
Dengan perasaan yang tidak bisa di tebak, Tesi masuk kedalam mobil. Sekilas Ia menatap ambang pintu dan ada Meldo yang juga memandanginya disana. Tesi sangat benci suasana ini, suasana yang mampu mengoyakkan hati dan perasaannya.
"Pak, kita kerumah sakit." ucap Tesi datar pada sang supir.
"Tapi Tuan Meldo menyuruh mengantarkan kerumah rahasia, Mba."
"Ibu saya lagi dirawat dirumah sakit. Masa iya gak saya tengokin?."
"I..iya, Mba."
Dengan kecepatan sedang sang supir mengendarai mobil itu dan berjalan menuju rumah sakit.
Disisi lain, Meldo kembali melangkah menuju ke kamar Caroline. Caroline yang sedang membaca majalah, merasa terkejut saat Meldo masuk kedalam kamarnya.
"Loh? Kamu gak pulang, Do?." ucap Caroline.
"Enggak."
"Kirain ikut pulang juga."
"Aku takut sakit kamu kambuh lagi. Kenapa kamu belum tidur?."
"Belum ngantuk aja."
Perlahan, Caroline meletakkan majalah nya di nakas dan bangkit dari rebahan nya untuk menghampiri Meldo.
"Makasih ya." ucap Caroline.
"Kenapa harus bangkit kalo mau ngucapin makasih doang?."
"Aku cuma gak enak aja sama kamu."
"Udah lah, Lin. Sekarang kamu tidur." ucap Meldo sambil memboyong Caroline ke tempat tidur.
Caroline tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia pun sengaja menyandungkan kaki nya agar Ia terjatuh dan, berhasil. Dengan sigap Caroline menarik Meldo sehingga Meldo pun ikut terjatuh juga. Kini posisi Meldo menindih Caroline, mereka saling menatap dengan dalam.
"Maafin aku ya?." ucap Caroline dengan menggoda.
Hembusan nafas mereka saling menyapu di wajah masing-masing. Hembusan nafas yang hangat membuat gairah keduanya bergejolak. Mereka masih saling menatap. Dan tiba-tiba..
Cup...
Caroline mencium bibir Meldo dan membuat permainan semakin dalam di area bibir mereka. Caroline sengaja, agar Meldo terbuai dan tidak memberontak. Meldo membelalakkan matanya sejenak dan pada akhirnya Ia memejamkan matanya dan membalas ciuman Caroline dengan buasnya. Mereka saling bermain dan merebut area ternikmat didalam sana.
Tangan Caroline menjambak rambut Meldo dari belakang, sementara Meldo meraba tubuh Caroline. Otak kedua nya kini sudah tidak normal. Kesadaran mereka sudah tersisikan oleh nafsu yang tidak terbendung lagi. Ciuman itu semakin panas dan buas, bahkan membuat mereka terguling-guling di lantai sana. Kini giliran Caroline yang menindih Meldo.
Dengan tidak melepas ciuman itu, tangan Caroline pun dengan lihai membuka kancing kemeja Meldo satu persatu dan mengusap dada Meldo dengan lembut agar gairah nya semakin menaik. Namun tiba-tiba..
"Caroline!!." ucap Meldo dengan membantak.
Kini kesadaran Meldo telah kembali. Dengan nafas yang tersengal Ia menatap tajam wanita itu.
"Sssstttt.. Jangan kuat-kuat! Nanti ketauan." ucap Caroline dengan menggoda.
"Kamu gila ya!."
"Kamu yang gila, Meldo. Kamu bahkan ngerasain kenikmatan yang aku kasih! Disaat...kamu udah punya istri."
"Lepasin aku!."
"Meldo, aku udah men-sterilkan! Itu artinya, aku gak akan bisa hamil. Jadi, gak usah takut dan kita lanjutkan malam panjang ini dengan banyak kenikmatan."
"Gila ya kamu!." ucap Meldo sambil menghempaskan Caroline yang sedari tadi menindihnya.
Dengan sigap, Caroline menangkap Meldo dan mendorong Meldo dengan kuat hingga Ia terjatuh di kasur.
"Kamu bahkan udah bergairah, gak usah sok munafik deh." ucap Caroline yang kembali menindih Meldo.
"Caroline, lepasin! Jangan gila ya kamu." ucap Meldo dengan bentakan sambil menatap tajam Caroline.
Kini Caroline sudah melepas celana Meldo hingga tak tersisa penutup apapun di area sana. Caroline dengan lihai bermain di area itu dan terus berusaha membuat Meldo kenikmatan.
"Caro...Line... Mmpphh." ucap Meldo terbata dan berusaha menahan desahannya.
"Aahh." desah Meldo yang sudah tidak bisa tertahan lagi sehingga nafasnya pun tersengal.
Caroline benar-benar berhasil membuat Meldo merasakan kenikmatan yang tiada tara. Meldo sudah melupakan kesadarannya, kini Ia memejamkan matanya dan mengeluarkan suara yang penuh dengan kegairahan. Ia bahkan menekan kepala Caroline untuk memperdalam permainannya.
__________
Tesi turun dari mobilnya dan kini memasuki area rumah sakit. Langkahnya pelan sambil memandangi area sekitar.
"Kenapa perasaan ku gak enak ya?." gumam Tesi.
Tesi berhenti sejenak dan mengambil nafasnya dengan dalam. Dari kejauhan, ada seorang Dokter tampan yang sedang memperhatikannya.
"Tesi.."
"Eh, Juan?."
"Kamu kenapa?."
"Gapapa kok."
"Gapapa kok, Ju. Paling cuma kecapean doang."
"Yuk, aku periksa dulu. Ikut aku ke ruangan pemeriksaan."
Dengan paksa Juan menarik tangan Tesi dan membawa nya menuju ruangan pemeriksaan. Tak butuh waktu lama, Juan langsung menyuruh suster menyiapkan semua nya untuk melakukan pemeriksaan terhadap Tesi.
"Kamu baringan dulu, Tes." ucap Juan.
Tesi pun membaringkan dirinya, sementara Juan mulai memeriksa Tesi. Sontak, Juan merasa kaget dan sepertinya ada yang mengganjal pada diri Tesi.
"Kenapa, Ju? Kok ekspresi kamu kayak gitu?." tanya Tesi yang tidak kalah kaget.
"Kamu.. ada ngerasa mual-mual nggak belakangan ini?."
"Enggak sih. Baru kali ini aja aku ngerasa gak enak badan."
"Tunggu bentar ya. Kamu jangan kemana-mana."
Juan pun pergi meninggalkan Tesi. Sementara Tesi merasa heran dengan sikap Juan yang sepertinya sedang menerka sesuatu. Juan menemui seorang temannya di bagian Poli yang berprofesi sebagai Dokter Kandungan, Dokter itu bernama Zia.
"Zee.. Zee." panggil Juan.
"Ya? Kenapa, Ju."
"Gue minta tolong, periksain temen gue ya? Gue punya dugaan kalo temen gue ini hamil."
"Temen? Temen yang mana?."
"Ada tuh temen gue. Ikut gue sekarang."
Juan berjalan dan diikuti oleh Zia dari belakang. Pelan, Juan membuka pintu ruangan itu dan langsung menatap Tesi dengan senyuman. Tesi merasa heran dengan kedatangan dokter cantik itu.
"Oh ini temen lu." ucap Zia sambil tersenyum kearah Tesi.
"Iya, lu periksa ya."
"Ini kenapa ya?." tanya Tesi merasa heran.
Tanpa menanggapi Tesi dan dengan alat-alat khusus, dokter Zia memeriksa Tesi. Beberapa menit kemudian, Zia tersenyum melebar menatap Tesi.
"Selamat ya. Mba siapa namanya?." ucap Zia.
"Saya Tesi. Maksud nya ini selamat apa ya, Dok?."
"Mba nya hamil."
Mata Tesi terbelalak dan langsung bangkit dari baringannya. Juan pun ikut senang dan merasa lucu dengan tingkah Tesi.
"Hamil? Yaampun, aku seneng banget." ucap Tesi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Selamat ya, Tes. Oh iya, suami kamu gak ikut kesini? Kamu kesini mau jenguk Ibu kamu kan?."
"Sepupu nya suami aku lagi sakit, Ju. Makanya Dia gak bisa ikut kesini."
"Oh gitu, yaudah sekarang kamu mau keruangan Ibu kamu?."
"Iya."
"Yuk, aku antar."
Dengan semangat Tesi berjalan menuju ruang rawat inap Ibu dan segera memberi kabar baik ini. Pelan, Juan membukakan pintu ruangan itu dan mendapati Ibu yang sedang tertidur pulas.
"Yahh.. Ibu udah tidur." ucap Tesi dengan berbisik.
"Kan masih ada hari esok, Tes. Gak sabaran banget sih kamu. Hahaha."
Juan pun berpamit karena Ia harus bertugas lagi. Sementara Tesi, Ia pun memilih untuk tidur juga.
_____
Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 WIB. Meldo terbangun dari tidur nya. Ia mengerjapkan matanya dan menoleh kearah samping lalu menatap Caroline dengan tatapan yang penuh penyesalan. Ia menarik nafasnya dengan dalam dan mengusap rambut nya dengan kasar sambil mendudukkan dirinya. Ia kembali menatap Caroline yang tertidur pulas. Entah apa yang merasuki otak nya sehingga Ia rela tidur bersama dengan sepupu nya sendiri.
Dengan langkah gontai, Ia menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya di washtafel. Ia menatap dirinya di cermin dengan perasaan yang tidak bisa di tebak.
30 menit kemudian, Meldo sudah rapi dengan pakaian nya. Caroline yang menyadari itu segera bangun dan melepas selimut nya. Dengan tanpa sehelai benang pun di tubuhnya, Ia memeluk Meldo dari belakang.
"Lepasin aku, Caroline. Pake baju kamu. Aku harus pergi sekarang! Ingat, jangan kasih tau ke siapa pun tentang kita berdua." ucap Meldo dengan tegas dan berlalu pergi begitu saja.
Dengan senyuman sinis Caroline menatap dirinya di cermin dan memuji tubuh indah nya.
"Kamu cuma ngancam sekecil itu. Berarti, di lain waktu kita bisa melakukan hal yang sama lagi kan, Meldo." gumam Caroline dengan sendirinya.
Ia pun berbalik menatap ranjang yang ada di belakangnya dengan senyuman sinis sekaligus bangga karena Dia merasa telah menang.
"Ranjang ini menjadi saksi bisu atas cintaku sama Meldo."
Caroline kembali merebahkan dirinya, Ia kembali bergairah mengingat kejadian semalam. Ia pun menuntaskan gairahnya itu dengan bermain sendiri sembari melihat foto Meldo yang ada di ponsel nya.
Tbc...