
...🌷 SELAMAT MEMBACA 🌷...
...----------------...
...----------------...
Karena hari ini hari libur, Axel malah masih tidur pulas padahal jam sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Bianca juga terheran tidak biasanya suaminya bangun kesiangan biasanya walaupun hari libur ataupun tidak dia tetap bangun pagi.
“Mas bangun! Kamu gak lapar jam segini masih enakkan tidur” sudah sekian kalinya Bianca membangunkan namun tetap tak ada pergerakan.
“ck, susah banget bangunnya” karena terlalu kesal ia mengambil air dan membasahi wajah Axel.
“Bangun! Masih belum bangun juga”Â
“Hm...” Hanya deheman balasan dari Axel tanpa ingin membuka matanya.
“Aku masih mengantuk jangan ganggu!” ucapnya serak sambil menaiki selimut nya kembali membungkus tubuhnya.
Bianca hanya menatap heran, “apa karena aku semalam, tapikan gak segini juga”
“Hufff...lelah banget kayak nya, kacian suami aku. Bobok yang nyenyak ya sayang, Cup” sambil mengecup kening Axel dan beranjak keluar kamar tidak ingin mengganggu tidur suaminya lagi.
Ia pergi ke ruangan makan, disana telah berkumpul semuanya akan menyantap makan pagi.
“Axel mana sayang!” tanya Alina karena tak melihat batang hidung putra nya.
“Masih tidur mom, ngantuk banget gak mau bangun” Bianca menjawab sambil duduk di kursi yang tersedia.
Semua nya ber oh ria saja dan menyantap makanan mereka begitupun Bianca.
Di kamar, Axel terbagun karena deringan ponselnya.
“Hoaam... mengganggu saja!” dengan ogah-ogahan ia mengangkat panggilan nya.
“Hm...”
“*Eh, baru bangun bos*!”
“Ada apa? Pagi-pagi mengganggu tidur ku!”
“*Maaf bos, saya lupa kalo disana masih pagi. Ini bos saya sudah dapat pesanan yang bos minta? Apa perlu dikirim sekarang*?”
“Hm... berapa ekor!”
“*Kembar bos, sayang bos kalo diambil satu jadi saya beli keduanya*”
“Hm...” tanpa peduli ia mematikan panggilan nya.
 ~~~
Di seberang sana, Eric sang penelpon kembali mengumpat, “Benar-benar Bos menyebalkan!”
“oke, Lo harus sabar Eric demi pekerjaan dan jabatan Lo!”
Balik lagi ke tempat Axel, selesai melempar ponsel sembarangan arah ia beranjak dari tempat tidur pergi ke dapur karena tenggorokan nya terasa kering.
Sesampai di lantai bawah saat melewati ruangan keluarga ia terheran melihat istri menangis dalam pelukan mommy Alina.
“Apa yang terjadi?” Ekspresi Axel berubah dingin sambil berjalan menghampiri istrinya matanya juga berubah tajam menatap semuanya.
Bianca yang mendengar suara suaminya langsung berhambur dalam pelukannya.
“Huaaa...mas!”
“Kenapa Hm?” saat melihat mata istrinya sangat sembab rahangnya mengeras berarti istrinya menangis dari tadi.
Daniel, Angel, Wiliam, Reynand dan Alina tampak menghela nafas dengan berat. Melihat itu Axel semakin curiga.
“Kalian, apa yang kalian lakukan sampai membuat istriku menangis!” bentaknya marah kalo bukan mereka siapa lagi yang melakukan.
“Bukan kita Axel, kamu jangan marah-marah dulu nak!” ujar Alina.
Axel hanya acuh, “sekarang kamu bilang? Kamu kenapa sampai menangis begini?” Axel lebih memilih bertanya pada istrinya dengan penuh kelembutan.
Bianca menggeleng, “bukan. Kamu jangan marahin mereka, bukan karena mereka”
Axel semakin bingung, “terus karena apa?” ia sampai lupa tujuan awalnya padahal sudah haus sekali.
“Itu...!”
“Itu apa? Ngomong yang jelas”
“Hah...” Axel langsung terbengong dan menatap istrinya rumit.
“Astaga, bikin jantungan aja” dengan penuh kekesalan ia melanjutkan langkahnya ke dapur untuk membasahi tenggorokan nya yang sudah tak tahan ingin minum.
Bianca yang ditinggal begitu saja mengentakkan kaki kesal masih dalam keadaan menangis.
Alina kembali menenangkan sang menantu dibantu oleh Angel.
“Udah dong Bi, nanti mereka juga bakalan sering main kesini kamu gak perlu sedih, kan masih ada kita” ucap Angel, ia juga sedikit tak paham ternyata orang hamil sangat sensitif dan mudah cengeng wajarlah ia saja belum menikah mana mengerti.
Akhirnya Bianca mulai tenang namun entah kenapa saat dicuekin Axel ia berubah kesal.
“Dasar es balok!” batinnya mengumpati Axel.
Axel yang tak tau tiba-tiba saja tersedak air minumnya,
 “Uhuk Uhuk...”
“Sepertinya ada yang mengumpati ku” batinnya.
Lalu dengan acuh ia berencana kembali ke lantai atas namun harus berhenti saat mendengar bel rumahnya berbunyi.
Saat pintunya di buka pelayan terdengar suara seseorang.
“Welcome Pak Bos, Eric yang ganteng datang!”
Axel mendegus dingin, “berisik!”
Kemudian, Axel duduk disalah satu sofa kosong sambil sesekali menguap kecil.
Daddy, Mommy dan yang lainnya hanya menatap Axel heran.
“Bang siapa tuh? berisik banget kek cewek!” tanya Daniel heran karena belum pernah bertemu Eric sejak ia tinggal disana.
Sebelum Axel menjawab orang langsung nongol sambil membawa sebuah kandang besi kecil ditutupi kain hitam.
“Eh banyak orang ternyata” Lalu dengan PPD-nya ia memperkenalkan diri pada ke-dua orang tua Axel karena sudah tau dari Marsel tentang hubungan mereka yang sudah membaik.
“Kamu bawa apa? Kenapa ditutup kain hitam segala!” Reynand bertanya karena penasaran lalu melirik Axel.
Axel tentu sadar dan meminta Eric membukanya karena ia juga tak sabar melihat calon hewan peliharaan nya.
“Sesuai permintaan bos!” Â
Yang lain tercengang melihat isinya. Didalam-Nya berisi dua ekor anak harimau loreng sesuai permintaan Axel.
Bianca yang melihat itu langsung berbinar-binar, “mas imut banget. Tumben kamu beli anak harimau mas, apa kamu mau pelihara mereka”
Axel hanya tersenyum, awalnya ia pikir istrinya akan takut ternyata tidak.
“Buat Daniel satu boleh bang?” Daniel juga ikut tertarik melihat hewan tersebut.
“dia gak bakal gigit kan!” Angel bertanya rada takut walaupun masih kecil jika itu hewan liar tetap sama.
“Lo udah bosan sama singa Lo Xel” tanya Wiliam, karena setau nya Axel juga memelihara seekor singa jantan.
“Apa! Kamu benaran Xel, Apa gak berbahaya memelihara hewan liar apalagi bentuk singa” Reynand bertanya sedikit ngeri pada putranya itu.
“Namanya juga mafia dad, suka yang berbahaya” sanggah Wiliam acuh.
“Bukannya kamu mantan mafia, Apa kamu juga memelihara yang begituan Wil?” tanya sang mommy. Entahlah ia merasa putra-putranya sangat suka sekali yang nama berbahaya apalagi Axel.
Wiliam menggeleng, karena ia memang belum pernah mencoba nya.
“Kalah lagi kamu Wil, memang Axel paling cocok jadi orang berbahaya. Ya walaupun kejam, Dad juga tidak melarang” ucap Reynand sedikit lega namun menghela nafas terhadap Axel.
“Xel, apa tidak bisa kamu keluar saja dari dunia gelap itu” Alina bertanya dengan nada sedikit lesu.
Axel terdiam cukup lama, entah kenapa ia sedikit tak suka dengan ucapan Alina. Eric yang jadi pendengar dari tadi ikut kaget dengan pertanyaan itu.
“Keknya bakal ada mangsa baru nih!” batin Eric saat melihat ekspresi Axel.
Yang lain ikut was-wasan melihat keterdiaman Axel, begitupun Bianca.
“Maaf mom lancang, mom cuman tidak ingin putra mom terlalu lama terjerumus dalam dunia gelap seperti itu, itu dosa besar sayang!” ucap Alina lagi dengan nada lembut, ia juga sedikit takut membuat Axel tiba-tiba marah dan semakin membenci nya.
“Cih, dosa ya! Jangan sesekali mengatakan tentang dosa, itu bukan urusan mu. Tidak semudah itu bagiku keluar dari dunia gelap ku!” jawab Axel dingin dan sinis. Eric hanya geleng-geleng kepala ia juga mengutuk Alina karena berani berkata seperti itu padahal hubungan belum lama baikkan.
Kemudian Axel pergi ke lantai atas sambil membawa kedua anak harimau tersebut.
Bianca sendiri cepat-cepat menyusul suaminya.
Alina menangis sedih, Reynand memeluk istrinya. “Aku salah ya mas, aku gak salah kan. Aku cuman memberi nasehat dan ini juga untuk kebaikan nya”
Reynand menggeleng, “gak, kamu gak salah, cuman Axel yang berat menerima nya karena bagaimanapun itu sudah seperti kehidupan kedua baginya”
Wiliam, Daniel dan Angel hanya mendesah lemah melihat kesedihan mommy nya.
“sudah tidak usah dipikirkan, Axel gak bakal lama marahnya. Sekarang kamu istirahat jangan banyak pikiran” Nasehat Reynand sambil membawa istri nya ke kamar.
Sekarang hanya tinggal Wiliam, Angel, Daniel dan Eric diruangan tersebut.
“Bang, Apa bang Axel marah banget ya” Daniel bertanya pada Eric karena dia yakin Eric sebagai bawahan nya sangat tau sifat asli Axel.
Eric hanya mengedikkan bahunya, “Hm... mungkin tapi tidak terlalu juga, palingan melampiaskan pada mangsanya”
“saya ingatkan pada kalian, jangan sesekali membuat bos marah karena itu berbahaya!” ucap Eric dengan nada serius membuat mereka bertiga ngeri dan menganggukkan kepalanya.
“Ya sudah, saya pamit” selesai pamitan Eric pergi tak lupa ia juga mengabari Axel lewat ponselnya.
Â
BERSAMBUNG...
LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT
Â