My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Kekesalan Faisal



...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...


...----------------...


...----------------...


Sekitar jam sepuluhan Bianca berangkat ke kampus, walaupun selangkang nya masih terasa sedikit ngilu ia tetap pergi karena tidak ingin ketinggalan studi.


Sesampai di kampus saat akan pergi kearah ruangan kelasnya langkahnya harus dihentikan oleh seorang yang tak lain adalah Faisal.


“Heii...” Sapa Faisal sambil tersenyum saat telah berada di dekat Bianca.


Bianca hanya tersenyum kecil sebagai balasannya.


“mau ke kelas kan” tanya Faisal yang hanya di anggukan oleh Bianca. Semenjak Faisal mengungkapkan perasaannya Bianca jadi sedikit tak nyaman, tidak seperti dulu lagi, entah kenapa ia juga tak tau.


“Bareng aja yuk, aku juga mau kesana mungkin sebentar lagi akan masuk” kata Faisal sambil melihat jam ditangannya.


“Hmm...” angguk Bianca dan melanjutkan langkahnya yang diikuti oleh Faisal.


Faisal yang berjalan di belakang Bianca sedikit heran melihat cara berjalan Bianca terlihat aneh.


“Bii...kamu kok jalan ngangkang gitu!” tanya Faisal tampak khawatir yang membuat Bianca langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


“Hah... kenapa? Biasa aja kok. Udah ah cepat masuk nanti dosen masuk” kata Bianca pura-pura kebingungan untuk menutupi kegugupannya lalu dengan cepat pergi memasuki ruangan kelas tak jauh dari depan nya.


Faisal hanya terdiam melihat kepergian Bianca dengan cepat seperti menghindari sesuatu.


Namun, setelah itu sebuah senyuman terukir di bibir Faisal.


“Entah kenapa semakin lama kamu semakin cantik dan membuatku semakin ingin memilikimu” gumam Faisal dengan tatapan penuh cintanya.


“liat saja nanti kamu akan jatuh ke pelukan Faisal ini, hehehe...” sebuah senyuman licik terlihat di bibir Faisal. Kemudian, mengikuti langkah Bianca memasuki kelas.


 


Didalam Bianca terlihat sedang di godain terus oleh Dinda.


“Ciiee... cuyuung aku udah gak perawan lagi. Gimana enak gak main sama suami dingin?” Dinda terus menggoda Bianca yang membuat pipi Bianca memerah karena teringat kejadian semalam.


“Jangan keras-keras nanti kedengaran sama yang lain!” tegur Bianca dengan cemberut.


Dinda yang sadar hanya cengengesan saja.


“Kayaknya bentar lagi aku bakalan dapat ponakan nih” kata Dinda sambil melirik Bianca dengan tersenyum kecil.


Bianca semakin cemberut.


“benar ya harus cepat-cepat kasih aku ponakan yang imut” ucap Dinda lagi seperti meminta permen saja.


“Ish...kamu pikir makan dibuat langsung jadi” gerutu Bianca terlihat kesal.


“Gak tau, aku gak pernah coba” jawab Dinda dengan polosnya. Bianca yang kesal langsung mencubit kesal pipi sang sahabat.


 


Ditempat Faisal duduk, ia terlihat penasaran yang diobrolkan mereka yang mana ia melihat reaksi Bianca malu-malu.


“Jangan bilang mereka lagi omongin lelaki yang jadi kekasih Bianca” tebak Faisal tampak tak senang.


“Sebenarnya siapa sih lelaki yang beruntung mendapatkan Bianca, cih...gue gak rela bagaimanapun caranya Bianca harus jadi milik gue walaupun jika dia istri orang” batin Faisal sambil menyeringai, pikirannya sudah mulai tak waras hanya demi mendapatkan Bianca.


Berselang lama kemudian, masuk seorang dosen yang akan mengajar jam ini.


🌿🌿🌿


DI KEDIAMAN KAKEK LEON.


“Kek, bagaimana kalo kita pergi ketempat bang Axel, pengen ketemu sama bang Axel. Kita juga mau ketemu kakak ipar” rengek Diva sambil mengerucutkan bibirnya.


“Benar kek, sejak kita disini kita gak pernah diajak kerumah bang Axel” sambung Dava.


Kakek Leon hanya terkekeh pelan mendengar rengekan si kembar.


“Makanya sana sekolah yang rajin jangan jadi pemalas” kata kakek Leon, seperti sekarang ini seharusnya kedua cucunya itu sekolah tapi malah bangun kesiangan dengan alasan malas sekolah karena gak mau mengikuti pelajaran pak botak.


“Apa hubungan nya kek?” kesal Dava yang di anggukan oleh Diva.


“Ada lah, kalo kalian malas-malasan lagi kagak akan boleh pergi ketemu Axel, apa kalian mau di marahin Axel! Dia paling gak suka sama anak pemalas” ucap kakek Leon bermaksud menakut-nakuti mereka, walaupun sebenarnya tidak sesuai faktanya karena setuanya Axel gak akan terlalu peduli dengan mereka.


Mereka ketakutan karena mereka pernah melihat mode marah seorang Axel dan itu sangat menakutkan.


“Baik kakek, mulai sekarang kita gak bakalan malas-malasan lagi” jawab kedua dengan cepat.


Leon tertawa, “nah, gitu dong ini baru cucu kakek” ucapnya sambil mengacungkan jempol.


“Ehehe...terus kapan kita ketempat bang Axel kek”


“Nanti sore kita kesana, tunggu papa kalian pulang dulu” balas Kakek Leon.


Mereka bersorak senang, wajarlah mereka terlihat kanak-kanakan karena umurnya masih 14 tahun masih SMP, namun walaupun begitu mereka terkenal kenakalan di sekolah, walaupun berbeda kelamin namun, sifat mereka sama saja kagak ada bedanya mungkin karena kembar jadi wajarlah. Otak mereka juga tak kalah pintarny turunan dari sang Kakek.


...


Beberapa jam kemudian, Bianca sedang berdiri di dekat halte menunggu jemputan dari sang sopir. Untuk Dinda ia telah pergi duluan, sebenarnya Bianca diminta untuk naik namun, Bianca menolak karena akan dijemput.


“Hufff...kok lama ya, katanya udah berangkat dari tadi!” Karena telah hampir sejam jemputannya belum juga datang.


Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti didepan nya. Saat kacanya diturunkan Bianca sangat tau siapa lagi kalo bukan Faisal.


“aku liat dari tadi kamu berdiri disini, bagaimana kamu naik mobil aku aja biar sekalian aku antarin” ucap Faisal mencoba menawarkan tumpangan kepada Bianca karena itu memang keinginannya.


Bianca menggeleng, “gak usah, udah ada yang jemput”


“jemputan dari siapa pacar kamu, tapi dari tadi kenapa gak sampai-sampai. Emang kamu gak capek apa berdiri terus” kata Faisal sedikit sinis tak suka saat menyebut kata 'pacar'.


Bianca tak terlalu peduli, saat itu juga datang jemputan nya.


“Maaf nyonya, tadi mobil sempat mogok jadi harus dibenarkan dulu. Ingin bilang pada nyonya handphone saya ketinggalan di rumah” ucap pak Didi meminta maaf karena membuat nyonyanya menunggu.


Bianca hanya tersenyum, “gak apa-apa pak, saya ngerti kok”


Pak Didi jadi lega mendengarnya, dan mempersilahkan nyonyanya masuk.


 


Faisal tampak kesal karena gagal mengajak Bianca bersamanya.


“Ck, sialan! Kenapa sih semenjak Bianca diusir om Denis, dia tidak terlihat sedih lagi. Malahan dia seperti tak memiliki beban, dan nyonya apa maksud pak tau itu. Apa mungkin Bianca telah menikah!”  Pertanyaan dan pertanyaan membingungkan terus muncul di benak Faisal dengan kehidupan Bianca sekarang. Saat bertanya pada Dinda tidak dijawab sama sekali, saat melakukan penyelidikan dan mencari tempat tinggal Bianca malahan seperti ada yang sengaja menghalanginya.


 


Setengah perjalanan, Bianca terlihat kebingungan karena jalurnya bukan kearah mansion.


“Kita mau kemana pak? Kenapa jalurnya bukan ke mansion” Bianca bertanya dengan kebingungan.


“Tuan meminta saya mengantarkan nyonya ke kantor perusahaan Xander Grup” jawab pak Didi dengan jujur. Karena memang waktu masih di mansion tuan Axel menelponnya.


Bianca hanya mengangguk, dia juga penasaran maksud dari suaminya. Namun, ia tidak mempertanyakan nya karena nanti juga akan tau.


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT