
8 Tahun yang lalu..
California, Amerika Serikat
//
Meldo yang merasa kesal langsung keluar dari apartemen itu dan meninggalkan Mama dengan Caroline. Ia pun memilih salah satu taxi yang terparkir rapih di pinggir trotoar. Dengan rasa kesal dan nafas yang memburu, Ia memasuki taxi itu.
"Where are we going, Sir?." (Kemana kita akan pergi, Tuan?) tanya sang supir taxi pada Meldo.
"Downtown St. Louis apartment."
"Okay."
Sang supir pun melajukan taxi nya dengan kecepatan sedang. Ia sadar dengan ekspresi penumpangnya yang seperti sedang di landa masalah besar. Ingin sekali rasanya Ia mengajak bicara sang penumpang itu, namun Ia takut tindakannya itu akan semakin merusak suasana hati sang penumpang.
"Can I ask you a question?." (Boleh aku bertanya?) Meldo membuka percakapan.
"Yes, of course, Sir." (Ya, tentu boleh, Tuan.)
"How many hours from California to New York if it takes a plane?." (Berapa jam perjalanan dari California menuju New York jika di tempuh menggunakan pesawat?)
"4 hours, Sir! That's if you depart from Los Angeles." (4 jam, Tuan! Itu jika anda berangkat nya dari Los Angeles.)
"Oh okay, thank you." (Oh oke, terimakasih.)
"You're welcome, Sir! Do you want a holiday to New York?." (Sama-sama, Tuan! Apakah anda ingin liburan ke New York?)
"No, I want to go back to Indonesia but via New York." (Tidak, aku mau pulang ke Indonesia tetapi via New York.)
"Oh, I think you were going on vacation, hahaha. I hope your depart to Indonesia is all right, Sir." (Oh, saya pikir anda pergi berlibur, hahaha. Saya harap keberangkatan anda menuju Indonesia akan baik-baik saja.)
"Yes, thank you very much." (Ya, terimakasih banyak!) ucap Meldo bersahabat.
Tak lama, kini Meldo telah sampai di apartemen nya. Dengan ramah, Meldo memberikan uang lebih pada supir taxi itu. Sang supir sangat bahagia dan senantiasa memberika Doa terbaik kepada Meldo. Meldo sedikit ada ketenangan didalam hatinya karena bertemu orang yang ramah siang hari ini.
Meldo melangkahkan kaki nya menuju lift dan menekan lantai 18 yang menjadi tujuannya. Ia tinggal bersama Johan di apartemen ini. Selama 4 bulan ini, tidak ada yang tahu mengenai tempat tinggal baru mereka. Johan yang sudah mendengarkan cerita tentang Caroline pun merasa jijik dan tidak sudi tinggal bersama Caroline. Ya, Meldo sudah menceritakan semuanya pada Johan.
Saat sampai, Meldo dengan segera menekan password pintu nya agar terbuka. Ia masuk kedalam dan mendapati Johan sedang duduk di sofa sambil membaca bukunya.
"Kak.." ucap Johan yang berdiri dan mengampiri Meldo.
"Lagi ngerjain tugas?." tanya Meldo.
"Lagi nyari materi aja sih sebenarnya. Oh ya, Kak! Maaf ya aku gak hadir di wisuda kakak. Tugas aku banyak banget, Kak! Dan gak bisa di tunda-tunda lagi pengerjaan nya."
"Gapapa kok! Kamu harus rajin dan terus semangat ya kuliah nya, biar cepat lulus dan balik ke Indonesia."
"Kalo Kakak balik ke Indonesia, aku sama siapa disini, Kak?."
"Yaa tinggal disini aja. Tenang, uang sewa apart plus uang kebutuhan kamu, kakak yang bakal tanggungin. Lagian, setahun lagi kan kamu bakalan lulus."
Tiba-tiba handphone Johan berdering dan bertuliskan nama Tante di layar handphone tersebut. Johan dan Meldo saling menatap saat membaca nama panggilan itu.
"Angkat aja." ucap Meldo.
Johan pun mengangkat telfonnya, lalu menyalakan loudspeaker agar Meldo juga mendengar nya dan Ia pun menyapa Tante nya di seberang sana.
"Hallo, Johan?."
"Iya, Tante? Ada apa?."
"Jo, kamu ke apart sekarang juga!." ucap Mama dan langsung mematikan telfonnya.
Meldo menarik nafasnya dalam dan langsung terduduk di sofa saat mendengar perintah dari Mama nya terhadap Johan.
"Aku kesana nih, kak?." tanya Johan dengan ragu.
"Ya, kamu pergi aja. Tapi.."
"Tapi apa, Kak?."
"Kamu telfon aku, biarkan sambungan telfon itu terus stay dan jangan kamu matiin. Aku pengen tau apa yang di bicarain Mama sama kamu."
"Oke, Kak. Yaudah, aku pergi sekarang aja deh kalo gitu."
"Oke hati-hati."
Johan pun langsung menyambungkan sambungan telfon kedapa Meldo agar Meldo bisa mendengar semua percakapan Mama, Caroline dan Johan saat mereka bersama. Meldo khawatir jika Mama nya menyuruh Johan untuk melakukan hal-hal yang diluar dugaan.
Johan pergi menaiki taxi menuju apartemen yang di tempati oleh Caroline dan Mama. Sesampainya, Johan langsung menarik nafasnya dengan dalam dan memencet bel pintu itu. Tak lama, ada Mama Meldo yang membuka pintu nya.
"Jo? Sini masuk, Nak." ucap Mama Meldo dengan ramah.
Kini Johan sudah duduk di sofa bersama Tante nya dan juga Caroline, sepupu nya. Ia dan Caroline saling menatap dengan seksama. Arti dari pandangan mereka sangat sulit di tebak.
"Jo, Kakak-kakak kamu kan udah pada lulus, dan Meldo memutuskan untuk balik ke Indonesia. Sementara kamu, kamu tahun depan baru bisa lulus. Jadi, Tante mau kamu tinggal sama Caroline ya? Caroline akan menetap disni kok, Jo."
Johan langsung terbingung seketika saat mendegar permintaan sang Tante untuk dirinya tinggal bersama Caroline.
"Aku tanya Kak Meldo dulu ya, Tan?." ucap Johan dengan ragu.
"Kenapa harus nanya Dia? Kan Tante nyuruh kamu tinggal disini, sama kakak sepupu kamu, bukan sama orang laen!."
"Iya, Tan! Tapi.."
"Kalian ini sebenarnya ada masalah apa sih? Kok pada jadi aneh gini sikapnya.?."
Johan hanya memandang bebas ke segala arah. Ia tidak tau harus menjawab apa untuk pertanyaan Tante nya.
Tbc..