My Obsession Is You

My Obsession Is You
Tentang rumah rahasia



Saat sedang menikmati kue donat buatan Tesi, Meldo langsung mendapat telfon dari sang Mama. Sejenak mereka memberhentikan ritual makan mereka dan segera mengangkat telfon Mama di seberang sana. Meldo pun mengaktifkan loudspeaker agar Tesi juga bisa mendengarnya.


"Ya? Hallo, Ma?." ucap Meldo pada Mama nya di seberang sana.


"Meldo, kirim alamat rumah kamu ya? Mama dan Caroline mau main kerumah kamu."


Seketika Meldo menatap Tesi dengan tatapan khawatir.


"Gak usah, Ma! Aku aja yang bakal kesana sama Tesi."


"Kamu kan udah nikah, masa iya Mama gak boleh tau rumah kamu?."


"Kita bakal siap-siap dan langsung berangkat! Bye, Ma." ucap Meldo langsung menutup telfonnya.


Tesi menatap Meldo yang masih panik. Ia pun juga bertanya-tanya, kenapa semua orang tidak boleh tau mengenai rumah yang sedang mereka tempati ini. Dan juga, rumah ini pun posisi nya sangat jauh dari perkotaan, tidak ada tetangga, dan hanya hutan belantara mengelilingi rumah ini.


"Jadi keluarga kamu gak tau kalo kita tinggal disini?." tanya Tesi.


"Yang tau rumah ini cuma aku dan kamu doang."


"Hah? Kok bisa?."


"Aku sengaja bangun rumah ini jauh dari perkotaan dan posisi nya di tengah-tengah hutan."


"Kenapa?."


"Kalo aku lagi stress atau lagi banyak masalah, aku tinggal dirumah ini dan sejenak ninggalin suasana perkotaan, terus mengistirahatkan diri disini dari semua penat yang ada."


"Jadi beneran cuma aku sama kamu doang yang tau tentang rumah ini? Johan dan Pak Ruslan sekali pun, gak tau juga tentang rumah ini?."


" Iya, cuma aku sama kamu doang! Yaaa sekaligus para pelayan dan bodyguard yang bertugas disini lah, itu pun aku nyuruh mereka untuk tutup mulut, karena ini benar-benar tempat penenang aku."


"Terus kalo misalkan kamu lagi ngambek sama aku, kamu bakalan nyari tempat penenang dimana?."


"Tetap disini lah! Karena kan kamu penenang aku dan juga kamu tempat aku pulang, hehe."


"Gombal banget." ucap Tesi sambil sedikit menjitak kepala Meldo.


"Yaudah, kita siap-siap yuk?."


"Iya."


Tesi berdiri menuju lemari dengan wajah yang sedikit murung. Entah kenapa, Ia merasa khawatir kali ini. Ia khawatir jika nanti Meldo dan Caroline akan bertemu. Semenjak Meldo menceritakan secara detail tentang masa lalu itu, Tesi jadi merasa wanti-wanti terhadap Caroline. Ia takut, jika hal yang tidak diinginkan, akan terjadi dalam naungan rumah tangga nya, itu di karenakan Tesi sudah benar-benar menerima Meldo dan siap menjalankan tugas nya sebaik mungkin sebagai seorang istri.


Setelah bersiap-siap, kini mereka berangkat menuju rumah Mama. Kali ini mereka menggunakan supir karena Meldo sedang malas menyetir.


"Kamu kenapa? Kok diem aja dari tadi?." tanya Meldo.


"Gapapa kok."


"Gini nih cewe, kalo ditanya jawab nya selalu gapapa! Tiba dibiarin, ntar dibilang gak peduli lah, cuek lah, gak peka lah, apa lah."


"Beneran, aku gapapa kok."


"Sayang?." panggil Meldo dengan lembut.


"Hm?."


"Kamu kenapa?."


Sejenak Tesi menunduk dan memikirkan sesuatu di kepala nya.


"Gak tau kenapa, aku merasa gak nyaman kalo kamu ketemu sama Caroline."


"Berarti tandanya kamu cemburu." ucap Meldo sambil tersenyum dan menyentil hidung Tesi.


"Selamat datang, Tuan dan Nona." ucap seorang pelayan dengan ramah.


"Mana mereka semua?." tanya Meldo.


"Ada di ruang tengah, Tuan. Mari saya antar."


Mereka berjalan mengikuti sang pelayan itu. Benar saja, Mama dan Caroline sedang menikmati acara TV sambil berbincang ringan mengenai barang-barang branded.


"Maaf, Nyonya. Tuan Meldo dan Nona Tesi sudah datang." ucap sang pelayan.


Mama dan Caroline langsung mengalihkan pandangan mereka kearah Meldo dan Tesi. Sontak, Caroline langsung tersenyum kearah Meldo dan Tesi melihat itu. Sementara Meldo, Ia sedang di peluk erat oleh Mama nya dan tidak menggubris pandangan siapa pun termasuk Caroline.


"Tesi sayang." ucap Mama yang sudah beralih dan memeluk Tesi.


"Iya, Ma."


"Kalian udah makan belum?."


"Udah." jawab Meldo sedikit dingin.


"Loh? Kan kita tadi cuma makan donat doang." ucap Tesi dengan polosnya.


"Yaampun, Meldo! Kamu selalu kayak gitu, gak pernah berubah dari jaman kuliah. Hahah." ucap Caroline sambil menatap Meldo.


"Yasudah, kalo gitu kalian makan ya?." tawar Mama.


"Nanti aja, Ma." ucap Meldo.


"Atau kamu mau aku buatin sesuatu kayak dulu lagi? Waktu kita masih tinggal bareng di Amerika, kan aku sering masakin sesuatu yang enak buat kamu." sambung Caroline.


"Gak perlu! Dan ingat, aku kesini bukan mau minta makan!."


Tesi hanya menelan siliva nya dengan perasaan yang gelisah. Wanita ini benar-benar gila, pikirnya. Mama pun menawari semuanya untuk duduk di sofa ruang tengah sambil menikmati cemilan dan berbincang hangat.


"Sebenarnya kamu dan Tesi tinggal dimana sih, Do?." tanya Mama.


"Yang jelas masih di bumi, Ma." ucap Meldo dengan nada yang dingin.


"Meldo, yang sopan dong sama Mama." timpal Tesi dan menatap tajam kearah Meldo.


"Gapapa, Tes. Dari dulu ini anak memang kayak gini."


"Bi, tolong panggil Johan." perintah Meldo kepada pelayan terdekat.


Sang pelayan pun menurut. Seolah tau sang adik sepupu sedang memeram diri di kamarnya karena suasana rumah ini sedang tidak nyaman menurutnya. Tak lama, Johan turun dengan langkah yang malas dan ikut bergabung duduk bersama.


"Kenapa, Kak?." tanya Johan.


"Kenapa kenapa, yaa kakak lu lagi dateng, di sambut kek." ucap Meldo dengan ketus.


"Kirain apaan, gak penting banget lu."


Mama, Caroline, dan Tesi hanya tersenyum melihat tingkah dua saudara itu. Mereka pun berbincang hangat mengenai bisnis. Sedangkan Tesi, Ia hanya mengangguk seolah mengerti apa yang sedang dibicarakan.


"Jadi, kira-kira kamu kapan balik ke Amerika, Lin?." tanya Mama pada Caroline.


"Eumm, kalo aku mau pindah dan menetap di Indonesia aja, boleh gak, Tan?." tanya Caroline.


Sontak, membuat semuanya kaget dan mematung. Johan dan Meldo saling menatap seolah tau apa yang ada di pikiran masing-masing. Tak terkecuali dengan Tesi yang juga kaget atas pertanyaan Caroline itu.


Tbc...