My Obsession Is You

My Obsession Is You
Ayok kita menikah 2



"Be..beneran?." ucap Meldo terbata


"Yaudah kalo gak mau." ketus Tesi sambil berlalu pergi.


Dengan cepat Meldo menangkap pergelangan tangannya dan memberhentikan langkahnya.


"Baik lah. Besok akan kita jumpai Ibu mu dan Mama ku." ucap Meldo dibaluti senyum indahnya.


"Ya."


"Kalo gitu, kita makan dulu."


'Sebenernya Dia ini kenapa sih? Kalo marah udah kayak monster yang siap nerkam mangsa nya, dan sekarang sikap lembutnya keluar bahkan mampu membuat siapapun meleleh! Ditambah lagi Dia ganteng. Cewe mana coba yang gak klepek-klepek sama Dia." Gumam Tesi dalam hati.


Tiba-tiba...


"Aaaaaaaa.." Tesi berteriak sontak membuat Meldo dan para pelayan kaget.


"Astaga, gak bisa nyantai dikit apa?." ucap Meldo sedikit meninggikan suaranya.


"Eehe. S..s..sorry sorry." ucap Tesi sedikit canggung


"Kenapa sih tiba-tiba teriak? Sawan?." ucap Meldo kesal


"Emm.. Engga kok, gapapa. Cuma ngetes suara aja. Soalnya kan gue nangis seharian tadi." ucap Tesi beralasan.


'Kok bisa-bisa nya sih gue mikirin itu tadi? Pake muji Dia ganteng segala lagi. Apaan sih ini otak gue.' ucap Tesi dalam hati.


Mereka pun lanjut makan dengan hikmat dan tenang. Tesi terus memperhatikan Meldo yang sedang memakan makanannya dengan anggun dan berwibawa.


"Sampe kapan kamu natap aku kayak gitu terus? Sampe biji mata mu keluar?." ucap Meldo sedikit ketus dan terus melahap makanannya.


Tesi pun mengalihkan pandangannya dan melanjutkan makannya dengan fokus. Sekarang gantian, kini Meldo yang mencuri-curi pandang dengan Tesi.



'Sekarang aku menemukan mu kembali, masa lalu indah ku!! Orang yang satu-satu nya mau menghabiskan waktu denganku saat di taman sewaktu dulu. Orang yang dengan senang hati menghargai ajakan ku. Di masa kecil ku yang kelam tanpa merasakan indah nya dunia ranah pertemanan, kamu hadir memberikan ku indah nya ranah itu. Sehingga aku terus mengingatmu. Lucu memang dan sangat tidak masuk akal dengan pertemuan yang tidak memakan waktu sampai sehari, tapi aku menggilai mu selama berpuluh tahun.' ucap Meldo yang terus memandang Tesi dan tanpa sadar memberhentikan makannya.


"Mau sampe kapan lu natap gue terus? Sampe nasi lu balik lagi jadi padi?." ucap Tesi membalas ketusan Meldo sebelumnya.


Meldo pun buyar dari lamunannya dan tanpa menggubris Tesi, Ia melanjutkan proses makannya. Beberapa menit kemudian, mereka selesai makan dan Tesi mulai membuka pembicaraan.


"Setelah nikah, kita gak bakal tinggal disini kan? Dan gue gak di sekap kayak gini lagi kan?." tanya Tesi.


"Kita bakal tinggal disini menghabiskan waktu berdua dan menghabiskan malam suami istri yang panjang dalam nuansa romantisme yang membara." ucap Meldo santai dan meneguk minumannya.


"Dih apaan sih? Mau muntah tau ngga denger ocehan lu yang gak jelas itu."


Meldo hanya tertawa mendengar ketusan Tesi.


"Ternyata kamu lebih galak ya daripada aku. Akhirnya aku ketemu sama orang yang selaras denganku." ucap Meldo.


"Bodoamat. Sekarang, gue mau nanya serius sama lu. Lu harus jawab jujur."


Meldo sedikit canggung dengar pernyataan Tesi. "Oke. Mau nanya apa?."


"Kenapa lu mau nikahin gue? Walopun gue mengiyakan permintaan konyol lu itu, tapi gue harus tau dong alasan jelas dari lu kenapa lu punya tekad mau nikahin gue?!."


"Karena aku cinta sama kamu. Yaudah, tidur sana. Besok kita ke kota untuk acara lamaran. Oh iya, kamu mau kita resepsi dimana?."


"Gue gak mau resepsian dulu. Kita nikah sah secara agama dan negara dulu aja. Biar bagaimana pun, kita harus saling mengenal dulu kan? Jadi gue gak mau terlalu berlebihan untuk sementara waktu. Dann turutin kemauan gue ini." ucap Tesi dengan tegas.


'Gapapa. Yang penting kamu udah jadi milikku.' ucal Meldo dalam hati.


🌞🌞


Keesokan harinya Tesi bangun dan bersiap lebih awal. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu Ibu nya.


"Ayo, buruan. Lama amat!." ucap Tesi pada Meldo yang sedang memakai sepatunya.


"Sabar!." ucap Meldo dengan ketus.


Tak berapa lama mereka masuk kedalam mobil dan Meldo mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sedang.


"Kalo misalkan orang tua gue atau orang tua lu pada gak setuju kita nikah, gimana?." tanya Tesi.


"Kita kawin lari." ucap Meldo dengan santai dan terus fokus menyetir.


"Sinting! Gak mau gue! Justru gue malah seneng kalo diantara mereka ada yang gak setuju."


"Kalo kamu gak mau, aku bakal nyulik kamu dengan cara paksa dan menyekap mu di tempat yang lebih jauh lagi dari ini."


Setelah lama bercengkrama dan beberapa jam menghabiskan waktu dijalan, mereka sampai di pusat perkotaan. Meldo langsung melajukan mobilnya menuju rumahnya terlebih dahulu dan Tesi menyetujui itu. Mobil Meldo pun terpakir rapih di halaman rumahnya itu dan Ia menuntun Tesi untuk turun.


"Gue takut." ucap Tesi yang tidak melanjutkan jalannya.


"Mama ku baik kok." ucap Meldo yang berusaha meyakinkan Tesi.


Mereka masuk kedalam rumah megah itu. Sesekali Tesi mengelilingi pandangannya ke tiap sudut di rumah itu.


"Meldo.." ucap sang Mama yang menyambut mereka dengan senang.


"Ma.." sapa Meldo sambil menyalam Mama nya.


"Ini siapa?." tanya Mama dengan lembut.


"Hallo, Tante. Saya Tesi karyaw..." omongan Tesi langsung di pangkas oleh Meldo.


"Calon istriku, Ma." ucap Meldo dengan lantang.


Mata Mama dan Tesii langsung terbelalak memandang Meldo.


"Ca..calon istri?." ucap Mama tak percaya.


"Iya, Ma. Kami akan secepat nya menikah, kalau bisa dalam minggu ini."


Tesi yang mendengar hal itu langsung melotot kearah Meldo dan sedikit menyenggol Meldo. Namun Meldo tidak menggubris itu.


"Hei, Nak? Ini yang Mama tidak suka dari kamu! Kamu selalu memutuskan suatu hal dengan sesukamu tanpa mau dibicarakan terlebih dahulu."


'Mama nya sendiri aja kesel liat Dia. Apalagi gue." ucap Tesi dalam hati.


Mereka semua duduk di sofa dan tanpa basa-basi Meldo langsung membuka pembicaraan.


"Sesuai yang Meldo bilang tadi, Kami akan segera menikah. Dan Mama pagi ini juga ikut kami ya? Kami mau menjumpai Ibu dari calon istriku."


Perdebetan kecil pun terjadi diantara Ibu dan Anak itu. Mama nya tidak suka dengan keputusan buru-buru Meldo kali ini. Tesi hanya mampu mendengarkan dan memperhatikan saja.


Tbc..