
...🌷SELAMAT MEMBACA🌷...
...----------------...
...----------------...
IN CAMPUS.
Hari ini Bianca berangkat ke kampus bersama Michael karena Michael juga akan mengajar pagi.
“adik ipar apa perlu saya antar ke kelas” tanya Michael apalagi ia juga telah di percaya sang adik untuk menjaga istrinya.
“Gak usah kak, biar aku sendiri aja” ucap Bianca tak enak.
“Ya udah hati-hati nanti kalo ada apa-apa bilang aja ya, jangan sungkan”
“Oke kak” Lalu Michael pergi menuju ruangan dekan. Bianca juga berlalu pergi ke ruangan kelasnya.
Saat memasuki kelas ia langsung disambut heboh oleh Dinda sahabat tercintanya.
“Bii...kangen kok lama banget liburnya sih” heboh Dinda sambil memeluk Bianca erat.
“Sebenarnya udah selesai beberapa hari yang lalu tapi karena ada masalah keluarga jadi gak bisa masuk. Maaf ya”
“iya gak papa. Tapi kamu tau gak aku sepi banget kalo gak ada kamu”
Bianca terkekeh geli melihat ekspresi Dinda cemberut banget.
“Uluh-uluh sahabat aku kecepian nih”  Dinda menepis tangan Bianca yang akan mencubitnya.
“Eh, Bii...kamu tau gak akhir-akhir ini Faisal murung banget!” Dinda berucap dengan nada kurang semangat.
“Hah... kenapa?”
Dinda mendesah panjang, “Om Radit hilang, entah iya atau apalah tapi akhir-akhir ini dia gak pernah pulang sampai Faisal uring-uringan bahkan papa aku udah kerahkan anak buahnya buat nyari tapi tetap gak ketemu. Aku jadi kasihan sama Faisal”Â
Mendengar itu entah kenapa ia merasa ada yang ganjal tapi apa? Ia juga kurang jelas.
“Berdoa aja semoga om Radit cepat ketemu, aku yakin dia pasti ketemu” ucapnya.
Dinda hanya mengangguk lemah, walaupun sifat om Radit tak terlalu baik tapi dia tetap saja suami dari tantenya papa Faisal sepupunya.
Â
Â
Beberapa jam kemudian kelas akhirnya selesai, Dinda dan Bianca juga bergegas pergi ke kantin.
“Kamu mau pesan apa Bi? Biar aku pesankan”
“Hm...Jus lemon sama Nasgor ayam geprek satu”
“Oke”
“Harus pedas ya Din”
“Iya bumil”
Sambil menunggu Dinda ia duduk di salah satu kursi bagian belakang karena hanya itu yang masih kosong.
Puk
Saat merasakan tepukan dibahunya ia langsung menoleh.
“Lo yang nama Bianca itu kan?” Tanya mahasiswi yang menepuk bahu Bianca tersebut. Dan Bianca hanya mengangguk sebagai balasannya.
“Ada hubungan apa Lo sama pak Michael?” tanya mahasiswi itu yang tak lain bernama Minka.
Bianca mengernyit tak mengerti maksud dari pertanyaannya. “uhm...maksud kamu? Aku gak ngerti”
Minka tertawa mengejek begitupun dengan ke-dua temannya Juju dan Rere.
“Lo pikir kita buta, pagi- pagi kita liat Lo berangkat bareng pak Michael, maksud Lo apa hah? Masih gak ngerti”
Anak-anak lain ikut melihat kearah mereka karena penasaran penyebab primadona kampus marah, yap Minka, Juju dan Rere sangat populer sebagai sebutan primadona kampus jadi tak ada yang berani mencari masalah dengan nya.
Dinda yang melihat itu cepat-cepat kesana sambil membawa pesanannya dan Bianca, “kalo Bianca kenapa-napa bisa gawat”
~~
“Gue minta sama Lo jangan pernah lo coba-coba dekatin pak Michael karena hanya gue yang boleh, Paham Lo!” Bianca hanya diam seperti tak terjadi apa-apa.
“Cabut GUSY!” Lalu ketiga beranjak dari sana dengan gaya sok cantik membuat Bianca muak melihatnya.
“*Yang kek gini nih di deman kak Michael iihh... amit-amit sok cantik lagi Uhmp...” batin Bianca*.
Â
Hosh hosh...
“Bi...kamu di apain sama mereka kamu gak terluka kan!” cemas Dinda memutar badan Bianca.
“Aduh...Dinda aku gak apa-apa, kalo kamu putar-putar begini terus bisa pusing aku Din!” Kesal Bianca.
“Hehehe... maaf-maaf aku panik soalnya. Ini pesanan kamu”
Bianca mendesah lega dan kembali duduk dan memakan makanannya.
“Emang ada masalah apa bi, tumben tiga orang itu nyamperin kamu?” Dinda bertanya karena sudah terlalu kepo dari tadi sambil melirik-lirik anak-anak lain yang juga melirik kearah Bianca.
“Um...itu cuman gara-gara liat aku berangkat sama pak Michael. Sok-sokan kasih peringatan pula tuh pacar bukan emak bukan dia aja yang sewot, heran”
“Hahh...” Dinda ikut kaget dan rada Lola.
“Maksud kamu? Hm...pak Michael dosen kita kok bisa, sejak kapan kamu jadi dekat sama dia? Emang suami kamu gak marah gitu?!”
Bianca mengusap dada sabar banyak benar pertanyaan sahabat nya ini gak bisa satu-satu apa.
“buat apa dia marah malahan dia yang minta lagian pak Michael kan saudaranya” jawab Bianca seadanya tanpa mempedulikan reaksi Dinda.
“Din...” ia tak menyangka reaksi sahabat nya akan se berbahaya ini bahkan masih belum sadar dari kagetnya.
“Din...”
Puk
“Sadar juga kamu, udah gak usah lebay”
“Bianca, siapa yang gak kaget coba, kamu sih ngomong mendadak banget, kenapa gak dari pagi tadi coba”
“Maaf lupa” cengir Bianca sambil mengangkat dua jarinya.
“Gpp. Tapi asyik gak dikelilingi cogan. Aku juga mau dong jadi kamu”
Bianca hanya tertawa kecil mendengar tuturan Dinda, “ya udah sana ambet asistennya mas Axel katanya suka”
Dinda mendegus, “dia kaku banget kelihatan dari wajah dan postur tubuh nya” ucapnya asal tebak.
“Enggak kok orang asyik malahan banyak ngomong. Kamu aja yang belum coba dekat dia”
“Masa sih”
Bianca hanya mengedikkan bahunya, “gak percaya ya udah”
“Bukan gitu. Nanti aku main deh ketempat kamu, apa dia ada disana Bi”
“Kadang ada kadang enggak tiangnya sama mas Axel sih” jawab Bianca seadanya.
🌿🌿🌿
Di sisi lain setelah menyelesaikan urusan kantor nya Axel bersama Marsel lanjut pergi menuju Markas tanpa mengganti setelan kantornya.
Tak butuh waktu lama akhirnya sampai ditempat tujuan. Disana Axel langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan bawah tanah ditemani Marsel.
Tak
Tak
Mendengar suara langkah seseorang bawahan disana dengan cepat membukakan pintu.
Saat masuk Axel langsung tersenyum lebar karena dapat kembali mencium bau darah apalagi melihat darah-darah masih basah berceceran dilantai membuat suasana hati sedikit lebih tenang.
Lalu tatapannya beralih pada satu tahanannya sebuah seringai terbentuk di bibir nya.
“Marsel buka lakban di mulut nya!”  Dengan cepat Marsel berjalan mendekati orang tersebut dan tanpa perasaan menarik lakban itu.
“Aargh...”
“Bocah sialan!” umpatnya dengan tatapan tak pernah lepas dari Axel seperti hewan buas.
“Hei pak tua! Bagaimana kabarmu” sapa Axel tersenyum tanpa dosa tepat tersenyum penuh ejekan.
“Aaarrghhh...bocah bajingan lepaskan saya!”
Axel tertawa lebar, “Apa! Kau minta di lepas, Hahaha... tunggu saya selesai menyiksa mungkin bisa dilepas”
“AAARRGHHH...!”
HAHAHA
“Sel cambuk!”
“Ini bos”
“Hm” Axel terus melepaskan cambuk ke lantai sambil berjalan pelan-pelan mengelilingi Radit Yap orang itu Raditya.
Cetar Cetar...
“Apa kau masih ingin merasakan cambuk ini ,Hm..” ejeknya pura-pura kasihan.
“K-Kau...” suara Radit langsung terputus karena sudah merasakan seperti apa rasanya dicambuk tanpa ampun oleh Axel dan sekarang akan dicambuk lagi luka sebelumnya saja belum mengering mau ditambah lagi.
“Shutt... jangan takut pak tua. Cambuk ini masih awalan lho barang kesayangan ku yang lain masih belum mencoba merasakan darah mu apakah rasanya manis atau malah menjijikkan!” Axel mengusap-usap bahunya tapi terkesan kasar tak lupa meludahi wajah Radit.
"Cuiih..."
“THREE...TWO...ONE, Let's play!”
Cetar Cetar ...
“AARRGGHH...”
Cetar Cetar...
“Aaarrghhh...Hen-hentikan bajing-gan Aargh...”
Berteriak sekencang apapun tidak akan menghentikan permainannya.
Marsel hanya menatap jijik pada Radit sudah kayak mayat hidup.
“*Itu sih D-E-R-I-T-A L-O*!”  Marsel sibuk menertawakan Raditya dalam hatinya.
Â
"*gue suka gaya Lo bos, hehehe*..."
Â
**BERSAMBUNG**...
**LIKE \>\> KOMEN \>\> VOTE \>\> FAVORIT**