My Obsession Is You

My Obsession Is You
Season II = Pertemuan rekan bisnis



Anton kembali kerumah dengan senyum yang merekah di bibirnya. Ia masuk dengan permisi yang begitu semangat sehingga membuat semuanya begitu terkejut.


"Hai." ucap Anton penuh semangat.


"Gila lu ya? Untung gak ada yang sakit jantung disini." balas Juan dengan kesal.


"Aku punya kabar gembira untuk kalian semua."


"Mas, mending kamu mandi dan makan dulu deh." sambung Nita yang merasa aneh dengan tingkah suami nya itu.


Anton segera duduk di sebelah istrinya dengan senyuman yang belum juga memudar dari bibirnya. Ia begitu tidak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia ini kepada semuanya.


"Tebak, aku dikasih tugas apa sama perusahaan?." ucap Anton penuh semangat.


"Gak usah kayak anak kecil deh, Nton. Langsung aja, ada apaan?." ucap Tesi tidak sabaran.


"Aku dikasih tugas ke Indonesia, dan aku juga dibolehin bawa satu orang keluarga. Jadi Nita sayang, kamu ikut ya?."


"Hah? Yaampun, Mas. Kan Dokter kandungan aku udah bilang kemarin kalo aku gak boleh melakukan penerbangan."


Seketika Anton terdiam dan mengingat perkataan Dokter kandungan Nita. Ia pun menunduk sedih, semangat nya yang berkobar seketika hilang begitu saja.


"Kamu ajak yang lain aja, Mas. Tesi misalnya."


"Oh enggak, aku nggak mau." ucap Tesi dengan cepat.


"Nathan aja, Om. Nathan gak pernah ke Indonesia tapi Nathan bisa bahasa Indonesia, kan aneh." ucap Nathan dengan tiba-tiba.


Mereka semua saling menatap heran satu sama lain karena terkejut mendengar perkataan Nathan yang ingin ikut ke Indonesia bersama Anton. Kini, Anton pun bingung dan tidak tahu harus berbuat seperti apa.


"Eum.. Nathan, kamu kan harus sekolah, mana bisa ikut uncle ke Indonesia." ucap Tesi dengan lembut.


"Kan bisa di izinin, Ma. Boleh dong, Ma." ucap Nathan rengekan kecilnya.


"Yaudah, kalo Nathan mau ikut gapapa." sambung Anton.


"Anton, apa-apaan sih?." ucap Tesi terkejut mendengar pernyataan dari Anton.


"Gapapa, Tes. Sekalian ngajakin Nathan liburan juga."


"Tapi gak ke Indonesia juga, Nton."


"Kenapa? Karena masa lalu kamu yang membekas disana? Kamu tenang aja, aku bakal jagain Nathan sebaik mungkin."


"Aku juga bakal bantu Anton untuk ngawasin Nathan, Tes. Kamu tenang aja." ucap Juan.


Mendengar Juan akan mengambil tindakan, Tesi pun merasa lega dan mempercayai semua pada Juan dan Anton. Setelah melakukan banyak perbincangan, akhirnya Anton akan berangkat ke Indonesia bersama Nathan pada esok hari.


____


"Besok pihak dari perusahaan Park Joon bakalan mendarat di Indonesia, Do." ucap Ruslan pada Meldo.


"Booking restaurant terbaik dan buat janji yang sesuai, jangan sampe waktu istirahatnya terganggu, pokoknya kalo pihak mereka baru nyampe di Bandara, langsung suruh istirahat aja dulu di Hotel."


"Oke siap."


"Berapa orang yang bakal dateng? Presdir nya ikut juga nggak?."


"Menurut info sih, asisten nya doang yang ngewakilin."


"Presdir Park Joon Group memang super sibuk banget sih orangnya."


"Dan lu tau, asistennya itu orang Indonesia asli."


"Hah? Serius?."


"Iya, kita liat aja besok."


Setelah selesai membicarakan soal kolaborasi perushaannya dengan salah satu perusahaan ternama di Korea, kini Ruslan dan Meldo kembali membahas bisnis lanjutan mereka.


_____


Di salah satu Hotel bintang lima, Caroline sedang meneguk alkohol nya bersama Pria yang selama ini menemani hari-harinya. Posisi Caroline di pangku oleh Pria itu diatas tempat tidur dan terlihat jelas bahwa Caroline sudah mabuk berat.


"Kamu gak takut suami kamu bakalan marah?." tanya Pria itu.


"Suami? Hahaha, aku gak pernah nikah sama Dia, aku cuma pernah menikmati malam yang panjang sama Dia. Hahaha."


"Terus, anak kamu itu, hasil dari percintaan kamu sama Dia?."


"Gak tau, soalnya sebelum aku sama Dia, aku udah sering sama laki-laki lain, hahaha. Aku dulu sempat sterilisasi, tapi akhirnya aku lepas karena aku punya feeling kalo Meldo pasti akan menikmati malam yang panjang sama aku, ehh ternyata bener. Dan bisa jadi sih anak aku itu anak nya Dia, karena gak lama pada saat aku lepas sterilisasi itu, aku sama Dia langsung menikmati percintaan yang nikmatnya tiada tara. Hahaha."


"Kamu bener-bener ya."


"Tapi aku rada nyesel sih, soalnya Dia gak berguna sekarang. Kehadiran anak aku juga gak berarti apa-apa."


"Udah, stop minum nya! Kamu udah mabuk berat." ucap Pria itu sambil meraih gelas yang dipegang oleh Caroline.


Pada akhirnya Caroline pun menurut dan Dia pun tertidur dengan lemas sambil berbicara yang tidak jelas seperti orang mabuk pada umum nya. Dengan senyum menyeringai, Pria itu pun langsung memulai aksinya dengan melepas pakaian Caroline dan menumpahkan hasratnya terhadap Caroline di kamar Hotel itu.


____


"Yaudah, kita pamit ya?." ucap Anton pada semuanya.


"Hati-hati, ya? Langsung telfon kalo udah sampe." ucap Tesi dengan tatapan sedih karena harus terpisah sementara dengan buah hati kesayangan nya.


"Iya, Tes. Pasti kita langsung ngabarin kok." ucap Juan meyakinkan Tesi.


Juan, Anton dan Nathan masuk kedalam taxi setelah melakukan ritual perpisahan. Selama perjalanan menuju Bandara, Nathan sangat tidak sabaran karena ini adalah pertama kali untuknya menaiki pesawat terbang.


"Uncle Anton, Om Juan! Nanti kita bakalan terbang tinggi kan?." ucap Nathan dengan antusias.


"Iya, kamu senang kan?." balas Juan.


"Senang banget, Om dan udah gak sabar."


Setelah 45 menit memakan waktu selama perjalanan, kini mereka sudah sampai di Bandara Incheon. Mereka pun segera menyiapkan segala sesuatu nya dan melakukan beberapa pemeriksaan sebelum akhirnya memasuki pesawat. Saat semua nya selesai, Nathan sangat antusias melihat banyak pesawat yang terparkir tepat didepan matanya.


"Wah.. Pesawat nya gede-gede banget, Uncle."


"Iya, makanya kamu sekolah yang rajin biar sukses, dan kalo udah besar nanti kamu sering-sering deh naik pesawat." ucap Anton.


Kini mereka sudah berada didalam pesawat dan sudah lepas landas. Lagi lagi Nathan dibuat terkagum-kagum saat gumpalan awan melewati kaca jendela tempat duduknya. Juan dan Anton hanya tertawa melihat tingkah lucu Nathan saat ini. Tak berapa lama, Nathan pun lelah dengan kehebohan hingga akhirnya Ia tertidur.


____


Sementara disisi lain, para karyawan di perusahaan Meldo tengah mempersiapkan diri untuk menjemput rekan bisnis mereka yang beberapa jam lagi akan tiba di Bandara Soekarno Hatta. Ruslan pun sudah menyiapkan Hotel serta Restaurant terbaik tempat mereka akan berdiskusi saat nanti.


"Semua udah siap?." tanya Meldo.


"Udah dong." jawab Ruslan.


"Bagus. Kita harus yakinin rekan bisnis yang satu ini. Lumayan kan kalo pada akhirnya kita bisa buka cabang di Korea dengan campur tangannya Park Joon Group, perusahaan paling sukses di negara nya."


"Iya deh. Semoga sukses."


____


7 jam kemudian, mereka telah sampai di Bandara Soetta. Kecepatan penerbangan di pesawat yang mereka tumpangi mencapai 500km/jam, yang berarti lamanya perjalanan hanya memakan waktu 7 jam lebih beberapa menit. Kini mereka tengah berjalan sambil mendorong trolly yang isinya beberapa koper yang mereka bawa.


"Nton, lu kan dikasih akses khusus tuh sama perusahaan, kaga mungkin kan gue ikut sama lu? Jadi, gue sama Nathan ke Hotel diluan ya? Nanti gue kasih tau sama lu kita nginep di Hotel mana, oke?." ucap Juan sambil menggendong Nathan yang masih tertidur.


"Tapi gue tempat nginep juga dikasih sama perusahaan, gue nginep nya di HGI. Barengan aja gimana? Walaupun beda kamar."


"Oh, di HGI? Yaudah deh gue nginep disitu aja. Kalo gitu, gue sama Nathan langsung aja nih ya? Kasian Nathan kecapean."


"Yaudah deh, hati-hati ya kalian? Mau gue bantu cariin taxi gak?."


"Gak usah, lu pasti udah di tungguin sama pihak perusahaan, mending lu langsung kesana aja."


"Yaudah deh kalo gitu."


"Oke, bye."


Anton hanya melambaikan tangan sebagai tanggapan. Kini mereka telah terpisah, Anton segera memeriksa ponsel nya dan memberi kabar bahwa Ia sudah sampai di Indonesia.


"Permisi, apakah benar anda yang di utus dari Park Joon Group?." tanya seseorang yang tiba-tiba menghampiri Anton.


"Ya, benar. Itu saya."


"Boleh liat kartu nama nya, Pak?."


"Ini." ucap Anton sambil memberikan kartu nama itu pada seseorang yang menghampirinya.


"Baik, Pak Anton! Perkenalkan, saya Ruslan, sekretaris pribadi Pak Meldo selaku CEO di Christopelago Group."


"Saya Anton, saya juga sama seperti anda, saya sekretaris sekaligus asisten Presdir di Park Joon Group. Senang bertemu dengan anda, Pak Ruslan."


"Sama-sama, Pak. Mari, kami antarkan anda ke Hotel terlebih dahulu."


"Terimakasih banyak, Pak."


"Sama-sama, Pak."


Anton dan Ruslan pun masuk kedalam mobil dan banyak memperbincangkan suatu hal mengenai pekerjaan mereka. Setelah mengarungi kemacetan Ibu Kota, kini mereka sudah tiba di Hotel tempat Anton akan menginap beberapa hari selama Dia di Indonesia.


"Ini kartu kamar anda, Pak." ucap Ruslan sambil memberikan card sebagai akses untuk masuk kedalam kamar Hotel tersebut.


"Terimakasih banyak, Pak Ruslan."


"Baik, selamat beristirahat, Pak. Nanti akan saya kabari perencanaan waktu pertemuan Bapak dengan atasan saya."


"Baik, Pak Ruslan."


Anton membalikkan badannya dan menempelkan kartu itu untuk membuka pintunya, Ruslan masih menunggu Anton sampai masuk kedalam. Saat Anton sedang membetulkan posisi jaket yang digantung ditangannya, tiba-tiba dompetnya terjatuh dalam keadaan terbuka.


Ruslan dengan reflek mengambil dompet itu, dan betapa terkejut nya Ia saat melihat sebuah foto pernikahan yang tertempel di dompet itu, foto pernikahan Anton dengan Nita.


Tbc...