My Obsession Is You

My Obsession Is You
Pergi



Pagi ini Meldo beranjak untuk menjenguk istrinya di rumah sakit. Ia tidak tidur semalaman karena memikirkan banyak masalah yang merenggut dirinya dan istrinya. Dirinya sangat berantakan, Ia benar-benar tidak punya mood untuk melakukan apapun.


Meldo menyetir mobilnya sendiri tanpa di layani oleh supir. Ia mengendarai mobilnya dengan normal, karena pikiran nya sedang tidak fokus. Banyak harapan baik yang di Doakan oleh Meldo untuk hari ini, Ia sangat berharap agar istrinya memaafkannya apalagi jangan sampai meninggalkannya.


Mobil Meldo terparkir rapih di area parkiran rumah sakit, entah kenapa jantung nya berdegup kencang saat ini, Ia perlahan menarik nafasnya lalu turun dari mobil. Langkah nya pelan untuk menuju area pintu dan Ia sedikit menundukkan kepalanya.


BUGGHHH...


Meldo tersungkur tepat didepan halaman pintu utama rumah sakit itu. Meldo mendapatkan tinjuan keras di area sudut bibirnya. Saat menoleh sesaat, Meldo terkejut saat melihat orang yang meninju nya.


"Lu gila ya?." ucap Meldo dengan membentak.


"Lu memang bergelimang harta dan punya jabatan yang bagus, tapi diri lu itu udah kayak sampah."


"Lu tau apa soal urusan gue? Hah?."


"Dari SMA, Tesi itu orang yang paling baik yang pernah gue kenal, dan gue heran kenapa Dia bisa berjodoh sama laki-laki br3ngsek kayak lu."


Meldo berusaha untuk berdiri dan menyepadankan dirinya dengan Juan. Kedua mata lelaki tampan itu saling menatap tajam dan ingin membunuh satu sama lain. Juan sudah mengetahui semuanya, karena Tesi yang menceritakannya tadi malam. Maka dari itu, pagi ini Juan menunggu kedatangan Meldo untuk memberinya pelajaran.


"Minggir, gue mau ketemu sama istri gue." ucap Meldo pelan namun penuh penekanan.


"Ck, lu memang bukan laki-laki ya? Usaha lu gak ada sama sekali. Bahkan saat Tesi nyuruh lu pulang, lu malah pulang beneran. Dan sekarang, lu gak tau kan apa rencana Dia sama lu?."


"Apa maksudnya?."


Dengan senyum sinis nya, Juan meninggalkan Meldo yang masih terpaku di depan situ. Sementara Meldo, Ia berusaha untuk memahami kata-kata Juan yang membuatnya terpaku. Meldo menarik nafasnya dengan kasar dan masuk kedalam untuk menjumpai istrinya.


Saat sampai didepan ruang rawat inap Tesi, Meldo terheran dengan ruangan yang sudah tampak kosong dan tak berpenghuni. Nafas Meldo tersengal, Ia sangat panik saat ini. Ia pun memutar - mutar tubuhnya untuk mencari Dokter atau perawat yang akan lewat di dekatnya.


"Permisi, Sus. Pasien yang dirawat diruangan ini kemana ya?." tanya Meldo pada seorang perawat yang kebetulan lewat.


"Saya tidak begitu tau, Pak. Karena saya baru bertugas pagi ini. Silahkan Bapak datangi aja meja pos para perawat yang berjaga tadi malam, kebetulan mereka masih disitu."


"Oh iya, Baik. Terimakasih."


Meldo berlari menuju meja pos perawat yang tidak jauh dari situ. Wajahnya benar-benar panik saat ini.


"Permisi.. Pasien bernama Tesiana yang dirawat di kamar VIP 4, kemana ya?." tanya Meldo pada sang perawat.


"Oh, pasien atas nama Tesi udah pulang tadi malam, Pak. Mba Tesi pulang sama temennya yang cewek. Saya udah menahannya karena keadaan Mba Tesi belum sepenuhnya pulih, tapi Dokter Juan bilang, Dia bakal tanggung jawab sama keadaan Mba Tesi."


Meldo membelalakkan matanya dan begitu terkejut mendengar penjelasan dari perawat itu.


"Juan? Dimana si br3ngsek itu sekarang?." tanya Meldo dengan penuh emosi.


"Do--Dokter Juan sekarang lagi keliling untuk periksa rutin para pasien jantung, Pak." jawab perawat itu dengan ketakutan yang luar biasa.


"Dimana? Dimana itu?."


"Bapak tunggu aja dulu."


Meldo dengan kesal meninggalkan pos itu dan berlari kesana kemari mencari sosok Juan. Setelah beberapa menit, Meldo melewari sebuah ruangan dan kebetulan Juan baru keluar dari ruangan itu.


Dengan kesal, Meldo langsung menarik kerah baju Juan dan menatapnya dengan tajam. Para perawat yang bertugas dengan Juan pun merasa terkejut dan berusaha menjauhkan Meldo yang sedang mencekam kerah baju nya.


"Dimana istri gue? Dimana? Jawab!." tanya Meldo dengan bentakan.


"Pak, tolong jaga sikap anda, ini rumah sakit." ucap seorang perawat pada Meldo.


"Diam! Gue gak ada urusan ya sama lu."


Juan pun dengan kasarnya menepiskan tangan Meldo yang mencekam kerah bajunya. Kini gantian, Juan yang menarik kerah baju Meldo dan menyeret Meldo masuk kedalam ruang rawat inap yang kebetulan sedang kosong. Juan mendorong Meldo dengan kasar hinggal terpental, dan Ia pun menutup pintunya dengan kasar.


"Dimana istri gue? Hah? Lu jangan macam-macam ya, lu bisa mati sekarang juga kalau lu mau." ucap Meldo penuh penekanan.


"Lu bisanya cuma mengandalkan orang belakang, jadi gak usah belagu! Gue mau mati dari tangan lu sendiri, tanpa harus lu suruh orang sana-sini buat abisin gue! Tapi gue rasa, lu gak akan punya nyali untuk itu, lu beraninya cuma main duit dan nyewa pembunuh bayaran."


"Gak usah bertele-tele, dimana istri gue?."


"Dia pergi dan gak akan kembali lagi."


Sebuah pukulan keras melayang ke wajah Juan. Meldo kesal mendengar pernyataan itu, emosi nya saat ini sudah naik ke ubun-ubun.


"Hahah, lu emosian banget sih." ucap Juan dengan gaya cool nya.


"Dimana Tesi? Dimana!."


Juan tersenyum sinis dan meninggalkan Meldo sendirian disitu. Meldo terduduk lemas ke lantai, Ia menangis layaknya orang depresi. Apa yang takuti nya, sedang terjadi sekarang.


_______


Kini Tesi, Nita dan Ibu sudah berada di Bandara. Tesi memandang nanar daerah sekitarnya. Sungguh, ini sangat menyakitkan untuknya, air matanya pun tidak berhenti mengalir sejak Ia tau kebenaran yang membuat nya sakit hati yang teramat dalam.


"Nak, sudahlah! Lupakan semuanya." ucap Ibu yang menyemangati anaknya.


"Bu, Tesi bakal ngerawat anak ini sendirian tanpa di dampingi suami. Tesi cuma khawatir kalau suatu saat anak ini bakal diambil sama Meldo, Bu. Gimana kalau Meldo nemuin keberadaan kita?."


"Nak, jangan panik gitu! Ingat apa kata Juan semalam, Dia bakal bantu kamu untuk memperjuangkan hak-hak kamu."


"Bener kata Ibu, Tes. Dan aku yakin, Meldo gak akan bisa nemuin kita. Secara kan kita keluar negeri dan tinggalnya juga di daerah perkampungan."


"Tapi Meldo itu bisa melakukan segalanya."


"Tesi, percaya sama aku. Semuanya bakal baik-baik aja, kita bakal memulai lembaran baru. Oke?."


Tesi pun menarik nafasnya dengan dalam, dan memejamkan matanya sesaat. Kini mereka pun melanjutkan perjalanan mereka.


**@**


//Tadi malam//


Tesi dengan sesenggukan menceritakan semuanya pada Juan dan Nita. Nita pun juga menceritakan bagaimana Ia bertemu Caroline di laundry dan mendengar percakapan tidak etis itu. Juan menarik nafasnya dalam dan mengusap rambutnya dengan kasar.


"Aku bakal kasih Dia pelajaran besok." ucap Juan dengan mengeratkan gigi nya.


"Terus sekarang kedepannya kamu gimana sama Meldo, Tes?." tanya Nita dengan lembut.


"Aku mau cerai sama Dia, aku gak mau lagi ketemu sama Dia. Aku bakal bawa Ibu ke Jogja dan aku bakal besarin anak aku disana."


"Jogja masih terjangkau sama si keparat itu, Dia pasti dengan mudahnya nemuin kamu. Kamu gak mau lagi kan ketemu sama Dia? Maka dari itu, pergi yang jauh." ucap Juan dengan berapi-api.


"Tapi kemana, Ju? Aku gak punya duit banyak sekarang. Kalau pun nanti Dia nemuin aku dan berbuat yang macam-macam, aku bakal ngelaporin Dia ke polisi."


"Gak semudah itu, Tesi. Masalah biaya gak usah kamu pikirin. Sekarang bilang, kamu sembunyi di negara mana? Hm? Aku bakal bantu kamu memperjuangkan hak-hak kamu."


"Hah? Negara? Berarti ke luar negeri? Itu kejauhan, Ju."


"Jawab, kamu mau sembunyi di negara mana? Hm?."


Tesi dan Nita saling menatap heran. Juan benar-benar serius membantu Tesi pergi jauh dari kehidupan Meldo.


"Gimana kalau ke korea? Aku punya tempat tinggal di daerah Jeonju Hanok, itu daerah pedesaan. Kalian bisa tinggal disana dan bertahan hidup! Tenang aja, desa itu gak terlalu primitif, masih gampang kok untuk nemuin bahan pokok sehari-hari." lanjut Juan.


"Ta--tapi, Ju..."


"Nit, kamu ikut pindah juga ya? Kamu kan udah gak punya siapa-siapa lagi disini, jadi kamu tinggal sama Tesi aja di korea."


"Terus gimana sama Ibu aku?." tanya Tesi dengan khawatir.


"Ibu kamu ikut, aku yang bakal bicara sama Ibu. Sekarang, kita keluar dari rumah sakit ini, biar aku yang urus semuanya, termasuk keberangkatan kalian bertiga besok pagi. Si Meldo keparat itu harus di kasih pelajaran."


Setelah berbincang cukup panjang, Nita dan Tesi pun menyetujui saran dari Juan meskipun ada keraguan di hati mereka. Juan benar-benar menyiapkan segalanya dengan apik. Setelah urusan rumah sakit selesai, Juan pulang bersama Tesi dan Nita untuk menemui Ibu. Tesi menjelaskan semua pada Ibunya dan diakhiri dengan tawaran tinggal di Korea, Ibu pun ikut ragu dengan keputusan Juan. Namun lama kelamaan, Ibu setuju dengan keputusan itu. Juan menyuruh salah satu orang yang di percayai nya untuk menemani keberangkatan mereka menuju ke Korea.


'Hati-hati dijalan, maaf gak bisa nganterin kalian, kerjaan aku hari ini gak bisa di handle ke yang lain. Aku janji, setelah selesai ini aku bakal nyusul kalian ke Korea. Dan setelah itu, aku akan usahain sebulan sekali berkunjung kesana. Semangat terus, Tesi. Aku akan selalu ada bersama kamu.'


Begitulah isi pesan Juan pagi ini untuk Tesi.


Tbc...