
Pagi ini sebelum ke kantor, Ruslan memutuskan untuk singgah terlebih dahulu ke Flower Laundry untuk mencuci pakaian nya yang sudah menumpuk. Ia sangat malas melihat banyak nya pakaian itu dan langsung memasukkan nya ke dalam keranjang untuk diantar ke laundry. Setelah selesai, Ruslan mengangkat keranjang itu dan meletakkan nya di bagian bangku belakang mobil nya.
Dengan kecepatan sedang Ia mengendarai mobilnya dan memangkas kemacetan di setiap ruas Ibu Kota. Tidak berapa lama Ruslan memarkirkan mobilnya di depan ruko Laundry itu.
"Hai, Nita.." sapa Ruslan dengan ramah.
"Eh, Pak Ruslan? Ada apa?."
"Nit, aku mau nyuci dong. Nih pakaiannya." ucap Ruslan sambil mengangkat keranjang yang berisikan tumpukan pakaian tersebut keatas meja.
"Banyak banget, Pak?."
"Iya, hehe. Aku males nyucinya."
"Emang Bapak gak punya mesin cuci?."
"Punya sih. Tapi gak tau kenapa, males aja nyucinya."
"Yaudah, saya timbang dulu ya, Pak?."
Nita mengambil keranjang itu dan menaruhnya di timbangan khusus untuk melihat kadar banyaknya pakaian tersebut.
"Astaga, 15 kg. Ini Bapak gak nyuci berapa hari?."
"Gak tau deh, Nit. Aku memang belakangan ini males banget nyuci. Mungkin faktor capek kali ya? Soalnya kerjaan aku di kantor makin numpuk juga, dan selalu lembur pula, jadinya males buat nyuci dan ngerjain kerjaan rumah lainnya."
"Memangnya Bapak gak ada pembantu ya dirumah?."
"Aku tinggal sendirian di apartemen, Nit."
"Lah, Bapak tinggal apartemen? Kirain di rumah gitu."
"Haha, aku disini merantau! Rencana mau bangun rumah nanti aja kalo udah mau nikah dan udah ketemu sama calonnya. Yaudah deh, aku pamit dulu ya? Mau ke kantor, ada rapat penting soalnya, takut telat juga."
"Iya, Pak. Hati-hati ya."
"Oh ya, kira-kira kapan cucian nya bisa selesai?."
"Kalo sebanyak ini sih, kayaknya besok pagi deh baru bisa di ambil, Pak."
"Yaudah, gapapa. Saya pamit dulu ya."
"Iya, Pak."
Nita memperhatikan Ruslan berlalu dan lanjut mengerjakan pekerjaan nya. Ia tak habis pikir kalau Ruslan ternyata tinggal sendirian di sebuah apartemen. Selama ini, Ia mengira Ruslan tinggal bersama seorang istri atau pun orang tua nya.
"Ternyata Dia masih jomblo." gumam Nita sambil meletakkan pakaian kedalam mesin cuci.
-----------
Sesampainya di kantor, Meldo langsung melangkahkan kaki nya dengan gagah menuju ke ruangannya. Di setiap sudut gedung sudah ada beberapa karyawan yang menyambutnya dengan ramah dengan tundukan kepala. Meldo di ikuti oleh beberapa karyawan nya di belakang karena pagi ini mereka akan melangsungkan rapat penting.
"Ruslan udah datang?." tanya Meldo kepada karyawan nya yang mengekori nya dibelakang.
"Sepertinya belum, Pak." jawab salah seorang karyawan itu.
Tanpa memberi respon lagi, Meldo segera menekan tombol lift menuju lantai yang diinginkannya. Tak lama, muncul lah Ruslan yang bergabung dengan rombongan karyawan yang mengekori Meldo untuk memasuki lift. Kini lift sudah terbuka dan mereka melenggang masuk ke dalam.
"Hampir aja gue mau mecat lu." ucap Meldo dengan pandangan lurus kedepan.
"Sorry, bro! Tadi gue ke laundry dulu nganter pakaian kotor, males nyuci gue." jawab Ruslan dengan santai.
Tidak ada tanggapan dari Meldo. Kini mereka telah sampai di lantai 9 dan melenggang masuk ke dalam ruang rapat. Meldo memperhatikan satu persatu para klien pentingnya dan menyambut mereka seramah mungkin.
"Maaf, Pak! Sudah buat anda menunggu." ucap Meldo sambil mengulurkan tangannya.
"Hahaha. Bapak bisa aja."
Meldo pun menyambut ramah para klien lainnya dan mengulurkan tangannya. Setelah selesai penyambutan, Ia duduk di kursi kebanggaan nya dengan posisi tubuh yang tegap dan berwibawa.
Para klien dan karyawan Meldo memulai rapat itu dengan hikmat, semua sudah mempresentasikan nya dengan baik dan masing-masing sudah mengajukan pendapat mereka yang tersbesit di pikiran masing-masing. Para karyawan Meldo merasa lega pagi ini karena tidak mendapat sarapan berupa omelan dari Meldo.
Kini rapat itu sudah berlangsung dan memakan waktu 3 jam untuk membicarakan banyak hal mengenai bisnis baru yang akan mereka wujudkan di kemudian hari. Meldo sangat bangga dengan kinerja para karyawannya yang membuat klien penting Meldo terkagum-kagum dengan Christopelago Group.
"Baik lah, sampai dulu rapat kita. Semoga apa yang kita rencanakan ini dapat terealisasikan dengan baik. Terimakasih." ucap Meldo dengan gagahnya.
Riuhan tepuk tangan pun terdengar menggelegar di setiap sudut ruangan. Para klien itu langsung berpamitan dengan alasan ada banyak kerjaan yang harus mereka kerjakan di kantor mereka. Meldo mempersilahkan mereka untuk kembali dengan hormat.
Meldo kembali duduk di meja rapat bersama para karyawannya. Ia menarik nafasnya dengan lega dan mengembangkan senyum indahnya. Tentu, ini membuat para karyawannya seperti tersihir dengan indah nya senyuman manis itu.
"Bagus, pertahankan kinerja kalian! Saya bangga sama kalian." ucap Meldo penuh dengan kebanggaan.
"Bonus kalian akan dikirim oleh Ruslan nanti siang di rekening kalian masing-masing. Pergunakan lah uang bonus itu dengan sebaik mungkin, utamakan hal yang penting terlebih dahulu. Paham?." lanjut Meldo.
"Paham, Pak." ucap para karyawan dengan serentak dan penuh kebahagiaan yang membara.
Saat sedang merasakan kebahagiaan di pagi hari ini, tiba-tiba Mama dan Caroline masuk ke dalam ruang rapat dengan senyum sumringah mereka. Tentu, ini membuat wajah Meldo yang tadinya cerah, seketika menjadi mendung ketika manik matanya menangkap sosok Caroline yang berdiri di sebelah Mama nya.
"Kalian boleh kembali bekerja. Dan Ruslan, nanti siang jangan lupa lu laksanain apa yang gue bilang tadi." ucap Meldo dengan suara yang dingin.
"Oke, siap."
Kini Ruslan dan para karyawannya melenggang keluar meninggalkan ruang rapat itu. Sekarang yang berada di ruang rapat itu hanyalah Mama, Meldo dan Caroline.
"Kenapa main masuk aja? Gimana kalo misalkan tadi aku masih ada rapat?." ucap Meldo dengan ketus.
"Resepsionis kamu bilang, rapatnya udah selesai, makanya kita langsung kesini." ucap Mama.
"Terus ngapain kesini? Aku sibuk kerja."
"Ini, Caroline katanya mau liat-liat suasana kantor kamu."
"Emang ini mall apa? Pake liat-liat segala?."
"Meldo, kamu gak boleh gitu ah! Yaudah ya, Mama tinggal dulu kamu sama Caroline. Mama mau temuin temen arisan Mama dulu. Byee." ucap Mama langsung berlalu pergi.
Meldo sangat kesal dengan ini. Dia menatap tajam kearah Caroline. Caroline yang menyadari itu justru memilih duduk dengan anggun di samping Meldo.
"Gak nyangka ya ternyata kamu sesukses ini. Aku pikir saat kamu memutuskan untuk balik ke Indonesia, kamu bakalan gak jadi apa-apa." ucap Caroline dengan senyuman sedikit sinis.
"Katanya mau liat-liat kan? Yaudah sana keliling! Kalau udah selesai, langsung balik dan jangan menampakkan diri lagi di kantor ini." ucap Meldo tanpa memandang Caroline dan fokus terhadap laptopnya.
"Kamu kenapa sih, Do? Dendam sama aku?."
"Lebih tepat nya muak!."
"Oh ya? Baru pertama kali aku denger kamu ngomong kasar kayak gini ke aku! Padahal dulu waktu kita sama-sama di Amerika, kamu selalu lembut sama aku."
"Stop! Keluar dari sini sekarang."
"Gak! Aku mau..."
"KELUAR!!!!."
Dengan menarik nafasnya dalam, Caroline keluar ruangan itu dan melangkah kan kakinya dengan anggun, membuat gaya jalannya bak model kelas ternama. Sebelum membuka pintu, Caroline menatap Meldo dengan senyuman sinis nya. Meldo yang melihat itu langsung menatap tajam Caroline dengan tatapan membunuh.
Tbc...