Ibu lirih.
Walaupun Ibu berbicara demikian, itu tidak membuat Meldo dan yang lainnya percaya. Bagaimana tidak, wajah Ibu sangat terlihat pucat dan stamina tubuhnya jelas terlihat sangat lemas.
30 menit bergabung didalam kemacetan Ibu Kota, kini jalanan sudah melenggang dan Meldo meminta Januar untuk menancap gas nya lebih tinggi. Namun tiba-tiba, sesak nafas Ibu kembali kambuh dan Ibu sangat sulit memompa nafas nya.
"Januar, cepetan!." bentak Meldo.
"Bu, Ibu tahan ya? Bentar lagi kita sampe." ucap Tesi dengan air mata nya yang tak terbendung.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit. Belum sempat Januar mengerem mobil dan memarkirkannya dengan rapih, Meldo sudah langsung melompat keluar dan memasuki rumah sakit itu.
"Dokter, Suster, siapa pun yang ada disini, tolong Ibu saya!." ucap Meldo dengan teriakan nya yang menggema di setiap sudut rumah sakit itu.
"Perlu bantuan, Pak?." tanya seorang perawat lelaki yang menghampiri Meldo.
"Siap kan ranjang pasien, Ibu saya udah sekarat di mobil. Cepat!."
Tak menunggu lama, perawat tadi membawa beberapa rekan lainnya dan tidak lupa dengan ranjang pasien yang di dorong oleh sekelompok perawat itu. Dengan ligat, mereka menghampiri mobil Meldo dan langsung membopong Ibu untuk tidur di ranjang pasien. Dengan derai air mata, Tesi ikut mendorong ranjang itu.
"Bu, Ibu harus kuat ya?." ucap Tesi dengan menangis.
"Maaf, Pak, Bu. Silahkan tunggu diluar, kami akan segera tangani pasien sebaik mungkin." ucap seorang Dokter yang sudah standby di UGD.
Dengan menurut, Tesi dan yang lainnya duduk di lobby dan menunggu kabar dari Dokter. Tesi sangat khawatir dengan keadaan Ibu nya. Ia bahkan sangat takut jika kehilangan Ibu nya, Dia belum siap untuk itu.
"Sabar sayang. Semoga semua baik-baik aja, ya?." ucap Meldo sambil mengusap lembut kepala Tesi.
"Aku khawatir banget."
"Kita berdoa aja biar gak terjadi apa-apa sama Ibu. Hapus dulu air mata kamu."
1 jam kemudian, Dokter keluar dan Tesi pun segera berdiri begitu juga dengan Meldo.
"Bagaimana keadaan mertua saya, Dok?." tanya Meldo dengan panik.
"Sesak nafas yang diderita Beliau, sudah cukup parah dan akan sering kambuh. Untuk itu, jangan biarkan Beliau sendirian dalam melakukan aktivitas dimana pun. Dan jangan juga membuat nya khawatir, stress, serta panik yang berlebihan karena itu bisa membahayakan. Jauhkan Beliau dari desiran debu dan bulu-bulu hewan yang gampang rontok. Di usia nya yang mulai senja, ada baik nya jika Beliau memang harus istirahat dan tidak lagi melakukan pekerjaan yang menguras tenaga dan membuat nafas menjadi tidak teratur. Sekarang Beliau belum sadar, mungkin beberapa menit lagi akan sadar. Kini Beliau akan di pindahkan ke ruang rawat inap. Itu saja, Terimakasih." ucap Dokter itu.
"Terimakasih banyak, Dok."
"Baik, Pak. Kami permisi dulu."
Meldo dan Tesi menyelesaikan administrasi terlebih dahulu sembari menunggu Ibu selesai persiapan menuju ruang rawat inap. Tesi sedikit lega karena Ibu nya masih bisa selamat.
Berpuluh menit kemudian, setelah menyelesaikan urusan administrasi, Meldo dan Tesi langsung menuju ruang tempat Ibu dirawat. Pelan, Tesi membuka pintu nya dan Ibu menoleh kearah Tesi.
"Bu, gimana? Apa masih sesak nafasnya?." tanya Tesi dengan lembut.
"Gak apa-apa kok, Nak. Kamu gak usah khawatir."
"Bu, setelah Ibu keluar dari rumah sakit, saya mohon Ibu pindah kerumah yang pernah saya janjikan sama Ibu, ya? Saya gak mau hal ini terjadi lagi sama Ibu. Dirumah yang saya janjikan itu, Ibu bisa ber-istirahat dengan ekstra dan akan ada yang menjagai Ibu. Saya mohon, Bu. Ini semua demi kesembuhan Ibu." ucap Meldo dengan penuh permohonan.
Ibu menatap keduanya dengan tatapan lirih. Sesungguhnya Ibu tidak mau sampai merepotkan menantunya apalagi sampai memberikan nya sebuah rumah.
"Bener, Bu. Ibu pindah aja ya?." ucap Tesi yang juga membenarkan perkataan Meldo.
"Yasudah kalo memang itu mau kalian." ucap Ibu penuh keyakinan.
Dengan cepat Meldo langsung menelpon orang-orang nya untuk mempersiapkan semua nya dan tidak ada yang kurang satu pun.
Tbc..