
8 Tahun Kemudian..
//
"Mama hari ini jadi kan nganterin Nathan ke sekolah?." tanya Nathan.
"Jadi dong sayang."
Tesi tengah menyiapkan bekal untuk sang buah hati nya, Nathan. Sudah 8 tahun berlalu, Tesi benar-benar sudah mengubur dengan dalam masa lalu yang kelam itu. Tak jarang Nathan menanyakan dimana sang Ayah berada, namun Tesi selalu mengelak dan mengalihkan topik pembicaraan saat Nathan menanyakan hal itu. Kini mereka tidak tinggal di pedesaan lagi, melainkan di Seoul. Toko kimbab milik Ibu semakin sukses dan terus banyak pelanggan nya, bahkan toko nya sudah bercabang-cabang dan selalu ada di setiap sudut kota di Korea Selatan.
Juan masih tetap dengan profesi nya sebagai seorang Dokter, hanya saja Ia sudah tidak bertugas di Jakarta lagi, melainkan di Surabaya. Juan pernah mengajukan surat izin pindah tugas ke Korea, namun di tolak karena di negara tersebut hanya butuh Dokter yang tamatan asli dari negara mereka. Hingga pada akhirnya, Juan menyerah dan Ia pun tetap memilih untuk mengabdi di Indonesia saja. Juan sebulan sekali berkunjung ke Korea untuk menemui Tesi dan keluarganya. Jika ada libur panjang, Juan menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu dengan Tesi dan Nathan di Korea.
"Om Juan, Nathan mau pergi sekolah nih sama Mama. Mama buatin Nathan makanan banyak banget loh! Nih liat deh." ucap Nathan sambil memamerkan rantangan yang ditangannya.
Mereka sedang melakukan panggilan video saat ini, Juan sangat rindu dengan malaikat kecil itu. Walaupun waktu sudah lama berlalu, Juan dan Tesi tidak memiliki hubungan yang spesial sampai sekarang. Tesi mengaku kalau Dia trauma dengan apa yang terjadi pada rumah tangga nya dengan Meldo.
"Kayaknya enak tuh masakan Mama kamu! Nanti kalo Om kesana, Om minta masakin juga deh." ucap Juan dengan senyum lebarnya.
"Om buruan kesini ya? Biar kita pergi main lagi."
"Siap jagoan, tunggu Om disana ya?."
"Oke, Om."
"Yaudah, kamu berangkat gih! Nanti telat. Om matiin ya video call nya? Bye."
Panggilan Video berakhir, dan Tesi langsung mengajak Nathan untuk berangkat menuju ke sekolahnya. Tesi sudah cukup mahir dalam berbahasa Korea, begitupun dengan Nita yang bahkan sudah tidak ragu lagi untuk pergi kemanapun karena sudah mengerti berbicara dalam bahasa Korea.
"Nit, kamu gak usah ikut ke Toko dulu ya?." ucap Tesi saat berjalan menuju luar rumah nya.
"Kenapa, Tes?."
"Kamu liat tuh, perut kamu udah besar banget! Kamu istirahat aja dirumah."
"Iya, Tante. Nanti kalau adek bayi nya kenapa-napa, gimana?." sambung Nathan dengan tingkah gemasnya.
"Yaudah, iya deh! Tante sama adek bayi bakalan jaga rumah aja."
Mereka pun saling tertawa dan Tesi berpamit pada Nita untuk pergi mengantarkan Nathan ke sekolah. Nita sudah menikah dengan Anton tepat 2 tahun yang lalu dan kini Ia tengah hamil 7 bulan. Anton sekarang menjadi asisten Presdir di salah satu perusahaan ternama di Korea Selatan, kini Anton pun sudah sangat jarang membantu Ibu berjualan Kimbab di Toko dikarenakan jadwal pekerjaan nya yang begitu padat.
_____
Meldo baru saja menyelesaikan rapatnya bersama para klien serta rekan bisnisnya yang lain. Meldo telah sembuh dari Depresi nya beberapa tahun lalu, dan bahkan kini Ia sudah bisa meng-handle perusahaan nya kembali. Walaupun sudah sembuh, namun ingatan nya mengenai Tesi tidak akan pernah hilang, setiap desiran nafasnya Ia masih terus memikirkan Tesi.
Semenjak sembuh dari depresinya, Meldo mengerahkan beberapa orang-orangnya untuk mencari keberadaan Tesi dan bahkan sampai saat ini pun pencarian itu masih dilakukan walaupun belum juga menemukan titik terang.
Tok...tok...tok...
"Papa, ini untuk Papa." ucap sang pangeran kecil yang datang menghampiri Meldo.
"Ngapain kamu kesini?."
"Cleo udah pulang sekolah tadi di jemput sama Oma, terus mampir ke kantor Papa dan Cleo pengen ngasih ini untuk Papa." ucap Cleo sambil memberikan sebuah mainan kecil berbentuk spiderman.
"Hm, Iya." ucap Meldo sambil menerima mainan itu dan meletakkannya di sembarang meja lalu lanjut menatap laptopnya.
Cleo sangat sedih dengan ini, sudah bertahun-tahun Ia mencoba menarik perhatian Meldo namun tidak pernah ada hasil. Cleo adalah anak dari Caroline dan Meldo atas skandal yang pernah terjadi di antara mereka dulu. Semenjak Cleo lahir, Meldo tidak pernah melirik anak itu sedikit pun. Caroline selalu mengatakan bahwa Meldo sangat menyayanginya, itu dilakukan agar Cleo tidak selalu berprasangka buruk terhadap Meldo.
"Papa udah makan belum?." tanya Cleo dengan gemas nya.
"Belum." ucap Meldo dan beranjak dari duduk nya lalu pergi meninggalkan Cleo sendirian disitu.
Seketika Mama langsung masuk kedalam ruang rapat untuk menghampiri Cleo. Mama sengaja tidak ikut masuk kedalam sejak tadi, karena Ia ingin Cleo memiliki waktu berdua dengan Meldo. Tetapi tetap saja, Meldo tidak pernah memperdulikan sosok Cleo di hidupnya.
"Cleo.. Mungkin Papa lagi sibuk, makanya gak bisa nemenin Cleo dulu."
"Kenapa setiap hari Papa sibuk, Oma? Papa gak pernah ngajak Cleo main-main, kayak teman Cleo di sekolah Papa nya selalu ngajak Dia main-main dan pergi liburan."
Mama Meldo menunduk dan sedih mendengar perkataan cucunya. Bukan tak jarang Mama menasehati Meldo untuk memperhatikan Cleo sesaat saja, namun Meldo tetap pada pendiriannya yang keras kepala.
"Yasudah, kita pulang yuk? Tapi Cleo masuk ke dalam mobil diluan ya? Oma masih ada urusan."
"Iya, Oma."
Mama dan Cleo pun beranjak dari ruangan itu. Cleo berlari kecil menuju mobil, sementara Mama berjalan menuju ruangan Meldo. Pelan, Mama membuka pintu itu dan mendapati Meldo yang sedang melamun. Menyadari ada yang datang, Meldo langsung tersadar dan membenarkan posisi duduknya.
"Kenapa, Ma?." tanya Meldo.
"Seperti biasa, Mama gak akan pernah lelah memohon sama kamu supaya kamu mau ngasih perhatian kamu sedikit aja sama Cleo."
"Dia punya Caroline untuk ngasih Dia perhatian lebih. Mama nasehatin si Caroline aja deh mendingan! Bilangin sama Dia kalo Dia udah punya anak dan stop keluyuran sana-sini, ngabisin waktu untuk hal-hal yang gak penting, pulang malam, dan lain lain."
"Tapi kamu Papa nya Cleo, Nak."
"Cukup ya, Ma! Dia bukan anak aku. Mending Mama pergi dari sini sebelum emosi aku naik."
"Kamu keterlaluan, Meldo." ucap Mama dan langsung pergi meninggalkan ruangan Meldo.
Meldo menarik nafasnya dengan dalam dan mengusap rambutnya dengan kasar. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju jendela dan memandangi padatnya Ibu Kota dari ketinggian sana.
"Justru karena kehadiran si Cleo itu yang buat semuanya jadi hancur berantakan." gumam Meldo dengan sendirinya.
Tbc...