My Husband Is Mafia

My Husband Is Mafia
Karena kau bajingan!



...🌷 SELAMAT MEMBACA 🌷...


...----------------...


...----------------...


Ruangan Utama


Axel telah duduk atas sofa mewah miliknya sambil mengisap rokok. Matanya menatap tajam seseorang di depannya. Bahkan ia sampai melupakan istrinya yang entah apa dilakukan nya.


“Katakan!” Suara Axel sangat dingin membuat pria itu gugup setengah mati.


“Kejadiannya malam hari bos, saat kami terlengah dia melakukan aksinya. Dia sangat cerdik sekali bos, bahkan kami tidak bisa menaruh curiga padanya” jelas pria bernama Felix salah satu bawahan inti Axel.


“Berapa banyak senjata dicuri!” Hawa dingin dan membunuh terasa secara bersamaan oleh Felix.


Dengan gugup ia menjawab, “200 senjata api, 100 sniper dan beberapa senjata elite lainnya bos” Bahkan lututnya bergetar hebat saat mengatakan itu, ia yakin Setelah ini akan mendapatkan hukuman begitupun dengan anggota lainnya.


Brak...


Meja kaca mahal langsung pecah oleh kaki Axel, tangannya mengepal kuat rahang mengeras, mata memerah menahan amarahnya yang akan lepas.


“KUMPULKAN SEMUA ANGGOTA!” dingin Axel dengan suara beratone penuh amarah.


“B-baik bos” dengan cepat Felix pergi untuk mengumpulkan semuanya di lapangan utama.


Bianca yang lagi menjelajahi semua ruangan mansion tersebut tidak mengetahui apa-apa, dia tidak sendirian tapi ditemani oleh Marsel karena takut nyonya kenapa-napa.


“Kak, kira-kira sudah berapa banyak manusia yang dibunuh mas Axel?” tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar dari bibir Bianca membuat Marsel kebingungan.


“berapa ya? Saya kurang tau nyonya tapi sudah banyak sih. Dan saya akui saya juga hampir sama seperti bos”


Bianca tidak terlalu kaget karena emang seperti itulah kerjaan seorang mafia membunuh dan menyiksa sudah biasa bagi mereka, kejam.


“Benar-benar kejam”  Lalu tiba-tiba saja ia mendengar suara bentakan suaminya di lantai bawah. Dan sebelumnya ia juga melihat para bawahannya Axel buru-buru berlari seperti ada sesuatu.


“mas Axel kenapa kok terdengar kek marah gitu?” bingung Bianca lalu melirik Marsel.


“Kak apa ada sesuatu terjadi?” Marsel tidak menjawab namun menganggukkan kepalanya. Yap sebenarnya ia dan Axel kesini karena mengurus masalah itu.


“Umm...apa karena itu mas Axel hanya diam dalam mobil tadi?” tebak Bianca. Marsel tak terlalu tau namun tetap mengangguk. Bianca mendesah lega awalnya ia pikir karena kejadian dirumah sakit itu ternyata bukan.


Marsel juga telah menyiapkan diri nya karena firasatnya mengatakan malam ini akan terjadi malam berdarah untuk kesekian kalinya.


“lebih baik nyonya masuk kamar bos saja” ucap Marsel saat melihat Bianca akan turun.


“Eh, kenapa?” Bianca terpaksa menghentikan langkahnya dan menatap Marsel bingung.


“Ini demi kebaikan nyonya, saya tidak ingin nyonya kenapa-napa, apalagi nyonya dalam keadaan hamil. Bos dalam keadaan tak baik sekarang jadi saya minta nyonya berdiam diri dikamar bos saja” Marsel menjelaskan panjang lebar pada istrinya bosnya yang bahkan telah ia anggap sebagai adik sendiri.


Akhirnya setelah beberapa saat, Bianca menurut dan pergi kearah kamar suaminya yang telah ditunjukkan Marsel.


 


Lantai bawah, selesai memberi hukuman pada seluruhnya Axel memerintahkan untuk merebut kembali miliknya yang telah dicuri.


“Jangan kasih ampun, bawa ketuanya dalam keadaan hidup padaku!” Selesai mengatakan itu Axel mendudukkan bokongnya singgasana nya. Felix, Marsel dan beberapa anggota inti lain pergi menyelesaikan tugas dari Axel.


“Ingin bermain-main denganku!” Axel menyeringai lebar.


Lalu ia teringat sesuatu, “Hm...si tua bangka sudah mulai ternyata, bersenang-senang lah sepuasmu sebelum ku siksa!”  beberapa bawahannya yang berada disana langsung meneguk ludah mendengar dan melihat senyuman itu.


Beberapa saat kemudian, kening tiba-tiba saja berkerut seperti melupakan sesuatu...1 detik...2 detik...


“Astaga!” Akhirnya, ia teringat Bianca istrinya, dengan cepat ia beranjak mencarinya, lalu mencoba melihat ke kamar nya.


Saat membuka pintu ia bernafas lega disana terlihat istrinya lagi rebahan diatas tempat tidur.


“Kamu sudah tidur” Dengan pelan Axel berjalan dan menaiki tempat tidur kemudian mengusap lembut kepalanya.


“Mas” Bianca dengan cepat berbalik saat mendengar suara dan usapan di kepalanya.


“Kamu gak marah lagi kan?”


Axel bingung, kapan dia marah pada istrinya, “marah, aku marah untuk apa?”


Bianca malah mengernyit, “lah bukannya kamu lagi ada masalah terus marah”


Akhirnya, ia mengerti, “hanya masalah kecil, sekarang kamu tidur ibu hamil tidak boleh begadang”


Axel menggeleng, “tidak. Aku masih ada urusan”


Mendengar itu, Bianca cemberut, “kalo gitu mending gak usah tidur”


“Jangan manja, sekarang tidur tidak ada bantahan!” tekan Axel tetap lembut tanpa ada bentakan.


“Kamu mentingin kerjaan dari aku, gak asik kamu gak sayang aku sama debay!” ia ngambek dan tidur membelakangi Axel.


Axel tetap datar tanpa ingin menjawab dan beranjak keluar.


Saat mendengar langkah kaki menjauh dan pintu ditutup Bianca langsung duduk dan berbalik.


Bibirnya maju beberapa senti dan menggerutu tak jelas.


🌿🌿🌿


Disisi lain tepat di Indonesia, Reynand benar-benar terjatuh. Awalnya ia pikir dengan memberikan perusahaan secara paksa adik dan ponakannya selamat namun apa yang terjadi dirinya malah dijebak dan disiksa habis-habisan.


Dalam sebuah ruangan penuh dengan senjata dan bau amis sangat menyengat, Reynand diikat dengan badan penuh luka dan detik ini Zayn dan Michael disiksa habis-habisan didepan matanya.


“Lepaskan mereka! Jangan lakukan itu lagi!” Teriak Reynand dengan penuh air mata melihat adik dan ponakan disiksa seperti itu, dunianya benar-benar akan runtuh melihat nya. Namun, beberapa kali pun ia berteriak tidak dihiraukan.


“S-sudah jangan siksa mereka lagi...” 


“HAHAHA...!” seorang pria masuk sambil tertawa bahagia namun terkesan jahat.


“ini masih permulaan Reynand permainan sesungguhnya belum dimulai!”


Saat melihat dengan jelas Reynand melotot ia sangat mengenali orang ini, “Radit...” ia benar-benar tak menyangka ternyata Radit sekaligus sahabatnya sendiri.


Radit tersenyum mengejek, “ kaget ya, hahaha...Cih” Radit meludahi muka Reynand.


“jadi ini semua ulahmu! Kenapa kau melakukan ini hah! Apa masalah mu dengan ku?”  Reynand benar-benar marah selama ini ia begitu menyayangi dan mempercayai sahabat nya ini tapi kenapa dia tega melakukan kan ini karena apa? Ia bahkan tidak tau kesalahan nya.


Radit tersenyum sinis dan mencengkram kuat rahang Reynand, “Kau masih tidak menyadari kesalahanmu Hah! Apa kau tidak mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu Hm!”


“Aakh...” Reynand meringis merasakan cengkeraman itu dengan susah payah ia bertanya, “A-apa m-maksudmu?”


Radit semakin marah dan memperkuat cengkeraman nya sampai berdarah.


“Apa kau tidak ingat adikku Amora Hm...”


“Karena kau menolak cintanya dia depresi dan berakhir bunuh diri dan semua itu KARENA KAU BAJINGAN!"


Reynand kaget, ia benar-benar tidak tau itu, karena setau setelah penolakan itu ia tidak pernah bertemu lagi.


“Kau kaget!” sinis Radit lalu mendorongnya dengan kuat.


“Kenapa tidak kau bilang dari awal” Reynand merasa bersalah tapi dia benar-benar tidak tau bahkan Radit pun tidak mengatakan padanya.


“Karna kau tidak perlu tau, bahkan kau tertawa bahagia dengan ****** itu disaat aku kehilangan adikku. Aku tidak terima, aku tidak terima kau hidup bahagia atas penderita dan kematian Amora!”


Lalu Radit keluar dari ruangan tersebut, penyiksaan atas Zayn dan Michael juga dihentikan untuk sementara waktu.


 


Reynand termenung, dia benar-benar tidak bermaksud seperti itu, Amora depresi bahkan sampai bunuh diri tapi dia benar-benar tidak tau.


“Ini keterlaluan, itu bukan salahku” racau Reynand merasa bukan salah nya. Dia tidak mencintai Amora makanya ia tolak. Dia hanya menganggap Amora sebagai adiknya.


Lalu tatapannya beralih pada Zayn dan Michael tergeletak tak sadarkan diri.


“Radit kau benar-benar keterlaluan” Kenapa harus adik dan ponakannya.


“Radit bajingan!” Maki Reynand penuh amarah tapi apa daya ia tidak dapat melarikan diri. Ia juga teringat Wiliam pasti putra dan yang lain nya mengkhawatirkan dirinya.


"apa mungkin kejadian waktu itu juga ulahnya!" Reynand tak tau harus menangis atau marah semua benar-benar telah direncanakan Raditya.


 


 


BERSAMBUNG...


LIKE >> KOMEN >> VOTE >> FAVORIT


Â