
Kini Tesi dan Caroline sudah selesai dengan masakan nya. Mereka langsung menghidangkan makanan itu ke meja. Tesi memutuskan untuk memanggil semuanya agar ikut makan bersama.
Tesi pun menemui Meldo dan Johan yang sedang berbincang hangat di balkon. Ia sedikit heran melihat wajah kesal di antara dua lelaki tampan itu.
"Kalian kenapa?." tanya Tesi penasaran.
"Tesi, jaga diri kamu baik-baik ya? Tenang, aku akan bantu kamu buat jagain diri kamu." ucap Johan dengan kasih.
Meldo kesal melihat itu, ingin rasanya Dia membunuh Johan saat itu juga.
"Pergi lu sana! Gak jelas banget jadi orang." ucap Meldo dengan bentakan.
Johan langsung melangkahkan kaki nya dan meninggalkan Meldo dan Tesi berdua disitu. Meldo kini menatap Tesi sambil mengusap wajah nya dengan lembut.
"Sayang.." ucap Meldo dan langsung memeluk Tesi tanpa aba-aba.
"Eh, apaan sih? Kita mau makan, mending kita turun sekarang."
"Sayang, aku janji bakal buat kamu bahagia."
"Hahaha kamu udah berkali-kali ngomong kayak gitu. Yaudah, sekarang kita turun, ya? Gak enak sama yang lain, udah pada nunggu."
"Yuk."
Mereka beranjak menuju meja makan. Benar saja, disana sedang berdiam dan menunggu Meldo dan Tesi dua insan yang sedari tadi sedang menciptakan kemesraan yang penuh kasih.
"Lama banget!." ucap Johan dengan ketus.
Tidak ada tanggapan, kini mereka duduk dengan anggun di meja makan itu. Meldo memperlakukan Tesi layaknya Tuan Putri, Ia mengambil kan nasi untuk Tesi serta lauk yang disukai oleh Tesi.
"Udah, aku bisa sendiri kok." bisik Tesi di telinga Meldo.
"Kamu mau yang mana lagi sayang? Wortel nya mau? Harus mau dong, biar sehat." ucap Meldo yang terus mengambilkan semua lauk untuk Tesi.
Caroline sedikit kesal melihat itu, Ia hanya menatap Meldo sambil memutar-mutar sendok nya di atas piring.
"Meldo, bisa tolong ambilin ayam yang di dekat kamu gak? Ambilin satu aja." ucap Caroline beralasan.
"Nih." ucap Meldo sedikit cuek dan menggeser piring ayam itu kearah Caroline.
"Aku bilang ambilin satu aja, kenapa malah di geser semua?."
"Ambil sendiri, aku mana tau selera kamu yang mana."
Pada akhirnya Caroline mengalah dan mengambil sendiri ayam yang disukai nya. Kini mereka makan dengan hikmat dan tenang. 35 menit kemudian, ritual makan itu selesai.
"Nih, minum." ucap Meldo yang langsung menuntun minuman itu kearah bibir Tesi dengan kasih.
Tesi membelalakkan matanya atas perlakuan Meldo. Jantung nya pun kini berdegup kencang. Mau tidak mau, Ia harus menuruti perbuatan sang suami.
"Aduh, romantis nya." celetuk Mama.
"Iya dong, Ma."
"Ayolah, cepat buat resepsi pernikahan kalian."
"Di segerakan, Ma." ucap Meldo sambil menatap Tesi dengan senyum manisnya.
'Jadi mereka belum resepsi**?.' batin Caroline sambil menatap Meldo dan Tesi secara bergantian.
Setelah selesai makan dan berbincang, Meldo dan Tesi memutuskan untuk pulang dengan alasan banyak urusan. Padahal, kenyataan nya Meldo sangat muak melihat Caroline dan membuat jarak antara dirinya, Tesi, dengan Caroline.
"Iya, kalian hati-hati ya?."
"Iya, Ma."
Caroline langsung merangkul lengan Meldo tanpa aba-aba dan bersikap manja pada Meldo. Sontak, membuat semua nya kaget atas sikap Caroline yang aneh itu.
"Apaan sih? Lepasin!." ucap Meldo dengan membentak Caroline.
"Dih, sewot banget? Aku kan cuma mau bilang hati-hati sama kalian."
"Yaaa gak gini juga caranya!."
"Yaudah, hati-hati ya, kalian."
Caroline melepaskan lengan Meldo dan berpindah menuju Tesi. Tanpa aba-aba, Ia langsung memeluk Tesi dan bahkan mencium pipi kiri dan kanan Tesi.
"Hati-hati ya, Tesi. Harus sering-sering mampir kesini deh pokoknya."
"Iya, Lin." jawab Tesi dengan senyum.
Meldo dan Tesi masuk kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
"Eumm.. Meldo, Kita mampir dulu, yuk?." ucap Tesi.
"Kemana?."
"Kerumah Ibu."
"Oh, boleh."
Meldo pun memerintahkan kepada supir nya untuk menuju jalan yang diberi tau nya. Tesi sudah sangat rindu dengan Ibu nya, ingin sekali Ia mengajak Ibu nya untuk tinggal bersama, namun Tesi sudah menduga bahwa Ibu nya pasti akan menolak.
"Pak, kalo ada liat toko buah, berhenti bentar, ya?." ucap Meldo kepada sang supir.
"Siap, Tuan."
"Kamu mau beli buah? Tapi buah kita di kulkas masih banyak banget, Do." ucap Tesi kepada Meldo.
"Nggak kok, ini buat Ibu. Gak enak aja kalo kesana gak bawa apa-apa."
"Oh, gitu."
Tesi melirik kearah Meldo dengan rasa penasaran yang membara di kepala nya.
"Kenapa kalo kerumah Mama kamu, kita gak pernah bawa apapun?." tanya Tesi penasaran.
"Ibu kamu lebih penting daripada orang-orang yang ada di rumah aku."
"Kenapa gitu?."
"Yaaa pokoknya gitu."
Tesi mengalihkan pandangannya kearah luar jendela dan memandang orang-orang yang berlalu lalang di jalanan luar.
Tidak berapa lama, mereka sampai dirumah Ibu dan Tesi dengan semangat menghampiri pintu itu. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti...
Tbc...