
Setelah selesai makan, Mama dan Caroline berbincang hangat mengenai kesibukan yang sedang digadungi oleh Caroline selama di Amerika. Meldo, Tesi dan Johan hanya memperhatikan dua sejoli itu bercengkrama di meja makan.
"Ma, Meldo dan Tesi pamit." ucap Meldo yang segera berdiri dari duduknya.
"Eh, tunggu.. Kalian nginap disini lagi ya? Besok aja pulang nya." bujuk Mama.
"Enggak, Ma. Kita mau pulang aja. Permisi." ucap Meldo yang langsung menarik tangan Tesi dan pergi melangkah keluar.
Mama menarik nafasnya dengan kasar ketika melihat tingkah Meldo yang sama sekali tidak mempedulikan sepupu nya yang sedang berada Indonesia. Sementara Johan masih dengan santai menyesap teh hijau di meja makan.
"Meldo emang gak pernah berubah. Selalu berbuat suka-suka nya." ucap Mama dengan kesal.
"Gapapa kok, Tante! Mungkin Meldo nya memang capek aja karena banyak kerjaan makanya memilih untuk pulang kerumah nya."
"Yasudah, kamu istirahat aja, Lin. Kamu pasti juga capek banget abis menempuh perjalanan jauh."
"Santai aja, Tan. Aku kan naik pesawat kelas VVIP yang fasilitas nya gak main-main, perjalanan pun terasa santai dan gak membosankan, jadinya gak kerasa capek. Hehe."
Johan mendengar itu pura-pura cuek sambil memainkan handphone nya dan menarik nafasnya dengan dalam. Ia sangat benci sosok wanita ini.
"Kamu ini bisa aja, haha! Yaudah, kalo gitu Tante beresin kamar kamu dulu ya?."
"Eh? Gak usah, Tan. Kan disini banyak pelayan, suruh aja mereka yang beresin."
"Gapapa, kamu kan sesekali mampir ke Indonesia, jadinya Tante mau memperlakukan kamu sebaik mungkin. Yaudah, disini dulu ya sama Johan."
Mama Meldo langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar tamu yang akan di tempati oleh Caroline selama Dia berada di Indonesia. Kini hanya tinggal Johan dan Caroline saja yang ada di meja makan itu.
"Cuek banget? Letakin dulu dong handphone nya." ucap Caroline dengan senyuman tipis nya.
"Gue mau tidur!." ucap Johan yang sudah berdiri.
"Kenapa menghindar? Kejadian itu cuma masa lalu, Jo."
Seketika Johan menghentikan langkahnya dan merekatkan rahangnya dengan keras. Ia pun memutar kembali tubuhnya dan menatap tajam ke arah Caroline.
"Jangan pernah mengusik aku dan Kak Meldo lagi, ngerti?." ucap Johan penuh penekanan.
"Yaampun, sedih banget ya punya sepupu yang bisa nya cuma menilai keburukan masa lalu seseorang aja."
"Diam, Caroline!."
"Jo, ayolah! Mau sampe kapan kamu curigaan terus sama aku? Itu semua udah masa lalu, udah bertahun-tahun berlalu."
"Justru dengan kedatangan kamu ke Indonesia, semakin buat aku curiga sama kamu."
"Hahaha. Astaga, Jo! Ternyata kamu masih kayak bocah ya? Terserah kamu deh. Lagian tujuan aku dateng ke Indonesia karena kangen aja sama kalian, karena aku masih punya keluarga disini, emang salah dengan itu semua?."
"Awas aja ya kalo kamu masih berbuat nekat atau bahkan lebih nekat dari apa yang udah kamu perbuat di masa lalu."
Johan langsung beranjak meninggalkan Caroline sendirian di meja makan sana. Caroline menyeringai memandangi punggung Johan yang menaiki tangga. Dia pun menyesap teh hijau milik Johan sambil menatap sinis cangkir teh itu.
---------
Sekitar jam 10 malam lewat mereka baru sampai di rumah rahasia. Meldo langsung beranjak masuk ke dalam tanpa membukakan pintu untuk Tesi. Tesi merasa heran dengan sikap Meldo saat ini. Ia pun kewalahan mengikuti langkah Meldo yang sangat cepat dari langkahnya.
Sesampainya di kamar, Meldo langsung masuk ke dalam kamar mandi dan sedikit membanting pintunya. Tesi terkaget dengan itu, Ia pun memutuskan duduk di ranjang dan menunggu Meldo selesai dari mandi nya. Beberapa menit kemudian, Meldo keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di pinggangnya.
"Kamu? Kenapa disini?." tanya Meldo dengan heran pada Tesi.
"Kamu..pake baju aja dulu." ucap Tesi yang sudah membelakangi Meldo saat melihat Meldo hanya menggunakan handuk saja.
Ada sedikit ketenangan di hati Meldo yang sedang gusar saat ini, Dia sangat gemas melihat tingkah istri nya yang malu-malu kucing saat melihat penampilan Meldo saat ini. Meldo dengan segera memakai pakaian tidur nya dan sedikit menyisir rambutnya dengan rapih.
"Kamu tadi kenapa sih? Mulai tadi pas di kantor, Bandara, rumah Mama bahkan sampe disini ekspresi kamu aneh." ucap Tesi sambil menunduk menatap Meldo yang asyik menyandarkan kepalanya di paha Tesi.
"Kamu nanti jangan terlalu deket sama si Caroline."
"Hah? Emang kenapa?."
"Pokoknya jangan."
"Alesan nya apa?."
"Nanti kalo ada kesempatan aku ceritain semua sama kamu."
Tesi pun mengalah, Dia tau hati Meldo sedang gusar saat ini. Ia pun menepis kepala Meldo dan merebahkan dirinya di samping Meldo. Matanya lekat menatap manik mata Meldo dengan dalam.
"Kenapa kamu mau nikahin aku?." tanya Tesi.
"Kenapa tiba-tiba nanya itu?."
"Jawab!."
'Memang udah sepantas nya sih aku ceritain alasan nya sama Tesi. Toh, Dia sekarang udah jadi milik aku kok.' gumam Meldo dalam hati.
"Kenapa bengong?." ucap Tesi yang membuyarkan lamunan Meldo.
"Kamu inget gak? Waktu Papa kamu meninggal, kamu ketemu cowok ganteng di kuburan."
"Apaan sih? Serius dong, Meldo."
"Serius! Coba kamu ingat-ingat dulu."
"Gak ingat! Langsung to the point aja lah."
"Kita pernah ketemu di kuburan. Kamu nangis karena Papa kamu meninggal, terus kamu lari dan jatuh, aku tolongin! Terus aku ajak kamu main ke taman dekat kuburan! Kamu manggil aku Prince, aku manggil kamu Queen. Inget?."
Tesi membelalakkan matanya dan langsung terduduk dari rebahannya. Dia ternganga menatap Meldo yang sedang tersenyum berbaring di sebelahnya.
"Jadi kamu..."
"Ya, ini aku. Haha."
"Kok bisa?."
"Sejak pertemuan itu, aku udah jatuh cinta sama kamu. Dan gak di sangka ternyata kita di pertemukan lagi, yaudah langsung aku kawinin aja. Hahaha."
"Terus kenapa sampe nyulik-nyulik segala? Ngomong baik-baik kan bisa tanpa harus maksa kayak kemarin itu? Nambah masalah aja deh."
"Abis aku terlalu cinta sama kamu. Jadi aku kehilangan akal sehat."
"Kamu kok bisa tau kalo aku ini Queen?."
"Aku kan pernah nyita hp kamu waktu kita rapat berdua di restaurant pas dulu. Nah, aku diem-diem ngotak ngatik hp kamu, terus ketemu foto kamu waktu kecil, yaa aku kaget dong pas tau kalo kamu itu Queen."
"Dih, gak sopan bongkar-bongkar privasi orang."
"Biarin."
Tesi pun melempar bantal ke wajah Meldo dengan tawa girangnya. Kini mereka berperang saling melempar bantal dengan penuh galakan tawa di antara mereka berdua. Tanpa sengaja, Tesi tersungkur ke kasur dan diikuti oleh Meldo yang tersungkur juga. Kini posisi Meldo sudah menindih Tesi dan menatap nya dengan lekat. Terdengar degupan jantung di area dada mereka masing-masing.
"Tesi..." bisik Meldo mempesona dan masih menatap lekat wajah cantik istrinya itu.
Tbc..