
Meldo membawa Tesi menggunakan mobil yang di supiri oleh Januar. Meldo tidak bisa menahan air matanya, Ia sangat gelisah dan juga takut. Selama perjalanan, Meldo tak henti-hentinya menghujani Tesi dengan ciuman di kening hingga ke pipi. Hatinya terasa tercabik-cabik saat ini.
Tak lama membuat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dengan cepat Meldo menggendong Tesi dan berteriak sekitar rumah sakit dan meminta pertolongan dengan segera. Juan yang baru saja keluar dari klinik rumah sakit yang tak jauh dari pintu utama, melihat Meldo dengan gusar nya berteriak.
Mendengar Meldo begitu panik, para perawat dengan cepat membawa Tesi menggunakan hospital bed. Juan tidak tinggal diam, Ia mengejar dan mengikuti mereka yang membawa Tesi.
"Tesi kenapa?." tanya Juan yang juga ikut mendorong bed itu.
"Dia pingsan." jawab Meldo yang pandangan nya tak lepas dari Tesi.
Kini Tesi sudah ditangani oleh beberapa tenaga medis dan Meldo dipersilahkan untuk menunggu di luar ruangan. Meldo terduduk dengan lemas, Ia membuka jas nya dan meletakkannya dengan sembarang. Ia tertunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Sungguh, semua ini bukan yang diinginkannya sama sekali. Jika Ia boleh minta sesuatu hal yang bisa di kabulkan dengan cepat, Ia memilih untuk memutar waktu dan memperbaiki semuanya. Mendung nya langit pun menjadi saksi atas rapuh nya hati yang penuh dengan penyesalan.
Meldo mengusap rambut nya dengan kasar dan menangis karena ketakutan. Takut akan kehilangan, itu lah yang menghantui jiwa Meldo saat ini. Yang terjadi tetap lah terjadi, melakukan apapun akan menjadi sia-sia karena semua sudah terlewati dan kini hanya penyesalan serta ketakutan yang tertinggal didalam jiwa.
Beberapa menit kemudian, Juan keluar ruangan dan melihat Meldo sedang tertunduk dengan perasaan sedih yang luar biasa. Dengan perlahan, Juan menghampiri Meldo dan menyapanya dengan sopan agar tidak mengagetkannya.
"Meldo.."
Meldo menoleh dan langsung berdiri dari duduknya.
"Gimana sama istri aku? Dia baik-baik aja kan?." tanya Meldo dengan terburu-buru.
"Dia baik-baik aja. Dia syok makanya pingsan. Dan sekarang, Dia udah sadar."
"Aku mau liat Dia." ucap Meldo dan berjalan menuju ruangan.
"Tunggu."
"Apa?."
"Tesi tadi bilang, kalo Dia gak mau ketemu sama kamu."
Meldo terpaku dan memandang ke sembarang arah, hatinya sangat sedih dan perih mendengar pernyataan itu. Namun Meldo tidak peduli, Ia bertekad tetap masuk kedalam ruangan itu dan menghampiri Tesi, istrinya.
Pelan, Meldo memutar knop pintu dan masuk secara perlahan. Terdapat seorang perawat yang sedang memposisikan infus disana. Tak lama, perawat itu keluar dan Meldo semakin mendekatkan dirinya menuju ranjang Tesi. Ia melihat air mata Tesi yang mengalir, Tesi sedang tidak memperhatikannya saat ini, Tesi memandangi jendela dengan pemandangan awan yang mendung seperti apa yang dirasakannya saat ini.
"Sayang.." panggil Meldo dengan pelan berusaha menahan air matanya yang akan jatuh.
"Pergi kamu!."
"Tesi, kita bicarain masalah ini baik-baik."
"Baik-baik kamu bilang? Baik darimana nya? Kamu udah tidur sama Caroline dan sekarang Dia hamil. Kamu pikir, masalah ini bisa clear gitu aja? Hah? Masalah ini akan clear kalau kamu nikahin Dia dan ceraikan aku." ucap Tesi dengan penuh amarah dan air mata yang tidak tertahan.
"Aku tau aku salah. Tapi aku benar-benar diluar kendali waktu itu! Caroline benar-benar bisa memanfaatkan suasana dan bikin aku gak bisa sadar sama sekali. Kamu harus percaya, Tes. Itu pasti bukan anak aku yang di kandung sama Dia."
"Stop Meldo, stop! Aku gak mau dengar apapun lagi. Yang aku takuti udah terjadi sekarang. Aku cuma bisa terima keadaan dan mungkin dengan melepaskan kamu akan membuat semuanya lebih baik."
"Kamu pergi dari sini."
"Tesi..."
"PERGI." tangis Tesi sudah tidak bisa terbendung lagi, emosi nya benar-benar sudah memuncak.
Meldo menurut, dengan langkah gontai Ia berjalan dan meraih pintu itu. Belum sempat Meldo meraihnya, pintu sudah terbuka dan masuk lah seorang wanita yang selama ini selalu ada dalam senang dan susah nya Tesi. Itu adalah Nita.
Nita langsung berlari dan memeluk Tesi dengan kasih. Air matanya pun ikut pecah saat Dia menyaksikan semuanya. Nita sudah datang sejak beberapa menit yang lalu, namun Ia menahan untuk masuk karena mendengar perdebatan Tesi dengan Meldo. Juan mengabari Nita dan menyuruhnya untuk datang saat Juan sedang memeriksa Tesi.
Meldo memandangi momen itu, momen Nita dan Tesi berpelukan dengan kesedihan yang mendalam. Sejenak Meldo menundukkan kepalanya dan berjalan keluar meninggalkan rumah sakit itu. Meldo dan Juan berselisihan jalan saat di lorong rumah sakit, namun mereka tidak bertegur sapa. Juan melihat jelas wajah frustasi Meldo.
Juan pun memasuki ruangan tempat Tesi dirawat. Ia juga menyaksikan Nita dan Tesi yang sedang menangis. Juan memilih untuk membiarkan mereka sebentar dan menyaksikan momen mengharukan itu.
"Juan.." ucap Tesi dengan menghapuskan air matanya dan melepaskan pelukannya dari Nita.
"Jangan terlalu banyak berfikir yang menguras emosi kamu, Tes. Kamu istirahat aja dulu."
Juan tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Tesi dan Meldo. Ia pun memilih untuk tidak mencari tahu karena menurutnya itu privasi rumah tangga. Kefokusan Juan saat ini ialah memberikan pemulihan untuk Tesi.
______
Mobil Meldo saat ini terparkir rapih di halaman rumah Mama nya. Ia dengan emosi masuk ke dalam dan mencari Caroline. Suara Meldo menggema ke seluruh ruangan karena memanggil-manggil nama Caroline. Ia pun naik ke atas dan mendobrak pintu kamar Caroline dengan kasar nya.
BRAAAKKKKK..
Caroline sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya saat ini. Ia melihat jelas mata Meldo yang menatap nya dengan tajam dan seperti ingin membunuh seseorang saat itu juga.
"Anak siapa yang kamu kandung sebenarnya? JAWAB!." ucap Meldo dengan mencekik leher Caroline dan mendorongnya ke dinding.
Caroline merasakan sakit yang luar biasa saat Meldo mencekik nya.
"Anak kamu lah. Kan aku ngelakuin nya sama kamu."
"Dengar ini baik-baik! Aku gak akan nikahin kamu, dan gak akan mau mengakui anak itu sebagai anak aku. Kamu itu licik, Caroline! Apapun bisa kamu lakukan demi kepuasan kamu sendiri."
"Gak masalah, aku juga gak terlalu butuh pernikahan itu. Yang terpenting sekarang, kamu gak akan bisa lepas dari aku."
"Omong kosong!." ucap Meldo dengan penuh amarah dan semakin menekan kuat leher Caroline.
"Gak percaya? Aku kan wanita licik, semuanya bisa aku lakukan demi kepuasan aku." ucap Caroline yang masih sanggup memamerkan senyum sinis nya.
"Tunggu ajal mu tiba, Caroline." ucap Meldo penuh penekanan dan menghempaskan Caroline hingga terjatuh. Lalu Meldo pun meninggalkan Caroline begitu saja.
Tbc...