
Setelah melewati pembicaraan yang cukup membuat kaget sang Mama karena kabar pernikahan ini cukup mendadak, Meldo pun mengajak Mama dan Tesi untuk menemui Ibu Tesi.
Saat akan beranjak menuju mobil, tiba-tiba datang sosok Johan yang sudah berada diambang pintu.
"Tesi?." ucap Johan dengan wajah sumringah
"Hai, Jo." balas Tesi dengan ramah.
Meldo benci dengan tatapan Johan terhadap Tesi. Ia sudah sangat feeling kalau Johan pasti memiliki sesuatu yang berbeda terhadap Tesi. Dengan sigap, Meldo pun langsung mengajak Mama dan Tesi beranjak.
"Yasudah, Ma, Tes, ayo kita berangkat." ucap Meldo sambil menatap dingin kearah Johan
"Kalian mau kemana?." ucap Johan
"Gue bakal nikah sama Tesi. Dan gue bakal ngelamar Dia sekarang di hadapan Ibu nya." ucap Meldo dengan lantang.
Johan bagai disambar petir mendengar perkataan kakak nya itu. Dia berada diambang kebingungan, kekagetan, sekaligus kesedihan. Dia merasa pupus saat itu juga.
Meldo dan yang lainnya pun masuk ke mobil dan langsung bergegas menuju rumah Tesi.
Sesampainya dirumah Tesi, Tesi segera turun dari mobil dan berlari kearah rumahnya. Dengan semangat Dia mengetuk pintu bolak-balik sembari memanggil Ibu nya. Dan tak menunggu lama, sang Ibu membuka pintu.
"Tesi?." ucap sang Ibu sambil memeluk putri tercinta nya
"Ibu.. Maaf ya udah buat Ibu khawatir." ucap Tesi.
"Kamu kemana aja, Nak? Ibu sampe kesana kemari nanyain orang-orang tentang keberadaan kamu. Ibu bahkan gak bisa tidur semalaman karena panik."
"Emmm... Tesi... Tesi nginep di mes kantor, Bu. Karena banyak kerjaan yang harus dikerjain. Maaf gak ngabarin Ibu. Soalnya hp Tesi rusak." ucap Tesi terpaksa berbohong.
Meldo dan Mama berjalan menuju rumah. Ibu pun kaget dengan kedatangan mereka.
"Siapa mereka?." tanya Ibu pada Tesi.
"Bu? Kita masuk dulu yuk? Ada yang mau di omongin sama Ibu."
"Oh iya, Baiklah. Mari masuk." ajak Ibu kepada Mama dan Meldo.
Saat mereka semua duduk, suasana menjadi hening sejenak. Ibu bertanya-tanya siapa mereka dan apa tujuan mereka datang, lalu apa yang mau dibicarakan.
"Maaf, Tante. Perkenalkan, saya Meldo Christoper. Saya adalah CEO di perusahaan Christopelago Group tempat Tesi bekerja. Saya langsung pada inti saja & tanpa basa-basi. Saya akan menikahi Tesi, Tan. Dan tujuan saya datang kesini untuk meminta Doa restu pada tante." ucap Meldo dengan rapih.
"Hah? Ke..kenapa mendadak begini? Yaampun, saya kaget ini." ucap Ibu dengan sedikit gugup.
"Tante, saya sudah memantapkan hati dan niat saya untuk melamar Tesi dan menikahi nya dalam waktu dekat. Tante tidak usah khawatir. Saya akan mencintai dan menyayangi setara dengan Tante yang mencintai dan menyayangi nya. Saya janji dan saya jamin."
"Aduh, hehe. Emmm.. Ya. Saya paham ketulusan kamu kok, Nak. Tapi apa salahnya kalau kalian saling mengenal dulu? Seperti menjalani tahap pacaran misalnya?." ucap Ibu dengan sungkan.
"Maaf, Bu? Saya sanggah. Anak saya Meldo ini memang suka sekali membuat keputusan secara mendadak dan membuat semua orang kaget. Tapi saya yakin dengan apa yang dibilang anak saya. Meldo akan mencintai dan menyayangi Tesi, Bu. Saya mohon dengan lapang dada Ibu memberi restu untuk anak kita, Bu." ucap Mama dengan ramah.
'Gue masih gak habis pikir kenapa ni orang mau nikahin gue dengan cara cuma-cuma kayak gini. Gue yakin Dia pasti punya maksud lain! Sekarang aja Dia sok manis! Tapi apa gue tau setelah nikah? Apalagi dengan sikapnya yang aneh! Kadang baik, kadang kejam, kadang gila. Dih, psikopat ni orang!.' ucap Tesi dalam hati.
Setelah mengeluarkan segala bujuk rayu, akhirnya Ibu Tesi pun merestui hubungan Meldo dan Tesi. Meldo sangat senang dan senyum sumringah terpancar di bibir nya. Tapi di sisi lain, Tesi merasa sedikit takut dan aneh. Dia pun otomatis berubah pikiran dan punya rencana untuk kabur dari hadapan Meldo.
"Emm.. Aku tinggal disini boleh ya? Aku kangen sama Ibu. Aku mau habisin waktu sama Ibu dulu. Karena kan setelah menikah gak mungkin aku sama Ibu terus." ucap Tesi berusaha santai.
"Iya, gapapa kok. Tapi kalo butuh apa-apa bilang aku, ya? Dan besok aku jemput kamu kesini. Kita siapin semua keperluan nikah nya." ucap Meldo dengan lembut.
"Sepertinya, Nak Meldo orang yang baik, Tes. Kamu beruntung." ucap Ibu dengan lembut.
"Bu, kita ke jogja yuk? Ketempat nenek. Aku tiba-tiba kangen nenek." ajak Tesi dengan lembut.
"Lah? Kok tiba-tiba, Nak? Kenapa gak minggu depan aja?." ucap sang Ibu dengan heran.
"Bu, nanti Tesi ceritain semuanya. Sekarang kita harus kabur." ucap Tesi secara terang-terangan.
"Hah? Kabur kenapa? Kok...."
"Ayo, Bu. Bawa barang seadanya aja. Nanti Tesi ceritain kalo udah sampe di Jogja. Kita naik kereta api aja. Ayo, Bu buruan."
Ibu menurut dengan Tesi. Dengan sigap mereka membereskan barang-barang mereka. Merasa sudah beres, mereka langsung beranjak meninggalkan rumah itu. Saat di perjalanan Ibu merasa heran dengan Tesi.
"Nak? Pelan-pelan jalannya. Kamu memang punya masalah apa sih? Terus nanti bagaimana pernikahan kamu?." ucap Ibu sambil membopong tas besar.
"Nanti Tesi ceritain semua ya, Bu? Sekarang kita harus ke Jogja dulu."
Saat berjalan menuju persimpangan, tiba-tiba mereka berselisih dengan Nita.
"Eh? Ibu? Tesi? Mau kemana?." ucap Nita ramah.
Ibu dan Tesi hanya saling pandang tanpa menjawab.
"Loh? Kok pada diem? Lu abis darimana aja, Tes baru pulang sekarang? Ibu khawatir nyariin lu semalem."
"Nit, gue sama Ibu mau ke Jogja ketempat nenek. Pliss banget jangan bilang siapapun kalo kita pergi! Kita berangkat dulu ya? Nanti kalo udah sampe gue bakal ceritain semua sama lu."
Tanpa menerima respon Nita, Tesi dan Ibu lanjut berjalan. Mereka pun menghampiri taxi online yang sudah di pesan. Dengan sigap Tesi mengucapkan tujuannya, yakni stasiun.
Sesampainya di stasiun, Tesi langsung menyerahkan barcode kepada petugas disana dan mempersilahkan mereka masuk ke kereta api. Setelah mereka duduk, Tesi merenung sesaat.
'Maaf ya Meldo. Ini semua rencana gue buat kabur dari lo. Gue gak bakal muncul lagi di hadapan lo. Gue takut kalo lo punya maksud lain dari ini semua.' Tesi bergumam dalam hati.
"Nak? Kamu gapapa?." ucap Ibu karena sadar Tesi sedang melamun.
"Emm.. Gapapa kok, Bu." balas Tesi berusaha senyum
------------
Meldo sampai dirumahnya dan langsung menenggelamkan diri didalam kamarnya. Tanpa mau mandi terlebih dahulu, Meldo langsung merebahkan tubuh nya di kasur dan memainkan handphone nya. Dia merasa rindu dengan pujaan hati nya sehingga Dia memutuskan untuk menelpon Tesi. Saat mencoba menelpon, handphone Tesi tidak aktif. Dia pun tersadar kalau handphone nya sudah Dia sita saat mereka menuju rumah rahasia Meldo kemarin. Dia pun kembali bergegas keluar menuju mobil nya untuk mengambil hp Tesi. Dan benar saja, hp itu masih berdiam di mobil nya.
"Aku balikin sekarang apa besok ya? Tapi aku cape banget." gumam Meldo.
"Januarrr." teriak Meldo memanggil seseorang.
"Ya, Tuan?." ucap seorang supir yang bertugas dirumah Meldo.
"Tolong antarkan hp ini kerumah Tesi, calon istri saya. Alamatnya di jalan XXXX." perintah Meldo.
"Siap, Tuan." ucap sang supir dan langsung bergegas pergi.
Meldo kembali masuk kedalam dan senyum-senyum sendiri mengingat kejadian hari ini.
Tbc..