
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
Beberapa bulan kemudian.
Dalam sebuah ruang persalinan terlihat seorang wanita sedang berjuang melahirkan bayinya dengan ditemani seorang pria di sebelah nya. Dia adalah Axel dan wanita tersebut istrinya Bianca.
Axel terus memberikan semangat untuk istrinya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya terdengar suara tangisan bayi. Yang mana membuat mereka lega.
“selamat tuan dan nyonya anak anda laki-laki” ucap sang dokter sambil mengangkat bayi tersebut untuk dibersihkan.
Axel dan Bianca tersenyum bahagia, “makasih ya sayang” ucap Axel sambil mengecup kening istrinya.
Bianca yang masih kelelahan hanya mengangguk sambil tersenyum, ia tak menyangka tepat detik ini ia telah menjadi seorang ibu dan Axel seorang Ayah.
Kemudian, seorang suster kembali menyerahkan sang bayi ke arah Axel untuk di azankan. Lalu sang Dokter meminta Bianca untuk memberikan asi pertama untuk si bayi.
“Baiklah, tuan dan nyonya saya tinggalkan dulu” ucap sang dokter. Lalu dia pergi diikuti suster tadi keluar dari ruangan tersebut.
Tak lama setelah dokter itu pergi, masuk beberapa orang yang tak lain adalah keluarga Axel termasuk Kakek Leon, Riana dan si kembar serta Dinda.
“Wah...mana cucu Oma!” Heboh Alina langsung bergegas mendekati Axel yang sedang menggendongnya.
“Akhirnya kakek masih bisa melihat cicit kakek!” ucap Kakek Leon yang sedang duduk di kursi roda di dorong oleh Diva terlihat sangat bahagia sekali dapat melihat cicitnya.
Yang lain ikut senang mendengar ucapan kakek Leon.
“Ayo sini biar mom gendong!” Alina dengan cepat mengambil alih dari gendongan Axel.
“Aduh, benar-benar mirip kamu Axel”
“Oiya...apa kalian udah siapkan namanya?” Amanda menatap arah Axel dan Bianca.
“Kalo belum, biar Daddy yang kasih” ucap Reynand tersenyum lebar berharap putra dan mantunya mengizinkan.
“Tidak usah ikutan bang, biar jadi urusan Axel sama Bianca karena mereka orang tuanya” cegah Zayn mematahkan semangat Reynand.
Reynand hanya menatap sinis, “cih...” Zayn hanya membalas acuh tak acuh.
“Benar, biar cucu ku saja” Kakek Leon membenarkan karena tidak ingin terjadi perdebatan panjang tak berguna.
Berbeda dengan Axel dan Bianca mereka hanya mendesah pelan melihat tingkah ke-duanya.
Kemudian Axel menjawab dengan tegas, “Hmm... ARKANSA LEON ALEXANDER!” Membuat yang lain terdiam namun kemudian mereka tersenyum lebar karena nama sangat bagus dan terlihat cocok untuk si kecil.
“Nama yang keren bang!” Seru Daniel yang sedang menatap ponakannya itu dengan mata berbinar, saat akan mencubitnya langsung dihentikan mommy Alina.
“Hehehe...” Daniel hanya cengengesan sambil menggaruk batang hidung nya. Mereka hanya geleng-geleng kepala melihat nya.
Kakek Leon bahkan semakin senang dan tertawa bahagia, “Hahaha...cucuku memang terbaik” Karena ada namanya juga tercantum disana, ya jelaslah dia bahagia.
Axel sendiri hanya tersenyum tipis karena memang ia dan Bianca sengaja memasukkan nama sang kakek biar kakek nya semakin bahagia. Bagaimana pun ia sangat menyayangi sang kakek melebihi orang tua nya sendiri.
“Jadi mulai sekarang kita panggil Arkan atau Kansa?” Angel bertanya sambil menatap Axel dan Bianca.
“gimana kalo Arkan aja lebih keren” saran Wiliam memberi pendapat.
“terserah” ucap Axel acuh begitu pun Bianca karena ia sendiri juga tidak mempermasalahkan panggilan apa yang penting jangan aneh-aneh.
“Hais...ribut amat sih, panggil Arkan aja biar mudah” ujar Dava jengah, nama panggilan nya di ributin kayak anak TK aje.
...----------------...
...----------------...
EMPAT TAHUN KEMUDIAN
Di halaman depan kediaman Alexander terlihat seorang bocah laki-laki sedang bermain mobil-mobilan bersama seorang bocah perempuan lebih kecil darinya. Sesekali terdengar suara tawa bocah dari mereka.
“yuhuuu...”
“Yeey...Abang menang lagi, Rara kalah..” seru bocah laki-laki bersorak girang sambil menjulurkan lidahnya bermaksud mengejek pada bocah perempuan yang dipanggil Rara tersebut.
Rara cemberut, “Iihh...Abang Alkan gak acik maca gak mau ngalah!” rengek Rara dengan suara cadelnya.
Bocah laki-laki itu ialah Arkan putra Axel dan Bianca sedangkan Rara putri Angel. Keduanya hanya beda setahun.
Tak lama setelah itu terlihat seorang wanita perut buncit menghampiri mereka dengan langkah pelan.
“Arkan, Rara sini masuk sayang” Mendengar suara tersebut Kedua nya langsung menoleh.
“Arkan belum selesai main bunda!” Yap wanita itu adalah Bianca yang mana sedang hamil anak kedua nya.
Rara langsung beranjak memeluk kaki Bianca. “bunda, lala ndk cuka main ama bang Alkan, bang Alkan ndk mau ngalah” Rara mengadu pada Bianca dengan bibir maju beberapa senti.
Bianca hanya tersenyum melihat tingkah manja Rara padanya.
“Udah, nanti bunda jewer bang Arkan. Sekarang Rara masuk ya nanti di marahin mama Angel” ucap Bianca sambil mengusap lembut rambut Rara.
Rara mengangguk imut dan berlari kecil memasuki rumah.
Setelah melihat Rara masuk, Bianca kembali menatap sang putra, “Arkan sayang udahan dulu mainnya, sekarang masuk kamu belum makan siang nanti Ayah tau bisa marah lho...kamu mau ayah marah!” Bianca mencoba membujuk Arkan, Arkan itu sangat nakal dan susah sekali dibilangin jika tidak diancam dulu. Namun walaupun begitu dia sangat penyayang, apalagi saat melihat bundanya sakit dan menangis dia paling pertama merespon bahkan Axel ayahnya saja kalah. Tapi Arkan takut sekali saat melihat Ayahnya marah makanya Bianca sering mengancam menggunakan Axel biar putranya itu menurut.
Mendengar Ayahnya, Arkan langsung ciut dan cemberut, “iih... jangan bilang Ayah bundaa...Arkan takut liat ayah marah nanti Arkan di kasih ama om-om jelek” rengek Arkan sambil melempar mobil-mobilan nya karena kesal.
Bianca tertawa melihat wajah cemberut itu apalagi saat mendengar om-om jelek karena ia tau banget siapa yang dimaksud putranya yang tak lain adalah harimau peliharaan Axel yang sudah tumbuh besar.
“Nah, kan udah tau takut. Ya udah sekarang nurut gak boleh membantah lagi, anak baik harus nurut sama orang tua”
Arkan mengangguk cepat karena ia gak mau jadi anak gak baik takut nanti di marahin Ayah Axel.
Bianca tersenyum melihat respon putranya, padahal ia hanya bercanda sebegitu takutnya ayahnya akan marah.
“Ya udah yuk masuk” Arkan menurut dan mengikuti bundanya masuk ke dalam.
...TAMAT...
... ...
Terimakasih semuanya atas dukungannya selama ini, mohon maaf kalo jika ada salah kata. Author akan tamatkan novel MY HUSBAND IS MAFIA cukup sampai disini. Maaf jika para readers kecewa atau apalah karena memang hanya sampai disini.
Dan rencananya Author juga bakalan buat novel lagi. Jangan lupa nanti mampir lagi ya😊