My Obsession Is You

My Obsession Is You
Aku mencintai mu



"Tesi.." bisik Meldo dengan suara yang mempesona sehingga membuat bulu kuduk Tesi berdiri.


"Ke..kenapa?."


"Aku tau kamu belum sepenuhnya cinta sama aku! Tapi kamu harus tau, kalau aku cinta sama kamu lebih dari aku cinta diriku sendiri."


Tesi hanya diam, Ia mencoba berusaha memalingkan pandangannya kearah lain, Ia tidak sanggup memandang wajah Meldo yang saat ini seperti sedang bernafsu akan sesuatu.


"Tesi, kamu percaya sama aku kan?." kini bisikan Meldo semakin terdengar mematikan di telinga Tesi.


Degupan jantung di area dada mereka pun semakin kencang ritmenya. Meldo semakin lekat menatap wanita itu dengan pandangan yang sayu karena bernafsu. Mata Meldo memandangi bibir Tesi dengan penuh keinginan. Ia ingin melakukannya saat ini juga.


"Izinkan aku melakukannya sekarang, sayang." bisik Meldo dengan suara yang sudah berkarat.


Dengan sigap Meldo langsung mempertemukan bibir mereka berdua dan mencium nya dengan dalam. Meldo menahan tengkuk Tesi agar arah kepalanya tidak bergerak kemana pun. Tesi memejamkan matanya dengan tubuh yang bergetar hebat dan degupan jantung yang menggebu di dalam sana.


Ini pertama kalinya bagi Tesi, Ia sangat kaku dan juga takut. Ia bahkan berusaha untuk menahan desahannya agar tidak keluar. Kini Meldo sedang bermain di leher jenjang milik Tesi. Tesi memegang kuat lengan Meldo karena merasakan kegugupan yang luar biasa. Kini mereka bersatu dengan gairah yang membakar seluruh jiwa.


"Sakit sayang?." tanya Meldo dengan nafas yang memburu.


Tesi hanya mengangguk pelan dan mengeluarkan air matanya karena merasakan sakit yang luar biasa dibawah sana. Meldo pun mencium Tesi dengan kelembutan untuk melampiaskan rasa sakit yang dirasakan oleh Tesi.


Berjam-jam kemudian, mereka telah mendapati apa yang mereka mau. Kini tubuh mereka telah berkeringat luar biasa walaupun suhu AC di kamar itu sudah di atur pada suhu yang paling dingin. Meldo tersenyum bangga menatap istrinya yang sudah tertidur lemas dan tidak berdaya itu.


Meldo memutuskan untuk mandi dan membiarkan Tesi tertidur karena Ia merasa tidak tega harus membangunkan Tesi yang sudah tidak berdaya karena ulah nya sendiri. 20 menit menghabiskan waktu untuk mandi, Meldo memakai celana boxer dan membiarkan tubuhnya tidak memakai apapun dan Dia beranjak tidur sambil memeluk Tesi yang sudah sangat terlelap.


🌞🌞


Sinar pagi mengerjapkan sinar nya dibalik kaca jendela. Pantulan sinarnya begitu menyilaukan mata pagi ini. Tesi terbangun dari tidurnya dengan rasa remuk di tubuhnya. Ia melihat kesamping, ada Meldo yang sedang memeluknya erat dan masih memejamkan matanya.


"Astaga, ternyata segila ini ya rasanya?." gumam Tesi pelan.


Meldo pun sedikit menggerakkan kepalanya dan menatap Tesi dengan senyuman indah dan termanis milik nya. Dia menatap istrinya itu dengan keadaan yang sangat mengantuk.


"Pagi, sayang." ucap Meldo dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Kamu semalem apaan sih? Jorok banget, udah gitu gaya nya aneh-aneh pula."


"Enggak!."


"Dih, enggak apanya? Pas aku berhentiin bentar, kamu aja langsung ngomel-ngomel minta di goyang terus."


Mata Tesi terbelalak mendengar kalimat vulgar suami nya itu. Dia langsung menjitak kepala Meldo dengan kesalnya karena malu setengah mati dengan ucapan Meldo.


"Cukup, Meldo! Cukup!."


Tesi pun langsung beranjak dari tidurnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia sudah seperti ulat sutra saat ini dengan menggulungkan selimut itu ke tubuhnya. Dengan langkah yang pelan Ia menuju ke kamar mandi. Ada yang aneh Dia rasakan di area sensitifnya, Ia merasakan sakit sekaligus denyut.


"Kamu gapapa?." tanya Meldo merasa khawatir dan aneh dengan gaya jalan Tesi yang tak biasa.


"Gak, gapapa. Udah, kamu lanjut aja tidur kamu."


Dengan mempercepat langkahnya menuju kamar mandi, Tesi dengan segera mengunci pintu kamar mandi nya karena Ia takut jika Meldo menyerbu nya lagi seperti semalam. Kini Tesi sudah membasuh tubuhnya dengan air hangat.


Saat semuanya sudah selesai, Tesi dengan sigap turun kebawah dan ikut sarapan bersama Meldo. Tesi kaget saat melihat Meldo sudah rapih dengan pakaian stelan jas dan rambutnya yang di sisir dengan gaya klimis.


"Kamu udah mandi?." tanya Tesi.


"Iya, aku mandi di kamar mandi lain. Abis kamu lama banget mandinya, dan aku takut telat ke kantor, soalnya hari ini ada rapat penting."


"Yaa abisnya semalem banyak banget cairan yang lengket di badan aku, makanya aku mandinya lama buat bersihin itu. Lagian, ini kan memang ulah kamu juga tadi malem yang gak mau udahan." ucap Tesi tanpa berdosa dengan suara yang cukup besar dan di dengar oleh para pelayan dan para bodyguard.


Para pelayan saling lempar pandang dan salah tingkah mendengar perkataan Tesi yang cukup vulgar itu. Tak lain dengan Meldo, Ia malu setengah mati dengan perkataan Tesi tanpa melihat situasi terlebih dahulu sebelum berbicara.


"Oke, cukup sayang. Sekarang, kita sarapan dulu ya?." ucap Meldo dengan ekspresi salah tingkahnya.


Tesi pun memandangi para pelayan dan para bodyguard dengan mata yang mengelilingi posisi mereka. Tesi yang menyadari perkataan nya di dengar oleh mereka pun hanya bisa nyengir kuda sambil menatap Meldo dan melanjutkan sarapannya dengan hikmat.


"Maklumi aja ya semua, namanya juga pengantin baru." ucap Tesi kepada pelayan dan para bodyguard.


Meldo seketika terbatuk dan kaget dengan perkataan Tesi barusan.


Tbc..