My Obsession Is You

My Obsession Is You
Ayo kita menikah



Sesampainya dirumah orang tua nya, Meldo langsung bergegas masuk dan menuju kearah kamarnya.


"Eh? Kok buru-buru gitu? Kenapa?." ucap Mama yang memberhentikan langkah Meldo.


"Ma, aku gak tinggal disini lagi ya? Aku mau tinggal sendiri aja. Aku usahain akan sering berkunjung kesini." ucap Meldo yang langsung pergi menuju kamarnya.


"Loh? Kok mendadak? Hei, Meldo!." teriak Mama yang berusaha memanggil Meldo.


Johan yang sedang duduk di sofa pun melihat suasana antara Ibu dan Anak itu. Johan sudah sangat memaklumi sikap Meldo yang suka mendadak saat memutuskan sesuatu.


"Yaudah, Tan! Biarin aja. Mungkin Dia mau mandiri." ucap Johan


"Yasudah lah. Dari dulu Dia memang gak berubah." ucap Mama yang berlalu pergi ke dapur.


Dikamar, Meldo dengan ligat membereskan segala sesuatunya. Mulai dari pakaian rumah, pakaian kerja, pakaian tidur, alat mandi, dan banyak keperluan lainnya.


Setengah jam Dia menyusun perkakas nya, dan terdapat tiga koper besar yang akan dibawa nya untuk pindah. Setelah benar-benar selesai, Meldo turun kebawah.


"Jo, Lu gak usah jadi di perusahaan cabang deh. Lu balik lagi aja seperti semula. Jadi bawahan gue di perusahaan pusat." ucap Meldo sembari memakai jam tangannya


"Tolong angkat koper-koper itu dan masukkan ke mobil saya." lanjut Meldo kepada beberapa pelayan.


"Hah? Lu bilang kemarin Tesi yang bakal gantiin gue! Lu jangan suka-suka gitu lah! Lu kira gue apaan di campakin sana-sini." ucap Johan dengan kesal.


"Kali ini gue serius! Tesi gak kerja lagi. Jadi lu juga harus ngerangkapin kerjaan Dia juga nanti."


"Hah? Serius lu? Kenapa?." ucap Johan dengan membelalakkan matanya


"Suatu saat bakal gue ceritain. Udah ah, gue buru-buru." ucap Meldo langsung berjalan menuju pintu utama.


"Meldo!!!." panggil Mama yang membuat langkah Meldo terhenti.


"Ya? Kenapa, Ma?." ucap Meldo yang sudah membalikkan badannya.


"Kenapa seburu-buru itu? Ada apa denganmu? Dan bakal Tinggal dimana kamu?." ucap Mama dengan sedikit kesal.


"Ma, emosi ku belakangan ini suka gak stabil. Aku pengen nenangin diri dan ingin sendiri. Mama tenang aja, aku pasti bakal sempetin mampir kok. Udah ya, Ma. Meldo pamit. Mama jaga kesehatan!." ucap Meldo yang berlalu pergi.


---------


"Sudah jam segini kenapa Tesi belum pulang juga ya?." ucap Ibu Tesi sambil mondar-mandir dan cemas memikirkan Tesi.


Karena merasa tidak enak pada perasaannya, Ibu Tesi pun memutuskan pergi ke laundry dan menjumpai Nita disana. Selama perjalanan menuju laundry, Ibu merasa cemas tak karuan.


"Permisi, Nak Nita?." panggil Ibu Tesi dengan sedikit cemas.


"Eh, Ibu? Ada apa, Bu?." ucap Nita ramah.


"Nak, Tesi ada ngabari kamu nggak? Ibu cemas, sudah jam segini Dia belum pulang juga. Biasanya jam 6 Dia sudah dirumah."


"Gak ada sih, Bu. Tapi coba saya telpon ya?."


"Ibu tadi sudah telpon bolak-balik, tapi tidak aktif. Tapi gak ada salahnya sih kamu coba juga. Siapa tau sudah aktif."


"Iya, Bu. Sebentar ya."


Nita pun mencari nomor Tesi dan berinisiatif menghubunginya. Namun benar, nomor Tesi tidak aktif. Sang Ibu yang mengetahui itu, semakin tambah panik.


"Bu, Sabar dulu ya? Siapa tau Tesi lembur kan? Soalnya kan Dia sekarang kerja di perusahaan besar, Bu. Kita tunggu saja ya, Bu."


"Begitu ya, Nak? Tapi Ibu kok khawatir ya? Perasaan Ibu juga gak enak."


Nita pun menenangkan sang Ibu dan menyuruh nya duduk sebentar.


---------


"Apa Dia udah bangun?." tanya Meldo kepada pelayan.


"Sewaktu magrib tadi sudah bangun, Tuan. Lalu Nona memaksa mau pulang, dan kami pun berusaha menahannya. Sekarang Nona sedang berada di kamarnya." ucap pelayan itu.


Meldo langsung melangkahkan kaki nya menuju kamar Tesi. Meldo mengetuk pintu kamar itu namun tidak ada respon. Meldo kembali mengetuknya dan berkali kali mengetuknya, tetap tidak ada respon.


"Roniiii.." panggil Meldo.


"Ya, Bos?." ucap salah satu bodyguard itu dan dengan sigap mendatangi Meldo.


"Buka pintu ini." perintah Meldo.


"Siap, Bos."


Bodyguard itupun membuka pintu dengan kunci cadangan yang ada. Tak menunggu lama, Meldo langsung masuk saat pintu terbuka. Ia mendapatkan Tesi yang sedang termenung di pojok tempat tidur.


Meldo yang melihat itu langsung menyusulnya dan duduk hadapan Tesi.



"Kamu kenapa?." ucap Meldo.


"Pake nanya lagi lu!." ucap Tesi yang meninggikan suaranya tiba-tiba, membuat Meldo kaget.


"Bisa santai aja nggak ngomongnya?." ucap Meldo yang berusaha menahan amarahnya.


"Lu kenapa sih nyulik gue kayak gini? Gue khawatir sama Ibu gue. Ibu gue sendirian dirumah! Lu gak punya perasaan banget, sumpah!." ucap Tesi dan langsung meneteskan air matanya.


"Ayo kita menikah! Besok kita jumpai Ibu mu." ucap Meldo dengan santai nya.


Tesi yang mendengar tawaran itu langsung bengong menatap Meldo tak percaya.


"Gak waras lu ya? Sebenernya mau lu apa sih? Gue salah apa sama lu? Lu dendam karena gue ngelawan sama lu waktu dikantor? Astagaa. Yaudah, gue minta maaf!Apa perlu gue jilat kaki lu sekalian?." ucap Tesi berapi-api


"Permintaan maaf diterima kalo kamu mau nikah sama aku." ucap Meldo


..."Aku gak akan apa-apain kamu. Aku bakal bertanggung jawab sebagai suami, aku akan mencintaimu, menyayangimu dan menafkahi mu dengan semampuku. Mengenai Ibu mu, aku akan menanggungi kebutuhan nya juga. Kita akan usaha untuk sering berkunjung menemui Ibu mu. Bagaimana?." lanjut Meldo dengan santai


"Lu bener-bener gila ya? Enteng banget lu ngomong! Gue gak mau, keluarin gue dari tempat ini sekarang juga!." ucap Tesi yang sudah memancaki emosi nya.


"Kamu tau kan aku orangnya nekat? Jadi, pikirkan lah itu sekarang!." ucap Meldo dan berlalu pergi dari kamar itu.


"Br3ngs3k! Kenapa jadi gini sih? Aarrgghh." teriak Tesi sekuat tenaga.


Suara Tesi terdengar hingga ke ruang yang lainnya.


"Tuan? Apa Nona butuh sesuatu?." ucap salah seorang pelayan.


"Gak usah. Biarin aja Dia gitu." ucap Meldo dan duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan i-pad nya.


Tesi pun menangis sedih dengan apa yang di hadapi nya saat ini. Namun seketika tangisannya terhenti saat terbesit perkataan Meldo yang membilangkan bahwa Ia nekat melakukan apapun. Tesi pun membenarkan itu. Dia langsung takut jika orang-orang di sekitarnya akan disakiti olehnya, termasuk Ibu nya. Ketakutannya semakin menjadi.


'Apa aku terima aja ya tawaran Dia? Aku nikah sama Dia, terus Dia bakal ngasih aku kebebasan, setelah itu aku bisa langsung kabru, lalu lapor ke polisi dan si b4j1ng4n Meldo itu segera ditangkap karena udah nyulik aku kesini dan selalu maksa aku melakukan se-mau nya. Ya, aku terima aja tawarannya.' gumam Tesi dengan pasti.


Tesi pun bangkit dari ringkukan nya dan menatap dirinya di cermin yang ada di kamar itu. Dia merapikan dirinya dan menghapus air matanya. Dia memejamkan matanya sesaat, menarik nafas, dan membuangnya secara perlahan.


Dengan perlahan Ia keluar dari kamar nya dan langsung mendapati Meldo yang duduk di sofa. Perasaanya bercampur aduk sekaligus gugup tak karuan. Semakin mendekat dengan Meldo, dan semakin mendekat..


"Ya, gue mau nikah sama lu." ucap Tesi dengan lantang.


Meldo yang sedang fokus pun menjadi buyar seketika saat mendengar ucapan Tesi secara tiba-tiba itu.


Tbc..