
Setelah beranjak dari warung nasi goreng tersebut, Tesi mendatangi rumah sakit tempat Ibu nya dirawat. Ia sangat khawatir karena telah meninggalkan Ibu nya terlalu lama, seharian penuh. Waktu sekarang sudah menunjukkan pukul 18.00 wib, Tesi dengan berlari kecil memasuki rumah sakit dan memasuki ruang rawat Ibu nya.
Pelan, Tesi membuka pintu dan mengatur nafasnya. Ia terheran saat melihat sang Ibu sudah tidak memakai pakaian pasien lagi, melainkan memakai pakaian rumah sehari-hari dan terdapat Tas besar di samping ranjang Ibu nya.
"Bu, kok..."
"Iya, Nak. Ibu udah bisa pulang."
"Oh ya? Maaf ya, Bu. Tesi gak tau kalo Ibu udah bisa pulang hari ini, Tesi juga kelamaan ninggalin Ibu, soalnya tadi Nita mendadak ngajak ketemu, Bu."
"Gapapa, Nak. Gimana perasaan Meldo setelah tau kamu hamil?."
"Dia senang katanya, Bu. Bahkan Dia sampe nangis tadi."
"Jiwa ke-Bapak an nya udah terpancar itu, hahaha."
Tiba-tiba masuk lah seorang Dokter tampan kedalam ruang rawat Ibu. Ya, itu adalah Dokter Juan. Juan sudah janji pada Ibu untuk mengantarkannya pulang malam ini. Selama Tesi berpergian, Juan lah yang menjaga sang Ibu di rumah sakit ini. Jika Juan sedang ada tugas, Dia mengutus salah satu perawat untuk menjaga Ibu diruangan nya.
"Kamu udah balik, Tes?." tanya Juan ramah.
"Udah nih, Ju. Kamu kenapa kesini?."
"Aku sebenarnya udah janji sama Ibu untuk mengantarkan Ibu pulang kerumah, karena kata Ibu kamu lagi ada urusan sama suami kamu."
"Aku gak tau kalau Ibu bisa pulang hari ini, Ju. Kalo tau Ibu mau pulang, aku udah ajak suami aku tadi."
"Loh, emang kamu kesini gak sama suami kamu?."
"Enggak."
"Yaudah, aku aja yang anterin kalian pulang."
"Gapapa nih?."
"Gapapa lah."
"Makasih sebelumnya."
"Santai aja, Tes. Kayak sama siapa aja sih, hahaha."
Tesi dan Juan mempersiapkan segalanya. Tesi mendorong kursi roda yang diduduki Ibu untuk mencapai lantai dasar dan menuju parkiran. Sementara Juan sedang mengambil tebusan obat untuk masa pemulihan Ibu Tesi selama dirumah. Juan sedikit menunggu karena obat nya masih akan di proses.
'Kenapa ya suami nya Tesi jarang banget jengukin mertuanya sendiri? Palingan cuma sekali doang Dia dateng jengukin. Apa seorang pengusaha memang sesibuk itu?.' gumam Juan dalam hati.
"Ini obat-obatnya, Dok. Semua keterangan aturan nya sudah tercatat didalam." ucap seorang wanita yang bertugas di bidang apoteker.
"Oh iya, terimakasih. Permisi." ucap Juan dan berlalu pergi.
Sebenarnya sikap dingin Juan masih mendominasi didalam dirinya. Ia bahkan masih tidak suka banyak bicara jika itu tidak penting. Tetapi entah kenapa, Dia sangat suka bercengkrama dengan Tesi dan Ibu nya.
Juan berjalan untuk menyusul Tesi dan Ibu nya di parkiran. Dia menenteng jas putih nya, tas nya serta obat Ibu Tesi dengan anggun nya. Sesampainya di parkiran, Juan tersenyum melihat Tesi dan Ibu nya.
'Entah kenapa, Tesi dan Ibu nya sangat meneduhkan.' gumam nya dalam hati.
"Maaf ya, Bu. Agak lama nunggunya, soalnya tadi obat nya di proses dulu." ucap Juan.
"Gapapa kok, Nak."
Juan dan Tesi pun membantu Ibu untuk masuk kedalam mobil secara hati-hati. Setelah selesai, Juan menyerahkan kursi roda itu kepada seorang perawat dan Dia pun masuk kedalam mobil.
"Pelan-pelan Bu turun nya." ucap Juan penuh perhatian.
"Yaampun, Ibu udah sehat kok. Gak usah khawatir gitu, Nak."
"Ibu masih dalam pemulihan. Mari, saya bantu."
Juan dengan sigap turun dari mobil dan beranjak menuju pintu bagian belakang untuk membantu Ibu keluar.
"Ibu gapapa kok, Nak."
"Hati-hati, Bu."
Dengan pelan Juan membawa Ibu masuk kedalam rumah, sementara Tesi membukakan pintu. Juan mendudukkan Ibu di kursi dan meletakkan obat-obatan nya di meja.
"Ini obat nya, Bu. Di baca dulu ya aturan pakai nya sebelum di minum." ucap Juan dengan lembut.
"Iya, Nak. Terimakasih banyak, ya? Kamu selama ini udah banyak bantu Ibu."
"Gak usah sungkan, Bu."
_______
"Laki-laki kep*rat dan brengs*k!."
Meldo terkejut saat mendengar dengungan suara seorang wanita yang tengah memaki dirinya. Ia dengan cepat memutar badannya dan melihat orang dengan sumber suara itu.
Meldo sedang berada di parkiran Kantor nya, Ia ingin segera pulang dan menenangkan diri dirumah atas apa yang tengah di hadapi nya hari ini.
"Ka--kamu?." ucap Meldo tergagap saat tau siapa yang tengah memaki nya tadi.
"Ya, ini aku."
"Apa maksud kamu bilangin saya dengan sebutan seperti itu tadi. Hah?."
"Anda adalah laki-laki brengs*k, Tuan Meldo. Anda tidak pantas bersanding dengan sahabat saya, Tesi."
"A--apa maksud kamu? Kamu bicarain apa? Jangan sembarangan berbicara ya."
"Perselingkuhan anda dengan wanita murahan itu sudah terdengar sampai ke titik terdalam telinga saya. Jangan Anda kira saya tidak tau kelakukan busuk anda di belakang Tesi. Anda benar-benar menjijikkan, Tuan! Sangat menjijikkan! Bahkan sampah diluar sana lebih mulia dibandingkan diri anda."
DUAAARRR..
Emosi Meldo kini memuncak lagi, Ia dengan segera berjalan mendekati Nita. Ya, Nita telah mengumpulkan kenekatannya untuk menemui Meldo si lelaki yang menurutnya kurang ajar itu. Meldo dengan sigap menangkup pipi Nita dengan keras nya dan hanya menggunakan satu tangan.
"Bilang sekarang, darimana kamu tau soal itu? Hm? BILANG!!." ucap penuh penekanan dan mematikan.
Dengan sekuat tenaga Nita menepis tangan Meldo dan terlepas begitu saja. Nita sudah tidak memikirkan ketakutannya lagi, Ia hanya ingin memaki lelaki ini sampai Ia puas.
"Anda, lelaki sampah! Cuih." tetesan air liur telah membasahi wajah Meldo.
Seketika Meldo melepaskan cengkramannya di pipi Nita. Ia kesal setengah mati dengan ini, harga dirinya benar-benar telah di injak.
"Segera tinggalkan Tesi. Anda tidak pantas bersama Dia. Pergi lah anda ke neraka." ucap Nita dan berlalu pergi meninggalkan Meldo.
tbc..