
Meldo menceritakan kisah masa lalu nya dengan detail kepada Tesi. Tesi menjadi pendengar yang luar biasa atas kisah masa lalu yang menyeramkan itu. Tesi bergidik ngeri saat mendengarkan semua nya dari Meldo.
"Kok bisa-bisa nya sih Dia cinta sama kamu? Jelas-jelas kamu kan sepupu nya." tanya Tesi yang sedikit emosi.
"Aku juga gak tau. Makanya, kamu harus hati-hati juga ya sama Dia? Takutnya Dia dateng ke Indonesia punya maksud lain, apalagi saat Dia tau kalo aku udah nikah sama kamu."
"Terus kamu balik ke Indonesia saat itu juga dan ninggalin Johan sama Caroline?."
"Iya, Mama maksa banget untuk Johan mau tinggal sama Caroline. Dengan berat hati, akhirnya Johan tinggal sama Dia! Dan kamu tau? Selama Johan tinggal sama Dia, Dia banyak banget ngancamnya, Dia pengen Johan ikut serta dalam kerja sama nya untuk meluluh kan hati aku supaya aku bisa jatuh cinta sama Dia. Gila kan tu cewe?."
"Terus, Johan tetap tinggal sama Dia sampe lulus?."
"Enggak! Akhirnya karena gak tahan dengan kelabilan Caroline, Dia pindah ke asrama kepemilikan kampus. Sampe akhirnya Dia lulus, dan gak pake lama, Dia langsung balik ke Indonesia."
"Tapi kamu pun gak boleh langsung berfikir yang negatif juga! Bisa aja Caroline memang benar-benar nyesal dan pengen memperbaiki semuanya, kan?."
"Ini nih yang aku takutin! Pokoknya kamu nurut aja sama aku! Jangan mau terlalu akrab sama Caroline. Mengantisipasi kan gak salah, Tes?."
"Yaudah iya iya. Tapi btw, Johan kayaknya dulu nurut banget ya sama kamu? Udah gitu dulu Dia lebih sopan sama kamu, gak kayak sekarang. Hahaha."
"Kenapa jadi fokus nya ke Dia?." ucap Meldo dengan jutek.
"Kan aku cuma bilang."
"Dia berubah karena udah dapet jabatan di kantor, makanya songong! Padahal yang bikin Dia bisa dapet jabatan, yaaa aku."
"Jadi kamu gak ikhlas lakuin itu ke Dia?."
"Ikhlas lah."
"Terus kenapa di ungkit-ungkit?."
"Aku kan cuma jawab pertanyaan kamu yang tadi."
"Udah ah, aku ngantuk gara-gara dengerin dongeng kamu tadi."
Tesi membalikkan tubuh nya dan membelakangi Meldo lalu memejamkan matanya untuk tidur. Meldo menatap Tesi dari belakang dengan seutas senyum di bibir nya. Semua rasa berkecamuk di dalam hati nya. Cinta, kasih sayang, ketulusan, kekhawatiran, semua di rasakan nya dengan mengatas namakan Tesi.
"Meldo.." panggil Tesi yang masih membelakangi Meldo dan memeluk erat sebuah guling.
"Hmm?."
"Aku pikir, aku udah jatuh cinta sama kamu."
Mata Meldo terbelalak dan sedikit menaikkan kepala nya untuk bisa menatap wajah istrinya. Dengan paksa, Meldo membalikkan tubuh Tesi sehingga kini posisi nya dengan Tesi saling berhadapan.
"Bilang sekali lagi." ucap Meldo penuh penegasan.
"Gak ada siaran ulang!."
"Berarti yang kamu bilang tadi bohong."
"Ih, beneran aku cinta sama kamu." ucap Tesi dengan reflek.
"Jangan pernah tinggalin aku." ucap Meldo yang kini menindih Tesi dengan senyum manis nya dan menatap Tesi dengan dalam.
"Aku cinta kamu, walaupun cara kamu nikahin aku itu sulit untuk aku maafin."
"Maafin aku, sayang. Abis nya kamu bar-bar banget, aku gemes lah liatnya, makanya aku nyulik kamu waktu itu."
"Tapi kamu gak mikirin perasaan aku apa? Aku takut banget pas kamu paksa aku buat ikut kamu."
"Maafin aku deh, ya?."
"Hmm, iya."
Meldo kembali menciumi Tesi dengan membabi buta. Tidak hanya itu, bahkan tangannya sudah berkeliling menjelajahi tubuh Tesi. Ia pun mulai melucuti baju istrinya dengan tidak melepas ciumannya.
"Eh, mau ngapain?." ucap Tesi yang mendorong Meldo hingga tersungkur.
"Harga hotel ini mahal banget, sayang. Masa iya di pergunakan buat tidur doang? Sayang banget dong uang nya."
"Yaaa kan hotel gunanya memang buat istirahat dan tidur. Emang bisa ngapain aja selain itu?." ungkap Tesi dengan polos nya.
"Istriku yang polos! Astagaa sayang, aku gemes banget liat kamu."
Meldo langsung melanjutkan aksi nya tanpa memperdulikan berontakan dari Tesi. Kini dunia serasa milik berdua, hanya ada deruan suara kenikmatan yang keluar dari mulut mereka.
------
2 Hari kemudian..
"Kata Tante kamu hari ini bisa keluar dari RS, langsung siap-siap aja kalo gitu." ucap Johan dengan dinginnya terhadap Caroline.
"Tante kemana emang?." tanya Caroline.
"Gak tau kemana. Yaudah, buruan siap-siap! Aku masih banyak urusan, bukan cuma kamu aja yang mau di urus."
"Johan, Johan! Sok iya kamu bisa bersikap dingin kayak gitu."
"Gak usah banyak omong! Buruan siap-siap." ucap Johan dengan penekanan.
30 menit berlalu, kini Caroline telah selesai membereskan barang-barang nya yang tidak terlalu banyak, di karenakan Ia hanya 2 hari di rawat di rumah sakit ini. Johan pun berjalan menuju luar ruangan dengan diikuti Caroline di belakangnya.
Dengan berat hati, Johan mengangkut koper mini milik Caroline ke dalam bagasi mobilnya. Caroline pun masuk dan duduk dengan di susuli Johan yang ikut masuk juga ke dalam mobil.
Dengan kecepatan sedang, Johan melajukan mobilnya. Pandangannya lurus kedepan. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka berdua.
"Aku bener-bener rindu banget sih sama Jakarta." ucap Caroline sambil melirik pandangannya kearah jendela mobil.
Tidak ada tanggapan dari Johan, Ia benar-benar tidak peduli dengan wanita ini. Rasa takut kembali berkecamuk di hati Johan.
'Dia tau kalo Kak Meldo udah nikah! Gimana kalo kali ini sasaran Dia adalah Tesi, istrinya? Mudah-mudahan aja wanita gila ini gak nekat.' gumam Johan dalam hati.
Tbc..