
Ruslan mengantarkan Nita untuk pulang. Selama perjalanan, tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka. Ruslan menyadari wajah Nita yang sedang murung dan tidak ada kebahagiaan.
"Mendung amat tu muka? Mau hujan badai nih kayaknya." ucap Ruslan berusaha mencairkan suasana.
"Pak, sebenernya Meldo itu siapa nya Tesi sih?." tanya Nita yang mengubah posisi duduknya menjadi sedikit menghadap Ruslan.
"Gak tau juga saya. Dia gak pernah cerita soal Tesi. Kalo saya tanya, Dia selalu bilang 'masa lalu indah'. Kalo Dia udah ucap begitu yaudah! Saya gak mau kepo lebih jauh, nanti saya di pecat lagi."
"Masa lalu indah? Perasaan Tesi gak pernah pacaran deh."
"Wih.. Serius?."
"Iya, Pak. Dia itu orangnya lugu banget kalo soal cinta. Banyak banget sebenernya yang mau nembak Dia, tapi pada di tolak semua."
"Oh begitu."
Mereka pun mengobrol santai sampai akhirnya sampai di pekarangan rumah Nita. Nita turun dari mobil Ruslan dan mengucapkan terimakasih pada Ruslan.
"Nit? Jangan lupa ya, bilang yang kayak aku bilang tadi kalo misalkan Ibu Tesi nanyain Dia." ucap Ruslan yg berbicara dari arah jendela mobil.
"Iya Pak. Btw, hati-hati ya pak."
Ruslan merespon Nita dengan senyum tampannya. Dengan kecepatan sedang Ia melajukan mobilnya.
🌞🌞
Matahari menampakkan dirinya, cahanya menghampiri wajah cantik yang sedang terlelap anggun diatas ranjang empuk. Tesi membuka mata nya dan membangkitkan tubuhnya. Ia pun meringankan otot-otot nya lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Sesampainya di kamar mandi, Ia kembali menatap sedih dirinya di cermin kecil kamar mandi dan merenungkan semua yang telah terjadi. Ia menarik panjang nafas nya dan membuang nya secara perlahan. Dengan sigap Ia membersihkan tubuhnya dan segera keluar menuju dapur.
"Mana si gila itu?." gumam Tesi pelan sambil mengelilingi pandangan matanya di sekitaran rumah.
"Nyonya? Apa anda butuh sesuatu?." tanya salah seorang pelayan yang tiba-tiba berada di depan Tesi.
"Gak usah! Saya bisa sendiri. Mana Dia?."
"Maksud anda Tuan, Nyonya?
"Hm."
"Tuan pergi ke kantor, Nyonya. Tadi kata Tuan Dia mau membereskan semua kerjaan nya agar bisa libur dan menemani Nyonya dirumah."
"Ck, lawak tu orang! Yaudah lanjut aja kerjaan kamu. Saya mau sarapan sendiri aja." ucap Tesi yang langsung bergegas meninggalkan sang pelayan.
Saat sedang sarapan, Tesi memperhatikan sekeliling rumah banyak bodyguard yang sedang sigap berdiri di setiap sisi. Tesi merasa ini terlalu lebay dan posesif.
"Bapak-bapak bodyguard sekalian, udah pada sarapan belum?." tanya Tesi berusaha ramah.
Para bodyguard tidak menjawab, mereka malah saling pandang karena bingung dengan sikap nyonya nya.
"Lah? Kok pada diem? Kalian di gaji sama si Meldo untuk gak bicara ya?."
"Kami akan sarapan nanti, Nyonya. Terimakasih untuk tawaran nya." ucap salah seorang bodyguard.
"Ini banyak banget sarapannya, sayang banget kalo gak di makan. Ayo sini pada sarapan. Lagian ngapain sih berdiri mulu?."
Sama seperti tadi, para bodyguard tidak merespon dan hanya saling lempar pandang.
"Kenapa? Ini bukan modus saya untuk kabur kok! Bapak-bapak tenang aja. Saya gak bakalan kabur. Ayo sini sarapan."
"Ayo sini? Yaampun, susah amat jalan kesini doang? Inget ya, saya ini Nyonya kalian! Kalian juga harus nurut sama saya! Ayo cepat sini, buruan." ucap Tesi yang sudah berdiri untuk menyambut para Bapak-Bapak bodyguard.
Para bodyguard itu jalan menuju meja makan dengan sopan. Mereka duduk dengan canggung. Sebenarnya mereka juga takut, karena mereka tidak pernah di perlakukan seperti ini pada Tuan nya.
"Ayo Bapak-Bapak, Sarapan yang banyak." ucap Tesi yang langsung membuka tudung yang menutupi makanan.
"Maaf Nyonya, tapi...." ucap Bodyguard yang terputus.
"Eitt, Jangan panggil saya Nyonya! Terlalu lebay. Panggil aja Tesi, Pak. Atau kalau merasa masih segan, panggil Mbak aja lah minimal. Apaan Nyonya-Nyonya? Terlalu berlebihan."
"I..iya Mbak Tesi. Terimakasih Mbak." ucap salah satu bodyguard dengan sopan.
Sarapan itu berlangsung dengan hikmat. Mereka sarapan penuh dengan ketenangan. Sebenarnya para bodyguard itu takut jika tiba-tiba Meldo pulang namun mereka tidak stay di sekeliling rumah.
"Bapak-bapak udah kerja begini berapa lama?." tanya Tesi.
"Saya pribadi udah lebih dari 5 tahun, Mbak. Tapi kalau mereka-mereka ini rata-rata masih pada baru." ucap Roni
Roni adalah kepala ART sekaligus kepala bodyguard yang menaungi rumah Meldo.
"Oh begitu, Lama banget ya? Terus kerja nya berdiri-berdiri doang? Tiap hari?."
"Hehe. Enggak kok, Mbak. Kalo Tuan ingin mampir kesini, kami standby. Tapi kalau tidak, kami akan di tugaskan tergantung perintah dari Tuan Meldo."
Tepat saat Roni selesai berbicara, Meldo tiba-tiba datang dan membelalakkan matanya dengan tajam saat tau para bodyguard duduk di meja makan bersama istrinya.
"Kenapa kalian malah duduk-duduk santai?!." bentak Meldo yang membuat semuanya kaget.
Sontak, para bodyguard langsung berdiri dan menunduk kepada Meldo.
"Heh, kalian kan saya perin......" ucap Meldo yang terputus.
"Apaan sih lu? Dateng-dateng langsung marah? Gue yang nyuruh mereka sarapan! Yakali lu nyuruh mereka berdiri terus di sekeliling rumah. Mereka juga manusia lah! Aneh-aneh aja lu." ucap Tesi ketus terhadap Meldo.
"Dan satu lagi, mereka juga dalam naungan gue sekarang! Gue istri lu kan? Jadi mereka juga harus nurut apapun perintah gue! Dan lu gak berhak marah." lanjut Tesi
Meldo langsung diam seketika. Dia tak bisa menyanggah perkataan istri nya. Ya, Dia seperti masuk ke dalam kategori Suami Takut Istri saat ini.
"Ya..yaudah! Kalian boleh kembali berjaga." ucap Medo yang sudah menurunkan volume hantakan suaranya.
"Bapak-bapak kalo ngerasa cape, boleh duduk kok! Gak usah sungkan. Inget, saya juga atasan kalian. Kalian harus nurut juga apa yang saya perintahkan."
Semua kaget dengan perintah Tesi. Tak terkecuali dengan Meldo, Dia membelalakkan matanya tak percaya. 'tapi kan gue yang bayar mereka?!' gumam Meldo dalam hati.
Para bodyguard itu pun balik ke posisi nya masing-masing. Meldo menatap Tesi yang sedang membereskan piring bekas sarapan tadi.
"Apa liat-liat? Gak suka?." ucap Tesi dengan ketus yang menyadari bahwa Meldo menatapnya sedari tadi.
"Enggak kok. Yaudah, lanjut aja kerjaan kamu. Aku...Mau ke atas dulu." ucap Meldo yang tengah gugup. Dan langsung naik ke atas menuju kamar nya.
"Tuh, liat kan? Tuan kalian itu sebenernya orang yang cemen plus cupu! Baru digituin aja Dia udah kicep! Dia bisa nya cuma mengandalkan duit doang, makanya Dia sok berkuasa! Cih, udah kebaca kalo orang kaya mah." ucap Tesi kepada para pelayan dan bodyguard yang berdiri di sekitaran Tesi.
Para bodyguard dan pelayan tidak menganggapi. Mereka hanya mengangguk pelan dan sopan sambil melakukan aktivitas masing-masing.
Tbc..