My Obsession Is You

My Obsession Is You
Pernikahan sial?



"Eumm, kalo aku mau pindah dan menetap di Indonesia aja, boleh gak, Tan?." tanya Caroline.


Sontak, membuat semuanya kaget dan mematung. Johan dan Meldo saling menatap seolah tau apa yang ada di pikiran masing-masing. Tak terkecuali dengan Tesi yang juga kaget atas pertanyaan Caroline itu.


"Ngapain? Balik aja sana ke Amerika! Lagian kan karir kamu matang nya disana, kalo kamu menetap disini, ntar merintis dari awal lagi dong?." ucap Johan sambil menatap Caroline dengan menantang.


"Emang gak boleh ya kalo aku mau dekat sama saudara aku sendiri?." ucap Caroline dengan ekspresi sedih nya.


'Apa lagi yang di rencanain sama rubah licik ini?' gumam Meldo dalam hati


"Bagus dong kalo Caroline mau menetap di Indonesia, ini yang tante harapkan dari dulu, Lin." ucap Mama dengan girang.


Sementara itu, Meldo dan Johan saling menatap dan menarik nafas mereka dengan dalam. Meldo tertunduk dengan fruastasi. Ia sebenarnya tidak takut jika Caroline memiliki rencana jahat terhadapnya, tetapi yang Ia takuti ialah Tesi, Ia sangat khawatir jika Tesi masuk dalam perangkap rencana jahat Caroline. Meldo masih sangat menduga bahwa Caroline masih sangat mencintai nya.


-------


"Hai, Nita.." sapa Ruslan dengan ramah.


"Eh, Pak Ruslan?."


"Nit, aku ambil baju-baju aku yang aku cuci kemarin dong?."


"Yaampun, Pak! Kirain bajunya udah gak dibutuhin lagi. Rencananya mau saya jual, hahaha."


"Hahah jahat banget. Sorry, Nit! Soalnya aku sibuk banget sama kerjaan aku dan gak sempat ngelakuin apapun termasuk singgah ke laundry."


"Yaudah deh, Pak! Bentar ya saya ambilin dulu."


Nita pun mengambil pakaian Ruslan yang kemarin Ia cuci di laundy ini.


"Nih, Pak. Saran saya, jangan terlalu sibuk sama kerjaan, Pak! Sekali-sekali keluar sambil nyari calon istri, hahaha." ucap Nita sambil memberikan keranjang serta baju yang sudah bersih.


"Kamu bisa aja sih, Nita."


"Kalo saya liat, umur Bapak udah cukup matang buat nikah."


"Nanti deh saya pikirin lagi, hahaha."


Ruslan pun berpamit dengan Nita dan melanjutkan perjalanan nya menuju apartemen tempat tinggal nya. Ruslan membenarkan perkataan Nita yang menyuruhnya segera menikah. Ia merenungkan semuanya, umur nya yang sudah matang, pekerjaan yang sudah tetap, harta yang menurutnya sudah mencukupi, dll. Hanya seorang wanita lah yang belum melengkapi kehidupannya saat ini. Ia pun membuyarkan lamunan nya sendiri dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


------


Setelah selesai berbincang mengenai Caroline yang akan menetap di Indonesia, Mama dan semuanya menyetujui. Bagaimana tidak, Mama sangat ingin sekali Caroline menetap di Indonesia dan Mama pun memaksa semuanya untuk menyetujui keputusan Caroline tersebut. Dengan berat hati, Meldo, Johan dan juga Tesi menyetujui keputusan tersebut.


"Tesi, kita masak yuk?." tawar Caroline pada Tesi.


Tesi yang sedang melamun, langsung tersadar karena ajakan Caroline. Dengan ragu, Tesi mengikuti Caroline berjalan menuju dapur.


"Masak apa ya, Tes?." ucap Caroline yang sudah membuka kulkas dan bingung saat memilih bahan makanan yang akan di olah.


"Eitt, kamu jangan panggil aku Mbak dong! Panggil Caroline aja, gak usah terlalu formal."


"Maaf, Caroline." ucap Tesi dengan ragu.


Kini Caroline telah mengambil semua bahan masakan yang akan di olah. Caroline memerintahkan Tesi untuk memotong beberapa sayuran, sementara Caroline memotong daging.


"Aku jadi kangen masak buat Meldo waktu di Amerika deh, hahaha." ucap Caroline sambil fokus memotong daging sapi.


"Oh ya? Kalian sepupuan yang akrab banget ya?." tanya Tesi yang berusaha memancing Caroline.


"Iya dong, kita bahkan saling perhatian banget dulu, saling peduli, saling menolong, bahkan selalu ada saat susah maupun senang. Yaampun, jadi flashback banget."


"Seru banget dong?."


"Banget! Apalagi kalo Meldo minta di temenin jalan-jalan ke balai kota, itu indah banget pemandangannya. Jadi inget waktu berduaan sama Dia jalan-jalan, hahaha."


Deg..


Kata 'berduaan' sontak membuat Tesi terdiam mematung saat mendengarnya. Wanita itu benar-benar gila menurutnya. Ia bahkan tidak habis pikir dengan isi hati Caroline yang bisa jatuh cinta pada Meldo, sepupu nya sendiri.


"Terus kenapa kamu menetap di Amerika, sementara Meldo di Indonesia?." tanya Tesi sambil fokus memotong sayurannya.


"Loh? Kamu kan istri nya, masa iya kamu gak tau kenapa Dia lebih memilih berkarir di Indonesia?."


"Katanya karena kangen Indonesia."


Caroline langsung berfikit sejenak, Ia merasa bahwa Meldo menutupi keburukannya di masa lalu. Ia pun tersenyum seketika. Padahal, kenyataan nya Meldo sangat membenci Caroline karena masa lalu pahit itu.


'Berarti Meldo selama ini masih menutupi semuanya? Aaaaa berarti Dia sayang sama aku.' ungkap Caroline dalam hati.


--------


Johan dan Meldo duduk di balkon kamar Johan yang ditemani sejuk nya angin. Johan dan Meldo tidak habis pikir dengan keputusan Caroline yang mendadak itu.


"Gimana ini, Kak?." tanya Johan.


"Gue udah punya kekuasaan, bahkan kalo Dia macam-macam sekali aja, gue bakal abisin Dia saat itu juga."


Johan menarik nafasnya dalam dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Gue cuma kasian sama Tesi. Sial banget Dia nikah sama lu." ucap Johan.


"Mulut lu dijaga ya kalo ngomong!."


"Pernikahan sial buat Tesi."


Tbc...