
Dirumah, Tesi merasa bosan dengan aktivitas nya yang begitu monoton. Di tambah lagi, lingkungan sekitar rumah nya tidak ada tetangga apalagi tempat untuk bersantai seperti taman. Rumah ini sangat jauh dari perkotaan dan terdapat di tengah hutan belantara. Tesi semakin bingung, entah apa yang ada di pikiran Meldo saat membangun rumah di daerah sini.
"Ngapain ya enaknya?." gumam Tesi merasa bosan.
Ia pun berniat berkeliling rumah itu saja, karena semenjak tinggal disini, Tesi memang belum pernah menjelajahi setiap ruangan yang ada di rumah itu. Tujuan utama nya ialah ruang kerja Meldo. Ia sangat penasaran dengan isi dari ruangan itu. Pelan, Ia membuka pintu nya yang ternyata tidak di kunci. Tesi melangkah kan kaki nya perlahan untuk masuk ke dalam ruangan itu.
Matanya tak henti mengelilingi setiap sudut ruangan itu. Saat menyusuri meja, Ia membuka laci dan mendapatkan sebuah kotak berwarna biru disana. Dengan ragu, Tesi memandang kotak itu dan ingin sekali membuka nya. Ia pun mengambil kotak itu dan memberanikan diri untuk membuka nya.
Ia mendapati sebuah gelang dan sebuah foto didalam nya. Foto seorang lelaki dan perempuan yang berpose sangat bahagia dan lucu. Tesi tersenyum simpul melihat foto itu, Dia tau bahwa itu adalah Meldo saat masih remaja.
Tesi membalik foto itu dan terdapat tulisan "Caroline and Meldo, 2004 " dibalik foto nya. Tesi baru paham, bahwa ini adalah foto masa muda Caroline dan Meldo.
"Sepupu yang kompak." ucap Tesi sambil menyimpulkan senyumnya.
Seketika Tesi mengalihkan pandangan kearah bebas, Ia teringat dengan perkataan Meldo yang menyuruhnya untuk jangan terlalu dekat dengan Caroline. Ia pun ingat dengan ekspresi Meldo kala itu saat mereka menjemput Caroline di Bandara.
"Tapi kalo kompak, kenapa Meldo sikapnya aneh banget sama si Caroline?." gumam Tesi yang kembali memandang foto itu.
Tesi pun mengembalikan foto beserta kotak itu kepada tempatnya. Ia menyudahi penelusurannya di ruang kerja Meldo. Untuk menghilangkan rasa bosan, Ia memutuskan memasak makanan untuk Meldo.
------
Johan masuk ke ruangan Meldo tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia menyadari sang kakak sedang tidak baik mood nya.
"Dia ngapain datang ke Indonesia?." tanya Johan yang sudah duduk didepan Meldo.
"Bikin kaget aja deh."
"Sorry, abis gue kesel."
"Gue juga gak tau kenapa Dia dateng ke Indonesia. Tapi yang jelas, kita harus hati-hati aja sama Dia."
"Lu yang harus nya hati-hati. Karena masalah nya ada sama lu dan Dia."
"Iya, lu bener! Gue yakin kedatangan Dia kesini pasti ada maksud lain."
"Gue takut aja kalo Dia nekat lagi. Apalagi Dia tau kalo lu udah nikah."
"Gue gak akan tinggal diam kalo Dia berulah lagi. Sekarang gue udah bisa lakuin apapun yang gue mau, gue punya kekuasaan! Beda sama yang dulu, kalo dulu gue cuma seorang mahasiswa yang belum punya kekuasaan apapun, apalagi senjata untuk ngebunuh orang! Dan sekarang, kalo Dia berulah, gue bisa ngebunuh Dia tanpa menyentuh sedikit pun."
Johan menelan siliva nya dan menatap sang kakak dengan pandangan yang menakutkan. Perkataan Meldo benar-benar mematikan dan sama sekali tidak terlihat main-main.
Meldo merasa kerjaan nya hari ini sudah selesai dan tidak ada yang terlalu penting untuk dibahas lagi. Pikirannya penat, hatinya gusar, membuat nya tidak konsentrasi untuk bekerja. Dia pun memutuskan pulang dan menjumpai Tesi istri nya untuk menenangkan pikirannya.
Dengan sigap Meldo menancapkan gas nya dan memangkas seluruh kemacetan di Ibu Kota. Satu jam kemudian, Ia telah sampai dirumahnya. Ia di sambut oleh beberapa pelayan dan bodyguard.
"Sayang? Tesi?." panggil Meldo yang suaranya menggema di seluruh ruangan.
"Di dapur, Do."
Meldo melangkah kan kaki nya menuju dapur dan langsung memeluk Tesi dari belakang dan mencium tengkuk Tesi dengan manja.
"Ih, apaan sih? Geli tau!." ucap Tesi yang berusaha menepiskan kepala Meldo yang sedang memburui tengkuk belakangnya.
"Aku stress banget hari ini, dan cuma kayak gini yang bisa buat aku tenang."
"Stress apaan masih siang gini? Dan kenapa pulang cepat?."
"Yaa karena stress makanya aku pulang."
Tesi memutarkan tubuhnya dan kini sudah berhadapan dengan Meldo. Rambut Meldo sedikit berantakan karena ulah nya sendiri yang mendusel manja di tengkuk Tesi.
"Kenapa kita gak pindah aja di daerah perkotaan? Jadi kalo stress gini, kita bisa cari healing dengan berbelanja atau nongkrong di cafe, taman dan lain lain." ucap Tesi penuh harap.
"Emang kenapa kalo daerah sini?."
"Yaa kamu liat aja sendiri, hutan semua yang ada! Apa coba yang mau di liat?."
"Aku pikir-pikir dulu deh."
"Yaudah, kamu makan dulu kalo gitu. Duduk sana."
Dengan menurut Meldo duduk di meja makan dan Tesi menyiapkan nasi dan lauk yang sudah di masak nya kedalam piring Meldo. Meldo dengan lahap langsung mengunyah masakan Tesi yang begitu lezat menurutnya.
"Pelan-pelan makan nya." ucap Tesi yang melihat Meldo begitu lahap memakan makanannya.
"Enak banget masakan kamu, sayang."
Tesi menyimpulkan senyuman ketika mendapat pujian dari sang suami. Tesi pun berfikir sejenak dan memandang dalam kearah Meldo yang sedang fokus dengan ritual makan nya.
'Aku akan belajar mencintai kamu! Aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat kamu, Meldo. Walaupun cara kamu yang kemarin itu memang salah saat mau nikahin aku! Tapi aku percaya, kalo kamu itu orang yang baik dan bertanggung jawab.' gumam Tesi dalam hati.
Tbc..