My Obsession Is You

My Obsession Is You
Season II = Titik terang



3 hari sudah mereka berada di Indonesia, dan hari ini Juan memutuskan untuk membawa Nathan kembali ke Korea dan syukur nya Nathan menyetujui nya. Anton akan tetap tinggal sampai urusan nya selesai.


Pagi ini, Juan dan Nathan telah menyelesaikan sarapan mereka dan akan segera bergegas ke Bandara. Juan mendorong satu koper besar sementara Nathan menggendong tas bergambar robot di punggung nya.


"Udah semua? Gak ada yang tinggal kan?." tanya Juan pada Nathan.


"Gak ada, Om."


"Oke, let's go."


Juan menggandeng tangan Nathan sambil mendorong koper besar milik mereka. Sembari berjalan, Juan dan Nathan berbincang mengenai keindahan yang ada di Indonesia dan tampak dari wajah Nathan kalau Ia sangat berat meninggalkan negara ini.


BRUKKK..


Juan tidak sengaja bertabrakan dengan orang yang kebetulan lewat dari arah samping nya, apa yang di pegang Juan pun mendadak berjatuhan ke lantai, seperti handphone dan kartu kamar mereka.


"Maaf, saya gak sengaja." ucap seseorang itu sembari mengambil barang-barang Juan yang berjatuhan.


"Ini." lanjutnya sambil memberikan barang tersebut.


Sontak, mata mereka bertemu dan terbelalak karena sangat terkejut setengah mati. Setelah sekian tahun, kini kedua rival itu bertemu kembali saat tak terduga seperti ini. Juan langsung memeluk erat Nathan dan memandang seseorang itu dengan tatapan geram.


"Terimakasih." ucap Juan datar sambil merampas barang-barang nya dari tangan seseorang itu.


Namun seseorang itu malah menahan nya, Ia tidak mau memberikan barang itu kepada Juan. Seseorang itu menatap Juan tidak kalah sinis, Ia bahkan mengeratkan gigi nya dan mengepal kan tangan nya sebelah.


"Meldo, handphone ku." ucap Juan dengan nada yang lebih dingin.


"Hai, Om Meldo baik." ucap Nathan yang membuyarkan suasana.


Kedua rival itu langsung menatap kearah Nathan dan menarik nafas mereka dengan dalam dan berusaha menyadarkan diri dengan suasana saat ini. Juan langsung merampas handphone nya dari tangan Meldo dan akan berlalu pergi.


"Om Juan tunggu bentar. Mau pamit dulu sama Om Meldo." ucap Nathan yang tidak mau beranjak.


"Gak perlu, Nathan. Nanti kita ketinggalan pesawat." ucap Juan datar.


Meldo dengan cepat memblokir jalan Juan dan Nathan, Ia menatap Nathan dengan tatapan nanar dan tidak tahu arti nya apa.


"Siapa Nathan ini? Dan dimana Tesi?." tanya Meldo pelan namun penuh penekanan.


"Gak perlu kamu tau. Minggir." ucap Juan sambil mendorong Meldo dengan kasar.


Tujuan Meldo datang ke Hotel ini untuk mengambil barang nya karena Ia juga ikut menginap disini bersama para rekan bisnis nya dan juga Anton. Meldo menatap nanar Juan dan Nathan yang sudah menjauh. Dengan cepat, Meldo berlari menuju kamar Anton.


Meldo bolak-balik menekan bell kamar Anton dengan perasaan yang geram dan tidak karuan. Tak berapa lama, Anton membukanya dan Meldo langsung menarik kaos Anton dengan geram.


"Lu sebenarnya siapa? Hah?." bentak Meldo pada Anton.


"Apanya yang siapa, Pak?."


"Ada hubungan apa lu sama Tesi? Dan Nathan itu siapa?."


"Tesi? Bapak kenal dengan teman saya itu?."


Meldo langsung melepas cengkramannya dan mengusap rambutnya dengan kasar, air matanya pun tak terbendung lagi. Meldo mengenggam erat kedua pundak Anton. Anton jelas merasa aneh dengan sikap Meldo dan Ia pun sedikit ketakutan.


"Tolong, kasih tau saya dimana Tesi?." ucap Meldo memohon dalam tangisnya.


"Pak, mari kita duduk."


Anton menuntun Meldo untuk duduk dan meminta penjelasan dari Meldo secara pelan-pelan. Meldo pun menceritakan semuanya pada Anton mulai dari pertama kali Meldo bertemu Tesi, menyekap Tesi, menikahi Tesi secara paksa, hingga skandal yang Ia perbuat bersama Caroline.


Anton terdiam mendengar penjelasan Meldo. Ia bahkan tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Takdir seolah mempermainkan mereka, membuat kesengajaan agar mereka bisa bertemu.


Sebaliknya, tak lama Anton pun menceritakan semuanya tentang Tesi. Awal pertama kali Tesi ke Korea, perjuangan Tesi saat mengandung, sampai usaha Kimbab milik Ibu pun di ikut sertakan dalam cerita.


"Delapan tahun bukan waktu yang sebentar, Pak. Saya tau betul perjuangan Tesi menghadapi hari-hari beratnya sambil membesarkan Nathan sendirian. Apa yang anda perbuat, harus ada balasan yang setimpal. Saya gak tau harus ngomong apa lagi, saya mendadak kehabisan akal. Tapi satu hal yang harus Bapak tau, Tesi gak mau ketemu Bapak lagi, Dia udah bertekad untuk gak balik ke Indonesia demi mengubur semua kenangan pahit yang di alami nya." ucap Anton dengan perasaan haru.


"Saya tau saya salah! Saya sangat salah! Saya bahkan menyesali semua perbuatan bodoh saya. Delapan tahun saya gak baik-baik aja menjalani hidup. Pikiran saya terus dibayangi oleh Tesi, saya udah kehilangan Dia disaat kandungan nya belum memasuki usia satu bulan. Pak Anton, saya mohon pertemukan saya dengan istri saya." ucap Meldo dalam tangis nya.


"Saya gak tau harus berbuat apa, Pak. Kalau saya mempertemukan anda dengan Tesi, yang ada semuanya makin tambah kacau."


"Saya akan pindah ke Korea. Ya, saya akan menetap disana untuk memperjuangkan semuanya. Saya belum cerai dengan Tesi secara sah, Dia hanya menalak saya lalu pergi gitu aja. Dan sekarang, saya akan memperbaiki semuanya."


"Pak Meldo yakin?."


"Saya yakin. Ini sebuah titik terang, gak boleh di sia-sia kan."


Meldo langsung pergi begitu saja dari kamar Anton tanpa meninggalkan sepatah kata sedikit pun. Meldo menyetir mobilnya dengan keadaan gila menuju rumah nya.


Tak butuh waktu lama, Meldo langsung memarkir kan mobil nya di halaman rumah nya.


"Papa.." ucap Cleo dengan riang saat Meldo memasuki rumah.


Namun wajah lucu itu kembali layu karena Meldo tidak menggubris nya sama sekali, Meldo memilih naik ke kamar nya untuk membereskan semua barang-barang nya. Sang pelayan yang sedang menemani Cleo membaca buku sedari tadi pun mengelus lembut bahu Cleo agar Cleo bisa lebih tenang menghadapi semua nya.


'Malang sekali nasib anak ini.' gumam sang pelayan dalam hati.


Tbc...