My Obsession Is You

My Obsession Is You
Sepupu dari Amerika



Nb : yang mau liat visual nya Caroline, bisa balik lagi ke Part 1 bagian 'Visual dan Perkenalan' yaaa. Kali aja ada yang lupa, hehehe. Soalnya saya emg sengaja mau munculin sosok Caroline di part 20 an, biar lebih greget aja. Hehe.


______________________________________


Tesi terlelap sangat pulas di kamar khusus istirahat yang ada di ruangan Meldo. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 wib, Meldo baru saja menyelesaikan pekerjaan serta beberapa meeting dengan para klien dan teman kolega nya.


Meldo memijit pelipis nya dengan pelan dan menyandarkan bahu nya sejenak. Ia merasakan lelah yang luar biasa hari ini karena harus memenuhi jadwal meeting yang sudah tertunda dari kemarin hari.


Saat sedang asyik memijat pelipisnya, tiba-tiba Meldo di kejutkan dengan sambungan telfon dari Mama nya. Meldo melihat layar ponsel nya dengan malas dan menggeser tombol hijau untuk mengangkat telfon sang Mama.


"Ya? Hallo, Ma?." ucap Meldo dengan melas.


"Do, kamu sibuk gak?."


"Emang kenapa, Ma?."


"Jawab dulu."


"Enggak sih, tapi capek banget karena baru selesai rapat."


"Si Caroline dateng ke Indonesia, kamu jemput Dia di bandara ya? Sekarang."


"Caroline?."


"Iya, Caroline."


Seketika Meldo terdiam dan otaknya memutar memory yang pernah terjadi antara Dia dan Caroline. Meldo menelan siliva nya dengan perasaan yang teramat tegang.


"Meldo? Kamu masih disitu kan?." tanya Mama yang membuyarkan lamunan nya.


"Ma, aku suruh supir aja yang jemput Dia di bandara ya?."


"Supir gak kenal sama Caroline, Do."


"Yaudah, Meldo pergi."


"Oke. Hati-hati ya." ucap Mama yang langsung mematikan sambungan telfon nya.


Meldo meletakkan handphone nya dengan pandangan yang susah di tebak. Dia pun memperhatikan kamar istirahat nya dengan pandangan yang sayu. Meldo bangkit dari duduk nya dan memasuki kamar itu dengan langkah yang gontai.


"Sayang?." panggil Meldo lembut membangunkan Tesi.


"Hm." balas Tesi dengan malas yang masih memejamkan mata nya.


"Bangun, yuk? Kita mau jemput sepupu aku di Bandara."


"Hufft. Jam berapa sekarang?."


"Jam 4 lewat."


Tesi bangkit dari tidur nya dan langsung menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan merapikan dirinya yang sedikit berantakan karena baru bangun tidur. 20 menit kemudian, Tesi sudah selesai dan langsung melangkah keluar.


"Ke Bandara mau ngapain tadi?." tanya Tesi.


"Jemput sepupu aku."


"Emang sepupu kamu abis dari mana?."


"Dia menetap di Amerika sebenarnya. Dia kesini cuma mau liburan doang."


"Oo gitu. Yaudah, yuk."


Meldo menarik nafas nya dalam untuk mempersiapkan langkah nya menuju keluar. Tesi merasa heran dengan ekspresi Meldo saat ini.


"Kamu kenapa? Kok kayak khawatir gitu?." tanya Tesi.


"Ha? Eumm.. Gak kok, gapapa! Yuk, kita berangkat."


Mereka pun berjalan keluar menuju parkiran untuk mengambil mobil. Meldo membuka kan pintu untuk Tesi lalu Ia masuk di bangku supir untuk mengendarai mobil nya sendiri. Tidak ada perbincangan di antara mereka, Tesi selalu curi-curi pandang kearah Meldo yang sedang menatap lurus kedepan dengan perasaan yang susah di tebak. Tesi sangat merasakan perbedaan sikap Meldo saat ini.


35 menit kemudian, mereka sampai di Bandara dan mereka bergegas masuk ke dalam. Meldo menggandeng tangan Tesi dengan mesra. Mereka berkeliling mencari sosok Caroline di Bandara itu.


"Gak di telfon aja?." tanya Tesi.


"Gak punya nomornya. Kita duduk sini aja, nanti juga pasti nongol kok orangnya."


Mereka duduk di kursi besi panjang yang terletak di lobby bandara. Meldo terus memeriksa jam tangannya sambil menyilangkan kaki nya dan melirik kesana kemari. Tak lama, muncul lah seorang wanita cantik yang berlari kearah Meldo dan Tesi.


"Meldo.." teriak wanita itu.


Sontak, Meldo dan Tesi langsung melirik kearah sumber suara. Meldo semakin tak acuh dengan ekspresi wajah nya saat melihat wanita itu. Dia mengeratkan rahang nya dan menyimpan suatu kekesalan di dalam hati nya. Wanita itu semakin mendekat dan langsung menghamburkan pelukan ke tubuh Meldo. Meldo membelalakkan matanya tak percaya, dan langsung mendorong wanita itu untuk lepas dari pelukannya.


"Jaga sikap mu, Caroline." ucap Meldo sedikit ketus.


"Kan aku kangen. Masa peluk aja gak boleh?." ucap Caroline dengan manja nya.


"Kamu gak punya mata? Di sebelah ku ada istri ku."


Caroline langsung melirik kearah Tesi dengan tatapan heran. Tesi pun menunjukkan senyuman ramah nya kepada sepupu Meldo itu.


"Kamu..udah nikah?." tanya Caroline terheran-heran.


"Udah."


"Gak penting! Balik sekarang."


Meldo menggandeng tangan Tesi dan berjalan cepat menuju parkiran Bandara, sementara Caroline mengikuti langkah mereka dari belakang dengan membopong banyak koper yang dibawa nya.


Sesampai nya di parkiran, mereka masuk kedalam mobil. Caroline mengangkat koper nya sendiri dan meletakkan nya di bagasi tanpa di bantu oleh siapa pun.


"Do, kasian sepupu kamu ngangkat koper sendiri." ucap Tesi.


"Biarin aja! Biar mandiri."


"Aku bantuin Dia ya?."


"Gak usah!."


Tidak ada tanggapan dari Tesi, Ia hanya mengerucutkan bibir nya dan kembali melihat perjuangan Caroline dari balik kaca spion. Tak lama, Caroline pun selesai dengan perjuangannya mengangkat beberapa koper kedalam bagasi dan Ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku bagian belakang.


"Selesai.." ucap Caroline dengan riang.


Tanpa ada respon, Meldo langsung menancap gas mobilnya dan mengendarai nya dengan kecepatan sedang.


"Eh, kita belum kenalan loh." ucap Caroline kepada Tesi.


"Iya, Mbak. Hehe. Nama saya Tesi, Mbak."


"Aku Caroline. Oh iya, kamu kok bisa nikah sama Meldo?."


Pertanyaan itu membuat Tesi menjadi tersengat seketika. Ia menatap Meldo dari arah samping dengan kegugupan yang luar biasa. Ia tidak tau harus menjawab apa.


"Karena aku dan Dia saling cinta!." ucap Meldo yang pandangan nya masih lurus kedepan.


"Cinta? Haha." balas Caroline dengan tawa kecil nya.


Suasana kembali hening, Caroline menatap gantian dua insan yang ada di hadapan nya saat ini. Beberapa menit kemudian, mereka sampai dan Meldo memarkirkan mobilnya dengan rapih.


Caroline melangkahkan kaki nya dengan cepat untuk masuk kedalam rumah. Disana sudah ada Mama yang menyambut mereka di ambang pintu.


"Tante.." ucap Caroline sambil memeluk Mama Meldo.


"Caroline sayang, apa kabar kamu?."


"Baik kok, Tan. Makin cantik aja deh Tante."


"Apalagi kamu, haha. Yaudah, masuk yuk."


"Ma, aku sama Tesi pulang." ucap Meldo dengan malas ketika sang Mama sudah merangkul Caroline untuk masuk kedalam.


"Loh, kok gitu? Disini dulu dong, makan malam bersama dulu." ucap Mama.


"Enggak, kita pulang aja."


"Meldo, sepupu kamu udah jauh-jauh berkunjung kesini dan itu pun cuma sesekali, masa iya kamu tega melewatkan moment penting keluarga kita?."


"Yaudah gapapa. Kita makan malam disini aja." bisik Tesi pada Meldo.


Meldo menatap Tesi dari samping dengan ekspresi yang susah di tebak. Malas, kesal, murung, semua seperti tidak absen menghampiri wajah Meldo saat ini.


'Kamu gak tau aja Dia gimana, Tes.' batin Meldo.


Lagi-lagi Meldo menggandeng mesra tangan Tesi dan berjalan masuk kerumah melewati Mama dan Caroline. Kini mereka sudah duduk di meja makan besar nan mewah itu. Tesi selalu curi-curi pandang kearah Meldo dan Caroline, banyak pertanyaan yang memburui kepalanya.


"Johan mana ya?." tanya Mama.


"Iya, aku juga kangen banget sama Dia." sambung Caroline.


"Bi, tolong panggilkan Johan ya?."


"Baik, Nyonya."


Mama sangat senang dengan suasana yang ada di meja makan saat ini. Semua nya berkumpul dan ini yang Mama idam-idam kan sejak lama.


"Tesi, ini Caroline sepupu nya Meldo dan Johan. Caroline ini anak nya kakak Mama. Dulu waktu kecil Caroline, Meldo dan Johan sering bareng-bareng. Sekolah bareng, kemana-mana bareng, bahkan sampe kuliah pun bareng, sampe Mama sewa apartemen besar untuk tinggal mereka bertiga selama kuliah di Amerika dulu. Tiba waktunya mereka lulus, Meldo memutuskan untuk balik ke Indonesia dan Caroline menetap di Amerika, sekalian menemani Johan yang belum lulus waktu itu karena Dia berbeda angkatan dengan Meldo dan Caroline." jelas Mama kepada Tesi dengan semangat nya.


"Wah, kompak banget ya kalian." balas Tesi dengan ramah.


Tak lama, Johan datang menghampiri mereka dengan langkah yang pelan sembari menatap tajam kearah Caroline. Dia kaget saat mengetahui sepupu nya itu datang berkunjung ke Indonesia. Semua yang menyadari itu langsung menoleh kearah Johan.


"Hai, Jo? Apa kabar?." sapa Caroline dengan ramah.


"Baik!."


Kini Johan memilih duduk di samping Meldo dengan perasaan yang sama seperti Meldo. Tidak ada ekspresi senang terpancar dari wajah mereka sedikit pun. Meldo dan Johan saling lempar pandang seolah mengerti dengan isi pikiran masing-masing.


Kini mereka pun memulai makan malam itu dengan hikmat dan penuh ketenangan.


Tbc..


---------


Kira-kira ada apa ya antara Meldo, Johan dan Caroline?! Hmm..