
Tengah malam, Ibu terbangun dan mendapati Tesi yang sedang membaca buku, sedangkan Meldo sudah tertidur pulas di kursi sofa yang terdapat di ruangan itu.
"Tesi.." panggil Ibu.
"Bu? Ibu kenapa bangun? Mau ke toilet?."
"Enggak kok, Ibu cuma terbangun aja. Kamu kenapa gak tidur?."
"Tesi gak bisa tidur karena mikirin Ibu. Yaudah, sekarang Ibu tidur lagi aja, ya?."
"Nak, kamu udah nikah, udah sepantas nya kamu menghormati suami kamu."
"Maksud Ibu?."
"Mulai lah panggil Meldo dengan sebutan Mas. Biar lebih sopan dan lebih menghargai suami mu."
Mata Tesi terbelalak dan seketika Ia menelan siliva nya. Ia pun mengalihkan pandangan nya kepada Meldo yang sudah tertidur pulas.
"Eum.. Tapi kan, Bu.."
"Gak ada tapi-tapi. Itu sudah kewajiban kamu sebagai seorang istri."
"Yaudah, sekarang Ibu tidur lagi ya?."
"Tesi, jangan mengalihkan pembicaraan! Gak baik."
"Iya, Bu. Tesi akan belajar panggil Meldo dengan sebutan yang Ibu sarankan tadi. Sekarang, Ibu tidur ya?."
Ibu pun menurut dan segera kembali tidur. Tidak butuh waktu lama, Ibu sudah tertidur kembali, dan Tesi sudah cukup lega melihatnya. Tesi memperhatikan Meldo dan Ibu secara bergantian. Nasehat Ibu masih terngiang jelas di kepala nya.
Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Tesi memutuskan untuk berkeliling rumah sakit. Di setiap lorong masih banyak perawat yang menjaga di pos masing-masing. Saat sedang berkeliling, Tesi menemukan sebuah taman kecil dengan bangku besi panjang yang terletak di taman itu. Tesi pun memutuskan untuk duduk di kursi itu.
Angin berhembus menusuk wajah nya. Tesi sebenarnya sedikit merinding duduk di taman ini. Biar bagaimana pun, ini adalah suasana rumah sakit yang tidak asing dengan keseraman nya.
"Permisi.." ucap seseorang yang menegur Tesi.
"Eh? Yaampun, saya sampe kaget. Ada apa ya?." ucap Tesi yang sudah terbangkit dari duduknya.
"Loh? Kamu Tesi kan?."
Tesi merasa heran dengan orang ini. Seorang pria dengan stelan Jas Putih yang mendominasi di tubuhnya.
"Kok tau nama saya?." ucap Tesi terheran.
"Yaampun, ini aku Juan, temen sekelas kamu waktu SMA, masa lupa? Haha."
"Juan Felix, bukan?."
"Nah, itu ingat. Hahaha."
"Astaga, udah lama banget kita gak ketemu. Kamu Dokter disini?."
"Iya. Kebetulan aku lembur dan sekarang baru selesai, pengen pulang tapi tanggung, jadinya nunggu matahari terbit aja pulangnya. Pas keliling, gak sengaja liat kamu disini, aku pikir pasien, makanya aku tegur dan niat nya mau aku suruh masuk ke ruangan. Tapi btw, kamu ngapain disini?."
"Ibu aku sakit, Ju. Dan kebetulan aku gak bisa tidur, makanya aku kesini."
"Oh gitu. Yaudah, duduk bentar yuk."
Kini Juan dan Tesi duduk berbarengan di bangku taman kecil rumah sakit itu. Juan dan Tesi adalah teman sekelas sewaktu duduk di bangku SMA. Mereka tidak cukup akrab sewaktu SMA, itu di karenakan Juan sangat pendiam sewaktu masih sekolah.
"Kamu apa kabar, Tes?." tanya Juan.
"Baik kok, kamu sendiri?."
"Baik juga. Kegiatan kamu sekarang apa?."
"Tadinya aku kerja di sebuah perusahaan, tapi sekarang udah nggak lagi, soalnya CEO nya udah jadi suami aku. Haha."
"Oh, jadi kamu udah nikah?."
"Iya nih, hahaha."
"Masih dong, hahaha. Dia kerja di laundry. Dulu sebelum kerja di perusahaan, aku juga kerja di laundry sama Dia."
"Oh ya? Sahabat sejati banget sih kalian. Haha."
Juan dan Tesi pun berbincang hangat mengenai masa SMA mereka. Mereka memutar kembali memori masa SMA yang indah. Tidak terasa, waktu menunjukkan pukul 04.00 subuh, Tesi pun tersentak dan segera berpamitan dengan Juan.
"Astaga, Ju. Udah jam 4 aja. Aku pamit balik keruangan Ibu, ya? Permisi." ucap Tesi yang hendak pergi.
"Eh, tunggu.."
"Kenapa?."
"Ibu kamu di rawat diruangan mana? Aku mau jenguk."
"Mawar 05 VIP."
"Oh, oke. Nanti sekitaran jam 7, aku susul kesana ya?."
"Boleh. Yaudah, aku balik dulu ya, Ju?."
"Iya. Byee."
"Byee."
Tesi mempercepat langkahnya karena takut ketahuan oleh Meldo kalau Dia tidak tidur dan malah berkeliaran kemana-mana. Saat sampai, Ia dengan pelan membuka pintu dan mendapati Ibu dan Meldo yang sudah terbangun. Tesi pun langsung terdiam saat Meldo menatap nya dengan tajam.
"Darimana kamu?." tanya Meldo pada Tesi.
"Aku..."
"Kamu gak tidur?."
"Aku gak bisa tidur, makanya keliling rumah sakit."
"Satu malaman keliling rumah sakit nya?."
"Enggak, duduk di taman tadi."
"Siapa temen kamu duduk? Kuntilanak?."
"Udah dong, Do. Lagian kan aku udah balik."
"Kamu jangan begadang dong. Jangan nyari penyakit."
"Iya. Iya."
"Yaudah, sekarang kamu tidur. Biar aku yang gantian jaga."
Tesi menurut dan tidur di sofa. Kini Meldo yang bergantian jaga hingga matahari terbit nanti. Untuk menghilangkan rasa bosan, Meldo memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaan nya saja melalui laptop yang Ia bawa.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 wib. Ibu sedang sarapan dan Meldo sudah rapih dengan pakaian kerja nya. Semalam, Ia menyuruh Januar untuk membawakan beberapa pasang pakaian untuk mereka. Tesi masih tidur terlelap, Meldo tidak tega membangunkannya.
Tidak lama, datang seorang Dokter tampan dengan senyum sumringahnya. Meldo merasa heran, tidak biasanya ada Dokter yang akan memeriksa orang sakit di pagi buta seperti ini. Biasanya, di rumah sakit ini, jam 09.00 baru mulai pemeriksaan terhadap pasien. Dokter itu adalah Juan.
"Maaf, apakah benar ini ruangan Ibu Tesi?." tanya Juan ramah.
"Iya benar. Ada apa ya, Dok? Mau periksa Ibu mertua saya, ya?." ucap Meldo.
'Oh, jadi ini suami nya Tesi? Kayak nya bukan orang sembarangan deh Dia.' gumam Juan dalam hati.
"Enggak kok, saya Dokter spesialis jantung. Saya cuma mau jenguk Ibu Tesi aja. Oh ya.. Perkenalkan, saya Juan, teman Tesi semasa SMA, kebetulan tadi subuh saya ketemu sama Tesi di taman depan rumah sakit."
"Oh, jadi anda yang buat istri saya gak tidur dan malah berkeliaran di area rumah sakit?." ucap Meldo pada Juan dengan suara yang tinggi.
Ibu melihatnya kaget dan Tesi pun terbangun karena mendengar suara Meldo yang cukup keras.
Tbc..