My Obsession Is You

My Obsession Is You
Kebenaran yang sulit di percaya



Pukul 20.00 wib...


Meldo masih terus fokus pada laptop yang ada di depannya. Disitu, Dia harus masih bekerja untuk menyelesaikan segala macam proposal untuk proyek baru.


Kefokusannya tiba-tiba buyar karena deringan handphone yang bunyi secara berulang-ulang, seperti spam chat. Meldo merasa heran, itu bukan seperti nada notifikasi chat handphone miliknya.


Dia pun berjalan kearah sumber bunyi itu. Sumber bunyi itu terdapat dari tas kerja nya. Dia membuka tas kerja nya. Betapa terkejutnya Ia saat melihat handphone itu. Ya, itu handphone milik Tesi yang Dia sita saat makan di restaurant tadi.


Ia pun mengecek isi handphone itu, termasuk spam chat tadi.


"Ck, dasar ceroboh dan bodoh! Bisa-bisa nya handphone nya gak di password gini." gumam Meldo sembari mengotak-atik handphone itu.


Ia mendapati chat dari orang bernama Nita di handphone itu, yang menanyakan bagaimana kerja Tesi hari ini, apakah baik, apakah buruk, dan sebagainya. Meldo pun membalas singkat pesan itu : ya, semua baik-baik saja.


Ia melakukan itu agar tidak ada chat masuk lagi yang akan menganggu nya nanti.


Ia pun memutuskan untuk memindahkan posisi nya ke tempat tidur dan merebahkan badannya disana sambil mengotak atik handphone milik Tesi. Dia tau ini sangat tidak sopan karena sudah membuka privasi orang tanpa izin. Tapi, rasa penasaran nya kalah dengan rasa segan nya.


Ia membuka galeri foto disana, Ia mendapati banyak sekali foto Tesi dari berbagai macam pose. Ada juga foto Tesi bersama teman-teman nya.


Meldo sangat asik melakukan aktivitas tidak penting itu. Dia terus mengscroll galeri foto sampai sejauh mungkin. Hingga pada akhirnya, Dia mendapati sebuah foto anak kecil yang berpose memegang bunga bersama Ibu nya.



Meldo langsung bangkit dari rebahan nya dan matanya terbelalak ketika menatap foto itu. Dia merasa kaget setengah mati melihat foto itu.


"Ini..ini kan Queen." gumam nya sembari memperbesar ukuran foto itu untuk melihat lebih jelas.


"Dan ini Ibu nya. Ya, Ini Ibu nya yang khawatir nyariin Dia pas aku sama Dia lagi main di taman itu." ucap Meldo dengan sedikit meninggikan suaranya.


Mata nya pun berkaca-kaca, merasa tidak percaya dengan semua yang Ia lihat.


"Apakah Tesi itu...." ucap nya dengan diambang keraguan.


Tanpa berpikir lagi, Ia pun langsung mengirim foto itu ke handphone miliknya. Setelah selesai mengirim, Ia meletakkan handphone itu dan mengusap wajah nya dengan kedua tangannya. Kini posisi nya sudah berada dibawah tempat tidur. Ia bersimpuh sambil merenungkan semua nya. Pandangannya menghadap ke arah luar jendela kamar nya.


'Entah lah, rasa nya aku memang bodoh terlalu obsesi padamu. Padahal, pertemuan kita tidak lama. Kita pun hanya baru sekali bertemu. Tapi entah mengapa, dirimu benar-benar mampu membuatku gila, membuatku tidak ada hentinya memikirkan mu. Sudah berpuluh-puluh tahun berlalu, tapi aku masih tidak berhenti memikirkan mu. Aku bahkan dengan percaya diri nya akan menemukan mu kembali di kemudian hari, dan membawamu masuk kedalam kehidupan ku, menikmati hari bersamaku, memiliki cinta bersamaku, bahkan menjadikan mu Ibu dari anak-anak ku nanti. '


Ia pun menundukkan kepala nya. Masih tidak percaya dengan semua ini.' Benarkah Dia itu Tesi?', itulah pertanyaan yang selalu muncul di kepala nya. Tak lama, Ia membuyarkan lamunan nya itu dan langsung menelpon seseorang di seberang sana.


Tut....tut.....tut....


"Ha? Ada apa?." ucap Ruslan sang sekretaris perusahaan.


Ya, Meldo menelpon sahabat sekaligus sekretaris nya itu.


"Dengerin gue baik-baik! Ada kerjaan penting buat lu." ucap Meldo dengan nada tegas nya.


"Gak bisa besok aja? Gila lu, masa malem-malem nyuruh gua kerja!."


"Ya ini mulai besok lu laksanain. Makanya dengerin gue dulu, bacot banget!." ucap Meldo yang merasa kesal.


"Ya.. Ya.. Buruan bilang."


"Gue mau, lu cari tau tentang Tesi. Terutama tentang masa kecil nya." ucap Meldo


"What? Itu doang? Begitu doang lu nyuruh gue? Lu tinggal nanya ke orangnya langsung apa susah nya maemunah?." ucap Ruslan yang merasa aneh dengan permintaan Meldo itu.


Sementara di seberang sana, Ruslan merasa kesal dengan Meldo yang sesuka hati nya mengatur diri nya untuk melakukan ini itu, termasuk hal yang tidak penting sama sekali.



Keesokan harinya, Meldo datang ke kantor dengan perasaan yang susah di tebak. Entah kenapa, Dia merasa gugup hari ini. Semenjak Dia melihat foto itu semalam, Dia jadi tidak percaya diri untuk melihat Tesi.


"Suruh Tesi ke ruangan gue kalo Dia udah dateng. Setelah itu, lakukan tugas lu yang gue perintahin semalem." ucap Meldo pada Ruslan dan langsung berlalu pergi.


Tak lama, Tesi datang sambil berlari kecil menuju lift. Larian nya pun di jegat oleh Ruslan.


"Tunggu, Tes.." sambil merentangkan tangan kiri nya untuk menghalangi jalan Tesi.


"Ya? Kenapa, Pak?." ucap Tesi dengan nafas yang cukup memburu namun Dia berusaha menyesuaikan untuk tidak terlihat ngos-ngosan dan memperlihatkan senyum cantik nya.



"Kamu di cari Pak Meldo. Disuruh keruangan nya sekarang." ucap Ruslan.


"Kebetulan, Pak. Saya juga mau nemuin Pak Meldo. Hehe."


"Kenapa sih? Kok kalian saling mencari gitu?."


"Handphone saya ketinggalan sama Pak Meldo, Pak. Makanya saya buru-buru mau nemuin Pak Meldo."


"Yaudah kamu langsung aja kesana kalo gitu."


"Baik, Pak. Saya permisi." ucap Tesi yang berlari kecil memasuki lift dan meninggalkan Ruslan


Saat lift sudah tertutup dan tidak menampakkan sosok Tesi lagi, Ruslan tersenyum kecil.


"Manis juga Dia." gumam nya sembari berjalan menuju ruangannya.


---------


Sesampainya di ruang Meldo, Tesi mengetuk pintu dengan cukup anggun. Dan Meldo mempersilahkan masuk. Tesi memasuki ruangan Meldo dengan berjalan sambil sedikit menunduk. Meldo pun langsung berdiri dari duduk nya dan menatap Tesi dengan lekat.



Tesi merasa heran dengan Meldo yang menatapnya seperti itu. Dia pun otomatis menunduk dan tidak berani menatap Meldo balik. Muncul banyak pertanyaan di kepala nya, apakah Dia melakukan kesalahan?, apakah ada hal yang aneh dengan penampilannya?, apakah ada hal yang membuat nya marah?. Tesi sangat bingung dengan sikap aneh si Bos.


Sementara Meldo merasa sangat tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya saat ini. Dia benar-benar sedang berhadapan dengan Queen nya yang selama ini Dia cari dan Dia Doakan di setiap malam nya. Mata nya mulai berkaca-kaca dan tak henti-hentinya menatap Tesi.


Tesi yang merasa aneh dan heran langsung memberanikan diri menatap Meldo. Dia pun sedikit ternganga melihat mata Meldo yang sudah berkaca-kaca.


"Eh? Pak? Bapak gapapa? Kok..matanya berkaca kaca? Bapak mau saya ambilin minum? Atau bapak butuh sesuatu lain? Biar saya ambilkan." ucap Tesi sedikit panik.


"Gak usah. Ini handphone kamu. Dan kembali lah bekerja." ucap Meldo yg memberikan hp Tesi dan langsung membalikkan badan dan kembali duduk.


"Ba..baik pak. Terimakasih banyak, Pak. Saya permisi." ucap Tesi yang langsung keluar ruangan Meldo dengan terheran-heran.


"Dia kenapa sih? Aneh banget jadi orang! Kadang galak, kadang sombong, ehh.. sekarang malah tiba-tiba sedih. Aneh.." gumam Tesi dan melanjutkan jalannya menuju lift.


Tbc..