My Obsession Is You

My Obsession Is You
Season II = Berdamai dengan keadaan



Meldo mengajak Nathan dan Tesi ke sebuah mall untuk berbelanja dan bermain wahana permainan yang ada di mall tersebut. Nathan sangat bahagia dengan ini, Meldo pun tidak henti-hentinya tertawa melihat kebahagiaan Nathan saat bersamanya. Kini Nathan sedang bermain komedi putar, sementara Tesi dan Meldo menunggu tepat didepan pembatas komedi putar itu.


"Makasih." ucap Tesi tanpa melepas pandangannya dari Nathan yang sedang tertawa bermain komedi putar itu. Ucapan terimakasih itu di tujukan untuk Meldo.


"Sama-sama."


"Kapan kamu balik ke Indonesia?."


"Sampai kamu balik lagi sama aku."


Tesi tersentak kaget mendengar ucapan Meldo. Ia menarik nafasnya perlahan dan memberanikan diri menatap Meldo yang ada disamping nya. Pandangan mereka bertemu, Tesi benar-benar sudah ingin berdamai dengan Meldo, tapi tidak untuk balikan. Tesi masih merasakan bagaimana sakit hatinya saat ia mengetahui Meldo pernah tidur bersama wanita lain, itu sama sekali tidak dapat di definisikan seperti apa sakitnya.


"Kepercayaan aku udah kamu hancurin, hati aku udah kamu sakitin. Aku udah ikhlas menerima semuanya, Do. Dan bahkan aku udah memutuskan untuk damai sama kamu, karena mau benci sama kamu juga percuma! Gak akan bisa memperbaiki kesalahan yang udah terjadi. Aku gak akan larang kamu kalo kamu mau ketemu sama Nathan, gak akan! Tapi maaf, kalo untuk balikan, aku gak bisa dan aku gak mau."


Mata Meldo berkaca-kaca, ia menatap lekat manik mata wanita yang selalu dicintai nya itu. Ia sungguh menyesal dengan kebodohannya di masa lalu.


"Apapun syaratnya, aku pasti akan lakuin, asal kamu mau balik sama aku! Bilang, aku harus apa supaya aku bisa nebus semua kesalahan aku! Hah? Aku harus apa?."


"Gak harus apa apa, Do. Hidup lah untuk sendiri kamu sendiri, cari kebahagiaan kamu sendiri."


"Tapi kebahagiaan aku itu kamu."


"Tapi kamu bukan kebahagiaan aku."


Meldo terdiam, air matanya menetes dan Tesi menyadari itu. Tesi pun sama, ia juga tidak bisa menahan air matanya. Kini Meldo mengalihkan pandangannya kearah lain dan menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rasa sedih nya itu.


"Mama.. Papa.."


Tesi dan Meldo langsung menyeka air mata mereka dan memasang wajah yang seceria mungkin didepan Nathan. Nathan baru saja selesai bermain komedi putar dan kini ia merasa sangat lapar.


"Mama, Papa. Aku lapar."


"Yasudah, kita makan yuk?."


"Yukk."


Meldo menggendong Nathan dengan penuh perhatian. Tesi mengikutinya dari belakang. Kini mereka sudah berada di sebuah food court yang menyediakan banyak menu makanan.


"Nathan mau makan apa?." tanya Meldo sambil membaca buku menu yang ada didepannya.


"Nathan mau di suap sama Papa."


"Oke. Kalo gitu kita kongsi aja ya?."


"Iya, Pa."


"Kamu mau makan apa, Tes?."


"Aku kimbab aja."


Setelah memilih makanan, Meldo berjalan menuju meja pesanan dan menyodorkan list makanan yang ia pesan.


"Ma, kita bakal tinggal sama Papa kan?." ucap Nathan dengan antusias.


"Engga, sayang. Papa sibuk kerja."


Wajah Nathan murung, ia kecewa dengan jawaban sang Mama. Tak lama, Meldo kembali dan duduk di sebelah Nathan. Ia mengeluarkan ponsel nya lalu mengajak Nathan bermain game sebelum makanan yang di pesan datang.


3 Jam kemudian..


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah lelah berbelanja dan bermain, Nathan tertidur di gendongan Meldo. Kini mereka memutuskan untuk pulang.


"Do, aku sama Nathan naik taxi aja."


"Gak usah, Tes. Aku antar kalian sampe rumah."


"Tapi, Do.."


"Aku gak takut sama siapapun, Tes. Aku cuma pengen kalian aman dan selamat."


Tesi mengalah, ia pun menurut dan masuk kedalam mobil Meldo bersama dengan Nathan. Tesi sudah was-was saat ini, bagaimana kalau Ibu nya melihat dia baru saja menghabiskan waktu dengan Meldo? Tesi menjadi sangat frustasi.


Tidak sampai satu jam kini mobil Meldo telah berhenti tepat didepan rumah Tesi. Ada Juan yang sedang memainkan laptopnya di teras. Juan melihat jelas mobil mewah itu terparkir tepat didepan matanya.


"Do, makasih ya? Kamu gak usah keluar. Langsung pulang aja."


"Kamu ngusir nih ceritanya?."


"Aku gak becanda. Jangan cari masalah."


"Aku udah bilang, aku gak takut sama siapapun."


Tanpa mau mendengar penjelasan dari Tesi lagi, Meldo langsung turun dan mengambil Nathan di kursi bagian belakang. Meldo menggendong Nathan yang tertidur dengan nyenyak dan Tesi berjalan dibelakangnya. Juan yang melihat itu spontan berdiri dari duduknya, ia kaget setengah mati apa yang dilihatnya saat ini.


"Jadi ini alasan kamu nolak lamaran aku? Kamu bilang kamu gak mau nikah lagi sama siapapun, tapi kamu malah jalan sama Dia." ucap Juan to the point kepada Tesi.


"Nathan anak gue, emang salah kalo gue mau ketemu sama anak gue sendiri?." ucap Meldo penuh penekanan dan menatap Juan dengan tajam.


Kedua lelaki itu saling tatap tajam membuat Tesi panik bukan kepalang. Hingga akhirnya Anton keluar membawa mampan berisikan dua cangkir kopi karena pada awalnya ia ingin menemani Juan di teras dan tidak tahu dengan kehadiran Meldo dan juga Tesi.


"Eh, kalian?." ucap Anton yang membuyarkan suasana.


Anton pun mendadak gugup, ia tahu apa yang terjadi barusan, dilihat dari ekspresi menyeramkan kedua rival itu. Anton menaruh mampan di meja kecil, lalu mengambil Nathan yang tertidur dari gendongan Meldo.


"Do, mau minum apa? Biar sekalian gue buatin." ucap Anton basa-basi.


"Gak perlu, Nton. Makasih."


"Oh oke, gue bawa Nathan ke kamar dulu kalo gitu."


Anton berjalan masuk kedalam dan berselisihan dengan Ibu yang tampaknya akan berjalan menuju teras rumah. Anton menelan salivanya, ia panik setengah mati


'Bakalan ada perang nih kayaknya.' gumam Anton dalam hati.


Disana... Ibu sangat terkejut saat melihat Meldo sedang menginjak teras rumahnya. Niat Ibu sama seperti Anton sebelumnya, ingin menamani Juan dan tidak menyangka bahwa ada sosok Meldo yang sedang berdiri tepat didepan matanya. Sudah delapan tahun tidak melihatnya, kini Ibu melihatnya lagi.


Meldo tersenyum dan sedikit membungkukkan badannya, lalu mengulurkan tangannya guna untuk meminta salam dari Ibu. Ibu tidak membalas, tetapi menepis tangan Meldo dengan kasar.


"Ngapain kamu kesini?." ucap Ibu pada Meldo penuh penekanan.


"Bu, kita duduk dulu ya." ucap Tesi berusaha menenangkan suasana.


"Juan, Meldo. Ayo masuk." ajak Tesi kepada kedua rival itu.


Meldo dan Juan saling menatap tajam sebelum akhirnya mereka melangkah masuk kedalam. Kini mereka duduk di kursi ruang tamu dengan suasana yang mencekam.


"Bu, saya minta maaf! Saya tau saya salah, bahkan sangat salah. Tapi demi apapun, Bu. Saya tidak sengaja melakukan itu semua, otak saya kalut pada saat itu dan sekarang saya nyesal. Saya mencari-cari kalian kesana kemari selama beberapa tahun ini cuma ingin menyampaikan permohonan maaf saya ini ke Ibu." ucap Meldo dengan tiba-tiba.


Meldo berdiri lalu berjalan menuju Ibu dan bersimpuh di kaki Ibu dengan penuh permohonan.


"Saya siap terima hukuman apapun, Bu. Saya mohon maafkan saya. Saya gak akan maksa Tesi untuk balik lagi sama saya. Tapi saya mohon, maafin saya dan jangan jauhin saya. Izinkan saya untuk memperbaiki diri bersama kalian dan izinkan saya untuk membantu kalian dalam membersarkan Nathan." ucap Meldo dengan tangisnya dan masih bersimpuh di kaki Ibu.


Ibu sesungguhnya bukan manusia yang tidak punya hati. Ibu paling tidak tega melihat ada orang yang menangis di hadapannya. Mau sebenci apapun, ujung-ujung nya hati Ibu akan melunak.


"Berdirilah, Meldo." ucap Ibu sambil membantu Meldo untuk berdiri.


Kini Meldo sudah berdiri dan berhadapan dengan Ibu. Mata mereka saling menatap. Ibu melihat jelas mata sembab Meldo yang menatapnya. Meldo seorang lelaki tapi ia menangis, itu menunjukkan bahwa ia sangat menyesal dengan kebodohannya di masa lalu.


"Bagus kalo kamu mengakui kesalahan kamu, bagus kalo kamu gak nuntut Tesi untuk balik sama kamu, bagus kalo kamu masih punya hati untuk meminta maaf. Kamu tau, Ibu juga sakit hati saat tau kamu melakukan hal yang tidak sepantasnya kamu lakukan sama orang lain! Padahal Ibu udah sayang banget sama kamu seperti Ibu sayang sama anak Ibu sendiri. Ibu izinkan kamu untuk ikut membesarkan Nathan, tapi tidak untuk balikan dengan Tesi. Kamu harus belajar dari kesalahan mu di masalalu." ucap Ibu yang air matanya ikut menetes.


Sebenarnya Meldo sangat sakit hati mendengar ucapan Ibu yang tidak mengizinkan Meldo untuk belik lagi bersama Tesi. Namun terlepas dari itu ia pun lega karena Ibu memaafkan nya dengan setulus hati.


"Tesi, yuk bantu ibu buat minum sama cemilan untuk kita." ucap Ibu dan sudah mengalihkan pandangan nya kepada Tesi.


Kini Tesi dan Ibu berjalan menuju dapur. Sementara Meldo menatap Juan dengan tatapan sendu. Ia pun menghampiri Juan yang duduk disana tepat di sebelah Juan.


"Makasih udah merawat Tesi dan keluarganya selama beberapa tahun ini." ucap pada Juan dengan pandangan nya yang lurus kedepan.


"Pasti. Dia harus dijauhin dari manusia brengsek kayak lu."


"Lu jangan berpikir kalo Tesi gak ngehargain lu dengan dia sering ketemu sama gue. Gue udah ngajak dia balik berkali-kali dan gue dapet penolakan berkali-kali juga. Sekarang, gue gak akan maksa dia lagi. Tapi bukan berarti gue berhenti berjuang! Gue akan tetap berjuang dengan cara gue sendiri dan gak akan merugikan pihak manapun. Gue emang brengsek, gue emang ********, gue sadari itu. Makasih lu udah ngasih tempat terbaik untuk Tesi."


"Dia gak akan mau nikah sama siapapun lagi. Lu udah bener bener buat hati dia mati. Gue udah lamar dia, tapi gue juga ditolak. Mau gak mau gue harus terima kenyataan! Dan bagus kalo dia nolak lu juga, lu harus nikmati karma lu."


"Gue minta maaf." ucap Meldo mengulurkan tangannya pada Juan.


Juan menatap uluran tangan itu dengan perasaan yang campur aduk. Juan menepis tangan itu dan memilih memeluk Meldo dengan bersahabat dan penuh perdamaian.


"Seperti yang dikatakan Ibu, lu harus belajar dari masalalu. Dan selamat menikmati karma lu." ucap Juan pada Meldo.


Meldo tersenyum kekeh.


"Oke, siap."


Didapur, Ibu dan Tesi sedang menyiapkan minuman dan cemilan untuk para tamunya yang sedang duduk di ruang tamu.


"Ibu kenapa maafin Meldo dengan segampang itu?." tanya Tesi sambil mengambil beberapa gelas.


"Kamu sendiri kenapa dengan gampang nya bawa Meldo kesini?."


"Tesi cuma mau berdamai aja dengan keadaan, Bu. Percuma juga benci sama dia gak akan mengembalikan keadaan seperti semula."


Ibu tersenyum, ibu pun mendekati Tesi dan menggenggam kedua tangan anaknya itu.


"Ibu bangga sama kamu, Nak. Ibu merasa berhasil telah mendidik kamu." ucap Ibu dan akhirnya memeluk Tesi.


Tbc...