My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Bianca kecelakaan



...🌷 SELAMAT MEMBACA 🌷...


...----------------...


...----------------...


Di kampus Bianca dan Dinda terlihat sedang mengobrol di taman belakang, di belakangnya juga terlihat dua pria berjas hitam mengawasi mereka. Lebih tepatnya mengawasi Bianca atas perintah Axel. Bianca sendiri sebenarnya sangat risih sekali kemana-mana selalu diikuti mereka.


“Kalian bisa sedikit menjauh tidak” kata Bianca kesal mau ngobrol pun ia risih.


“Tidak bisa nyonya, ini perintah bos!” Jawab salah satu nya datar membuat Bianca semakin kesal.


“Tapi jangan dekatan juga, agak jauhan sedikit” ketus Bianca.


“Iya, kita mau ngobrol soal para wanita” Dinda ikut menambah kan.


Akhirnya kedua nya menurut dan berdiri sedikit menjauh dari kedua wanita tersebut.


Dinda dan Bianca sedikit lega melihat nya, “mereka benar-benar kek patung, apa gak bosan berdiri terus!” oceh Dinda.


“Gak tau, mungkin tubuh mereka terbuat dari besi” jawab Bianca ketus.


“Lagian suami kamu berlebihan banget sih”


Bianca mengedikkan bahunya, “ya begitu lah semenjak perut aku semakin membesar dia semakin posesif”


Dinda hanya mengangguk mengerti, orang besar seperti Axel pasti banyak saingan nya jadi wajar ia menjaga keluarga nya apalagi Bianca sebagai istri nya.


“gimana? Kamu udah periksa belum cewek apa cowok?” tanya Dinda melirik perut buncit Bianca.


Bianca menggeleng dan berkata, “di larang mas Axel, katanya gak perlu nanti pas lahiran tau juga”


“Yah kok gitu sih, padahal aku udah penasaran lho” keluh Dinda tak jadi bersemangat.


Bianca hanya terkekeh pelan, “sabar aja tiga bulan lagi bakal tau”


Dinda sedikit cemberut, “berarti harus siapin nama sepasang dong, kasih tau aku dong seperti apa namanya?” rengek Dinda memelas.


“Gak bisa, RAHASIA!”


“Yah, main rahasiaan segala. Ya udah deh gak papa yang penting namanya bagus dan sesuai sama debay nya”


Bianca tertawa melihat wajah cemberut sahabatnya itu.


“Pengen banget punya debat ya, kenapa gak nikah aja sama kak Marsel kan cocok tuh!” Ledek Bianca membuat Dinda semakin cemberut.


“Apa sih, aku belum pengen nikah cepat, aku mau kerja dulu baru nikahan. Lagian diakan udah tua mana cocok!” jawab Dinda tanpa kebohongan karena memang benar ia belum ke pikiran untuk menikah sebelum bekerja.


“Yakin, pas ketemu aja kamu langsung jatuh cinta pandangan pertama”


“Lagian dia cuman tua dua tahun dari mas Axel belum tua amat cocok kok sama kamu, nanti kelamaan diambil orang lho!” Bianca semakin gencar menggoda Dinda.


“bodoamat, kalo jodoh mah gak kemana!” jawab Dinda ketus.


“Iya sih, tapi mana tauan kan gak jadi jodoh malah sama orang lain” nah mulai lagi.


“Udah deh gak usah bahas itu lagi, aku lapar nih kantin yuk!”


Bianca tertawa namun tetap menuruti perkataan Dinda


“Yuk”


Melihat Nyonyanya dan Dinda  beranjak, mereka dengan cepat mengikuti dari belakang. Mahasiswa-mahasiswi disana juga sudah tau identitas Bianca bahkan banyak dari mereka merasa iri.


Dan sebagian ada juga yang mencoba mendekati Bianca untuk ber temanan tapi Bianca hanya acuh saja karena sudah tau akalan orang seperti itu dan bagi nya Dinda saja sudah cukup tidak munafik seperti mereka.


🌿🌿🌿


Sebuah mobil sport hitam melaju di tengah jalan kota, didalam-Nya bagian belakang sopir terlihat seorang wanita yang tak lain adalah Bianca yang duduk didepan nya dan menyetir itu yang tak lain adalah kedua bodyguard tersebut.


Saat melihat-melihat keluar kaca mobil Bianca melihat sesuatu dan meminta berhenti.


“Berhenti bentar, saya mau beli sesuatu”


“Baik nyonya” Lalu memberhentikan mobilnya ke tepi jalan, kemudian Bianca bergegas keluar diikuti salah satu bodyguard tersebut.


“Eh, biar saya sendiri aja om disini aja” ucap Bianca memerintah.


“Tapi Ny...”


“Gak ada tapi-tapian ini perintah. Lagian dekat juga” Bianca dengan cepat memotong ucapan nya.


Akhirnya dia menurut dan Bianca bergegas menyebrang dengan hati-hati karena tempat tujuannya memang di seberang.


Braaak...


Beberapa orang melihat itu langsung berteriak kencang dan menyumpahi, mengutuk pemilik mobil tersebut begitupun kedua bodyguard itu.


“Nyonyaaa!...”


Mobil itu juga langsung pergi tanpa berhenti seperti sengaja melakukannya.  Keadaan Bianca jangan ditanyakan lagi dia sudah tergeletak penuh darah dan tak sadarkan diri.


Kedua bodyguard tersebut sangat murka dan cemas sekali, murka karena penabrak dan cemas bosnya mengamuk serta keadaan nyonyanya.


Tanpa menunggu ambulance datang mereka melarikan Bianca dengan cepat kerumah sakit tak lupa mengabari bosnya.


 


Di tempat lain, Axel yang sedang meeting tiba-tiba saja ponselnya berdering namun tak mengangkat nya dan meminta Marsel. Marsel mengerti keluar dari ruangan tersebut kemudian mengangkat panggilan nya.


“Hallo...ada apa?” ucap Marsel setelah mengangkat dari nama ia sudah tau siapa penelpon.


“Gawat bos...”


“gue Marsel, bos lagi meeting. Langsung ke intinya saja!”


“n-nyonya...nyonya kecelakaan tuan! Sekarang kami berada di rumah sakit milik bos”


“Apa!” tanpa banyak bicara Marsel bergegas masuk dan mengatakan pada Axel. Kebetulan juga meeting nya sudah selesai.


“KAU TIDAK BERBOHONG KAN!” suara Axel menggelegar membuat yang lain ikut kaget. Marsel mengangguk takut.


“Berangkat sekarang!” tekan Axel bergegas keluar, jantung nya berdegup kencang mendengar berita itu. Dia sangat cemas sekali keadaan istrinya apalagi istrinya sedang hamil besar. Bahkan ia sampai lupa mengabari keluarga nya karena terlalu panik.


Beberapa saat kemudian, sampai dirumah sakit Axel bergegas masuk kedalam terlihat sekali dari raut wajahnya sangat khawatir dan cemas sekali.


Sampai di ruangan UGD disana terlihat kedua bodyguard nya dengan pakaian terkena darah.


“Bagaimana!” tatapan Axel sangat dingin dan tajam sekali membuat kedua nya ketakutan.


“Masih pemeriksaan bos” jawab salah satunya.


Axel mengusap wajah dengan kasar, “bagaimana ini bisa terjadi? Apa kalian tidak menjaganya dengan baik Hah!”


Keduanya menunduk ketakutan, melihat itu Marsel menepuk bahu mereka, “kalian gak perlu takut sekarang ceritakan” Mendengar ucapan Marsel mereka sedikit tenang kemudian menjelaskan semuanya penyebab kecelakaan tersebut.


Selesai mendengar semuanya, rahang Axel langsung mengeras.


“Marsel!” 


“Baik bos”  Kemudian, Marsel pergi diikuti kedua bodyguard tersebut menyelidiki dan mencari sang pelaku.


Axel juga segera mengabarkan pada keluarga nya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya pintu itu terbuka dan keluar seorang dokter.


“Bagaimana dok! Istri saya baik-baik saja kan!” Dokter itu sedikit merinding melihat tatapan dan suara dingin Axel.


“Hahh...maaf tuan...” belum selesai dokter itu berbicara Axel langsung memotong nya dengan bentakan.


“Jangan pernah kau bilang kata-kata itu! Istriku dan anakku baik-baik saja kan!” suara Axel semakin dingin sambil menarik kerah seragam dokter tersebut.


“Jangan begini tuan, dengarkan dulu penjelasan saya!” ucap sang dokter tergagap. Lalu Axel melepaskan tarikan nya membiarkan dokter itu menjelaskan.


Setelah bernafas lega dia menjelaskan, “ bayi dalam kandungan nyonya baik-baik saja namun keadaan nyonya sedang kritis karena kehilangan banyak darah dan jika besok masih tak sadarkan diri maka harus dikatakan koma!”


Axel langsung lemas mendengar nya walaupun bayinya baik-baik saja tapi istrinya...


“tapi tuan tenang saja kami akan lakukan terbaik kebetulan ada beberapa kantong darah yang sesuai dengan golongan nyonya”


Axel sedikit lebih tenang mendengar nya tapi ia mengumpat dalam hati, “dokter sialan! Kalo akhirnya begitu kenapa harus buat gue sangat cemas. Lama-lama gue pecat juga nih dokter!”


Dokter itu juga langsung permisi kembali masuk kedalam.


 


Beberapa setelah itu kedua orang tua Axel dan yang lain datang, mereka langsung bertanya keadaan Bianca pada Axel.


Setelah mendengar jawaban Axel mereka sedikit lega tapi tetap khawatir dan cemas.


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT