
Seminggu sudah waktu berlalu begitu cepat. Selama itu juga, Meldo hanya menghabiskan waktunya dirumah bersama Tesi. Ia sangat gusar dan suntuk memikirkan masalah berat yang sedang di hadapinya. Pagi ini, Tesi membuatkan sarapan untuk suaminya, Tesi memasak telur mata sapi serta nasi goreng tanpa kecap kesukaan Meldo. Setelah dirasa selesai, Tesi beranjak menuju kamar dan akan membangunkan Meldo.
"Do, bangun yuk? Sarapan dulu." ucap Tesi dengan lembut.
Meldo semakin meringkuk, Ia sangat malas bangun pagi ini. Perlahan, Ia mendekatkan kepala nya kearah perut Tesi dan menciumi perut Tesi dengan kasih.
"Anak Papa udah sarapan?." tanya Meldo dengan seutas senyum di wajahnya.
"Belum, Papa. Kan nunggu Papa nya bangun, abis Papa molor mulu sih kayak kebo." ucap Tesi mewakilkan sang anak untuk menjawab pertanyaan Meldo.
"Ishh.. Kamu nih, masa bilangin aku kayak kebo."
"Kamu hari ini gak ke kantor?."
"Enggak dulu deh."
"Udah seminggu kamu gak masuk, Do. Kasian Pak Ruslan sama Johan harus sibuk karena gak ada kamu. Lagian, kamu juga gak kenapa-napa kok! Gak ada alasan lah buat gak ke kantor. Sekarang, kamu mandi dan berangkat."
"Tapi sayang..."
"Aku bakal ikut anterin kamu ke kantor, tapi cuma nganter aja, abis itu balik pulang."
"Beneran?."
"Huum."
"Yeay."
Dengan gembira Meldo langsung berlari menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan secepat kilat. Sementara Tesi, Ia membereskan tempat tidur dan menyiapkan stel pakaian Meldo untuk berangkat ke kantor.
TINGGG..
Ponsel Meldo berbunyi menandakan ada pesan singkat yang masuk. Tesi dengan penasaran, mencoba untuk melihat isi pesan itu dan ingin tahu siapa yang mengirimkan pesan pada suami nya disaat pagi-pagi seperti ini.
By : Caroline
Ada kabar bahagia untuk kamu, aku tunggu di ruangan kamu pagi ini.
Tesi cukup kesal membaca pesan itu yang ternyata dari Caroline. Sesaat Ia terheran, kabar bahagia apa yang dimaksud Caroline, pikirnya. Ikut mengantarkan Meldo ke kantor pagi ini adalah keputusan yang tepat menurut Tesi.
Tak lama, Meldo keluar dari kamar mandi dengan senyum yang sumringah di wajahnya. Ia tersenyum karena Tesi masih dengan lihai membenarkan sprei tempat tidur mereka.
"Itu pakaian kamu, aku ke bawah dulu ya?." ucap Tesi dan berlalu pergi meninggalkan kamar mereka.
Tesi menuju meja makan untuk menyiapkan piring dan segala sesuatunya. Kini Ia akan membuatkan susu untuk dirinya sendiri. Tesi sejenak berpikir soal kabar bahagia yang di sampaikan Caroline untuk Meldo. Sembari mengaduk susu nya, Tesi melamun dengan pikiran nya yang melambung kemana-mana.
"Sayang.." ucap Meldo.
"Eh, bikin kaget aja sih kamu."
"Yaa abis kamu melamun. Ngelamunin apa? Ngelamunin yang jorok-jorok ya?."
"Iya nih, ngelamunin yang jorok. Ngelamunin si kuman yang sering muncul di hadapan kamu."
"Hah?."
Kini mereka memulai sarapan dengan penuh hikmat. Tesi sangat lahap menghabiskan sarapan nya seolah sedang mengejar sesuatu dan Meldo tertegun melihat itu.
"Pelan-pelan, sayang."
"Kamu juga buruan makan nya, nanti telat ke kantor."
"I--iya, iya."
Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai dengan ritual sarapan mereka. Kini Meldo dan Tesi masuk kedalam mobil dan melenggang menuju kantor Meldo. Selama perjalanan, Tesi masih memikirkan isi pesan yang diberikan oleh Caroline, Ia sungguh sangat penasaran makna dari kata 'kabar bahagia'.
Perjalanan kali ini hanya memakan waktu sekitar 45 menit karena menggunakan alternatif jalan tol. Mobil Meldo berhenti dengan rapih tepat di depan pintu utama kantor nya. Meldo dengan perlahan turun dari mobil dan diikuti oleh Tesi.
Seperti biasa, para karyawan Meldo menyapanya dengan ramah. Namun tetap, Meldo tidak menggubris hal itu. Justru malah Tesi yang membalas ramah sapaan dari para karyawan.
"Kalo di sapa itu, senyum!." bisik Tesi pada Meldo saat akan menaiki lift.
Kini mereka sudah sampai di ruangan Meldo. Saat menuju masuk kedalam, Meldo dan Tesi terkejut melihat sosok Caroline dengan aggun duduk di kursi nya.
"Ngapain kamu disini?." ucap Meldo dengan nada yang meninggi.
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu, datang juga." ucap Caroline dengan menyeringai.
Caroline berdiri dari duduknya dan dengan cepat memeluk Meldo tanpa memperdulikan Tesi yang ada berdiri tak jauh dari posisi mereka.
"Apaan sih kamu? Lepasin!." ucap Meldo memberontak.
Caroline menyeringai menatap Tesi dan perlahan melepaskan pelukannya, Ia berjalan mendekati Tesi dengan senyum sinisnya.
"Aku lupa, ternyata ada istri kamu disini. Seharusnya kan kalau kita mau ngelakuin, cuma ada kita berdua aja disini, kan Meldo?." ucap Caroline dengan senyum sinis.
"Nge--ngelakuin apa maksud nya?." tanya Tesi sambil memandang curiga terhadap Caroline dan Meldo secara bergantian.
"Pergi kamu, Caroline! Pergi!." ucap Meldo dengan emosi nya yang sudah mendidih.
"Kamu jangan gitu dong, Do. Nanti yang didalam perut aku ketakutan ngeliat Papa nya marah-marah."
Tesi terdiam dan ternganga, Ia sangat paham dengan perkataan Caroline barusan. Hamil. Ya, Tesi sangat paham kalau Caroline sedang hamil. Mata Tesi berkaca-kaca, Ia berusaha menenangkan dirinya.
"Kamu... Hamil?." tanya Tesi dengan pelan namun pasti.
"Sayang, gak usah peduliin Dia. Mending kamu istirahat aja, ayo aku antar ke ruang istirahat." ucap Meldo sambil memegang tangan Tesi.
"Lepasin! Aku gak butuh istirahat atau apapun itu." ucap Tesi dengan penuh penekanan.
"Caroline, kamu hamil?." lanjut Tesi dan bertanya pada Caroline.
"Iya dong, aku hamil."
DUAAARRR...
Seketika Meldo terdiam dan tentu nya terkejut dengan pernyataan Caroline yang mengatakan bahwa Ia hamil. Dengan kesal, Meldo menarik Caroline dengan paksa untuk keluar dari ruangannya.
"Tunggu!." ucap Tesi dengan nada yang susah di artikan.
Meldo pun memberhentikan aksinya dan Caroline langsung menjauh dari posisi Meldo. Meldo menatap Caroline dengan tatapan yang membunuh, Ia sangat ingin menghabisi wanita itu saat ini juga.
"Kamu hamil, tapi kamu belum menikah." ucap Tesi dengan nada yang pelan namun penuh kecurigaan.
"Ya, betul. Justru aku kesini mau minta nikahin sama yang udah menghamili aku."
"Si--siapa yang menghamili kamu?." kali ini tenggorokan Tesi sudah mencekat, Ia sudah tidak sanggup lagi menahan semuanya.
Mendapat pertanyaan itu, Caroline menatap Meldo yang sudah gusar dan mondar-mandir kesana - kemari karena merasakan khawatir yang luar biasa.
"Menurut kamu, siapa?." Caroline balik bertanya.
"JAWAB!!."
"Meldo! Ya, Meldo! Suami kamu yang udah hamilin aku. Gak percaya? Tanya aja sama Dia. Malam itu, kamu yang disuruh nya pulang, kami berdua malah menikmati cinta, hahaha."
Tangis Tesi pecah saat itu juga, bahkan tangis yang menunjukkan kesedihan yang luar biasa. Sementara Meldo, Dia mematung melihat keadaan ini. Keadaan yang membuat nya terkurung dalam dekapan wanita iblis.
PLAAKKKKKK..
Tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Caroline, bahkan sampai mengeluarkan darah dari sisi bibirnya. Namun itu tak membuat Caroline lengah, Ia bangkit dan membuat senyuman sinisnya.
"Urus dulu deh masalah kamu sama istri kamu. Setelah itu, baru kita urus pernikahan kita." ucap Caroline dengan santai dan berlalu pergi begitu saja.
Tesi menangis sejadi-jadinya, Ia bahkan sampai terduduk karena tidak bisa menahan tumpuan kaki nya yang terasa lemas tak berdaya.
"Sayang.." ucap Meldo nanar sambil meraih pegelangan tangan istrinya.
"Lepasin! Jangan sentuh aku." ucap Tesi dengan membentak dan menjauhkan dirinya dari Meldo.
"Aku mohon...."
"Apa? Hah? Minta maaf? Basi! Cukup ya Meldo, cukup! Sekarang masa depan aku benar-benar hancur karena keegoisan kamu. Kamu nyulik aku, paksa aku buat nikah sama kamu, aku gak boleh kerja, dan sekarang kamu selingkuh sama sepupu kamu sendiri! Aku salah apa sama kamu? Hah? SALAH APA?."
"Sayang, aku gak selingkuh sama dia..."
"Stop, jangan mendekat, jangan sentuh aku."
Meldo sangat sedih dengan ini, istri nya sendiri bahkan tidak mau di sentuh olehnya. Meldo berkali-kali mengutuk dirinya didalam hati. Air mata keduanya tak terbendung lagi, beribu pedang telah menusuk hati Tesi secara bersamaan.
Tesi memegang kepalanya yang sakit, pandangan nya berubah jadi gelap, tubuhnya sangat lemas dan matanya perlahan-lahan terpejam. Tesi tersungkur di lantai dan tidak sadarkan diri.
Meldo yang panik, langsung menggendong Tesi dan membawa nya kerumah sakit.
Tbc...
PROMOSI BENTAR, HEHEHE.
Teman-teman, mampir juga dong ke cerita aku yang baru, yang judulnya "Chef Tampan Sang Pencuri Hati.".. Ceritanya gak kalah seru kok sama yang ini, hehehe. Terimakasih.